
"Kak, aku lelah," Ara yang dari tadi duduk dan berdiri kala tamu datang dan menyalami mereka mengeluh pada suaminya, beruntung Reno meminta Oma jangan memberi Ara highheels.
Reno melambai memanggil Mas Seno yang tengah duduk bersama kekasihnya, "ada apa?" tanya Mas Seno yang kini sudah berdiri di samping Reno, "bilang Oma, Ara kakinya capek, biar dia istirahat dulu," kata Reno yang bermaksud memberitahu sahabatnya agar menyampaikan pesannya, Mas Seno mengangguk.
Reno melihat Oma mengangguk setelah Mas Seno berjalan dan berbicara dengan sang Oma, "masih kuat jalan nggak?" goda Reno, ingin sekali Ara menggeleng, namun mengingat suaminya lebay ia hanya mengangguk.
Melihat Ara berjalan dengan pelan pelan, Reno dengan segera membopong tubuh Ara ala bride style. Ara yang malu menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami, malu dan bahagia kini itu yang ia rasakan. Terdengar berbagai kalimat yang memuji kebucinan dan kesetiaan juga betapa besarnya cinta yang Reno miliki untuk dirinya.
Sesampainya di kamar, Reno membantu Ara melepas gaun yang digunakan, sesekali bibirnya mencuri kecupan pada bahu sang istri yang terekspos namun tak jarang juga bibirnya mengomel karena gaun yang di pakai Ara memperlihatkan punggung dan bahunya yang mulus, sesuatu yang hanya boleh Reno lihat, sentuh dan nikmati.
Beberapa menit kemudian pintu di ketuk, Reno segera membuka dan tersenyum kala melihat siapa yang datang, "kata Oma kamu Ara kelelahan," Reno mengangguk dan menggiring Ayah Andri masuk ke kamar tidurnya.
"Yank, di cari ayah," Ara yang sedang rebahan di sofa segera duduk dan melempar senyum pada ayahnya.
"Kalian habis ngapain?" kening Ayah Andri mengkerut kala melihat handbody yang ada di atas meja, Ara tersenyum dan menatap geli sang ayah.
__ADS_1
"Ara kecapekan, berdiri, duduk, berdiri lagi, duduk lagi, makanya Ara minta tolong Kak Reno pijitin kaki Ara, Yah," ujar Ara tanpa merasa bersalah, Ayah Andri mengangguk mengerti.
Kemudian Ayah Andri duduk di dekat sang putri, sedang Reno memilih duduk di ranjang, membiarkan anak dan ayah itu berbicara. Ayah Andri berpamitan setelah mengusap airmatanya dan memeluk Ara, berpesan pada Reno jangan pernah sekalipun menyakiti putrinya, jika sudah bosan atau sudah tak ada rasa lebih baik ia kembalikan dengan baik-baik dari pada harus menyakiti putrinya, Reno mengangguk walau dalam hati berkata tidak akan pernah melakukan itu, tidak akan pernah menyakiti hati maupun fisik wanita yang bergelar istri baginya.
Keluarga mereka berdua datang bergantian untuk berpamitan, hingga waktu menjelang malam dan sudah tidak ada tamu, Reno mengusap perutnya yang kelaparan. Beruntung tadi mama dan papanya sudah memesankan makanan untuk mereka, jika menunggu staff hotel pasti tidak mungkin karena waktu sudah malam, tidak mungkin juga meminta mereka menyuguhkan makan malam mereka.
Setelah makan malam, Ara mengeluh masih lelah dan ingin tidur, hanya tidur, Reno yang sebenarnya sudah tak tahan akhirnya mengiyakan permintaan istrinya.
Pagj harinya, Reno kaget karena Ara sudah tidak ada di sampingnya, namun terdengar suara istrinya bersenandung kecil dari kamar mandi, Reno tersenyum miring. Dengan segera ia bangun dan melepas semua pakaian yang menempel pada tubuhnya, membuka perlahan pintu kamar mandi itu dan netranya membulat kala melihat tubuh polos istrinya yang tengah berendam di bathroom dengan mata terpejam.
