Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 42


__ADS_3

Satu bulan sudah Rendra berada di Indonesia, dan Sera yang begitu merindukan lelaki yang orang anggap adiknya. Berkali-kali wanita itu melihat media sosial lelaki itu, tapi tidak ada perkembangan, tidak ada pemberitahuan status baru, hanya ada beberapa hari saja terlihat aktif.


Sera bertekat menelepon Rendra, tapi di luar dugaan. Rendra justru merijek telepon darinya, menahan emosi dan ego akhirnya Sera menelepon Nadin, sang mama.


"Ya, Sera, ada apa?" tanya sang mama dari seberang, sejenak Sera menarik nafas lalu mengeluarkan melalui mulutnya.


"Gimana keadaan kalian di sana?" Sera berbasa basi.


"Kami baik-baik saja, Nak. Oya, apa kabar Rendra, sudah sebulan dia kembali ke Indonesia tapi tak ada kabar sama sekali. Apa dia sibuk dengan kuliah nya, ya?" Nadin bertanya karena belum tahu rencana Rendra yang ingin hidup tanpa gangguan kakak perempuannya.


"Rendra balik ke Indonesia, Ma? Kapan?" Sera bertanya dengan terbata, fakta baru mengejutkan dan membuatnya merasa senang atau sedih.


Senang karena bisa satu negara dan bisa tinggal berdua di rumah itu tanpa gangguan adik perempuan juga mamanya.


Dan dia bersedih karena saat kepulangan Rendra ke Indonesia, lelaki itu tidak mengabari dirinya.


"Lho, dia ngga pulang? Lantas kemana saja dia selama sebulan ini, coba kamu datang ke kampusnya dan temui Rendra," titah sang mama dari seberang sana, setelah Nadin menyebutkan nama kampus di mana Rendra kuliah sambungan telepon itu terputus.

__ADS_1


Dan di sinilah Sera berada, di sebuah kampus terbesar dan ternama di kota ini. Sera bisa menebak jika Rendra kuliah di sini karena kepintaran yang lelaki itu miliki.


Netra Sera mengamati sekitar, mencari keberadaan Rendra yang kata mamanya kuliah di sini. Senyum terukir di bibirnya kala melihat sosok yang ia cari baru keluar dari gedung bertingkah tersebut.


Lelaki itu juga tengah tersenyum, pandangan Sera mengikuti arah kemana mata Rendra tuju, hatinya memanas kala melihat ada perempuan lain yang ternyata mendapatkan senyum manis Rendra.


Jemarinya mengepal, giginya bergemrutuk menahan marah serta emosi. Sera melihat dari kejauhan Rendra memperlakukan gadis itu dengan lembut dan sangat manis, hatinya terbakar cemburu, dengan langkah lebar Sera menghampiri keberadaan Rendra dan gadis yang ia anggap. merebut Rendra nya.


Plak, Sera menarik bahu gadis itu dan kemudian menampar pipinya, kulit yang semula putih itu berubah menjadi merah dan ada bekas lima jari di sana.


"Kak Sera!!!" sentak Rendra, Sera yang baru pertama mendengar suara Rendra meninggi terkejut, "kamu ngga papa, Re?" tanya Rendra khawatir, tangannya kemudian menangkup kedua pipi gadis itu yang ternyata adalah Rea.


"Rendra, kamu ngebentak kakak karena perempuan murahan ini?" Sera menunjuk Rea dengan emosi, "Rea bukan perempuan seperti itu, Kak," bela Rendra tak terima jika ada yang menjelek-jelekkan dan menghina Rea.


"Kalau dia bukan wanita murahan maka dia tidak akan merebut kamu dari kakak, Ren!!" Sera berteriak karena emosi.


"Merebut bagaimana maksud Kak Sera?" tanya Rendra bingung dengan ucapan sang kakak.

__ADS_1


"Aku mencintai kamu, Ndra. Sangat mencintai kamu!!" Sera mulai meraung, dan Rea yang berada di belakang punggung Rendra tersentak kaget.


Bagaimana seorang kakak mencintai adiknya melebihi rasa cinta kakak untuk adiknya.


"Kakak sudah ngga waras," kata Rendra sembari meletakkan telunjuknya di kening dan membentuk garis lurus.


Rendra segera menarik tangan Rea dan meninggalkan Sera yang terus berteriak memanggil namanya.


"Aku mencintai dan itu tidak dapat di ganggu gugat, kamu bukan adik kandungku jadi aku berhak mencintai dan memiliki kamu, Mahendra!!" Sera kembali meraung dan berteriak, sedang kedua orang itu sudah hilang di balik tembok.


"Aku akan pastikan kamu jadi milikku, Ren. Hanya milik Sera seorang," desis Sera sambil mengepalkan jemarinya.


***


"Kamu beneran ngga papa?" Rendra bertanya meyakinkan, Rea hanya mengangguk dan tersenyum.


"Kita ke apartemen ku dulu ya, aku mau obati luka kamu ini," ibu jari Rendra mengusap bibir Rea yang terlihat bengkak.

__ADS_1


"Kamu tinggal di apartemen?" Rendra mengangguk, kemudian mengamati keadaan sekitar dan sudah tidam mendapati sang kakak di sana.


"Tunggu di sini, aku ambil motorku dulu," ucap Rendra sambil mengusap lembut pipi Rea.


__ADS_2