
Malam hari selepas mengantar Ara pulang, Reno segera menuju apartemen miliknya. Setelah sampai di kamar, Reno segera menekan beberapa nomer menggunakan ponsel miliknya yang sengaja dia simpan.
Dan tadi Reno memfoto nomer Om Indra saat Ara berpamitan ke toilet, menunggu beberapa menit dering telepon akhirnya tersambung.
"Ya, halo ini siapa?" suara Om Indra menyapa indera pendengaran Reno, "Ini Reno, Om," jawab Reno segera.
"Oya, tadi telepon ke nomer Reno ada perlu apa ya Om?" Reno bertanya to the point, terdengar kasak kusuk dari seberang.
"Begini, Ren. Ayah Ara sudah memutuskan akan operasi di kota, tolong kamu urus semua. Kalau sudah siap kamu kabari Om, mengerti. Dan masalah biaya, Om mau menanggungnya. Simpan uangmu untuk merayakan pernikahan kamu dengan Ara," tutur Om Indra yang membuat senyum lebar di bibir Reno tercipta.
"Baik Om, akan Reno usahakan," balas Reno, karena Om Indra dan Reno sama sama tidak suka banyak bicara jika tak bersama dengan orang yang di cintai, akhirnya telepon pun berakhir.
"Siapa yang bisa bantu gue, ya?" tanya Reno pada dirinya sendiri, "Seno, ngga mungkin. Dia sudah terlalu sering aku repotkan dan sering aku suruh ngurus perusahaan," Reno melempar tubuhnya di ranjangnya yang empuk, tangannya yang besar meraih guling yang beraromakan parfum Ara.
"Tak lama lagi, Sayang. Kita akan bersatu bersama ayah kandungmu dan ayah sambung mu itu masuk penjara," gumam Reno yang kini jari jempolnya mengusap foto Ara di ponsel milik Ara yang dia bawa.
__ADS_1
"Hufthh, masalah adiknya sepertinya harus aku pikir juga," Reno melempar ponsel kearah sampingnya, berusaha memejamkan mata karena lelah. Dan dia lupa, ada seseorang yang menunggu kabar darinya.
***
Keesokan harinya, Reno langsung ke apartemen Mas Seno. Kebiasaan meminta pendapat pada sahabat yang sudah dia anggap sebagai saudara adalah hal penting.
"Tumben sampai sini pagi pagi," Mas Seno yang membukakan pintu bertanya heran, Reno masuk tanpa di suruh.
"Ada yang mau gue diskusikan," katanya setelah melihat sekeliling dan terlihat aman, kening mas Seno mengkerut heran. Akan tetapi ia hafal, pasti ada hal penting hingga pagi pagi begini, atasan yang merangkup sebagai sahabat itu mendatangi dirinya.
"Ada apa?"mas Seno bertanya setelah ikut menghempaskan bobotnya di sofa ruang tamu, lagi netra Reno menyusuri ruangan tersebut.
Keduanya keluar dan turun ke resto di lantai bawah apartemen Mas Seno, akan tetapi sebelumnya ia sudah berpamitan pada Ria.
Sesampainya di resto mereka memilih menu sarapan yang akan mereka santap pagi ini, waiters yang mencatatnya berpamitan dan pergi dari sana setelah berkata, "mohon di tunggu sebentar,"
__ADS_1
"Ada apa?" kini mereka duduk berdua dan dalam posisi berhadapan, sesekali Reno mengusap wajah gusar.
"Ayah Ara masih hidup," kata Reno cepat, "sudah bertemu?" tanya Mas Seno yang membuat Reno menggeleng, "baru gue, dan itu baru beberapa minggu kemarin."
"Masalahnya?" Mas Seno bertanya to the point, ini yang Reno suka dari Mas Seno. Reno menganggap sahabat nya yang satu ini seperti belahan jiwanya setelah Ara. Selalu bisa merasakan apa yang dia rasakan.
"Ayah Ara kecelakaan, dia di temukan dalam keadaan wajah dan badannya tak sempurna atau kata lainnya ada luka bakar di sebelah tubuhnya.
Keluarga ayah Andri meminta beliau operasi, dan kini gue yang urus semua itu. Bisa rekomendasikan seseorang yang bisa gue percaya untuk membantu ini, ngga mungkin gue merepotkan loe terus." Reno mengatakan apa yang menganjal dalam pikiran nya, Mas Seno menatap lekat wajah Reno. Setidaknya ada rasa terima kasih karena Tuhan memberinya teman seperti Reno.
Orang kaya yang mau berteman dan membantu dirinya tulus, walau menyebalkan, akan tetapi itu memang sifatnya yang membuat dirinya sama dengan manusia yang lain, memiliki sifat yang menyebalkan.
"Anton, walau selengekan dia bisa di andalkan. Tapi jika dia di mintai tolong menyangkut Ara, pasti ada sedikit drama walau akhirnya mau membantu." Reno mengangguk membenarkan apa yang Mas Seno katakan.
"Erik, dia mempunyai jaringan luas. Jadi dia tahu apa dan di mana rumah sakit yang bagus."
__ADS_1
Lagi, Reno mengangguk membenarkan apa yang Mas Seno ucapkan. Mas Seno menyebut semua kelebihan dan kekurangan sahabat sahabatnya sesuai penilaian darinya.
Diskusi itu terjeda saat waiter datang membawakan pesanan mereka, secangkir kopi latte dan roti bakar menemani menu makan paginya, sedang Mas Seno nasi goreng bertoping sosis dan telur ceplok plus es teh tawar menjadi menu makan paginya hari ini.