
"Rea, mau ke kantin?" gadis yang di tanya menoleh lalu mengangguk, "tapi itu kamu bawa bekel," Daffa menunjuk tempat makan yang Rea bawa.
"Trus kenapa, aku mau makan di kantin kok, nggak boleh?" ketus Rea, Daffa hanya menarik nafas perlahan, anak lelaki itu merasa Rea menjauhi dirinya semenjak Rea mengenal anak yang tadi bertemu di depan gerbang sekolah, padahal bukan itu penyebab Rea berubah.
Rea hanya tidak suka di atur ini di atur itu, oleh karena itu, Rea memilih menjauhi Daffa.
Saat di rumah Oma Wijaya pun, Rea terlihat lebih cuek.
Karena lagi kesal, Rea tidak fokus melewati lorong yang menuju kantin. Brruukk, Rea terpental dan kotak bekal yang ia bawa terlempar ke lantai.
"Kalau jalan pakai mata!" ketus orang yang menabrak Rea, dengan segera Rea berdiri dan memincing kan sebelah mata menatap lelaki yang tengah berdiri dengan sombong di depannya.
"Kenapa nglihatin gue kaya gitu, terpesona. Iya 'lah secara gue ganteng," ucap anak lelaki itu percaya diri, Rea terbahak mendengar ucapan anak lelaki yang kini berdiri menjulang dihadapannya.
"Kenapa loe ketawa?" anak lelaki itu menatap tidak suka pada Rea, merasa gadis ini meremehkan dirinya.
"Dengar ya kakak kelas yang percaya diri sekali, bahkan percaya dirinya sangat tinggi. DENGAR, AKU ANDREA, TIDAK AKAN PERNAH TERPESONA PADA ORANG KAYA KAMU," desis Rea yang kemudian mengambil kotak bekalnya dan meninggalkan anak lelaki itu yang tengah mematung karena terkejut.
__ADS_1
"Woy, ngelamun aja," anak lelaki itu terjengit lalu memukul kepala temannya yang membuat dirinya kaget.
"Loe lihat anak kelas 7 yang barusan lewat, yang kuncir 2 dan bawa kotak makanan?" ketiga teman anak lelaki itu terlihat mengingat lalu menggeleng, "yakin," ketiga temannya kembali menggeleng karena benar benar tisak melihat penampakan gadis yang temannya sebutkan.
"Ya sudahlah," anak lelaki itu memilih pergi meninggalkan ketiga temannya, pikirannya menerka nerka siapa gadis tadi. Baru kali ini ada seorang gadis yang menolaknya secara mentah mentah, "sial," umpatnya kesal lalu menendang angin di depannya.
"Raditya, tunggu!!" terdengar seorang perempuan memanggil dirinya, dengan malas anak lelaki yang bernama Raditya memutar tubuhnya dan menatap malas pada perempuan yang kini berdiri sambil tersenyum malu malu melihat wajah tampan Raditya.
"Ada apa?" tanya Raditya malas, tangannya menggaruk lehernya lalu menggerak gerakkan lehernya ke kanan lalu ke kiri, "ke kantin yuk," perempuan itu berkata lirih.
"Malas," sahut Raditya cepat, "aku yang bayar," bujuk perempuan itu, saat Raditya akan membuka mulutnya, tak sengaja mata elangnya menangkap sosok gadis yang menatap dirinya dengan pandangan menantang.
"Seleramu ternyata buruk, Nona," Raditya mendesis, "Dit, ayo," perempuan itu kembali membujuk, Raditya akhirnya mengangguk dan memiliki rencana untuk mempermalukan gadis itu karena sudah menantang dirinya.
Dengan percaya diri, Raditya dan perempuan itu berjalan ke kantin yang pasti akan melewati Rea.
"Kamu memang ngga pernah sarapan?" Rea bertanya pada anak lelaki yang tengah fokus makan dengan lahap isi dari kotak yang ia bawa.
__ADS_1
"Iya, ibuku hanya buruh cuci, sedangkan ayahku sudah meninggal," anak lelaki itu menjawab sambil tetap mengunyah, "lalu biaya sekolahmu?" Rea mencecar pertanyaan pada anak lelaki itu.
"Ya aku kalau pulang sekolah harus bekerja menjadi tukang semir sepatu, uangnya bisa buat saku aku dan membantu ibu," anak lelaki itu kembali menjawab, Rea tersenyum samar, namun ada 2 orang lelaki yang melihatnya.
"Kamu beruntung masih punya ibu," Rea tertunduk dengan raut wajah sedih, "memang ibumu kemana?" Rea mendongak lalu menatap langit biru.
"Mamaku di atas sana," Rea menunjuk langit, "mamamu sudah di surga?" anak lelaki itu menghentikan kegiatan makannya, Rea mengangguk tanpa menoleh. Hatinya selalu sesak setiap membahas wanita yang telah melahirkan dirinya dan langsung meninggalkan dirinya tanpa memberikan kehangatan seorang ibu.
"Oya, makanannya sudah habis?" Rea mengalihkan pembicaraan, anak lelaki itu mengangguk lalu menutup kotak makan tersebut lalu memasukkan kedalam bag paper.
"Besok kalau papaku masak lagi, aku bawain," tawar Rea, "nggak usah, takut ngrepoti," tolak anak lelaki itu langsung.
"Ck, terserahlah," Rea memberesi kotak makan itu kemudian meninggalkan anak lelaki itu, "kenapa dia begitu baik, padahal dia belum tahu namaku," gumam anak lelaki itu.
"Raditya, ayo katanya mau ke kantin, tapi kenapa malah berdiri di sini," perempuan yang tadi bersama Raditya merajuk.
"Gue sudah nggak mood lagi," Raditya memutar tubuhnya lalu berjalan meninggalkan perempuan yang terus meneriakkan namanya.
__ADS_1
"Gadis unik," gumam Raditya, sedang di sisi lain, "ternyata kisahmu begitu menyedihkan, Rea," gumam Rendra yang tadi juga tidak sengaja mendengar curhatan Rea