Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 33


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian, Rara keluar sudah mengenakan seragam minimarket tempatnya bekerja, tidak lupa tas slempang miliknya yang berisi dompet kecil dan ponsel, serta bolpoin dan buku memo. Barang-barang itu tidak pernah lepas dari tas Rara.


Fandi tersenyum manis kala menatap wajah Rara yang hanya berbalut bedak tipis dan bibirnya di olesi lipstik berwarna pink, rambutnya di kuncir kuda dan berponi.


"Ini kak Fandi mau nganter Rara ke tempat kerja juga?" Rara bertanya pada pemuda yang sedang menatap dirinya, Fandi hanya mengangguk.


"Apa ada yang aneh dengan dandananku, Kak?" Rara memeriksa sekali lagi penampilan nya, tidak ada yang aneh, tapi kenapa kak Fandi menatap dirinya seperti itu? batin Rara berbicara.


"Ah, ngga ada kok. Ya sudah, yuk berangkat keburu telat kamunya," Fandi berjalan terlebih dahulu, sedang Rara menggaruk pelipisnya bingung.


"Ayo, Ra!" seru Fandi yang sudah naik di atas motornya dan sudah menyalakan mesinnya. Rara mengunci pintunya terlebih dahulu sebelum berangkat.


"Yuk," ujar Rara setelah naik motor milik Fandi, Rara heran kenapa Fandi tidak juga melajukan motornya.

__ADS_1


"Kak, ayo," Rara berucap seraya menepuk pundak Fandi, tetapi pemuda itu bergeming. Rara menunduk menatap tangan Fandi yang bersedakep, ingin sekali Rara mengumpat 'kesempatan dalam kesempitan'.


Akhirnya Rara mencengkeram jaket Fandi untuk berpegangan, Fandi terdengar menghela nafas. Fandi pun melajukan kendaraan roda duanya menuju minimarket tempat Rara bekerja.


Tidak sampai lima belas menit kemudian mereka sudah sampai, Rara melepaskan helm yang terpasang di kepalanya. Fandi turun dan membantu Rara karena gadis itu terlihat kesusahan, aroma parfum menyeruak di indera penciuman Rara.


"Makasih, Kak," ucap Rara setelah helm terlepas, Fandi mengangguk dan tersenyum, tampan, itu kata pertama yang terbesit saat melihat Fandi tersenyum.


"Tapi kak...." ucapan Rara terpotong karena Fandi menyalakan mesin motornya dan melambai padanya, "Assalamualaikum," ucap Fandi berpamitan, "waalaikum salam," jawab Rara ragu. Fandi tersenyum.


"Semangat kerjanya," Rara merasa wajahnya memanas, pasti terlihat memerah karena menahan malu, ada pria yang memberi perhatian padanya. Rara mengangguk dan segera masuk kedalam minimarket tempat dia bekerja.


"Ganti lagi?" Rara hanya memutar bola mata malas menanggapi ocehan sahabatnya, kemudian menaruh tasnya dalam loker sebelum memperbaiki riasannya.

__ADS_1


"Eh, gue dengar Dion mau di jodohkan. Siapa sih wanita beruntung itu?" glek, pergerakan tangan Rara berhenti, dia memelan susah payah salivanya.


"Semoga saja thu cewek nolak ya, gue akan perjuangin si Dion kalau ampe dia di tolak," cara mempercepat gerakannya, menutup kotak loker dan berjalan cepat meninggalkan sahabatnya.


Hatinya kacau, padahal hanya meletus tidak seperti lagu anak-anak itu, brukk, Rara meringis dan mengusap keningnya pelan.


"Kalau jalan lihat jalan, jadi nabrak 'kan," seloroh seorang pria, Rara mendongak dan memekik kala melihat siapa orang itu, "mas Seno," sedang pria itu tersenyum manis.


"Ra, loe ngga papa. Maafin temen saya ya om, dia emang ceroboh," Rania berucap seraya membungkuk, sedang Seno membesengut karena di panggil 'Om'.


"Loe apa-apaan sih, Ran?" seru Rara kesal, "eemmt, mas Rara kembali kerja ya," Rara meninggalkan Seno sebelum pria itu menjawab. Rara dan Rania menuju gudang, mereka menyetok barang terlebih dahulu.


Hai hai hai, maaf lama ngga update, semoga sehat selalu, sayang Kalian

__ADS_1


__ADS_2