
Ayah Andri segera bersembunyi ketika dirinya mendapat berita jika Pak Gito tengah berada di depan Rumah sakit tempat Ara di rawat, sebenarnya ingin sekali Ayah Andri memberi pelajaran pada pria tidak tahu diri dan tidak tahu malu tersebut, akan tetapi segera dia sadar karena ini belum waktunya membalas semua perbuatan pak Gito.
Dari kejauhan nenek Ara melihat pak Gito berlari dan di ikuti seorang pemuda juga seorang pria yang nenek kenal, karena dulu saat di desa keluarga pria itu sering datang ke rumahnya.
Pak Gito terkejut melihat ibu mertua dan adik iparnya berada di depan ruangan tempat Ara di rawat, akan tetapi segera dia ubah ekpresi wajahnya dengan ekpresi rasa bersalah, sedang Ria juga sudah bersembunyi bersama Ayah Andri.
Mereka bertiga takut jika Pak Gito nekat dan membawa pergi Ria lalu menjualnya kembali, jika itu terjadi mereka tidak bisa mencegah karena mengingat pak Gito ayah kandung Ria dan lebih berhak.
"I-ibu," sapa Pak Gito pada sang mertua, nenek kak mengangguk tanda menyapa kembali, tatapan Pak Gito beralih pada adik iparnya, dan Pak Gito melempar senyum pada perempuan di sebelah ibu mertuanya.
"Kalian hanya berdua?" Pak Gito bertanya karena tidak mendapati orang lain selain ibu mertua dan adik iparnya, mereka berdua mengangguk bersamaan.
__ADS_1
Selama ini Pak Gito belum tahu jika adik iparnya sudah menikah, namun dia sudah mengira kira pasti di umurnya yang sudah tidak semuda dulu waktu bertemu, pasti adik iparnya itu sudah menikah. Akan tetapi dengan siapa Pak Gito belum tahu karena sudah lama dirinya tidak berkunjung ke desa tempat istrinya di lahirkan.
"Suami kamu?" akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari mulut Pak Gito, "dia sedang bekerja, mengembangkan bisnis usaha yang sempat terbengkalai karena kakaknya yang hilang dan kini sudah kembali," jawab tante Rani tegas dan lugas, ternyata walau Riana anak dari Pak Gito, akan tetapi sifat tegasnya menuruni sifat tantenya, sedang Ara menuruni sifat ibunya.
"Ya, sudah kamu masuk dulu sana, mungkin Ara sudah menunggu kamu," Tante Rani berujar dengan lembut namun terdengar seperti mengusie, Pak Gito terkejut, bukan karena adik iparnya berkata demikian.
Akan tetapi mengenai Ara dan Rara, Pak Gito lupa jika mereka adalah keluarga kandung putri sambungnya. Sambil melangkah masuk kedaam ruangan rawat Ara, beribu pertanyaan yang singgah di benaknya.
Pikiran takut jika perempuan di depannya ini mengingat kejadian beberapa belasan tahun silam melintas, dengan merubah wajah gugup nya menjadi wajah biasa saja membuat Reno tertawa dalam hati, 'kena mental anda!!' pekik Reno dalam hati.
"Ayah tahu, ternyata namaku Ara bukan Rara. Dan aku masih memiliki seorang nenek dan tante yang berasal dari bunda," Pak Gito menangkap raut wajah bahagia pada diri anak sambungnya.
__ADS_1
"Benarkah?" Pak Gito berpura pura tidak tahu, Ara segera mengangguk dengan antusias lalu menjawab, "tadi orang yang berdiri di luar yang memberitahu ku, katanya sudah lama mereka mencari Ara, dan mereka yakin itu aku karena kata nenek wajah ku mirip bunda, ah leganya punya keluarga dari bunda," Ara tersenyum penuh arti, Pak Gito melirik kearah Reno yang hanya diam dan menatap wajah Ara sambil menggenggam jemari Ara karena pergelangan tangannya di infus.
"Ya, mereka memang keluarga bundamu. Dan apa kamu tahu, mereka pasti mendekati kamu karena kamu sekarang sudah sukses," Pak Gito memprovokasi Ara, kini Pak Gito sudah duduk menggantikan Reno, sedang pria itu memilih keluar.
Pak Gito tidak tahu saja, Reno sudah mencekoki Ara berbagai kata dan cerita yang membuat Ara percaya, walau ada yang sedikit mengarang atau berbohong namun itu demi kebaikan kekasihnya yang sebentar lagi akan jadi istrinya.
"Kok ayah ngomong gitu?" tanya Ara tidak suka keluarga kandungnya di jelek jelekkan, Pak Gito tersenyum lalu melanjutkan ucapannya, "ya karena dari dulu mereka tidak mencari kamu, padahal ayah sudah bercerita akan membawa kamu ke kota untuk mengobati kamu. Tapi apa mereka perduli, mereka datang di saat kami sudah ayah besarkan dan sukses karena ayah," tutur Pak Gito sombong, ingin sekali Ara memaki dan mengumpat pria yang berstatus ayah angkatnya tersebut.
"Oya, Ra. Kamu sakit apa, di luar ada nak Fandi yang mau menengok. Ayah tahu kamu di sini juga dari dia," Ara terkejut dengan pernyataan pak Gito barusan, jika Kak Fandi melihat dirinya di sini berarti belum lama ini karena Ara baru beberapa jam di rawat di sini.
Pintu kamar terbuka, seorang pemuda masuk sambil melempar senyum, "Ra," sapanya, Ara hanya mengangguk sebagai balasan sapaan tersebut.
__ADS_1