
"Kamu habis lulus Smk langsung kerja?" Rara mengangguk, "kalau saya tidak bekerja ayah tidak bisa di rawat, walau pakai bpjs kan tetap harus bayar perbulannya. Masih harus menyekolahkan adik Rara juga," walau masih sedih Rara berusaha tegar, baginya Tuhan begitu mencintai dirinya.
Jika tidak mana mungkin Rara diberi cobaan yang bertubi-tubi tapi dia masih bisa menghadapi dan menyelesaikannya. Walau rasa lelah sering mendera, namun demi sang ayah dia harus tegar dan kuat.
"Mama sama papa mau ngomong," tiba-tiba Reno datang dan membuat Rara kaget, "i-iya om, eh mas. Saya segera keluar," jawab Rara gugup, si bibi hanya tersenyum.
Rara mengulas senyum begitu sampai di ruang tamu, sebenarnya Rara ingin berlama-lama di dapur, dia tidak percaya diri jika harus dihadapka. dengan orang kaya seperti mereka. Tapi Reno keburu datang dan mengajaknya keluar.
"Sudah selesai nyuci piringnya?" lagi Cila seakan mencari keributan bila berhadaan dengan Rara, "sudah," sahut Rara berusaha tenang.
Pasalnya, se dari tadi sang papa dari Reno memandang dirinya, "kamu benar-benar mencintai anak saya? Bukan hartanya 'kan?" Rara mengelus dada berusaha tenang, apa begini kelakuan orang kaya batin Rara.
Semoga mama dan papa om Reno percaya pada kami, sehingga mereka tidak menjodoh-jodohkan om Reno dengan wanita-wanita lain lagi' keluh dan doa dalam hati.
__ADS_1
Rara hanya tidak suka sifat ketus sang mama Reno, sedang sang suami begitu baik dan ramah.
'Dengan begitu setelah uang pembayaran selesai, aku bisa bebas,' lagi-lagi Rara hanya bisa membatin.
"Iya Tante, Rara sangat mencintai mas Reno," walau ada rasa takut tapi dia coba beranikan diri, demi sang ayah.
"Halah, paling cuma ngincer hartanya Reno saja om, Tante," Cila mengkompori, tangan Rara terkepal.
'Gue ogah jadi pacar sewaan om Reno jika saat ini tidak ingat kalau gue butuh uang buat operasi ayah!' jerit Rara dalam hati.
"Jadi kamu doain anak saya bangkrut!" sentak mama Reno langsung karena tidak terima.
Rara menggeleng keras tangannya bergerak ke kanan dan ke kiri lalu membela diri dengan berkata, "bukan begitu maksud saya tante, maksud saya kalau saja. Kan jodoh, rejeki, umur sudah ada yang ngatur,"
__ADS_1
"Sama aja kali, tapi itu terdengar halus," Cila mencibir, Rara menghela nafas lalu membuangnya, mengatur emosi yang membuncah di dada, sedari tadi saat berhadapan dengan gadis kaya nan manja ini kesabarannya di uji.
'Lihat saja jika kita ketemu di luar, habis lu,' Rara menyeringai kecil.
"Mas, aku mau pulang. Udah malam ini, kasihan adikku yang nungguin ayah di rumah sakit," Rara berusaha mengalihkan perbincangan, padahal Reno juga tahu kalau adik Rara tidak mungkin ada di sana.
"Ya, ayo," Reno berdiri menyambar kunci yang tadi dia letakkan di atas meja, Rara ikut berdiri lalu menatap kedua orang tua Reno.
"Tante, Rara pulang dulu," pamitnya lalu mengambil tangan beliau dan mencium punggung tangan mama Reno.
"Om, Rara pulang dulu," gilirannya mengambil dan menempelkan punggung tangan papa Reno pada kepalanya.
"Ya hati-hati, kalau ada waktu main kesini lagi," Rara mengangguk mendengar pesan papa Reno.
__ADS_1
"Ren, nanti kamu pulang'kan?" Cila berdiri dan mengekori Reno juga Rara, Reno mengangguk.
"Yes, aku nginep kok di sini," tanpa di tanya Cila menjelaskan, Reno memutar tubuhnya membuat Rara terbentur dadanya yang keras.