SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 57: Pak Ghandi Menghilang


__ADS_3

Setelah berjalan beberapa jam, mereka bertiga berhenti di sebuah pohon besar yang termasuk jenis pohon redwood.


Mereka semua duduk di atas rumput di bawah pohon besar ini dan beristirahat sampai malam menghilang.


Sepanjang jalan, mereka semua tidak berbicara lagi sejak Isander memberi tahu tentang kebenaran dari Pak Tole yang berubah menjadi monster berwujud Spidgarets.


Kekecewaan dan kesedihan masih menyelimuti mereka bertiga. Isander fokus menggendong Meisya yang perlahan mengantuk dan tertidur kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu karena ada monster yang datang.


“Oh, iya. Bagaimana dengan Pak Ghandi?! Sial, kita lupa tidak membawa dia dari pemukiman!“ Giya berdiri dan berkata dengan panik.


“Tidak ada, dia menghilang.“


Isander menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang bingung.


Sebelum keluar dari pemukiman, Isander menyempatkan diri untuk datang ke rumah Pak Ghandi, dia masih ingat dengan Pak Ghandi, berniat untuk memindahkan Pak Ghandi ke tempat yang aman. Namun, sosok Pak Ghandi sama sekali tidak terlihat di kamarnya, kasurnya kosong, tidak ada siapa pun yang berbaring di sana.


Hal ini yang membuat Isander bertanya-tanya sampai detik ini. Dia sama sekali tidak tahu ke mana Pak Ghandi pergi. Sangat aneh dan mencurigakan.


“Hilang?!“ Giya dan Nina berseru hampir bersamaan, mereka menatap Isander dengan wajah yang tercengang.


Kepala Isander sedikit mengangguk dan dia menimang Meisya agar tidurnya menjadi pulas. “Tolong kecilkan suara kalian, Meisya sedang tertidur.“


“Maaf, kami terkejut tadi.“


Kedua wanita tersebut menjadi tenang kembali dan menekan rasa ketidakpercayaannya setelah mendengar berita dari Isander.


“Aku tidak berbohong tentang ini. Tidak ada siapa pun di pemukiman, bahkan sapi dan ayam telah kabur dari kandang di sana.“


“Jadi, ke mana dia pergi? Dan bagaimana caranya?“ Giya termangu menatap menatap rumput yang dia duduki.


Nina ikut merenung dan memikirkan tentang Pak Ghandi yang menghilang. “Aku curiga dia sama seperti Pak Tole.“


“Maksudmu … Pak Ghandi pengkhianat?“

__ADS_1


“Bukan, Giya. Aku berasumsi dia juga berubah menjadi seekor monster.“ Nina menatap Giya dan Isander dengan tatapan yang mendalam.


Spekulasi Nina didapatkan dari mengingat luka-luka aneh yang ada di sekujur tubuh Pak Ghandi. Luka tersebut sangat aneh dan tidak lazim. Apalagi, luka sebanyak itu tidak membuat Pak Ghandi tewas, dan Pak Ghandi masih bisa bernapas.


Anehnya lagi, Pak Ghandi bisa bertahan hidup dengan luka sebanyak itu, padahal dia orang biasa, bukan seorang Agter.


Kemungkinan besar Pak Ghandi terkena virus oleh seekor monster.


Giya baru sadar dengan pikiran ini. Dipikir-pikir juga Pak Ghandi memiliki luka yang aneh dan tidak biasa.


“Jangan sampai, itu terlalu mengerikan.“ Giya tidak berharap dugaan Nina menjadi kenyataan karena itu sangat menyeramkan.


Asumsi Nina juga dianggap hampir benar oleh Isander. Peristiwa hilang Pak Ghandi yang terluka parah sangat-sangat janggal. Tidak mungkin Pak Ghandi yang terluka dan telah tidur berhari-hari menghilang begitu saja secara mendadak.


Bisa saja itu dibawa oleh orang lain, tetapi Isander tidak menemukan jejak manusia yang masuk ke dalam rumah Pak Ghandi.


“Kemungkinan itu bisa,” ujar Isander yang menjaga Meisya dari nyamuk yang beterbangan.


Di hutan banyak sekali nyamuk dan itu mengganggu orang tidur. Jari Isander yang cepat dapat menangkap nyamuk dan membunuhnya.


“Namun, kami berdua tidak menemukan siapa pun yang keluar dari pemukiman,” balas Nina sesuai dengan apa yang terjadi.


