SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 49: Mengobrol dengan Pak Tole


__ADS_3

Mereka bertiga mendengar ucapan Bapak Tole dengan penuh perhatian.


Akan tetapi, pernyataan yang diberikan Bapak Tole agak terdengar meragukan.


Giya dan Nina pun dapat merasakan ada yang ganjil pada kalimat yang dilontarkan Pak Tole.


Gerakan tubuh ketika Pak Tole membeberkan peristiwa yang menurutnya sungguhan terjadi terlihat mencurigakan, sesekali Pak Tole menggerakkan pupil matanya ke kiri dan kakinya sering bergerak tak bisa diam.


Setelah merenung beberapa detik, Giya menatap wajah Pak Tole dan bertanya, “Kapan itu terjadi? Dan kapan Pak Ghandi mendapatkan luka tersebut?“


“Pak Ghandi terluka di dua hari yang lalu, satu hari setelah kalian pergi ke luar pemukiman,” jawab Pak Tole dengan senyumannya masih dipertahankan. Lama-kelamaan senyuman pria tua ini mengerikan.


Isander yang malas menatap sosok Pak Tole, tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke wajah Pak Tole yang aneh.


“Secepat itu?“ Nina terkejut, kemudian dia menatap Pak Tole dengan mata membulat. “Terus, bagaimana dengan warga yang menjenguk? Mengapa mereka tidak mengurus Pak Ghandi.“


“Warga terlalu takut, mereka tidak berani untuk mengobati Pak Ghandi lagi begitu luka aneh bermunculan di tubuh Pak Ghandi. Lihat saja mereka sekarang, mereka tampak ketakutan, bukan?“ ucap Pak Tole sedikit memiringkan kepalanya. Senyumnya yang tidak normal masih tidak berubah.


Setelah Pak Tole mengatakan ini, mereka bertiga melamun dan memikirkan tentang hal ini, dan itu agak masuk akal.


“Kalian tenang saja.“ Pak Tole mengangkat keranjang yang dia letakkan di lantai dan ditampilkan kepada mereka bertiga. “Pak Ghandi baik-baik saja, dia sudah aku urus tadi siang. Dia harus banyak beristirahat. Jadi, jangan sering dilihat, kalian nanti tidak nafsu makan.“


“Ini, aku membawakan kalian ayam bakar, kalian belum makan, kan? Aku bawakan untuk kalian, Para Agter.“


Keranjang itu diserahkan kepada Giya yang lebih dekat dari Pak Tole.


Giya mengambil keranjang tersebut dan dia menoleh kepada Isander serta Nina yang ada di sampingnya.


Mereka bertiga saling memandang untuk sementara waktu, Isander dan Nina memberi kode anggukan kepala kepada Giya.


Melihat reaksi mereka berdua, Giya menerima makanan ini dan tersenyum kepada Pak Tole. “Terima kasih, Pak Tole sudah membawakan makanan kepada kami.“


“Ya, aku takut kalian lupa untuk mengambil makanan di dapur pemukiman. Kalau begitu, aku pulang dahulu, malam sebentar lagi akan datang. Kalian jangan lupa untuk kembali ke rumah masing-masing sebelum malam. Sampai jumpa!“

__ADS_1


Pak Tole beranjak pergi dari kursi dan dia berjalan menuju pintu rumah. Membuka pintu rumah, Pak Tole meninggalkan rumah setelah menutup pintu rumah Pak Ghandi.


“Aneh, aku merasakan ada sesuatu yang tidak biasa pada sosok Pak Tole barusan,” kata Giya menatap pintu rumah dengan wajah yang rumit.


“Ya, aku juga merasakan hal yang sama, Giya. Aku baru sadar, Pak Tole terlihat berbeda dari biasanya.“ Nina mengangguk dan satu pendapat dengan Giya.


