Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 63


__ADS_3

Rara mendekati Reno yang duduk di sofa, netranya tidak berkedip melihat punggung tangan pria itu.


"Mas," panggil Rara, Reno yang tengah menyandarkan kepalanya menoleh, Rara segera meraih dan menggenggam tangan besar Reno, "ini, kenapa?" tanya Rara hati hati.


"Tidak apa apa," jawab Reno enteng, "tapi kok luka gini? Nggak sakit emang?" Rara mengangkat tangan Reno dan meletakkan di pahanya, masih ada sisa darah yang keluar.


"Tidak," jawab Reno singkat dan menarik tangannya, kemudian merebahkan tubuhnya di sofa dan menjadikan paha Rara sebagai bantal.


"Ra, nikah yuk," dengan santai Reno berkata, punggung tangannya yang terluka mengusap pipi Rara, "nikah?" ulang Rara yang langsung di angguki Reno.


'Aku nggak mau kehilangan kamu lagi, apalagi teman ayahmu sudah seperti orang gila meminta jawaban dari mu," gumam Reno dalam hati.


Rara terdiam, hatinya kacau. Baginya kini dia baru bisa berdiri, dalam arti baru memiliki usaha. Dan dia ingin mengembangkan usahanya itu, agar lebih terkenal.


"Ra, ayo nikah. Kamu minta apa aku turuti, asal kamu mau nikah sama aku. Ya, ya, ya," Reno memasang tampang memelas, "kalau nggak mau nanti aku cium lho," Reno langsung tersenyum jahil. Sedang Rara hanya mencebik dan memutar bola malas, ancaman basi batin Rara.


"Aku masih ingin mengembangkan resto ini, Mas," jawab Rara, Reno menghembuskan nafas berat.


"Apa kau tidak ingin punya anak anak yang lucu?" Reno membujuk, Rara terlihat berpikir.


"Coba bayangkan, kalau anak anak kita sudah bisa berjalan dan mereka berlarian. Mereka pasti akan berteriak menyambutku lalu memanggil ku Daddy dan memeluk ku. Coba bayangkan itu, Ra," sejenak Rara membayangkan betapa bahagianya anak anak mereka nanti, mendapatkan kasih sayang yang lengkap. Dan yang utama tidak kekurangan uang, dia sudah memiliki usaha dan bisa menuruti keinginan anak anak mereka tanpa harus bersusah membantu dirinya bekerja.


"Aahh," Rara meringis, kepalanya tiba tiba sakit, bayangan anak kecil meminta mainan pada ibunya dan mendapatkan penolakan berkelebat di ingatannya.


"Ra," Reno segera bangkit dan berlari keluar, "bawakan nona Ara minuman hangat!!" perintah Reno entah pada siapa, dan suaranya yang menggeleggar membuat para pelanggan menoleh. Bukan Reno namanya jika tidak memperdulikan orang sekitarnya, perdulinya hanya untuk Ara nya.


"Sakkiiiiitttt!!!" Rara berteriak, kemudian memukuli kepalanya dengan kepalan tangannya, "mas Reno, sebenarnya aku sakit apa?!!" intonasi Rara sedikit meninggi, rasa sakit dan penasaran bercikolol dan membuatnya tidak bisa menahan amarah dan kesal. Kesal karena pria iti tidak memberitahu sakit apa yang tengah dia alami.

__ADS_1


Reno memandang Rara dengan frustasi, apakah saatnya wanita ini tahu. Tidak, Reno menggeleng cepat. Jika Ara nya tahu sekarang dia pasti akan sedih, dan dokter menyarankan agar Ara tetap bahagia hingga masa itu tiba.


"Ra...." ucapan Reno berhenti karena ada yang mengetuk pintu, dengan segera Reno membuka dan menerima teh hangat yang pegawai Rara buatkan. Tanpa mengatakan terima kasih, Reno membawa masuk nampan yang berisi teh hangat itu.


Reno mengambil obat Rara yang berada di meja kerja Rara, "minum obatmu dulu," katanya seraya menyodorkan itu. Rara menggeleng dan mendorong tangan Reno, menolak meminum obat yang kata dokter adalah vitamin.


"Ara, Sayang," Reno mengangguk dan kembali menyodorkan obat itu, mau tidak mau akhirnya Rara mengambil lalu menelannya dan meminum teh hangat yang Reno sodorkan setelah obat itu habis Rara telan.


"Ra, ayo kita menikah. Aku sangat mencintai kamu, dan sangat ingin menghabiskan sisa hidup ini bersamamu," Reno mengambil gelas yang di pegang Rara dan meletakkan nya di meja. Mengambil lalu menggenggam erat jemari Rara kemudian mengecup nya berulang kali


"Apa yang membuatmu mencintai aku? Bukankah kita memiliki perjanjian," Reno menunduk, benar yang di katakan Rara.


