Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 128


__ADS_3

Akhirnya waktu yang di tunggu tiba, "Ra, gimana rasanya?" goda sang tante," saat ini mereka berada di kamar Ara dan meriasnya.


"Agak deg degan," cicit Ara sambil memejamkan kedua matanya, kemudian si MUA menyapukan eyes shadow di kelopak mata itu, dan memasang bulu mata palsu.


Hari ini rencananya ijab kabul dahulu, malamnya baru diadakan pesta, dan saat ijab, Ara memakai kebaya berwarna putih gading dan dengan bawahan jarik berwarna cokelat tua, rambutnya di sanggul dan di beri hiasan bunga melati yang di rangkai.


"Kamu cantik banget, Nduk," puji nenek tulus, Ara tersenyum sembari mengusap lengan neneknya.


"Aahh, kak Ara cantik ya, Nek. Aku juga pengen kalau nikah pakai baju kaya gini," ucap Ria yang membuat Ara gemas, "umur kamu belum mencukupi, Dek," Ara mencubit kedua pipi Ria yang kini terlihat lebih bulat dan berisi.


"Ya kalau udah cukuplah, Kak," balasnya tak mau kalah, "memang kamu sudah ada calonnya?" nenek menoleh dan memandang wajah Ria yang duduk di sebelahnya dan meletakkan kepalanya di sana.


"Sudah siap belum? Itu sudah pada nungguin," Tante Rina menyembulkan kepalanya setelah membuka sedikit pintu itu, "sudah, Nduk," nenek yang menyahut.


Kemudian mereka beriringan menuju mobil, karena ijab itu di lakukan di sebuah hotel yang jaraknya tidak jauh dari rumah Ara, sengaja ini Reno lakukan untuk berjaga jaga jika ada sesuatu di luar kehendak mereka, Reno tak lupa memberikan pengawalan yang ekstra.


Ara di giring ke sebuah ruangan di mana Reno sudah duduk di sana dan menunggu Ara, "ayo, kamu sudah sah jadi istrinya Nak Eno lho," bisik nenek yang membuat Ara bingung.


"Tapi kan kak Reno belum mengucapkan ikrarnya, Nek," Ara balas berbisik, "sudah tadi pas kamu selesai berdandan," balas nenek yang membuat kening Ara mengkerut.


"Biasanya duduk bersisihan baru si cowok ngucaipin ikrarnya kan, Nek?" tanya Ara masih bingung, "ssstt, sudah. Yang penting udah sah," potong nenek cepat, dan mengajak Ara duduk di kursi singgasana yang di mana Reno sudah duduk di sana.

__ADS_1


Reno terlihat lebih tampan dari biasanya, lelaki itu mengenakan setelan kemeja putih dan berjas warna putih, celana yang ia kenakan juga berwarna putih. Di kepalanya bertengger peci berwarna hitam, Ara tersenyum kikuk menatap lelaki yang kini bergelar suami baginya.


"Istriku, kamu hari ini terlihat cantik sekali," Reno berbisik sembari melabuhkan kecupan singkat di pipi Ara, wanita yang kini telah sah menjadi istrinya, kelakuan Reno yang tiba tiba membuat kedua pipi Ara merona.


"Kak, malu, banyak yang lihat lho," ucap Ara yang sempat melihat beberapa pasang mata mencuri pandang kearah mereka, "biarkan saja, lagian kita sudah sah. Jika ada yang protes, anggap saja mereka iri," tangan Reno melingkar di pinggang Ara, kemudian melepas peci yang ia kenakan lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.


Acara syukuran kecil-kecilan pun selesai, tamu sudah ada yang pulang dan sebagian yang tinggal luar kota atau luar negeri menginap di hotel yang sengaja Oma Reno booking untuk acara cucu kesayangannya.


Nenek, tante Rina, Om Indra, Ayah Andri dan juga keponakan kembar Ara memilih pulang, mereka merasa tak nyaman dengan hotel yang menurut mereka mewah, Ria pun ikut pulang karena tak akan jadi ingin menganggu sang kakak.


Di dalam kamar, "yank," Reno memanggil istrinya yang tengah mengeringkan rambutnya dan duduk di depan meja rias dengan sebutan baru, Ara yang merasa tidak di panggil hanya diam saja.


"Istriku, Sayang," Reno mengulang memanggil sang istri, Ara menoleh dengan wajah tersipu dengan sebutan baru itu.


