
"Tapi ngga sakit'kan?" tanya ayah Rara yang membuat sang dokter dan suster tertawa kecil, "nanti bisa kami bius, Pak," wajah ayah Rara pucat mendengar kata bius.
"Kalau ga dibius nanti ayah ngerasa sakit, dan itu prosedur yang harus dokter gunakan, Yah," ucap Rara yang merasa gemas dengan pertanyaan konyol sang ayah.
Ayah Rara hanya mengangguk mengiyakan, entah ada masalah apa dengan obat bius sehingga sang ayah begitu ketakutan.
"Kalau begitu saya pamit dulu, masih harus memeriksa pasien yang lain. Pak Amar jangan lupa nanti sarapan nya di makan, trus obat nya di minum," pesan dokter pada pak Amar, ayah Rara.
Ayah Rara hanya mengangguk seraya menatap putrinya, sebenarnya pak Amar kasihan melihat putri sulungnya bekerja keras, dan sempat menyuruh Rara membuka usaha sendiri, tapi Rara berdalih belum memiliki modal.
Rara menarik nafas lega, dua hari lagi sang ayah harus di operasi, dan setelah di operasi sang ayah ingin bertemu kekasih Rara. Rara sempat menolak perjodohan yang ayahnya minta, perjodohan antara Rara dengan Fandi anak teman pak Amar.
Rara tahu Fandi anak yang baik, tapi tidak ada rasa tertarik pada diri Rara akan pemuda yang bernama Fandi tersebut. Fandi anak alim dan sholeh, setiap hari pergi ke masjid dan sering mengajar anak-anak kampung sebelah membaca Al'Quran.
__ADS_1
Rara merasa tidak pantas bersanding dengan sosok Fandi yang sholeh tersebut, sampai sekarang sang ayah terus mendesak sampai tadi Rara keceplosan dan berkata sudah mempunyai kekasih.
Sang ayah tidak percaya begitu saja, hingga sang ayah ingin bertemu pria yang berstatus pacar putri nya. Sekarang Rara harus memikirkan cara membujuk om Reno, pria yang menyewanya kini harus membantu dirinya.
"Oya, Ra," Pak Amar memanggil Rara yang terlihat melamun, dan benar saja Rara tersentak kaget dan sedikit gelagapan.
"Ya, Yah," Rara menarik kursi kesamping tempat tidur sang ayah, lalu menghempaskan bobotnya di sana.
"Yah, nanti yang jaga Rani. Tapi ayah nanti jangan bikin dia kesel, Rara juga ga mau ayah di marahi dia," Rara menggenggam tangan kekar yang sedikit ditumbuhi keriput.
"Tapi nanti setelah kamu pulang kerja langsung kesini ya, Ra," pak Amar memasang wajah memelas, Rara tahu itu adalah jurus agar dia luluh.
"Iya," Rara mengangguk dan tersenyum, pak Amar terlihat bahagia.
__ADS_1
Tok tok tok, "Assalamualaikum," suara pintu di ketuk dan terdengar salam dari luar, Rara berdiri dan melangkah menuju pintu, lalu membuka nya.
"Waalaikum salam," sahut Rara setelah membuka pintu tersebut, nampak seorang pemuda berumuran dua tahun lebih tua dari dirinya mengulas senyum, di sampingnya ada pria seusia ayahnya.
"Masuk om Ridwan, kak Fandi," Rara membuka lebar pintu itu dan mempersilahkan kedua tamu itu masuk. Rara meraih tangan om Ridwan lalu mencium punggung tangannya, sedang Fandi menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Yah, ada om Ridwan," Rara menepuk pelan pundak pak Amar yang sempat rebahan dan menghadap dinding setelah tadi berbincang dengan Rara.
Pak Amar memutar tubuh menjadi sedikit terlentang, lalu melempar senyum pada sahabatnya.
"Gimana kabarmu, Mar?" om Ridwan mendekat, kemudian Rara mempersilahkan om Ridwan duduk di samping ayahnya, sedang dia sendiri berdiri di samping om Ridwan.
Rara melirik kearah Fandi, pemuda itu juga sedang melirik dirinya. Rara pun melempar senyum sambil mengangguk, "kak Fandi kalau capek duduk di situ saja," ujar Rara sambil menunjuk sofa yang letaknya tidak jauh dari Fandi berdiri.
__ADS_1