SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 100: Memeriksa Pemukiman


__ADS_3

Mereka berempat melihat potongan tubuh dari makhluk dengan warna kulit sepenuhnya berwarna hitam. Jika dilihat dari bentuk potongan makhluk tersebut lalu digabungkan layaknya permainan potongan puzzle anak-anak, itu akan membentuk sesosok makhluk mirip manusia.


Akan tetapi, mereka berempat tidak tahu apakah ini manusia asli atau bukan karena terdapat beberapa perbedaan.


"Sial, aku tidak seperti makhluk ini!" kata Kei yang agak kesal dan sedikit mengeraskan nada suaranya. "Jangan bercanda, Tara. Kita harus fokus karena kejadian di sini masih belum terjelaskan."


"Ya," balas Tara dengan singkat dan padat. Wajahnya tampak sinis dan mengejek Kei.


Kei yang berjongkok di depan beberapa potongan makhluk dengan tubuh berwarna hitam tak tahu gestur wajah yang ditunjukkan Tara.


Sementara Sadam dan Hendra tahu, tetapi mengabaikan tingkah konyol dan menyebalkan Tara.


Meskipun Tara adalah seorang pemimpin dalam tim mereka, dia tak begitu dihormati karena tingkah lakunya walau memang kekuatannya lebih kuat dibandingkan anggota tim lainnya.


Setelah itu, Kei dengan mata tajamnya bergerak begitu teliti mengamati segala sesuatu yang ada di beberapa potongan tubuh dari makhluk yang mirip manusia.


Ada beberapa keanehan yang ditemukan dari potongan makhluk hidup misterius ini, dan keanehan tersebut membuat Kei mampu menyimpulkan tentang sosok makhluk yang telah mati ini untuk sementara waktu.


Kesimpulannya, makhluk ini bukanlah manusia, melainkan manusia yang bercampur dengan monster.


Terlihat beberapa bagian tubuh yang memiliki anatomi fisik yang berbeda dari manusia normal lainnya.


Secara pribadi, Kei membandingkan bangkai mayat manusia yang terbakar dengan mayat yang mereka temukan saat ini, dan seingatnya keduanya berbeda.


Bisa disimpulkan bahwa mayat yang mereka temukan bukan manusia, tetapi monster yang mirip manusia.


"Monster Humanoid? Apakah ada catatan mengenai monster ini?" tanya Tara yang habis mendengarkan tarikan kesimpulan Kei.


Meskipun Tara meremehkan Kei, kesimpulan yang dibuat Kei kerap akurat dengan fakta yang ada. Jadi, dia tidak bisa meremehkan hasil penelitian yang Kei dapatkan.


Kesimpulan Kei terhadap makhluk di dalam lubang ini dianggap benar oleh Tara sehingga sekarang dia sangat penasaran akan eksistensi makhluk tersebut di dunia ini.


Mendengar pertanyaan Tara, Kei termenung sejenak dengan posisi masih berjongkok, kemudian dia menjawab dengan pandangan masih terfokus ke bangkai makhluk di depannya, "Monster level S ke atas memiliki kemungkinan punya bentuk humanoid, tetapi tak menutup kemungkinan level di bawahnya tak bisa, melakukan hal tersebut."


"Aku baru tahu tentang ini." Tara terkejut mendengar pernyataan Kei. "Namun ... apakah kita pernah bertemu dengan makhluk monster humanoid?"


"Um ...."


Kei mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah dia lakukan bersama tim ini. Mencari kenangan yang bersangkutan dengan monster humanoid.


"Sepertinya pernah," celetuk Hendra secara tiba-tiba.


Tara, Kei, dan Sadam mengalihkan pandangannya ke Hendra, terlihat meminta penjelasan atas ucapannya tadi.


"Apakah itu benar?"


"Ya, Kei. Kamu sudah lupa kejadian beberapa hari yang lalu? Makhluk aneh yang mirip manusia dengan pedang besar di tangannya yang mampu membunuh monster dalam satu ayunan pedang?" ucap Hendra sambil menaikkan salah satu alisnya menatap Kei dan teman lainnya.


Dalam serempak, mereka bertiga mengingat peristiwa mereka kabur dari suatu reruntuhan pemukiman, tepatnya kabur dari makhluk tak dikenal dan terlihat berbahaya.


