
Hari di mana lomba cerdas cermat pun di mulai, saat ini mereka harus bertandang ke sekolah lain karena lomba itu tidak di adakan di sekolah Rea.
"Semangat, jangan gugup dan jangan takut salah, karena putri papa tidak pernah salah, mengerti," Rea menarik nafas dan menghembuskan perlahan lalu mengangguk, Reno terkekeh melihat ekpresi putrinya.
"Nanti tim kamu juga 3 orang?" Reno bertanya sembari memutar stang bundar itu, sesekali melirik kearah putrinya saat sedang bertanya atau menjawab, Rea kembali mengangguk menanggapi pertanyaan papanya.
Reno memarkirkan mobilnya di parkiran yang sudah di sediakan, netranya menyisir sekolah itu, kemudian melihat Wali kelas Rea tengah berbicara dengan beberapa anak, sepertinya sedang pengarahan, Reno segera menyuruh Rea turun dan mendekat pada teman temannya ikut lomba tersebut, Rea mengangguk dan segera keluar.
Setengah berlari hingga tak sengaja menabrak seseorang, "tak punya mata, ya?!!" bentak murid perempuan yang sedang berjalan dengan anak laki-laki yang ia tabrak, Rea hanya mencebik merasa lucu dengan pertanyaan penuh emosi itu.
"Hei mau kemana?" murid dari sekolah itu menarik seragam yang di pakai Rea, Reno yang melihat putrinya sepertinya sedang ada dalam masalah hanya menonton, bukan apa, dia tahu putrinya bisa menanggani masalahnya itu sendiri.
"Apa??!!" suara Rea yang keras membuat semua orang menoleh, "loe nggak punya mata, bisa bisanya menabrak orang dan ngga mau minta maaf," katanya dengan nada mencibir, bukannya marah Rea malah tertawa.
__ADS_1
Rea hampir saja jatuh jika anak laki-laki yang ia tabrak tadi tak menangkapnya karena tubuhnya di dorong, semua murid sekolah itu berdatangan ingin melihat keributan yang sebenarnya bisa di selesaikan baik baik tapi harus panjang karena tingkah dari gadis di hadapan Rea.
"Re, loe ngga apa apa?" ternyata Raditya ikut lomba juga, saat mendengar suara Rea, dia segera berlari, takut jika ada apa apa dengannya.
"Makasih," katanya yang kemudian dengan santai meninggalkan kerumunan, Raditya berdecak gemas melihat tingkah dari adik kelasnya. Sedang anak laki-laki yang ia tabrak menatap punggungnya sembari tersenyum miring.
"Dia dari sekolah loe?" tanya gadis itu pada Raditya, bukannya menjawab, Raditya memutar tubuh dan berlalu dari sana yang semakin membuat gadis itu kesal.
"Rangga, sepertinya murid murid dari sekolah itu sombong sombong dan arogan ya?" yang di panggil Rangga memutar kepalanya, memiringkan kepalanya menatap teman satu kelasnya yang terus mengikuti kemana dirinya pergi, dan bahkan Rangga merasa Lia berhak atas dirinya.
"Aku hanya takut pesonamu menurun pada Rea, tapi aku berharap kelak jika dia dewasa, dia benar-benar mendapatkan yang terbaik," Reno kembali bergumam dan masih menatap langit biru, merasa halaman sekolah itu sudah sepi, Reno menuju aula di mana putrinya akan mengikuti lomba cerdas cermat.
Reno melihat Rea duduk di tengah dan di apit dua murid lainnya, netranya menatap sosok anak laki-laki yang duduk di sebelah kiri Rea. Saat melihat Rea terlihat akrab dan ramah, Reno yakin putrinya nyaman dengan anak itu. Dan tugasnya semakin bertambah karena harus ekstra mengawasi putrinya.
__ADS_1
Lomba di mulai, kelompok Rea sering menekan bel dan menjawab pertanyaan dengan benar. Reno mengacungkan ibu jarinya kala Rea tersenyum padanya, dan tanpa Rea sadari, ada beberapa pasang mata yang ikut tersenyum melihat gadis itu tersenyum, ada juga yang menatap penuh benci pada Rea
Lomba antar kelas 7 selesai, kini berganti kelas 8, Rea yang duduk di samping Reno melihat Bagas ikut lomba tersebut, "Pa, sepertinya anak yang papa bantu pinter, lihat saja, kata ibu guru yang terpilih adalah yang otaknya di atas rata-rata," Rea berbisik dan di angguki oleh Reno.
"Awas saja jika dia tidak serius belajar dan membuat papa kecewa, papa akan suruh dia mengganti uang itu," seloroh Reno sambil berbisik juga, Rea yang mendengar candaan papanya terkikik sambil menutup mulut.
Reno berpikir Rea tidak akan kekurangan harta, bukannya sombong, Ayah Andri telah mengatas namakan hartanya pada Rea dan kembaran Rea walau belum bertemu, Ayah Andri yakin suatu saat anaknya akan kembali dan ayah Andri bisa memberikan jatahnya.
Dari dirinya juga ia bagi dua, untuk Rea juga kembaran Rea yang hilang, pun Papa Yudha, atau opa Yudha Rea memanggilnya. Lelaki paruh baya itu juga sudah menyiapkan warisan yang Reno tolak dulu kini ia berikan pada kedua anak Reno.
Selesai season kelas 8, kini ganti kelas 9. Netra Rea menyipit mendapati sosok Raditya ikut serta, dan Rea memindai ternyata Riska ikut kesana tapi hanya sebagai penonton, dan di meja lawan Raditya ada anak lelaki yang ia tabrak tadi.
Dan tanpa sengaja pandangan mereka bertemu, Rangga tersenyum dan melambai pada Rea yang segera melengos dan memilih melihat pemandangan lain.
__ADS_1
"Re," Rea menoleh saat tiba-tiba di sebelahnya sosok Rendra duduk setelah menyapa dirinya, "kamu pinter ya ternyata, bisa jawab semua pertanyaan itu," ucap Rendra di sertai senyum yang membuat Reno mengingat seseorang.