Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 20


__ADS_3

"Bang, gimana kamu bisa ketemu sama ayah setelah sekian tahun dia menghilang?" kini mereka berempat, Reno, Rea, Ria dan Anton duduk di minimarket terdekat dengan rumah sakit yang kini merawat Pak Gito dan seorang wanita yang ternyata istrinya, Tante Denok.


Reno mengetahui jika wanita yang sedang bersama Pak Gito istrinya adalah pengakuan wanita itu sendiri, "saya istri dari Mas Gito, tadi kami kecelakaan karena dia hendak membawa lari tas saya yang berisi uang, sebenarnya saya tidak masalah jika Mas Gito menggunakan uang itu untuk usaha, tapi...ini untuk berjudi," ucap Tante Denok yang sudah sadar karena Pak Gito mendorong tubuh sintal istrinya kejalanan, beruntung hanya terserempet sepeda motor, sedang Pak Gito sendiri malah tersambar mobil saat lelaki itu melarikan diri.


"Entahlah, abang masih berharap dia tahu sesuatu," kata Reno sambil melirik kearah Rea yang terlihat menyimak obrolan orang dewasa tersebut, Ria dan Anton yang paham akan perkataan Reno hanya mengangguk.


"Ria juga berharap dia bisa ngasih tahu, Bang. Terlepas dia orang jahat, dia tetap ayah kandung Ria," perempuan yang kini tengah berbadan dua itu menunduk, rasanya malu dan sakit jika mengingat akan kelakuan dan kejahatan yang ayahnya lakukan pada kakak perempuannya.


Kedua lelaki dewasa itu mengangguk, Rea mendongak menatap tantenya.


"Kakek yang di tolong papa tadi ayah, Bunda?" Ria mengangguk mengiyakan pertanyaan keponakan, "tapi kenapa Rea tidak pernah melihat dan bertemu dengan dia?" Ria melirik suami dan kakak iparnya, meminta pertolongan untuk menjawab pertanyaan Rea yang tidak akan habis sebelum terjawab semua.


"Karena kakek punya istri baru, jadi kakek ikut istri barunya," Anton yang menjawab, tak lupa tangannya mengelus punggung istrinya, mendengar jawaban Anton, Rea manggut manggut, tapi entah kenapa ia memiliki firasat tak enak.

__ADS_1


"Jadi, kalau papa atau ayah nikah lagi, berarti tar ga bisa ketemu Rea sama bunda lagi?" tanya Rea polos, manik matanya yang berwarna amber itu menatap ketiga orang dewasa yang duduk satu meja dengan dirinya.


Anton meringis, merasakan tendangan dari Reno dan cubitan dari istrinya, "tapi papa nggak akan menikah lagi, Sayang," Reno merangkul pundak Rea lalu mengecup kepalanya, sedang matanya melotot kearah Anton yang menggaruk kepalanya merasa bersalah.


"Ngga tahu dengan ayah Anton," muncul seringai di sudut bibir Reno setelah berkata demikian, mendadak wajah Anton pias karena lirikan maut sang istri.


"Eh Rea, ayah tentu tidak akan menggantikan bunda kamu dengan wanita lain, ayah 'kan cinta banget sama dia," kata Anton sambil menggerak gerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sengaja bermanja manja dengan istrinya, bisa bahaya jika singa betina ini marah, bisa satu pekan dia tidur di luar tanpa memeluk istri kesayangannya.


"Memang kamu tahu apa itu bucin?" Anton bertanya sembari mencibir, "tahu dong," jawab Rea sambil terkekeh, sepertinya senang membuat lelaki ke berapa entah yang dia sayang setelah papanya, kakeknya, opa-opa nya, pamannya, kakak lelakinya, mengingat itu Rea kembali tertawa.


"Cih, sepertinya kau puas mengejek ayahmu ini," Anton berdecih kesal mendengar putri sahabat serta keponakan istrinya sedang mengejek dirinya, dan parahnya tidak ada yang membela, termasuk istrinya.


"Ayah tenang saja, walau ayah bucin sama bunda, Rea tetap sayang kok," gadis itu berdiri lalu memeluk dan mencubit gemas kedua pipi Anton yang terlihat agak cubby.

__ADS_1


"Inilah yang membuat ayah ngga bisa marah sama kamu, pinter merayu dan ngegombal," seloroh Anton yang mendapat kecupan di pipinya oleh Rea, ketiga orang dewasa itu sangat sayang dengan Rea, apapun akan mereka lakukan agar gadis itu tidak pernah bersedih.


***


Sudah hampir sepekan ini Pak Gito belum sadar, Tante Denok terlihat khawatir, walau dia tahu suaminya tidak pernah mencintai dia, dan selalu menghabiskan uangnya untuk berjudi, tetapi rasa cinta dan obsesinya pada Pak Gito belum hilang.


"Ayah belum sadar juga, Tante?" Ria yang berkunjung dan mencoba menerima keadaan jika ayahnya telah menikah lagi, dan wanita yang sedang menunggu ayahnya adalah istri ayahnya atau ibu tirinya.


"Belum, Nak," jawab Tante Denok ramah, Tante Denok menilai jika anak kandung dari suaminya ini sebenarnya baik dan perhatian, mungkin ada hal buruk yang suaminya lakukan di zaman dahulu hingga anak tirinya seperti acuh dengan Pak Gito, atau suami Tante Denok.


"Tante sudah makan, ini Ria bawakan makan siang," Ria menyodorkan plastik putih yang berisi dua sterefom, Tante Denok menerima dengan senang hati lalu mengucapkan terima kasih, Ria hanya mengangguk dan tersenyum.


"Kau tahu, senyummu itu seperti senyum tantemu," ujar Tante Denok yang membuat kening Ria bertaut, "tante saya?"

__ADS_1


__ADS_2