
"Kak, nanti aku izin reuni teman teman SMA ya," kini Ara dan Reno sedang perjalanan menuju cabang resto Ara, Reno yang sedang mengemudikan kendaraan roda empatnya menoleh seketika.
"Kok mendadak?" tanyanya sambil mengerutkan kening, Ara tersenyum sambil menatap netra berwarna amber di hadapannya.
"Kata Rania udah lama di rencanain, tapi baru tadi sempat ngasih tahu nya," jawab Ara disertai senyum manisnya dan berharap Reno mengizinkan, Reno tidak menjawab.
Kini fokus nya kembali kejalanan, karena kesal Ara melempar pandangan kearah luar jendela.
"Jam berapa?" Ara langsung menoleh dan tersenyum lebar, ternyata kekasihnya ini tak tega melihat dirinya merajuk.
"Jam 20.00 kok, Kak. Tar Rania yang jemput aku di rumah, katanya sekalian belajar naik motor barunya," sahut Ara dengan senang, Reno mengangguk mengiyakan.
"Boleh aku ikut?" Reno menawarkan diri, entah kenapa perasaannya kali ini tak enak.
"Janganlah, Kak. Maksud aku, tar kamu bosan di sana," Ara menolak halus, perempuan itu merasa jika nanti teman temannya tak akan nyaman dengan kehadiran sosok pria yang lebih tua dari mereka.
"Yah, padahal aku bete di kamar. Enaknya ngapain ya," Reno berpura pura kecewa, jemarinya mengetuk ngetuk kemudi seperti sedang berpikir, padahal dalam hatinya berharap Ara mau mengajak dirinya. Walau di sana hanya diam tak mengapa, asal bisa mengawasi teman teman kekasihnya. Baginya, Ara masih saja polos dan lugu.
Ara juga bingung untuk menyarankan agar lelaki itu melakukan sesuatu, tapi apa dia juga tak mengerti. Keduanya menarik nafas pelan secara bersamaan, keduanya juga saling melirik satu sama lainnya.
"Kalau malam Minggu aku bisa ngajak Seno pergi ke kafe atau diskotik, tapi ini malam Jumat. Masa aku di kamar sendiri," Reno berbicara pada dirinya sendiri dan sengaja berkata demikian agar Ara tergerak lalu mengubah keputusan dan berakhir mengajak dirinya.
"Atau gini aja, Kak." Ara mendapat ide lalu menjentikkan jarinya, Reno melirik malas pada perempuan di sampingnya.
"Tar jam sepuluh malam, kak Reno ke tempat aku ngadain reuni aja. Tar kita jalan kemana gitu berdua," Ara tersenyum sumringah dengan idenya, Reno tidak menanggapi ucapan Ara.
__ADS_1
Kali ini perasaannya benar benar tak enak, jadi dirinya bersikukuh untuk mengikuti kegiatan reuni yang teman temannya Ara adakan.
"Kak, mau ya," bujuk Ara, Reno mengangguk mengiyakan walau nantinya dia akan membuntuti kekasihnya yang polos ini.
"Terima kasih, Sayang," Ara mengangkat tubuhnya mendekat pada Reno lalu mengecup pipinya, Reno menoleh dan tersenyum.
***
Malam harinya Ara sudah bersiap siap di kamar, "mbak Ara beneran ngga ngajak saya?" mbak Siti bertanya dan mencoba mengoyahkan pertahanan Ara yang kekeh dari tadi ingin pergi sendiri. Akan tetapi Reno tadi menghubungi mbak Siti agar membujuk Ara mengajak dirinya.
"Tapi nanti di sana mbak Siti di anggurin lho, tadi kak Reno aja mau ikut ngga aku kasih izin karena ngga enak jika teman temanku nyuekin dia," balas Ara sambil mengerucutkan bibirnya, mbak Siti tersenyum dalam hati.
"Ya ngga papa, Mbak. Dari pada di rumah bingung mau ngapain, takut di apa apain sama ayahnya mbak Ara," celetuk mbak Siti lalu terkikik, "ya nggak mungkin ayah kaya gitu mbakkk," sahut Ara gemas sambil memukul pelan lengan mbak Siti. Keduanya lalu tertawa.
