
Semua yang berkumpul di rumah Reno menangis haru, tadi setelah Mama Lydia memberi tahu jika Ara tengah berbadan dua, Reno segera memeluk istri dan mamanya bergantian, lalu menelpon Oma dan opanya, Nenek, Tante Rina, Om Indra dan teman temannya. Akan tetapi nenek dan Tante Rina tidak bisa pergi karena om Indra sedang keluar kota.
"Kakak, aku mau jadi aunty." kata Ria yang segera datang bersama Ayah Andri begitu Reno datang dan mengatakan kabar gembira itu, Ara hanya mengangguk.
Semua mendoakan yang terbaik untuk Ara dan calon bayi itu, dan mereka mengaminkan doa tersebut. Reno segera memberi bonus untuk para karyawati di resto Ara, pun karyawan dan karyawati yang bekerja di kantornya.
Berita tentang kehamilan Ara begitu cepat menyebar, ada yang bahagia mendengar berita itu, ada yang tidak suka dan iri mendengar berita bahagia yang mereka dengar.
"Mas, bagaimana kalau waktu bayi itu lahir kita culik saja," Dita yang masih merasa tidak suka akan keberuntungan ibu dan anak itu merencanakan sesuatu.
"Jangan macam-macam, kamu tahu kan aku masih jadi buronan," kesal Pak Gito saat mendengar ide gila adiknya, "ya kita nyuruh orang aja 'lah," Dita masih tak mau kalah.
"Terserah kamu," ucap Pak Gito yang kemudian berlalu meninggalkan adiknya untuk kembali berjudi karena adiknya telah memberinya uang dari laki-laki hidung belang.
Selama kehamilan itu, Reno begitu kewalahan. Pasalnya Ara tidak mau di tinggalkan Reno barang sedetikpun, nafsu makan Ara pun di luar kendali. Ibu hamil itu setiap jam harus mengunyah, jika tidak ia akan kelaparan. Reno memperkerjakan art yang ia ambil dari rumah mamanya atas permintaan Mama Lydia.
Sekarang usia kandungan Ara menginjak lima bulan, perut itu terlihat lebih besar dari biasanya ibu hamil.
"Yank, apa anak kita juga kembar ya? Lihat ini perut kamu besar, nggak kaya ibu-ibu itu," Reno menunjuk wanita hamil yang duduk di seberang, ya sekarang Reno dan Ara sedang berada di rumah sakit untuk memeriksa kan kandungan itu. Ara tidak ambil pusing, yang terpenting ia dan bayinya sehat, jika ia di beri anak kembar itu adalah anugerah.
Tiba giliran Ara di periksa, dokter itu menyuruh Ara tiduran di atas brangkar, Ara yang kesulitan di bantu sang suami. Dokter itu memeriksa tekanan darah dan letak bayi itu, lalu tersenyum dan menanyakan apa yang Ara rasakan. Ara hanya berkata jika nafsu makannya bertambah, dokter memaklumi dan berkata itu semua untuk makanan kedua bayi.
__ADS_1
Mendengar penuturan dokter itu, Ara dan Reno tersenyum lalu saling memeluk dan mengucapkan terima kasih. Sesampainya di rumah Reno tidak lupa mengabari semua keluarga besarnya juga keluarga Ara, tawa dan tangis terdengar dan terlihat lewat panggilan video yang Reno lakukan.
Banyak pesan dan nasehat yang mereka utarakan, Ara dan Reno mengangguk sambil sesekali mengusap pipi mereka yang basah.
Waktu cepat berlalu, tak terasa usia kandungan Ara sudah 9 bulan. Wanita itu semakin kesusahan berjalan dengan perutnya yang menampung dua anak sekaligus, "apa dulu bunda juga merasakan sakit dan lelah seperti ini, jika iya, maafkan Ara ya, Bun. Maaf jika Ara belum bisa membuat bunda bahagia," gumamnya lirih.
"Kakkkk," Ara mendesis kala merasakan sakit pada punggung kebawah, Ara segera duduk di lantai sambil mengusap perutnya yang sangat buncit, "sudah nggak sabar mau lihat bunda ya, Nak?" gumamnya sambil mengusap-usap perutnya yang semakin melilit.
"Kakkkk!!!!" Ara menjerit kala merasakan sakit yang luar biasa, Reno yang mendengar teriakan istrinya segera berlari.
"Yank, kenapa?" Reno melihat wajah kesakitan istrinya, dan melihat rembesan pada daster yang Ara kenakan. Reno segera berteriak memanggil art itu dan menyuruhnya mengambil tas yang berisi pakaian bayi juga pakaian Ara yang telah dia siapkan jauh-jauh hari, sedang dirinya mengendong tubuh Ara keluar untuk masuk ke mobil dan membawanya ke rumah sakit, Reno tahu jika saat ini Ara saatnya untuk melahirkan. Ia selalu mengingat pesan sang mama dan dokter yang mereka sampaikan, wajah Ara semakin pucat dan itu semakin membuat Reno ketakutan.