Sejak Nina memantau area pemukiman dari kejauhan, di tidak melihat satu orang pun yang keluar, atau bahkan sesosok makhluk yang kabur dan melarikan diri dari gerbang kecil timur.


Akan tetapi, dia tidak tahu dengan gerbang utama selatan dan utara, mungkin saja orang ada yang keluar dan masuk dari sana.


Giya mengangguk mengonfirmasi apa yang dikatakan Nina yang sesuai dengan fakta. “Benar, kami tidak melihat orang yang berjalan dari arah timur pemukiman.“


“Mungkinkah Pak Ghandi kabur dari arah lain?“ Nina menoleh kepada Giya dan Isander dengan ekspresi yang bertanya-tanya.


“Tidak tahu. Kita bicarakan ini nanti, lebih baik kalian tidur selagi masih ada waktu beberapa jam sebelum matahari terbit,” saran Isander kepada mereka berdua.


Dia rasa matahari lama munculnya, langit masih gelap gulita belum menunjukkan tanda-tanda matahari datang.

__ADS_1


Bulan pun masih bisa terlihat meski di arah yang miring, tidak tepat di atas kepala.


Saran Isander diterima oleh kedua wanita ini dan mereka menggelar kain untuk alas mereka tidur. Kain sangat penting bagi para Agter karena bisa digunakan untuk apa saja.


Melihat sosok mereka berdua yang tertidur, Isander menjadi penasaran dengan bagaimana rasanya melakukan hal itu dengan istrinya. Sayang sekali, dia pindah ke dunia ini setelah beberapa tahun Isander asli dunia ini melakukan itu dengan istrinya.


Jujur saja, kedua wanita ini memiliki paras yang cantik, cantik bukan karena darah campuran, melainkan darah asli Indonesia.


Isander tahu keduanya berasal dari Suku Sunda, tidak heran jika cantiknya lebih ke lembut, bukan dewasa dan begitu tegas. Di dunia sebelumnya, daerah yang mayoritas suku Sunda, seperti Sukabumi, Bandung, dan beberapa daerah di Jawa Barat adalah daerah penghasil wanita yang cantik. Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur juga banyak wanita cantik, tetapi bertipe yang berbeda.


Giya dan Nina sangat lembut ketika berbicara, sangat mencerminkan beberapa daerah yang memakai bahasa Sunda yang lembut.


Bukan hanya paras mereka yang cantik, kedua wanita ini juga memiliki tubuh yang panas.


Posisi ketika mereka tidur saja sangat menggoda. Pria lain yang melihat mereka tidur pasti sulit untuk menahan hawa nafsu binatangnya.


Pakaian mereka juga tidak terlalu sopan. Celana yang mereka pakai saja berjenis hot pants atau celana pendek yang setengah menutupi paha. Paha mereka yang putih dan mulus jelas terlihat oleh Isander, ditambah dengan pakaian mereka yang tidak panjang dan terkesan ketat lantaran sangat pas pada tubuhnya.


Untungnya saja, mereka berdua masih memakai penyangga atau kurungan bola-bola mereka. Jika tidak, Isander tidak akan tahan lagi.


Namun, Isander selalu mengingat sosok mendiang istrinya yang cantik ketika memiliki pikiran aneh kepada kedua wanita cantik yang beberapa hari ini selalu bersamanya.


Istrinya sangat cantik, melebihi keduanya. Sebelum terjadinya hari kehancuran manusia ini, istrinya termasuk gadis tercantik di sekolah, dia tahu ini karena dia satu sekolah dengan istrinya ketika di SMA.


“Aku tidak tahu bagaimana dia melihat aku dan Meisya sekarang, apakah dia senang karena aku kuat atau sedih karena aku dan Meisya masih hidup di dunia yang tidak layak ini?“ Isander bergumam sambil melihat langit hitam di atasnya.


Tepat ketika dia merenung dan memandang keindahan langit malam, seekor monster Catagtress keluar dan berlari ke arahnya.


Alih-alih berdiri dan melawan secara langsung, Isander mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan jari telunjuk kanannya ke arah tubuh Catagtress yang berlari.


Sebuah api kecil merah tercipta dan meluncur cepat menabrak tubuh Catagtress.


Api merah yang kecil itu merambat cepat dan membakar seluruh tubuh monster.

__ADS_1


“Aku sedang tidak ingin diganggu.“


__ADS_2