
Sekitar pukul 15.30 Rara memutuskan kembali ke Rumah Sakit, kali ini dia memilih naik ojek online yang pengemudinya sebelah rumahnya.
"Mbak Rara, bapak mbak udah di operasi?" si tetangga bertanya memecah kesunyian, "sudah tadi pagi," jawab Rara.
"Wah, semoga lekas pulih terus bisa bantu bantu mbak Rara lagi," kata si masnya, "iya, terima kasih, Mas." jawab Rara. Rara tidak pernah banyak bicara, dia akan menyapa jika bertemu para tetangga nya, namun jika di ajak ngerumpi dia memilih pergi. Masih banyak pekerjaan alasan yang dia berikan.
"Oya, mbak Ria sudah dapat pekerjaan?" tanya si masnya lagi, "kemarin bilang sudah ada tes interview, tapi kurang tahu dia mau nggak," jawab Rara.
"Di tempat istri saya ada lowongan kalau adik mbak Rara mau," tawar si masnya.
"Nanti coba saya tanyakan ke Ria, tapi sebelumnya terima kasih infonya ya, Mas," balas Rara. Istri mas supir ojek itu adalah di pabrik garmen, gajinya lumayan besar. Dulu mereka satu kerjaan, karena ada peraturan yang tidak memperbolehkan cinta sesama rekan maka si suami memilih mundur, toh dia pria jadi bisa bekerja serabutan.
Dan uang hasil kerja mereka berdua akhirnya mereka belikan motor, si suami memilih menjadi ojek, selain bisa mengantar istrinya bekerja waktunya bebas. Jadi bisa membantu istrinya beres beres rumah, itu yang mereka katakan dulu.
Rara turun di depan gerbang Rumah Sakit, lalu menyerahkan uang berwarna biru pada si masnya, "ck, mbak Rara. Ini kebanyakan," tolak si masnya kembali mengangsurkan uang itu, "hanya lima belas ribu lho," tegur si masnya lagi.
Rara menghela nafas, "nggak papa, Mas. buat jajan Dita," ganti si masnya yang menghela nafas dan akhirnya mau menerima uang itu.
"Terima kasih, Mbak Rara. Semoga rejekinya lancar dan enteng jodoh," doa si masnya tulus, Rara hanya mengangguk sambil tersenyum dan belum mengamini soal jodoh.
Rara melangkah masuk ke ruangan ayahnya, tangan kirinya menenteng rantang berisi nasi, sayur, dan lauk yang tadi dia masak. Kadang tidak enak merepotkan orang kala kita lapar dan mereka mencarikan kita makan, Walau mereka ikhlas tapi ada rasa tidak enak menyelinap dalam hati.
Rara tersentak kaget kala ada tangan yang melingkar di pinggang ramping nya, tanpa menoleh dia tahu siapa si pelaku.
"Kenapa nggak chat, biar ku jemput?" Rara menggeleng masih seraya melangkah, "kamu tidak mau merepotkan orang? Tapi aku nggak merasa di repotkan, aku malah seneng," kata Reno yang kemudian mengecup kepala Rara.
Saat akan sampai di depan ruang rawat ayahnya, Rara melihat Ria sedang berbincang dengan Mas Seno dan terlihat akrab. Rara menoleh dan sedikit mendongak menatap Reno yang juga tengah menatap dirinya.
"Ada apa?" Rara menggeleng, ragu untuk menanyakan pertanyaan yang menganjal di hatinya.
"Hufhttt, akhirnya kakak datang juga. Dari tadi di tanyain ayah terus thu," ujar Ria dengan nada kesal, Rara segera masuk setelah mendengar aduan sang adik.
__ADS_1
"Ayah," Rara datang menghampiri ayahnya setelah meletakkan rantang di atas meja, "ayah kenapa lagi?" Rara duduk di atas brangkar tempat sang ayah berbaring.
"Kenapa kamu lama sekali pulang nya," ayahnya merajuk, Rara tertawa jadinya.
"Rara tadi ketiduran, Yah. Habis masak sama beres beres rumah," ucap Rara menjelaskan, "Om Yudha," sapa Rara pada ayah Reno. Om Yudha hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kapan ayah pulang, ayah lelah di infus setiap hari," keluh ayah Rara lagi, Rara melirik kearah Reno sebentar, kemudian beralih pada ayahnya.
"Nanti coba Rara tanya sama dokternya," ayah Rara akhirnya mengangguk setuju. Pasti ketemu dokternya malam pas pergantian shift, gumam Rara dalam hati.
"Tadi ke apartemen dulu?" netra Rara menatap Reno, baru sadar pria itu sudah berganti pakaian. Tadi pertama dia datang memakai kemeja, kini berganti kaus berlengan panjang berwarna biru dan memakai celana berbahan jeans, tidak lupa sepatu kets berwarna putih. Rara perhatikan, Reno sering memakai pakaian serba berwarna biru, apa dia penggemar warna biru, pikir Rara dalam hati.
"Oya, Ren. Nanti mama sama papa langsung kerumah oma. Jangan lupa kamu nyusul," kata Om Yudha dengan mengarahkan jari telunjuknya kearah Reno.
"Besok, Pa, Reno kesana nya," tolak Reno dengan nada malas.
