
Tak terasa sudah hampir 2 bulan Pak Gito koma, dan sepertinya ini adalah karma karena dulu membuat Ara koma hingga berbulan bulan.
Tante Denok yang setia dan selalu menjaga serta berharap suaminya segera sadar, seperti merasakan pergerakan tangan yang dia genggam, kepalanya yang awalnya ia letakkan di brangkar di mana suaminya terbaring segera mendongak.
"M-m-mi-num," ucap Pak Gito terputus putus, Tante Denok yang belum mengerti hanya mengernyit, tapi saat tangan suaminya bergerak menuju kearah nakas di mana ada minuman, dia segera paham.
"Mas mau minum?" Tante Denok segera menuang air putih ke dalam gelas dan ia beri sedotan agar mempermudah Pak Gito minum, perlahan Tante Denok pun mendekatkan gelas itu ke bibir suaminya.
Seperti bermimpi berjalan jalan di gurun pasir yang sangat panas, membuat Pak Gito segera menyedot dan menandaskan air putih itu. Tante Denok tersenyum melihat suaminya sudah sadar, wanita itu kemudian menepuk kening dan segera menekan tombol yang letaknya di bawah brangkar Pak Gito, dokter sengaja meletakkan di situ agar sewaktu waktu tidak ada keluarga pasien yang menunggu, pasien yang sadar bisa menekan sendiri tombol itu.
Dokter datang beberapa menit setelah tombol darurat itu di tekan, pertama kali yang dokter itu lakukan adalah mengeck darah dan kondisi pasiennya, sayang kata dokter Pak Gito terserang lumpuh dan lambat dalam berbicara, walau sedih mendengar kondisi suaminya, Tante Denok tetap senang karena suaminya akhirnya sadar.
Se tidak nya kini ia bersyukur, dengan keadaan lelaki itu yang sedang lumpuh dan bicara tidak lancar, maka Pak Gito tidak akan bisa pergi berjudi dan memarahi Tante Denok lagi saat ia tak memberinya uang.
"Ayah sudah sadar, Tante?" Ria yang segera datang karena setelah Pak Gito sadar, Tante Denok menghubungi dirinya. Antara sedih dan senang, Ria datang menemui lelaki yang sampai kapanpun bergelar ayah baginya, juga akan menjadi kakek dari anak yang tengah ia kandung.
"Sudah, tapi-" Tante Denok tidak meneruskan ucapannya, Ria yang seakan mengerti mengangguk dan mengusap lembut lengan ibu sambungnya itu.
"Ayah, ayah harus bertahan. Aku sedang hamil, apa ayah tidak ingin melihat dan menyayangi dia?" mata Ria berkaca kaca, kehamilan ini membuat jiwanya sedikit sensitif.
__ADS_1
"H-ha-mil?" tanya Pak Gito terbata bata, Ria mengangguk, meraih tangan kekar yang sudah di tumbuhi keriput itu dan meletakkan di perutnya yang sudah agak membuncit karena kehamilan itu memasuki usia hampir 3 bulan.
Ria melihat ayahnya terlihat bahagia saat menyentuh perut itu, "sayangi dia, jangan telantarkan dia. Mungkin ini adalah peringatan yang Tuhan berikan pada ayah karena sudah jahat padaku dan kak Ara, juga kak Rara," Ria mulai terisak mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat ia hampir di jual ayahnya.
"Sekarang kita hanya bisa berdoa, semoga ayahmu segera sembuh dan sadar dengan perilaku buruk dirinya zaman dulu," Tante Denok mencoba menghibur, Ria memang sudah menceritakan semua tentang masalalu dan keburukan Pak Gito.
"Iya Tante," Ria mengangguk lalu memeluk ibu sambungnya tersebut, Tante Denok pun membalas pelukan itu.
***
Hari ini sesuai rencana, ulang tahun Rea dan Rendra di rayakan bersamaan. Nadin menyetujui permintaan Rendra karena merasa tidak bisa merayakan untuk tahun ini.
"Besok Senin, coba kau tanya pada Rendra. Kenapa dia tidak datang di acara ulang tahunnya," Reno mengusap lembut kepala Rea, gadis itu mengangguk.
"Pa, Rea merasa jika kami tidak akan bertemu lagi," ucap Reno yang membuat semua keluarga besar itu kaget, "Rea kok ngomong gitu?" Nyonya Wijaya yang heran pun bertanya, Daffa yang melihat wajah sedih dan tampak kehilangan di wajah cantik Rea mendengus kesal.
Diam diam Daffa berdoa dalam hati, semoga orang itu benar benar hilang dan tak kembali. Semua menoleh kearah pintu yang terbuka, Rea mencebik melihat siapa yang masuk.
"Papa ngundang dia?" tanyanya sambil berbisik, Reno meringis lalu mengangguk, "hanya orang tuanya saja sebenarnya," kata Reno seperti tak merasa bersalah.
__ADS_1
"Jika orang tuanya datang, otomatis anaknya juga ikut, papaaaa," Rea berbisik dan tidak saat berbicara tidak membuka giginya, melihat putrinya yang kesal Reno tertawa.
"Selamat ulang tahun, cantik. Semoga tambah cantik, pinter belajarnya, berbakti pada papa dan cepat besar," doa Nyonya Fernandes yang kemudian menyerahkan sekotak hadiah untuk Rea, "terima kasih, Tante," ucap Rea sembari tersenyum lalu menerima hadiah tersebut, Tuan Fernandes pun mengucapkan doa yang terbaik untuk Rea.
"Untukmu," Raditya menyodorkan boneka beruang berwarna pink yang sengaja di bungkus plastik kado, mata Rea sempat berbinar melihat hadiah dari Raditya. Namun, mata itu kembali menjadi angkuh saat menyadari Raditya melihat dirinya tersenyum.
"Terima kasih," kata Rea dingin dan enggan menatap lelaki yang menurutnya menyebalkan itu
***
Di negara lain, seorang anak lelaki menangis, di sampingnya seorang gadis kecil mencoba menghiburnya, akan tetapi sepertinya tidak membuat kakaknya kembali bahagia.
"Ren, sudahlah. Papa harus kembali ke negara ini karena perusahaan papa sedang ada dalam masalah," suami Nadin kesal melihat Rendra menangis karena tidak mau di ajak kembali ke negara di mana dia memulai semuanya.
"Rafi, tolong kamu bawa Rendra pergi. Sepertinya dia sudah dekat dengan keluarga kandungnya, papa tidak mau jika Rendra di ambil mereka, dan kemudian papa di masukkan ke penjara atas tuduhan penculikan," sudah 2 minggu lebih Rudi membujuk Rafi, menantunya untuk membawa Rendra pergi jauh, dan akhirnya Rafi setuju dan dengan alasan ada masalah di kantor pusat milik Rafi, lelaki itu memaksa Rendra ikut pergi dengannya.
Semenjak Rendra bercerita tentang keluarga itu, Rudi mencari tahu siapa yang di maksud, dengan segera Rudi memutuskan menyuruh anak dan menantunya kembali ke negara di mana mereka menyembunyikan Rendra dulu.
Rendra hanya diam, kemudian mengangguk dan menghapus airmatanya dengan kasar.
__ADS_1
'Rea, tunggu aku, jika aku sudah besar dan punya uang banyak, aku akan kembali kesana untuk bertemu dengan mu,' janji Rendra di dalam hati.