Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 112


__ADS_3

Di saat sang istri telah nyenyak dengan tidur malamnya, Om Yudha masih kepikiran saat tadi dirinya bertemu dengan Ayah Andri, dan dirinya yang menyangka pria yang dulu Ara temani saat operasi adalah ayah kandungnya ternyata, pria itu penyebab bundanya Ara menderita.


Om Yudha menghela nafas panjang dan mengubah posisinya menjadi menatap wajah mama Lydia, tangannya terulur menyentuh wajah yang masih cantik meski sudah memasuki usia hampir kepala lima.


"Sudah bertahun tahun aku belum bisa menggantikan namanya dengan namamu, maafkan aku, Ma," Om Yudha meringis setelah berkata demikian. Hanya nama Karina seorang yang hingga kini bertahta di hatinya, ini memang tak benar adanya, namun memang begitulah adanya.


Karena lelah, akhirnya Om Yudha tidur menyusul sang istri ke alam mimpi, namun kali ini dia berharap bisa bertemu dengan cintanya, si Karina, gadis lugu nan polos.


***


Pagi harinya di rumah yang di tempati ayah Andri dan nenek serta tante Ara terlihat lenggang, para penghuninya masih di dalam kamar. Tantenya Ara sedang menelepon suami dan anaknya yang berada di tanah kelahirannya, beruntung kedua anak kembarnya tidak rewel saat ia tinggal ke kota ini saat mendengar Ara masuk rumah sakit lagi.


"Nduk, kamu nanti kerumah sakit jam berapa?" nenek Ara bertanya di balik pintu, Ria yang baru selesai mandi segera membuka pintu begitu mendengar suara neneknya.

__ADS_1


"Tante baru telepon suaminya, Nek," Ria mengajak neneknya masuk dan menunjuk sang Tante yang sedang berdiri di depan jendela dan mengubah pandangannya yang semula dari menatap halaman menjadi menatap ibunya.


"Sudah dulu ya, Mas," pamit Tante Ara yang kemudian menutup sambungan telepon itu dan melangkah menghampiri ibunya.


"Mas Indra pengen nyusul, khawatir sama Ara katanya," ucap Tante Ara sambil mengelus kepala Ria, gadis itu tersenyum. Semalam menjelang tidur, tantenya menceritakan kalau ia-sang tante sudah menikah dengan pria yang wajahnya mirip dengan ayah kandung Ara, lebih tepatnya saudara kembar Ayah Andri.


"Kalau dia kesini, anak anak bagaimana, dengan siapa mereka?" tanya nenek Ara terdengar cemas, "mungkin akhir pekan, Bu. Kan kebetulan anak anak pekannya libur," tuturnya yang di sambut senyum bahagia sang ibu.


"Ya sudah, Rina masak dulu. Ria, bantu tante masak yuk," sang Tante menarik tangan Ria menuju dapur, "tapi Ria nggak pintar masak kaya kak Rara eh kak Ara," ucap Ria yang kemudian meralat panggilan untuk kakaknya yang kini dia tahu ternyata namanya bukan Rara akan tetapi Ara.


"Ara nyariin kamu, Dek," kata Ayah Andri yang baru keluar dari kamar dan langsung menuju dapur, "eh, iyakah. Bentar kak, aku mau masak dulu tar biar bisa buat makan Ara di sana, putri kamu itu pasti bosan makan makanan rumah sakit," seloroh Tante Rina yang di sambut senyum sang kakak ipar.


Tante dan keponakan itu kini sibuk memasak, sang tante meminta Ria memotong bahan sayur dan bumbu yang akan mereka masak hari ini, sedang sang tante menggoreng tahu, tempe, ikan dan sedikit daging ayam yang memasak telah Reno siapkan sebelumnya.

__ADS_1


"Kamu belum ada pacar?" sang tante bertanya di sela mereka memasak untuk sarapan pagi mereka, Ria yang tengah memotong daun sawi menoleh lalu menggeleng.


"Kenapa?" tante Rina bertanya kembali dengan tanda tanya yang besar, "nggak boleh ayah sama kakak," sahutnya.


"Kata kakak besok aja kalau udah kerja, biar fokus belajarnya, tapi kata ayah pacaran ga ada gunanya kalau hanya buang buang waktu," Ria menambahkan, sang tante mengangguk angguk paham.


***


Di rumah sakit, "kak," Ara memanggil Reno yang masih tidur di sampingnya, sengaja ia memilih brangkar yang bisa memuat dua orang, gunanya ya seperti ini.


Agar bisa tidur bersama dengan wanita tercintanya tanpa berpisah ruangan dan tempat tidur, "sudah bangun sayang?" Reno membuka netranya perlahan, tangannya masih memeluk tubuh Ara.


"Itu, dari tadi susternya mengetuk pintu," Ara memberi tahu, Reno menepuk kening lalu karena teringat semalam pintu itu sengaja ia kunci karena takut Ara terganggu, Reno beranjak bangun namun sebelumnya mencium bibir Ara, "kiss morning," ucapnya yang membuat pipi Ara merona.

__ADS_1


"Maaf tuan mengganggu waktu istirahatnya," ucap seorang wanita berpakaian perawat, "hmm," Reno hanya menjawab dengan deheman, lalu membuka lebar pintu itu dan Reno berlalu ke toilet.


Perawat tersebut mengecek suhu tubuh dan tensi darah Ara, syukurlah semua sudah normal.


__ADS_2