"Ck, terserah yang penting kamu datang kesana. Kasihan oma mengharap kehadiran kamu," Reno hanya mengangguk, ck benar benar tidak memperdulikan orang lain.
Ayah Reno berpamitan pulang, selang beberapa menit Ria masuk dan izin mau pulang juga, lelah katanya. Rara hanya mengiyakan permintaan sang adik, sempat Rara berpikir ada sesuatu yang dia lupakan tapi apa dia lupa.
"Mas Seno, Rara boleh minta tolong?" tanya Rara ragu, Mas Seno mengangguk.
"Hehehe, tolong anter Ria, adik Rara ya," pinta Rara dengan nada memelas, Mas Seno mengangguk walau terlihat berpikir. Tapi menurut Rara, Ria lebih aman pulang bersama Mas Seno dari pada harus naik ojek online.
Saat akan pulang Ria menatap jengah pada kakaknya, Rara yang tidak mengerti hanya mengernyit heran sambil menaikkan kedua alisnya.
Karena kesal Ria mencubit pipi Rara dan berkata, "katanya tadi mau ngasih sesuatu kalau mau nunggu ayah!" ketus Ria yang membuat Rara ingat. Rara segera masuk dan mengambil tiga lembar kertas berwarna merah dan memberikan pada Ria dua lembar.
"Nggak di tambah ini, Kak?" Rara mencebik lalu menyerahkan yang selembar tadi dia pisahkan, "jangan boros boros," ucap Rara, Ria meringis lalu mengangguk. Kemudian Ria dan Mas Seno pergi.
"Ayah tadi udah mandi sore?" Rara mendekat, Reno berdiri di belakang Rara menyimak interaksi anak dan ayah tersebut.
__ADS_1
"Sudah tadi di bantu nak Seno," ayah Rara berusaha duduk, dengan sigap Reno mendekat dan membantu, "terima kasih," Reno mengangguk dan kembali mundur.
'Secepat itu Om Reno mengambil hati ayah?' guman Rara dalam hati, 'Om Yudha pun terlihat dekat dengan ayah,' begitu banyak pertanyaan yang ada di benak Rara hari ini.
"Kamu sudah makan?" Rara mengajak Reno duduk di sofa, Reno menggeleng akan pertanyaan yang Rara berikan. Dengan sigap Rara membuka rantang berisi makanan dan mengambil piring di nakas ayahnya, mengambilkan nasi, sayur dan lauk yang tadi dia masak.
"Dia pintar memasak, mungkin dengan porsi segitu kamu akan kurang," ucap ayah Rara lalu terkekeh. Reno hanya tersenyum lalu menyuapkan makanan yang Rara siapkan. Tidak lupa, Rara mengambilkan air putih.
"Kamu nggak makan?" Rara menggeleng lalu berkata, "tadi sebelum kesini udah makan," Reno manggut manggut sambil kembali menyuapkan makanan miliknya.
"Apa ayah tahu, dia ingin membuka restoran?" netra Reno beralih pada ayah Rara, dan ayah Rara mengangguk.
"Tahu, makanya dia bekerja keras. Tapi malah ayah yang menghabiskan hanya untuk berobat," jawab ayah Rara dengan nada sendu memandang Rara yang tengah menunduk.
"Bagaimana menurut ayah jika saya membantu?" Reno melirik kearah Rara yang juga tengah melirik Reno.
"Dia pasti tidak mau," jawab ayah sambil tersenyum, "dia keras kepala, mirip ibunya," timpal ayah Rara.
"Bukan hanya wajah, tapi sikap dan kelakuan nya sama." Rara mengusap airmata yang tanpa sengaja turun kala mengingat bundanya.
Mereka pun akhirnya berbincang bincang hingga malam, saat dokter masuk dan memeriksa ayah Rara, tidak lupa Rara bertanya kapan ayahnya boleh pulang. Dan ternyata baru boleh pulang lusa, sambil menunggu jahitan hasil operasi itu.
Malam harinya, saat ayah Rara sudah tidur. Reno membuka tikar yang kemarin di gunakan Mas Seno untuk tidur. Reno melambaikan tangan meminta Rara mendekat.
"Tidur denganku di sini," pinta Reno, Rara hanya diam mematung, hanya menatap Reno dengan ekpresi entahlah.
"Aku hanya ingin memelukmu, tidak lebih," lagi Reno menepuk tikar yang dia duduki, Rara mendekat lalu ikut duduk dan berkata, "jangan macam macam tapi," Reno mengangguk lalu menarik tubuh Rara agar tidur.
Rara menggunakan tangan Reno sebagai bantal, tangan Reno melingkar di pinggang Rara.
"Bagaimana kalau ayah bangun dan melihat kita begini?" Rara yang semula ada di dekapan Reno mendongak, dan Reno yang semula memejamkan mata membuka kelopak matanya.
__ADS_1
"Malah bagus itu," jawab Reno di sertai senyum senang, namun Rara malah mengernyit bingung. Bagus dari mananya? Umpat Rara dalam hati. Dan mereka kembali tidur dengan posisi berpelukan, parfum Reno membius Rara hingga membuatnya hampir terlelap. Reno meletakkan dagunya di kepala Rara dan berbisik, "i love you, Ara,"
Nah nah nah, siapa hayo Ara ini, dan apa hubungannya dengan Rara. Penasaran?