"Ritualnya nanti malam aja ya, sekarang istirahat dulu buat menyambut tamu-tamu," Ara mengangguk mengiyakan permintaan sang suami, keduanya pun beristirahat berdua. Walau dulu sering Reno memeluk dirinya, entah kenapa rasanya berbeda saat mereka sudah sah.


Karena terlalu lelah mereka tertidur hingga ada yang mengedor pintu kamar mereka, Ara yang merasa terganggu menepuk punggung tangan Reno yang melingkar di perutnya. Dan menyuruhnya membuka, Reno membuka mata dan dengan malas berjalan dan membuka pintu itu.


"Astaga jam segini masih tidur!!" Reno terkesima dengan suara cempreng yang sangat ia kenal, "oma," ujar Reno sambil meringis karena lengannya di pukul sang Oma menggunakan tas mahalnya.


"Mana istri kamu, sudah di bilang ritualnya-"

__ADS_1


"Kami hanya tidur, Oma. Mungkin karena kelelahan akhirnya kami kebablasan," Reno memotong ucapan sang Oma, keduanya berjalan kearah kamar tidur di mana Ara masih tertidur.


"Imut sekali istrimu kalau lagi tidur," seloroh Oma yang di tanggapi cebikan oleh Reno, karena dia tahu itu.


"Cantik, ayo bangun. Mandi trus siap siap di rias," Oma menepuk pipi Ara pelan, sesekali menguncang lengan Ara yang terlihat lebih berisi. Ara membuka mata lalu mengucek matanya, seketika kedua netranya membulat sempurna kala mendapati Oma dari suaminya di situ.


Dengan tak enak hati Ara melempar senyum dan di angguki Oma, "Buruan mandi, sebentar lagi MUA nya dateng mau merias kamu," ucap Oma lembut, Ara mengangguk dan Oma berpamitan kembali ke kamarnya. Melihat Ara beranjak ke kamar mandi, Reno berlari menyusul istrinya.


"Kak," desis Ara kesal, "ck, istriku sayang, aku juga mau mandi. Jika nungguin kamu pasti lama," Ara memutar bola malas, keduanya lalu mandi bersama, ya seperti yang Reno katakan 'hanya mandi' saat keluar, Ara terkejut karena Oma dan seorang wanita tengah duduk anteng di sofa di kamar tidur itu.


"Kenapa berhen-" Ara segera mendorong tubuh kekar Reno yang hanya berbalut handuk yang menutupi perutnya kebawah.


"Kenapa sih, Yank?" tanya Reno heran, "tunggu di sini dulu, aku ambilin baju ada Oma di luar," Reno mengangguk sambil menelan ludahnya dengan susah payah, buaknnya tadi sang Oma ingin kembali ke kamar, kenapa tiba-tiba sudah berada di sini, gumam Reno sambil membenturkan pelan kepalanya ke tembok di depannya.


Ara menyerahkan kemeja dan celana panjang beserta daleman milik Reno, lalu Ara duduk di meja rias dan mulai di rias sang MUA. Oma mendelik tajam menatap cucunya yang baru saja keluar, "hanya mandi oma, menghemat waktu," ujar Reno tanpa merasa bersalah, mendengar itu Ara melihat ekpresi wanita yang mendandani dirinya.


Wanita itu tersenyum dan menggeleng, mungkin heran dengan tingkah absourd suami pelanggannya. Reno akhirnya keluar dan, ke kamar sang opa, karena Oma menyuruhnya kesana.


Pukul 20.00 ruangan yang sudah di sulap menjadi lebih indah dari tadi pagi sudah ramai oleh tamu, mereka menatap pasangan yang tengah berjalan bersisian dengan si wanita menyelipkan tangannya di lengan sang pria yang ia tekuk.


"Lihatlah, Karina. Putri kita sudah bahagia dengan pilihannya, semoga kau juga bahagia dengan putri kita yang satu," gumam Ayah Andri seraya menghapus airmata yang mengalir.

__ADS_1


Acara berlangsung dengan meriah, Reno memberlakukan yang boleh masuk yang membawa undangan dan membawa identitas yang jelas, berjaga-jaga jika di hari bahagia ini ada seseorang yang berniat buruk pada mereka dengan memasang beberapa security dan bodyguard.


__ADS_2