
"Re, kakak ngga suka kamu deket-deket sama cewek tadi," Sera berujar mengatakan ketidak sukaannya akan kedekatan antara Rendra dan Rea, saat ini mereka masih dalam perjalanan pulang dan mereka menaiki mobil yang Sera kemudikan.
Mendengar perkataan kakaknya yang seperti larangan membuat kening Rendra mengernyit, "kenapa memang, Kak. Rea baik kok," ujar Rendra yang malah terdengar di indera pendengaran Sera seperti sedang membela saingannya.
"Kakak lihat dia itu sombong, mentang mentang kaya," sebenarnya bukan itu alasan utama Sera melarang, perempuan itu hanya cemburu.
Karena malas menanggapi ketidak sukaan kakaknya, Rendra memilih diam dan menatap ke depan.
"Ren, kakak kaya gini karena sayang kamu. Kakak ngga ingin kamu terjerumus ke hal hal yang ngga bener, apalagi bergaul dengan orang yang salah," melihat ke diaman Rendra, Sera tidak suka dan ia tidak mau jika laki-laki itu menjauh juga dari dirinya.
"Rendra itu sudah besar, Kak. Jadi Rendra tahu, mana yang baik dan enggak, kakak juga ngelarang aku main sama Diva. Padahal kita bertiga kakak adik," kesal Rendra akhirnya berkata demikian, sungguh Sera terkejut dengan jawaban Rendra.
__ADS_1
"Kok kamu kaya gini, ini pasti gadis itu yang sudah mencuci otak kamu. Ingat mulai-"
"Jika kakak terus melarang Rendra melakukan apapun, Rendra akan pasti kan akan menjauhi kakak, jadi biarkan Rendra melakukan apapun yang Rendra suka, karena tak pernah 'kan Rendra ngelarang ngelarang kakak!" Rendra memotong ucapan Sera dan nada bicara Rendra sedikit keras yang benar benar membuat Sera terkejut.
Ucapan balasan yang terdengar seperti ancaman itu sangat membuat Sera takut, takut jika Rendra benar benar menjauhi dirinya, "maafkan kakak ya, Ren. Kakak terlalu sayang kamu jadi kakak tidak mau kalau ada yang menyakiti dan mengambil kamu dari sisi kakak," Sera menatap sendu pada Rendra yang masih tidak mau menatap dirinya.
Dan seandainya Reno melihat apa yang Rendra lakukan pasti dia akan semakin kuat praduganya jika Rendra adalah putranya yang hilang.
Mengingat kedekatan mereka tadi, Rendra tersenyum, "kamu kenapa senyum senyum sendiri?" Sera bertanya heran, Rendra menoleh lalu menggeleng, baginya ini adalah rahasia besar yang harus dia simpan sendiri.
Sesampainya di depan rumah, dan Sera telah memarkirkan mobilnya, Rendra melihat sosok lelaki yang tengah duduk bersantai di bawah pohon mangga, Rendra segera keluar dan berlari menuju kearah lelaki paruh baya itu, "kakekkkkk!!!!" teriaknya, sedang Sera bertambah kesal karena di tinggal.
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu tersenyum sembari merentangkan keduanya tangannya menyambut kedatangan anak lelaki yang dia bawa paksa saat mantan istrinya hendak membunuh setelah menculiknya dan memilih membesarkan daripada dirinya terkena tuduhan menculik, walau secara tak sadar dirinya memang sudah menculik putra Reno dan Ara.
"Kakek," ujar Rendra setelah berada di dekapan sang kakek, Rudi tersenyum sambil mengeratkan pelukannya, semenjak ikut mendidik dan merawat cucu dari perempuan yang ia cintai, perasaan sayang dan takut kehilangan itu tumbuh dan muncul.
Dulu Rudi tahu, jika sahabtnya, Andri dan Reno menantunya berusaha keras mencari keberadaan anak lelaki yang kini berada di dalam pelukan nya, akan tetapi setelah kejadian itu Rudi melarikan diri ke luar negeri, dan menyerahkan Rendra pada Nadin agar merawat dan membesarkan seperti anaknya sendiri.
Mungkin karena Rendra adalah anak yang baik, penurut dan tidak neko neko, sifatnya seperti Karina, sang nenek, sehingga membuat semua orang bisa segera menyayangi dirinya.
"Kata mama Nadin kamu ada lomba?" Rudi bertanya setelah Rendra duduk di samping kakeknya dan melepas tasnya lalu menaruhnya di pangkuannya, Rendra pun mengangguk mendengar pertanyaan kakeknya. Rendra menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak mendapati keberadaan kakaknya, Rendra mendekatkan wajahnya ke telinga Rudi.
"Tadi Rendra ketemu ayah temen Rendra, Kek. Dia baik banget, lho, Rendra di traktir lagi," Rendra kembali menoleh kan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
__ADS_1
"Trus pas asyik asyik ngobrol, kakak datang trus Rendra di ajak pulang, sebenarnya Rendra ngga mau. Tapi kakak melotot kearah Rea, dan akhirnya Rendra pun mau ikut pulang walau dalam hati masih ingin di sana. Rasanya nyaman banget deh, Kek. Ngga kaya waktu Rendra sama mama dan papa, sama Diva dan kak Sera," Rudi tersenyum mendengar cerita Rendra, Rudi sangat tahu, Rendra bukan tipe orang yang banyak bicara, mirip mantan calon tunangannya