
Setelah Fandi membayar pesanan mereka masuk kembali ke Rumah Sakit, Rara yang tidak terbiasa berjalan bersama pria kecuali sang ayah merasa canggung dan Rara berharap Fandi tidak menyadari itu.
Keduanya melangkah menuju ruangan di mana pak Amar atau pak Gito di rawat, sesampainya di depan ruangan ayahnya Rara mendengar suara sang ayah yang sedang bercanda dan kemudian tertawa.
Rara mengetuk pelan pintu itu dan mendorong pelan pintu tersebut ketiga pria seumuran itu menoleh lalu mengangguk seakan memberi kode agar Rara masuk.
Rara dan Fandi akhirnya masuk, Rara menyerahkan pesanan om Ridwan dan menyuruh om Ridwan sarapan terlebih dahulu. Om Ridwan menurut, Fandi menyerahkan sebotol mineral yang tadi sempat dia beli di kantin Rumah Sakit ini.
"Om, maaf Rara lupa membelikan om minuman," ujar Rara kemudian nyengir dan menggaruk kepalanya.
Om Amat tersenyum dan menyentuh pundak Rara lalu berkata, "tidak apa-apa, tadi om juga sudah minum kopi di rumah sebelum datang menjenguk ayahmu," balas om Amat yang makin membuat Rara tidak enak hati.
"Oya nak, kenapa ayah ga di belikan makanan di kantin?" ayah Rara bertanya dengan nada protes, om Amat tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Kamu mau anak kamu yang cantik ini di marahi dokter?" pelan tapi sedikit membuat Rara merasa bahagia karena ada orang yang memperhatikan dirinya.
"Aku thu bosen, Mat, makan makanan Rumah Sakit yang ga ada rasanya," ayah Rara mengeluh, om Amat hanya mengusap pelan lengan ayah Rara.
"Makanya ayah nurut sama Rara, besok di operasi biar penyakitnya di ambil, trus ayah sehat bisa makan apa saja," rayu Rara yang diamini semua orang yang ada di ruangan. Rara melihat makanan yang di berikan suster belum tersentuh oleh sang ayah, Rara mendesah kesal.
"Kenapa ayah ga makan?" kaki Rara melangkah menuju nakas, mengambil jatah makanan pagi milik sang ayah dan mencoba menyuapi ayahnya.
Rara kembali meletakkan sendok itu dan memandang sang ayah, "kalau ayah mau makan bubur besok kalau udah sembuh Rara beliin ya tapi sekarang makan ini dulu," Rara kembali mendorong sendok yang berisi nasi kedepan mulut sang ayah.
Lagi Ayah Rara menggeleng, "ya sudah besok biar Ria yang nungguin ayah, Rara mau di rumah aja," Rara meletakkan piring berisi jatah makanan ayahnya.
"Mana-mana, biar ayah makan," pak Amar menarik tangan Rara agar mengambilkan makanan miliknya, Rara tersenyum kecil.
__ADS_1
Ancaman sedikit membuat sang ayah mau makan, apa setiap tidak menurut harus di ancam dulu, pikir Rara. Tetapi dia bukan gadis yang suka mengancam, mungkin khusus sang ayah dia harus tega.
Rara meletakkan tas slempang yang selalu dia bawa, walau hanya berisi dompet dan ponsel tapi itu lebih baik dari pada dia kantongi, takut jatuh pikir Rara.
Rara duduk di ranjang sebelah sang ayah, menyuapi dengan penuh kasih sayang. Tidak terasa satu piring kandas dan isinya telah berpindah ke perut pak Amar.
Rara menyerahkan teh hangat, sementara sang ayah minum Rara menyiapkan obat yang telah disediakan juga.
"Obatnya, Yah," Rara menyerahkan beberapa obat pada sang ayah dan dengan muka masam, sang ayah menerima. Rara tahu obat ini terlalu agak banyak, tapi jika tidak di minum kata dokter penyakit sang ayah tidak akan hilang.
Pak Amar menelan obat itu sekaligus, dan langsung meminum teh sisa nya hingga habis kemudian bergidik membuat semua tersenyum lega, pun Rara.
Bersambung, next?
__ADS_1