Benar ucapan Hendra, makhluk itu berdiri dengan dua kaki dan seluruh proporsi atau postur tubuhnya mirip sekali dengan manusia.


Kemungkinan besar monster tersebut sama dengan monster yang sekarang mereka temui.


Namun, dari bentuknya monster ini terlihat lebih kecil. Mungkin dari efek terbakar yang membuat ukuran monster berkontraksi.


Mereka berdua menduga seperti itu.


Berikutnya, mereka semua memutuskan untuk mengambil sampel atau bukti jasad makhluk humanoid ini, bagian tangan dari bangkai ini dibawa oleh mereka dibungkus oleh kain yang sudah mereka siapkan untuk mengambil dan menyimpan sesuatu.


Tempat ini masih mereka jelajahi dan periksa sehingga dia menemukan sesuatu yang menarik selain dari penemuan jasad makhluk aneh, yaitu terdapat jejak darah di salah satu rumah dekat lapangan kosong.


Darah ini sudah mengering dan hanya terlihat samar-samar. Akan tetapi, dengan penglihatan mereka dan juga pengalaman mereka, keempatnya tahu bahwa jejak noda merah di atas tanah yang agak berumput adalah kumpulan darah.


Saat mereka bedakan dengan darah yang sebelumnya mereka temukan, darah ini berbeda dengan darah sebelumnya, artinya darah ini bukan darah monster, kemungkinan besar adalah darah manusia.


Sontak mereka berempat saling memandang dengan wajah yang penuh makna terselubung.


"Terjadi pertarungan antara monster dan manusia di sini," kata Kei dengan suara yang tanpa nada.


Keempatnya terkejut dan tertegun di tempat.

__ADS_1


Pada saat ini, kelompok Isander telah sampai di suatu tempat yang ada di bagian timur hutan. Mereka semua melihat di kejauhan banyak sekali monster berjenis Catagtress yang berkumpul dan berjalan-jalan tak jelas sembari menciumi sesuatu di permukaan tanah.


Mereka bersembunyi di balik pepohonan yang penuh oleh semak belukar yang lebar agar tak terlihat dan diketahui oleh kumpulan monster.


Jarak antara kelompok Isander dengan monster terpisah lebih dari 300 meter. Jumlah mereka yang banyak, membuat Isander masih dapat melihat beberapa anggota monster tersebut meski terkadang terhalang oleh banyaknya batang pohon yang tumbuh di sekitar hutan.


"Kalian berdua pernah melihat monster ini?" tanya Isander mengalihkan kepalanya ke samping, menatap Reren dan Helen yang berjongkok bersamanya di balik semak-semak.


Suara Isander sengaja dikecilkan supaya tidak terdengar oleh monster-monster ini.


Reren dan Helen mengangguk berbarengan begitu mendengar pertanyaan Isander.


"Kami kerap melihat monster yang sama dengan ini beberapa waktu lalu sebelum datang ke Kota Garuda," jawab Reren dengan wajah yang jujur.


Adiknya, Helen, dia pun mengangguk membenarkan adanya ucapan Reren.


"Monster ini adalah terlemah dibanding yang lain. Maka dari itu, target pengujian kemampuan kalian adalah mereka. Silakan bunuh mereka semampu yang kalian berdua bisa, tentu saja kalian tidak berdua karena yang lain pun akan membantu. Aku akan melihat dan memantau kalian dari kejauhan."


Sebuah perintah dan instruksi dari Isander keluar, ditujukan kepada Helen dan Reren.


Monster Catagtress seharusnya bisa mereka bunuh, semua aman jika ada orang lain yang membantu dan menjaga, terlebih Isander akan memantau secara langsung di kejauhan.


"Baik, kami berdua mengerti!"


Adegan selanjutnya, mereka semua, kecuali Isander, Meisya, dan Giya, pergi dan bergegas dengan cepat menuju ke kumpulan monster.


Sementara itu, Isander, Meisya, dan Giya menghilang di tempat dan muncul di seratus meter lebih dari tempat mereka berdiri sebelumnya.


Isander bersama Giya mencoba untuk membuat Meisya nyaman dengan mereka berdua. Dan tak lama kemudian, Meisya yang asyik bermain dengan Giya sembari sesekali bermain dengan jam tangan mengizinkan Isander pergi.


Tanpa banyak omong, Isander dengan cepat pergi menuju ke tempat di mana para anggota kelompoknya bertarung dengan kumpulan monster.