"Ra, ada Rania di luar thu!" Pak Gito berteriak memanggil anak angkatnya, "ya, Yah bentar!" Ara juga berteriak yang kemudian menutup mulut karena sadar sedang berbicara dengan orang tua, lagi lagi mbak Siti tertawa dengan tingkah konyol kekasih tuan mudanya.
Mbak Siti tersenyum lebar, tangannya mengambil ponsel lalu mengetik pesan pada orang yang menyuruhnya mengikuti Ara.
"Pantas saja Mas Seno betah sama tuan Reno, selain baik dia juga royal," gumam mbak Siti yang kemudian memilih pakaian terbaiknya, walau hem lengan panjang berwarna pink dan celana jeans berwarna hitam namun terlihat sangat cocok. Wajahnya hanya di beri pelembab wajah dan memakai lipgros berwarna pink, tak lupa rambutnya di kuncir kuda.
"Sudah, Mbak?" Ara yang baru masuk bertanya, mbak Siti mengangguk.
"Sebentar, Ara ganti dulu," Ara kemudian menuju almari dan mengambil dress berwarna pink sepanjang di bawah lutut dan lengannya menutupi sikunya yang beberapa hari lalu di belikan Reno, walau tidak mencetak bodynya namun terlihat elegan dan mewah.
"Wah, ternyata mbak Ara cantik banget ya, pantas tuan Reno tergila gila," seloroh mbak Siti yang langsung mendapat cubitan dari Ara.
__ADS_1
"Ya sudah yuk, Mbak berangkat. Nanti biar Rania berangkat sendiri, aku sama Mbak," Ara berdiri lalu menyambar tas dan jaket lalu menyerahkan kunci motornya pada mbak Siti.
"Lho, ini siapa? Dia ikut?" Rania bertanya karena terkejut, mbak Siti tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
"Siti, saya pegawai mbak Ara yang baru," ucap mbak Siti mengenalkan diri setelah uluran tangannya di sambut Rania.
"Em, saya Rania, teman Rara," Rania juga mengenalkan diri, mbak Siti menangkap raut wajah cemas pada wajah Rania kala melihat dirinya akan ikut serta.
"Ya sudah yuk," Ara menarik Rania dan mbak Siti keluar rumah lalu mengunci nya karena Pak Gito tadi izin pulang malam, jadi rumah sepi.
Ketiganya meninggalkan rumah Ara menuju kafe tempat reuni itu akan di adakan. Sesampainya di tempat yang di maksud, mbak Siti melihat Rania agak menjauh lalu tengah menelepon seseorang dengan sesekali melihat sekitar. Dan sesekali netra mereka bertemu, Rania membuang langsung tatapan kearah lain.
"Seperti Tuan Reno benar, ada yang ngga beres," gumam mbak Siti yang curiga melihat gelegat aneh pada Rania.
"Kok sepi ya, Mbak? Apa mereka belum datang?" Ara melihat sekeliling dan ternyata keadaan kafe tersebut agak sepi.
"Masuk yuk, Ra. Paling bentar lagi anak anak datang, gue udah kasih kabar mereka kalau kita udah sampek," Rania menarik lengan Ara, dengan langkah tersendat akhirnya mereka sampai di lantai dua bagian kafe tersebut.
Tak berselang tiga puluh menit, semua undangan datang, akan tetapi tidak semua. Dan mbak Siti duduk agak jauh dari mereka, namun pandangan matanya tetap fokus ke Ara.
Takut tak bisa menghadapi mereka semua, mbak Siti mengirim pesan pada mas Seno supaya mengajak tuan mudanya.
Pesta berlangsung, mereka melakukan pesta seperti biasa. Reno dan mas Seno menyamar menggunakan pakaian biasa dan memakai kacamata, mereka memilih lantai bawah yang langsung berhadapan dengan tempat di adakan nya pesta reuni itu.
Tak sengaja, Mas Seno melihat seorang pemuda memasukkan sesuatu kedalam gelas yang berisi minuman berwarna kuning. Kemudian pemuda itu berjalan mendekati teman wanitanya dan membisikkan sesuatu.
__ADS_1
Si perempuan mengangguk dan tersenyum, kemudian perempuan itu berjalan mendekati Ara yang tengah duduk dan sedang bercanda dengan teman perempuan yang lain.
"Ada yang mau berbuat jahat sama Ara, Ren," Mas Seno berbisik dan pandangan matanya belum teralihkan dari tempat Ara duduk.