Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 6


__ADS_3

Minimarket tempat bekerja Rara hari ini lumayan rame, ada yang sekedar membeli snack atau camilan. Ada yang membeli minuman kaleng, botolan dan masih banyak lagi.


Rara di sini sebagai kasir, jika sepi Rara pasti membantu temannya menghitung barang-barang yang terpajang di etalase, terkadang memajang barang-barang yang sudah habis juga.


"Selamat datang," sapa teman satu shift Rara begitu ada orang masuk, Rara yang mendengar segera kembali ke meja kasir. Rasa kesal menyeruak begitu mendapati siapa yang datang baru saja.


Dengan tenang Rara menunggu pembeli itu memilih dan membawanya ke meja kasir. Walau terlihat tenang, percayalah kaki Rara bergerak resah di bawah meja kasir tersebut.


Kakinya sesekali menghantuk-hantuk ke lantai, terkadang dia tekuk.


"Apa sih yang dia beli?" gerutu Rara pelan, tidak lama pembeli tersebut membawa keranjang yang berisi belanjaan miliknya.


"Ada kartu pelanggan?" tanya Rara pada customer tersebut, dengan sigap orang itu mengambil dompet dan menyerahkan kartu yang di maksud Rara.

__ADS_1


Setelah mengscan kartu pelanggan tersebut Rara ganti mengarahkan barang-barang itu ke depan mesin sensor, di layar komputer nampak harga dan total barang-barang itu.


"Seratus tujuh puluh lima ribu, ada yang lain?" ucap Rara setelah memasukkan barang-barang yang telah dia scan.


Orang itu menggeleng dan menyerahkan uang dua lembar berwarna merah, Rara kembali mengetik nominal itu di keyboard dan muncul di layar hasil kembaliannya.


Ting, bunyi mesin register dan terbukalah mesin itu. Menampakkan uang-uang yang di tata rapi di sana. Rara mengambil nominal uang kembalian dan menyerahkan pada orang itu.


"Kembaliannya buat kamu saja," orang itu menolak dan mengambil beberapa makanan dan minuman lalu memberikan pada Rara.


"Kenapa, Ra?" Rania mendekat setelah orang yang membeli tadi pergi, "ini," Rara menunjuk barang-barang yang di tinggalkan orang itu untuk Rara di meja kasir tersebut.


"Kenapa ngga lu terima aja sih cinta dia?"

__ADS_1


"Kayaknya Dion itu cinta banget deh sama lu, buktinya setiap hari dia kesini," Rara hanya memutar bola mata malas.


"Kalau gue terima dia, lu apa kabar?" Rara memasukkan camilan yang di berikan pria yang bernama Dion tadi kedalam tas plastik, dan di kembali ke rak dan menata barang-barang yang telah habis.


"Gue sebagai sahabat dan teman, lihat lu bahagia gue juga bahagia," Rania terlihat meyakinkan.


"Dan mama Dion pasti juga ngga akan setuju kalau gue sama dia berhubungan," tandas Rania yang membuat Rara menoleh kearah nya.


"Itu lu tahu," Rania mengernyit heran, "maksud lu, Ra?" Rara hany menarik nafas lalu memegang kedua bahu Rania.


"Kamu kan tahu, mamanya Dion itu pemilih. Dan tante Siska orangnya sosialita, jika Dion ada hubungan sama gue, atau lu, mereka pasti malu," Rara mencoba menjelaskan alasan yang masuk akal.


"Tapi kan Dion cinta sama elu, Ra? Dia pasti akan memilih elu!" Rania bersikukuh membuat Rara menerima cinta Dion. Bagi Rania kebahagiaan Dion adalah segala-galanya, dia akan ikhlas dan rela walau Dion bahagia dengan orang lain.

__ADS_1


Rara menggeleng tidak habis pikir akan sikap keras kepala sahabatnya ini, "dengar, gue udah ada pacar sebenarnya," Rara terpaksa mengatakan kebohongan, bukan kebohongan tapi ada kebenaran. Benar dia sudah memiliki pacar, walau pacar sewaan.


__ADS_2