Tidak perlu memakan waktu banyak, keberadaan Isander sudah tiba di dekat pertempuran antara manusia dan ratusan monster terjadi.


Dihitung-hitung secara kasar oleh Isander dari atas pohon, dia melihat ada lebih dari 100 ekor monster Catagtress yang beradu kekuatan dengan anggota kelompoknya.


Dengan pertempuran ini, kemampuan Agta milik Reren dan Helen diperlihatkan dengan jelas.


Reren yang memiliki kemampuan dua perisai yang berdiri mulai menggunakan senjatanya ini untuk melawan monster.


Mengandalkan durinya yang tajam, Reren mendorong bagian sisi luar perisainya ke arah monster yang berlari mendekatinya.


Dengan banyak ujung duri yang tajam, monster itu tak sempat berhenti dan tubuh bagian depan monster tertancap oleh banyak duri yang tersemat di perisai Reren.


Tubuh monster dipenuhi oleh banyak lubang, dagingnya terkoyak hebat dengan darah dan beberapa organ dalam keluar.


Semua komponen tersebut berjatuhan usai hancur oleh banyaknya duri pada perisai Reren. Perisainya kini memiliki noda darah.


Akan tetapi, ini bukanlah akhir dari perlawanan yang Reren berikan.


Brak! Bug!!


Kraah!!


Kedua perisai yang ada di tangannya digerakkan dengan ayunan tangan yang cukup cepat ke arah monster terdekat. Menghantam kuat tubuh mereka dengan perisainya.


Perisai yang tidak hanya bersifat defensif, melainkan punya fungsi ofensif yang kerusakannya yang diberikan lumayan besar.


Semua monster yang terkena hantaman perisai Reren takkan bertahan lama meski masih bisa hidup dari hantaman awalnya.


Dipastikan mereka mati setelah beberapa detik tubuh mereka hancur bak daging ayam yang ditumbuk dan ditusuk oleh banyak ujung garpu.


Sementara itu, Helen membantu yang lainnya membunuh monster dari belakang.


Helen tak sama seperti Reren yang berkonfrontasi langsung dengan monster. Dia menyerang monster dari jarak jauh karena senjatanya memiliki jarak serangan yang jauh.


Panah yang terbuat dari es putih yang mengkilap muncul di tangan kanan Helen, kemudian dia menarik tali busur yang terbuat dari bahan misterius bersama anak panah.


Mata sebelah Helen setengah memejam, tengah membidik salah tubuh monster yang paling dekat.


Setelah bidikan terasa pas dan tepat, dua jari Helen melepas anak panah dan tali busur, mendorong anak panah hingga melesat cepat ke tubuh monster.

__ADS_1


Swooshh!


Suara angin akibat panah yang membelah udara tipis terdengar. Anak panah terbang begitu cepat hingga mata manusia sulit untuk mengikuti lintasan terbang anak panah ini.


Di detik berikutnya, anak panah berhasil mengenai dada Catagtress yang tengah berlari, menusuk sampai ke dalam daging.


Belum sempat monster itu menjerit karena rasa sakit yang luar biasa datang pada tubuhnya, anak panah es milik Helen.


Menciptakan kerusakan yang luat biasa kuat pada tubuh monster hingga merobek tubuh monster menjadi potongan-potongan daging acak yang berlumuran darah.


Tidak perlu ditanyakan, monster yang terkena serangan anak panah Helen pasti mati.


Ketahanan tubuh monster Catagtress tak sekuat monster Goatager atau monster yang setara dengan Goatager.


Mereka rapuh dan rentan, tak biasa menahan serangan benda tajam karena kulitnya tak sekeras monster yang lain.


Dengan demikian, anak panah yang Helen tembakan ke monster akan mengakibatkan kematian monster yang mengenaskan.


Gerakan Helen yang kaku dalam menggunakan busurnya telah memiliki kemajuan setelah beberapa kali dia melesatkan anak panah esnya.


Tampaknya, tubuh Helen dapat dengan mudah beradaptasi bersama kemampuan super yang dimilikinya.


Dalam satu menit Helen mampu mengeluarkan 5 –10 anak panah es. Dia perlu waktu untuk menciptakan anak panah dari energi Agtanya.


Mengingat kembali bahwa tingkatan kekuatan Helen yang berada di tingkat Senior, energinya tak sebanyak tingkatan Agter yang lebih tinggi darinya.


