Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 7


__ADS_3

"Lu serius?" pupil mata Rania membesar, Rara hanya mengangguk meyakinkan.


"Orang mana? Sama Dion ganteng siapa?" Rania mencecar Rara dengan banyak pertanyaan.


"Kapan-kapan gue kenalin," ucapnya enteng.


"Beneran lho ya, Ra," Rania membuntuti Rara yang masuk ke gudang.


"Ish, iya, iya. Kalau sudah waktunya gue kenalin, makanya jangan maksa gue sama Dion," protes Rara sambil membanting kardus yang dia bawa dengan kesal.


"He he he, siap," bukannya marah Rania malah terkekeh menanggapi kekesalan sang sahabat.


"Hari ini kalau jam sembilan udah ngga ramai tutup aja ya, aku ada janji," Rara dan Rania berjalan beriringan menuju meja kasir.


"Sama pacar lu?" Rania menarik bangku plastik dan meletakkan nya di samping kursi yang di duduki Rara.


"Hu'um, mau di kenalin ma ortunya katanya," Rara terkekeh kemudian, "beneran?" lagi, bola mata Rania membesar.


"Iya," jawab Rara dengan di iringi senyum, 'andai lu tahu gue pacar sewaan, apa lu masih mau njodohin gue sama Dion?' monolog batin Rara berbicara.

__ADS_1


Ada untungnya juga Rara menerima permintaan konyol orang kaya itu, di satu sisi dia bisa mendapatkan uang untuk operasi juga biaya berobat sang ayah sampai sembuh.


Kedua bisa menghindari percomblangan yang Rania lakukan antara dia dan Dion. Rara hanya ingin menjaga hati Rania, Rara sangat tahu Rania begitu menyukai Dion.


****


Waktu cepat berlalu dan minimarket tempat Rara bekerja akhirnya tutup pukul sepuluh di karenakan tadi jam sembilan malah ramai pengunjung.


Rara melihat ada mobil di seberang, dia mendesah pelan.


"Katanya ketemu di resto, kenapa malah nyamperin kemari?" gerutu Rara yang beruntung tidak di dengar oleh Rania.


Biasanya jika Rara dan Rania satu shift mereka akan pulang bersama, dan Rara akan berhenti di rumah sakit tempat ayahnya di rawat. Karena tadi Rara mengatakan akan bertemu pacarnya, maka Rania tidak menawarinya untuk pulang bersama.


"Masuk," kata pria yang berada di dalam mobil, kata-katanya biasa namun terdengar seperti perintah dan mutlak tanpa menerima penolakan.


Rara masuk dan memilih duduk di depan.


"C'k kenapa malah duduk di depan?" gerutu orang itu, "lalu saya duduk di mana? Duduk di belakang bareng, Om?" Rara bertanya dengan ragu.

__ADS_1


Reno mengangguk dan menepuk kursi penumpang bagian belakang, "Iya, saya akan pindah" Rara mengalah, lalu membuka pintu dan keluar. Lalu berjalan ke pintu mobil bagian belakang dan membuka dan duduk di samping Reno.


"Pak, nanti mampir ke apartemen dulu," kata Reno yang kemudian menyandarkan tubuhnya kekursi mobil, dan memejamkan kedua mata elangnya.


"Ke apartemen?" tanya ulang Rara, Reno hanya mengangguk.


"Ma-mau a-apa kesana?" tanya Rara takut takut.


"Di sana kamu bisa mandi dan ganti baju dulu, biar nanti di bantu mbok Mirnah," Reno berkata tanpa membuka kedua matanya.


Rara mengangguk mengerti dan tidak bertanya lagi, dia paham pasti 'pacar sewaan' nya itu malu membawa dirinya dalam keadaan kucel dan bau.


"Nanti di sana ada wanita yang mau di jodohkan dengan saya, jadi saya mau kamu tidak kalah dengan wanita pilihan mama," lagi Reno berkata tanpa membuka matanya.


Rara tersenyum paham, perkataan Reno barusan adalah jawaban hatinya yang enggan dia tanyakan.


"Saya percaya, kamu bisa saya andalkan," Reno menambahkan, kali ini dia membuka mata dan menatap mata Rara yang terlihat teduh, lalu memejamkan kedua matanya lagi.


"Terima kasih om percaya saya," Reno berdecak sebal,"nanti jangan panggil saya dengan sebutan 'om'. Panggil mas, yank atau ayank kek terserah, yang penting jangan om" protes Reno dan menekankan kata 'om' jangan di ucap kan.

__ADS_1


__ADS_2