"Bagaimana kondisi istri saya?" tanyanya kala itu pada dokter yang memeriksa Ara, "kondisinya bagus akan tetapi kehamilan yang seperti ini membuat saya ragu-" dokter itu tidak melanjutkan ucapannya, Reno paham akan maksud sang dokter kala itu, dan ketakutannya kini bertambah.
"Pak, cepat!!!" Reno berteriak memerintah sopir karena rasa khawatir nya, Reno tidak sadar ada mobil yang tengah membuntuti dirinya.
"Dokter, suster, tolong, istri saya mau melahirkan!!!" Ara berjalan dengan langkah lebar sambil menggendong tubuh Ara, dua suster berlari menyongsong Reno sembari mendorong brangkar, dan Reno segera meletakkan tubuh istrinya di sana.
"Tolong urus administrasi dan pendaftaran nya dulu, Tuan," seorang suster berkata dengan hati-hati, Reno mengangguk. Sambil jalan ke pendaftaran, ia menelepon semua keluarga besarnya termasuk Nenek dan Tante Rina juga Ayah Andri.
"Tuan, seperti kondisi nona Ara tidak kemungkinan untuk lahiran normal," seorang dokter wanita berkata setelah melihat keadaan Ara, "lakukan yang terbaik buat istri saya," kali ini tidak ada nada dingin, hanya ke khawatiran yang nampak.
__ADS_1
Tubuh Ara di pindah ke brangkar yang di bawa suster yang barusan masuk, dan mendorong nya keruang operasi. Reno yang melihat mamanya datang segera menghambur dan memeluk mamanya.
"Maafkan Reno jika selama ini jadi anak yang belum bisa membuat Mama bahagia, dan sekarang Reno mohon doakan yang terbaik untuk Ara dan anak-anak kami," ucapnya dengan bahu yang bergetar, Mama mengangguk dan mengusap bahu lebar putranya.
Satu jam akhirnya berlalu, dan lampu ruang operasi padam, Reno menangis haru kala mendengar suara dua anaknya. Suster keluar satu persatu menggendong anaknya, Reno segera meminta dan mendekap tubuh mungil itu, "selamat tuan, anak anda sepasang. Tapi maaf, ibunya-" ucapan dokter yang baru saja keluar mampu membuat tubuh Reno mematung.
Reno segera menyerahkan putranya yang tadi ia gendong pada mamanya dan berlari masuk kedalam ruangan. Tangis Reno memenuhi ruangan itu, melihat tubuh Ara yang terbujur terbungkus kain putih membuat hatinya teriris.
"Kenapa kau membohongi aku, Ra. Kau bilang akan menemani aku menjaga anak-anak kita sampai besar, tapi kenapa sekarang kau meninggalkan aku," Reno segera memeluk dan menguncang tubuh Ara, berharap wanita itu akan bangun.
Di sisi lain, para suster meletakkan bayi kembar Reno dan Ara di sebuah ruangan, lalu meninggalkannya. Saat para suster keluar, seorang pria tersenyum miring di balik masker yang ia kenakan, dengan langkah mengendap-endap dan menutup wajahnya dengan topi juga masker laki-laki itu berjalan mendekati lalu masuk ke ruangan di mana bayi kembar itu berada.
Semua orang bersedih dan berkabung dengan kepergian Ara, Ayah Andri dan Reno adalah yang paling terpukul dengan kepergian wanita tercinta mereka.
"Ren, sekarang tugasmu untuk Ara sebagai suami sudah selesai, tapi kini tugasmu sebagai ayah sedang berlangsung. Jadi kamu harus tetap kuat dan waras untuk membesarkan mereka," Reno terkesiap dengan perkataan ayah mertuanya, ia ingat jika sudah memiliki sesuatu dari Ara yang harus ia jaga.
"Anak-anakku," gumamnya yang kemudian berlari menuju ruangan di mana putra dan putrinya di tempatkan. Seorang perawat jatuh karena menabrak tubuh Reno, "Tuan," Reno menghentikan langkahnya mendengar namanya di panggil.
"Maafkan kecerobohan kami, pu-pu-putra anda hilang, dan kami sudah mencarinya.Dan kami sudah memeriksa lewat cctv tapi sepertinya orang itu sudah tahu seluk beluk rumah sakit ini," ucap perawat itu dengan lirih, takut jika Reno mengamuk.
"A-a-apa, cucu saya di culik?" Mama Lydia dan Tante Rina, yang mengikuti Reno dan mendengar ucapan perawat itu terkejut.
__ADS_1
Tanpa kata Reno kembali melangkah menuju ruangan putrinya, sebelum ia masuk keruangan itu, Reno menyuruh seseorang mencari orang yang sudah menculik putranya dan membawa kehadapannya hidup atau mati.
Tunggu ekstra partnya ya