
Di dalam kamar rawat Ara, Pak Gito membiarkan kak Fandi duduk di kursi yang terletak di samping brangkar Ara dan berbincang dengan anak sambungnya tersebut.
Kak Fandi yang tidak bisa menahan perasaannya, yang awalnya malu malu, kini mulai berani memegang lengan perempuan itu. Dan Ara menolak halus sentuhan itu, Ara mengingat pertemuan pertama nya dengan Kak Fandi.
Lelaki itu tidak berani menyalami atau menyentuh dirinya, namun dengan berani memandang dirinya cukup lama. Dan dulu saat mengantar Ara pulang, dengan cukup berani menarik tangannya agar berpegangan padanya. Apa kak Fandi ini mempunyai kepribadian ganda, pikir Ara dalam hati.
Dan yang sebenarnya adalah, Kak Fandi hanya mau menyentuh dirinya. Dan hanya berani menatap lama seorang wanita, dan kak Fandi takut Ara marah kala menyentuh tangannya.
"Apa adikmu belum kesini?" Kak Fandi ingat tentang Ria, dan karena tak mendapati adik dari perempuan yang dia sukai maka Kak Fandi bertanya.
Ara melirik kearah Pak Gito yang terlihat cuek, benar juga, sudah beberapa minggu adiknya tidak pulang semenjak kejadian itu namun ayahnya tidak mencari, hanya bertanya dan bertanya saja. Apa dia tidak cemas, bukankah Ria adalah anak kandungnya? gumam Ara dalam hati.
__ADS_1
"Dia sedang bekerja, Kak," akhirnya Ara menjawab setelah sekian menit terdiam dan memikirkan jawaban.
"Tapi udah di kasih tahu?" Kak Fandi mencecar Ara dengan pertanyaan lagi, "sudah, nanti setelah pulang kerja mau kesini," jawab Ara, sudut matanya menangkap raut terkejut pada wajah Pak Gito.
Hingga sore hari, Kak Fandi izin keluar untuk kembali kekamar sang bunda. Ara mengangguk mengiyakan. Tinggal Pak Gito yang menunggu Ara di dalam ruangan itu, Pak Gito merasa Ara sedikit berubah menjadi pendiam dan terlihat menjaga jarak darinya.
"Ra, kenapa sepertinya kamu sudah tidak perduli lagi sama ayah," ucap Pak Gito dengan nada sedih, Ara sedikit terkejut. Padahal selama ini dia merasa kedekatan mereka masih seperti biasa, mungkin karena ia sibuk mengurus restonya, pikir Ara.
"Ayah 'kan tahu kalau Ara sekarang membuka resto dan mungkin sibuk dengan resto Ara yang baru sehingga ayah ngerasa kaya gitu, padahal menurut Ara ngga gitu lho," ucap Ara terdengar tak terima di tuduh berubah, walau sebenarnya Ara memang sedikit berubah namun tanpa ia sadari.
Pak Gito mendengus kesal, "lihat saja itu kamu berbicara pada ayah tak seperti biasanya. Pasti ini karena pengaruh pria yang mengaku pacar kamu itu!" Pak Gito berbicara dengan nada sengit, Ara mendelik tak percaya dengan apa yang ayah sambungnya ucapkan.
__ADS_1
"Apa karena keluarga dari bundamu sudah datang dan kamu merasa tinggi apalagi dengan usaha yang baru kamu miliki. Ingat jika tidak ada ayah, kamu tidak akan bisa jadi orang sukses seperti ini!!" emosi pak Gito terpancing, sehingga dengan nada naik beberapa oktaf lelaki itu menunjuk nunjuk Ara.
Ara kesal bukan main, apa dia tidak ingat jika dia tidak bekerja dari mana ayah sambungnya itu bisa mendapatkan uamg untuk bertaruh dalam judi, dan selama ia sekolah, Ara sangat mengingat jika hanya bundanya yang bekerja keras memenuhi kebutuhan mereka, sedang pak Gito hanya bekerja jika ada yang memanggil dan meminta bantuannya.
Ara dan Pak Gito menoleh kearah pintu yang terbuka, wajah Pak Gito terlihat pias saat melihat siapa yang datang.
"Kak, maaf aku baru datang," orang yang baru datang tersebut ternyata adalah Ria, Ara mengangguk walau dalam hatinya bertanya, 'bukankah mereka tadi sudah bertemu, dan kenapa Ria berbicara seperti itu?'
"Maaf adik kamu banyak kerjaan, jadi baru bisa datang," suara seorang pria yang ikut masuk juga membuat Ara dan Pak Gito terkejut.
"Kamu ngapain kesini?" kening Ara mengkerut heran melihat pria menyebalkan itu datang, apalagi datangnya bersamaan dengan adiknya.
__ADS_1
"Aku hanya mengantar adikmu, takut ada yang menculik dan berbuat aneh aneh padanya," ucap pria itu sambil nyengir, khas pria itu jika menggoda Ara.