Pantas saja, Helen hanya dapat mengeluarkan anak panah sebanyak itu karena keterbatasan energi Agta.


Walaupun begitu, Helen sangat berguna dalam tim, dia mampu melumpuhkan monster yang tak sempat dilawan oleh anggota kelompok saking banyaknya monster yang menyerang hampir bersamaan.


Formasi anggota kelompok Isander memiliki perubahan baru, barisan depan dilengkapi oleh Nina, Reza, dan Reren, sedangkan barisan belakang diisi oleh Giya, Kila, dan Helen.


Dengan formasi barisan depan 3 orang dan barisan belakang 3 orang cukup menghancurkan kelompok monster level B.


Terlebih dengan tambahan kedua gadis remaja ini, mereka makin kuat dan tangguh menghadapi banyak monster.


Secara keseluruhan, kekuatan yang ditampilkan dua gadis remaja tersebut terbilang sangat kuat.


Apabila dibandingkan dan disandingkan dengan anggota kelompok lain, mereka berdua memiliki kerusakan yang paling besar jika memiliki tingkat kekuatan yang sama.


Giya memiliki kerusakan yang cukup besar, tetapi itu butuh proses dalam membakar tubuh monster, Reza dan Nina pun sama karena mereka berdua merupakan kemampuan yang menargetkan perorangan atau individu, cambuk Kila tak mudah digerakkan karena berat cambuknya, kerusakan yang diberikan oleh cambuk Kila lumayan besar.


Helen dan Reren punya efektivitas yang lebih dari mereka semua dan tak butuh banyak usaha, seperti Reza dan Nina yang mengharuskan mereka melambaikan tangan dengan sangat cepat untuk memotong satu tubuh monster berkeping-keping.


Isander yang berdiri di dahan pohon dan menonton mereka semua bertarung melawan koloni Catagtress mempunyai kesimpulan tersebut.


Reren dan Helen punya efektivitas yang lebih baik dari yang lain, tetapi bukan berarti yang lainnya tak berguna.


Dengan adanya kedua gadis ini, diharapkan kelompoknya menjadi kuat lagi dalam melawan dan membantai monster.


Lebih dari setengah jam mereka bertempur, tanda-tanda pertempuran akan berakhir ditampilkan di bawah pandangan Isander.


Mengetahui anggota kelompoknya takkan lama lagi menang, Isander pergi untuk kembali ke Meisya dan Giya, memastikan mereka baik-baik saja di sana.


Isander menunggu anggota kelompoknya menghampiri dia dan melaporkan bahwa pertempuran berakhir.


Selama hampir 10 menit Isander dan Giya bermain-main dengan Meisya, anggota kelompoknya yang habis membantai kelompok monster Catagtress tiba di depan Isander.


"Bagaimana perasaan kalian berdua setelah membunuh banyak monster?" Isander bertanya menatap wajah Reren dan Helen.


Reren dan Helen tersenyum sebagai tanggapan awalnya, dan Reren menjawab, "Mula-mula, aku merasa sangat mual, tetapi karena mereka bukanlah makhluk baik dan kerap menyerang manusia, aku tak segan-segan untuk membunuh mereka semua."


"Iya, aku juga sama. Aku hampir muntah melihat bongkahan daging dan darah mereka yang sangat menjijikkan, tetapi mengingat keluarga kami hilang karena mereka, aku tak mau memberikan rasa kasihan kepada mereka. Aku merasa lega!" sambung Helen dengan wajah yang terlihat ringan.


Ekspresi mereka sebelum pergi membantai monster terlihat tertekan dan agak cemas meski mereka bilang mereka tak sabar membunuh monster.


Dapat Isander rasakan perasaan mereka saat ini yang lebih bebas dan memang lega.


"Baiklah, kalian sudah resmi menjadi anggota kelompok kami, semoga di masa depan kalian berdua bisa makin kuat dan bisa melindungi orang-orang yang kalian berdua sayangi." Isander tersenyum puas sembari melihat kedua gadis ini.


"Ya, kami berdua pasti akan berkembang menjadi lebih baik!" Reren dengan intonasi suara yang antusias membalas ucapan Isander. Disusul dengan anggukan kepala Helen dengan wajah yang cerah.

__ADS_1


"Semoga kita semua bisa membawa kemenangan untuk manusia! Oraa!!"


__ADS_2