Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 39


__ADS_3

"Sayang," Anton meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri, tangan Ria pun sibuk menyisir rambut suaminya yang sudah agak panjang dan di tumbuhi rambut putih.


"Hmm," Ria yang tadinya menyandarkan kepalanya pada kepala ranjang menjadi menunduk dan memandang wajah suaminya yang telah di tumbuhi beberapa keriput.


"Kau ingat tadi anak lelaki yang datang kesini bareng Tuan Putri kita?" kini Anton mendongak dan tangannya menggulung gulung rambut panjang istrinya.


"Yang mana, Raditya, Rangga atau Rendra?" Anton mencebik lalu memutar bola matanya, tidak salah sebenarnya istrinya ini karena dia tidak menyebutkan nama orang yang ia maksud.


"Rendra, Sayangggg," ujar Anton gemas, Ria terkekeh mendengar nada kesal dari mulut suaminya.


"Kan kamu tahu sendiri, tadi ada 3 cowok yang jadi pengagum Rea," Ria berkilah tak mau kalah, "kau ingat, Rea itu seperti kakak, karena baik hati maka banyak juga yang menyukai dia," tutur Ria sambil mengingat kembali begitu banyak yang memperebutkan cinta kakak perempuannya.


Namun, hatinya hanya tertambat pada Reno. Lelaki yang kini menjadi kakak iparnya dan telah menjadikan dirinya seorang tante dari sepasang anak.


"Iya, ingat. Masalahnya sekarang kita b tidak sedang membahas kakakmu, Sayang," ujar Anton, entahlah sudah menikah bertahun-tahun dengan perempuan ini tak lantas bisa membuatnya lelah akan dengan sikap kekanak kanakannya, bahkan itu yang menjadi daya tarik tersendiri.


Ria cemberut mendengar suaminya berkata demikian.


"Kita sekarang fokus membahas Rendra, oke?" kini Anton duduk dan menekuk kedua kakinya di depan, Ria mengangguk.


"Entah kenapa aku rasanya pernah melihat wajah itu," alis Ria bertaut mendengar penuturan sang suami.

__ADS_1


"Iyakah, bukannya tadi Rea juga pernah bilang kalau dia itu anak laki-laki yang akan merayakan ulang tahun bersama ketika mereka masih SMP," Ria mencoba mengingat apa yang Rea ucapkan tadi.


"Bukan, aku serius, Sayang," Anton mulai kesal dengan sikap lemot yang istrinya miliki semenjak melahirkan Ira, anak kedua mereka.


Namun, kepintaran mereka turun pada Ari juga Ira.


"Aku juga serius, Sayang," Ria juga merasa kesal, padahal ia hanya mengatakan apa yang ia dengar tadi, suaminya malah tak terima.


Anton meringis sambil memegang tengkuknya, jika istrinya marah alamat akan tidur beberapa hari memeluk guling.


"Maksud aku, kaya wajah perpaduan Reno sama Ara ngga sih. Tadi sekilas wajahnya mirip dengan Tuan Putri," ujar Anton menjelaskan, Ria tampak berpikir.


"Ya sudah, besok aku mau ngomong sama kakak ipar ku dulu, siapa tahu anak itu putra Reno yang hilang," Ria mendelik mendengar ucapan sang suami.


"Dari pada kita pusing mikirin yang belum pasti, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang sudah pasti enak dan menyenangkan?" Anton menaik turunkan alisnya, Ria yang sangat paham kode suaminya hanya mencebik.


"Memang kau masih kuat?" pertanyaan yang bernada ejekan.


Anton tertawa masam.


"Jika aku sudah tak kuat, tak mungkin kedua pengacau yang pintar itu ada," katanya membalas ledekan sang istri.

__ADS_1


Ria terkikik geli.


Dan Anton mendekatkan wajahnya pada wajah Ria, "mau bukti?" bisiknya yang langsung di angguki Ria.


Dan malam itu terjadilah sesuatu yang harus terjadi antara suami dan istri.


***


"Daffa, berhenti," seorang gadis berlari mengejar Daffa yang berlari meninggalkan dirinya.


"Ada apa lagi? Aku sudah bosan dengan dirimu, makanya aku minta putus!" ketus Daffa yang kini sudah berhenti dan memandang dengan perasaan jengah pada gadis di depannya, lelaki tampan i yang kini tumbuh dewasa berubah menjadi badboy karena ingin membuktikan pada seorang gadis bahwa dirinya terlalu tampan untuk di sia-siakan.


"Aku tidak mau putus," rengek gadis itu.


Daffa memutar bola matanya, tidak perduli


"Daffa," Daffa tersenyum kala melihat perempuan yang memanggil namanya.


"Kenapa kalian lari-larian seperti film India?" gadis itu bertanya dengan polos, Daffa tersenyum.


Kak

__ADS_1



Visual Kak Rangga yang gantengnya nggak ketulungan versi author.


__ADS_2