Ingin sekali Reno berteriak dan berkata, 'aku mencintai kamu dari awal kita bertemu, sejak kau memberikan aku kue dagangan bundamu dan membelaku saat anak anak kampung itu menghinaku,' namun sayang itu hanya sampai di tenggorokan dan tidak mau keluar.


"Apa mencintai butuh alasan, dan lupakan perjanjian itu," Reno bersimpuh di depan Rara, pandangan mereka saling terkunci.


"Semua kembali pada dirimu, jika kau setuju menikah dengan aku, aku pastikan mereka mundur. Dan bukankah temanmu yang memakai kerudung menyukai pria yang kau panggil kakak itu?" ada nada cemburu di perkataan Reno, dan Rara menyadari itu.


"Bagaimana jika aku tidak bisa mencintaimu?" pancing Rara, Reno tersenyum kecil lalu mengecup bibir Rara.


"Tidak mungkin, suatu saat aku sangat yakin kau pasti akan mencintaiku. Hingga maut memisahkan, rasa cinta itu tetap ada," ucap Reno di iringi senyumnya, Rara mencebik kan bibirnya, ternyata pria tua ini sudah pandai merayu rupanya batin Rara.


"Apa yang bisa kau berikan padaku?" Rara mulai terpancing dan menggoda Reno, pria itu tampak berpikir lalu tersenyum.


"Akan aku berikan semua hartaku, nyawaku aku ikhlas agar kau senang. Tapi ada satu yang akan kuberikan padamu, dan itu sangat istimewa yang khusus hanya untukmu," jawab Reno sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Harta aku juga punya, ya walau tidak sebanyak hartamu," sahut Rara.

__ADS_1


"Tapi yang paling istimewa ini yang tidak akan kamu dapatkan dari siapapun," Reno mengulum senyum, menahan hasrat untuk tertawa.


"Apa?" Rara yang tadinya duduk di sofa merosot ikut duduk di lantai, netranya memincing menatap Reno. Perasaannya tiba tiba tidak enak.


"Yakin mau tahu?" Rara mengangguk karena penasaran, Reno menarik nafas dan membuangnya perlahan, kemudian tangannya memegang dadanya sebelah kiri dan mengulurkan tangannya pada Rara.


"Ck, apa sih?" Rara mulai kesal, "di sini ada...." Reno membuka genggamannya lalu menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya (kata orang korea Sarangheio) membentuk hati dan mengangkat tangannya di depan wajah Rara.


"Tau ah," Rara pura pura kesal dan ngambek lalu berdiri meninggalkan Reno yang menggaruk kepala bingung. Sebenarnya Rara tahu maksud Reno, tapi tak apalah sekali sekali mengerjai pria itu.


"Dasar Anton, katanya begitu cara merayu cewek," gumam Reno yang masih terdengar di indera pendengaran Rara.


"Pulang aja yuk, bete di sini!" Rara pura pura ketus, dalam hati dia meminta maaf.


Reno berdiri dan berjalan menghampiri Rara, di peluk dan di ciuminya kepala wanita yang dia cintai itu, "kamu marah?" Rara hanya diam, tetapi bibirnya mengatup menahan tawa.


"Kalau aku marah kenapa, memang kamu saja yang bisa marah?" sahut Rara pura pura jutek, "ini salah si Anton bodoh itu!" Reno melepaskan pelukan itu dan menendang angin.


"Kamu itu kebiasaan banget sih suka menyalahkan orang," Rara berbalik dan berkacak pinggang, menunjuk nunjuk dada Reno, dalam hati dia berkata kapan lagi memarahi bos besar seperti dia.


"Memang dia yang salah," Reno membela dirinya sendiri, "kau tahu, aku tidak pernah dekat dengan wanita mana pun, sedang dia si Anton banyak wanita yang dia dekati. Jadi aku ngerasa dia jago untuk ngegombal, makanya aku minta ajari dia," Reno mengambil tangan Rara dan mengecupnya berkali kali.


"Aku ingin melamarmu dengan cara yang berbeda, tapi kau malah marah. Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkan aku," Reno kemudian menekuk lututnya dan memeluk kaki Rara.


Rara terkejut dengan apa yang Reno lakukan, lalu ikut berjongkok. Dan Rara memeluk Reno, "iya aku mau menikah dengan mu," balas Rara yang langsung mendapatkan pelukan erat dari Reno.


"Tapi kita harus bertemu seseorang dulu besok," Rara mengangguk, 'mungkin ini saatnya kau menemukan jati dirimu sebagai Ara, bukan Rara,' Reno bergumam dalam hati.

__ADS_1


Nah lho, besok mereka akan bertemu siapa ya,? boleh dong kakak2 cantik minta vote atau hadiahnya hehehe


__ADS_2