Ara terkejut kala merasakan ada yang menindih tubuhnya, dan ia segera membuka lebar matanya, Reno tahu, sang istri pasti akan berteriak karena kaget. Dengan sigap, ia menyumbat bibir Ara dengan bibirnya setelah menindih tubuh Ara, kini mereka menikmati permainan lidah dan pertukaran saliva tersebut, Reno menarik tubuh Ara agar berposisi duduk dan menindihnya, sedang ia berganti rebahan di dalam bathroom itu.
"Kamu siap membuat Reno dan Ara junior?" bisik Reno yang di angguki Ara karena dirinya juga sudah terbakar hasrat saat melihat tubuh suaminya, lalu keduanya saling menyentuh dan memberikan rangsangan. Hingga beberapa menit kemudian terdengar ******* dan lenguhan dari bibir keduanya.
Sebulan sudah berlalu, Reno dan Ara kini tinggal di rumah yang tidak terlalu besar dan dekat dengan rumah Ayah Andri tinggali. Reno yang baru bangun dari tidurnya terkejut saat mendengar suara orang muntah-muntah, takut terjadi apa-apa dengan istrinya, Reno segera bangkit dan menyambar boxer yang tak jauh dari tempatnya.
__ADS_1
"Kenapa, Yank?" tanya Reno cemas, tangannya membantu memijat tengkuk Ara yang bermaksud untuk mengurangi mual tersebut, Ara menggeleng. Tubuhnya lemas lalu bersandar pada dada bidang sang suami, mengendus sisa keringat hasil olahraga semalam yang tiba-tiba membuat mual di perutnya hilang.
"Hanya mual," jawabnya yang semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang Reno. Tangan Reno terulur dan memeluk tubuh Ara agar tidak jatuh, lalu menggiringnya ke tempat tidur.
"Ke dokter yuk," ajak Reno yang terdengar cemas karena melihat wajah Ara yang pucat, wanita itu menggeleng tak setuju. Hanya merasa mual dan pusing yang ia rasakan dari kemarin, namun tidak ia ceritakan pada Reno karena takut suaminya mencemaskan dirinya berlebihan.
"Tapi wajah kamu pucat lho, Yank," Reno kesal karena wanita itu tidak mau mengerti kekhawatirannya. "Aku baik-baik aja, Yank" balas Ara yang membuat Reno berdecak sebal. Kemudian ia berdiri, mengambil ponselnya lalu menghubungi mamanya dan menyuruh mamanya untuk datang membawa seorang dokter.
Satu jam kemudian pintu kamar di ketuk, "Reno, ini mama, Nak," Reno segera berlari dan membuka pintu. Reno memeluk mama Lydia dan berterima kasih karena wanita yang telah melahirkan dirinya membawa seorang dokter wanita, bukan dokter pria, Mama Lydia hanya mencebik mendengar ucapan sang putra. Dalam hati ia berterima kasih pada Ara yang bisa merubah sifat Reno yang awalnya cuek padanya menjadi lebih menghargai dan menghormati.
Dokter itu masuk dan memeriksa Ara, dokter itu tersenyum kala mengetahui penyebab Reno khawatir.
"Mulai sekarang jangan sering-sering berhubungan suami istri, ada yang harus di jaga, karena ia masih rawan," ucap dokter itu ambigu, Mama Lydia yang mengerti maksud sang dokter mengangguk dan menyuruh Reno mengantar dokter yang usianya sepantaran dengan mama Lydia.
Mama Lydia berjalan kearah Ara yang kini duduk dan bersandar ada kepala ranjang dan duduk di sana, menatap lekat wajah menantunya tersebut lalu memeluknya.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Mama Lydia yang membuat Ara bingung, "jaga dia untuk mama, ya," imbuhnya sembari mengusap lembut perut Ara yang rata, Ara masih bingung akan ucapan mertuanya.