Memang benar, Pak Tole berbeda dari tampilannya. Meskipun mereka tidak begitu dekat dengan Pak Tole, tetapi keduanya tahu seperti apa kesan dan rasanya ketika mengobrol dengan pak Tole atau hanya sekadar melihat sosoknya.


Isander yang dari tadi hanya diam dan mengamati akhirnya mengucapkan kalimat kepada mereka berdua, “Kalian berdua tetap waspada. Walaupun kita sudah dekat dengan orang-orang yang ada di pemukiman ini, kita harus berhati-hati, lebih lagi di saat seperti ini.“


“Baik, aku mengerti.“


“Ya, aku akan mendengarmu.“


Keduanya mengangguk hampir bersamaan merespons perkataan Isander.


“Bagaimana? Kalian ingin pulang ke rumah sekarang? Beberapa menit lagi akan malam.“ Isander memandang wajah kedua wanita ini, dia masih mengelus punggung Meisya dengan lembut.


“Menginap?“ Isander yang baru bergerak satu langkah ke depan langsung berhenti mendengar ucapan Giya. “Untuk apa kamu tidur di rumahku?“


“Aku sudah tidak nyaman tinggal di pemukiman ini, takut ada sesuatu yang buruk terjadi. Maka dari itu, apa aku boleh tinggal di rumah kamu untuk semalam.“ Giya menatap Isander dengan mata yang malu dan memohon.


Tangan Isander yang dipakai untuk mengelus punggung Meisya dipakai menggaruk kulit kepalanya. “Kasur di rumahku hanya ada satu. Bagaimana tidurnya?“


“Aku bisa tidur sambil duduk, tidak perlu khawatir.“


“Oke, baiklah “ Isander tidak bisa menolak. Ini demi keselamatan bersama.


“Aku juga mau tidur di rumah kamu, Isander,” kata Nina yang juga merasakan perasaan hal yang serupa dengan Giya.


“Kamu juga boleh kalau kamu mau.“


Tidak apa-apa Nina ikut untuk tidur di rumahnya. Lagi pula, dia masih satu tim dengannya.

__ADS_1


Dengan demikian, mereka bertiga pergi meninggalkan rumah Pak Ghandi dan berjalan menuju ke tempat rumah Isander berada.


Sebelum mereka angkat kaki dari rumah Pak Ghandi, mereka bertiga memastikan semuanya kembali bersih dan pintu tertutup rapi.


Di perjalanan, mereka bertiga tidak lagi bertemu dengan warga. Dalam beberapa menit saja, suasana pemukiman menjadi sangat sepi dan terasa horor.


Ketiganya berjalan sambil melihat-lihat ke kiri dan ke kanan untuk berjaga-jaga.


Pertama-tama, mereka pergi ke rumah Giya untuk menemani Giya mengambil beberapa kebutuhannya, seperti air putih dan beberapa barang yang penting, dilanjutkan pergi ke rumah Nina untuk mengantarkan Nina membawa beberapa barang keperluannya.


Setelah itu, mereka bertiga masuk ke dalam rumah Isander dan beristirahat di sana.


Begitu masuk, Isander langsung menyalakan lampu minyak yang ada di ruang dapur tempat makan dan kamar tidur.


Ruang depan jarang Isander nyalakan lampu, itu akan membuat rumahnya menyala di dalam kegelapan.


Di ruang kamar ada jendela yang ditutupi oleh kain juga itu menghadap ke belakang sehingga tidak begitu nampak. Sementara ruangan dapur tidak ada jendela, hanya ada lubang ventilasi, lubang keluar dan masuk udara.


Kalau mau tidur, Isander akan mematikan lampu minyak di dapur dan di kamar tidur. Dia menyalakan lampu hanya di awal malam saja.


Duduk di kursi makan, Giya meletakkan dua tas yang dia bawa di atas meja kayu. “Aku masih memikirkan tentang para warga. Apakah kalian tidak merasa takut dengan mereka sekarang?“


“Aku takut ada hal yang buruk terjadi kepada mereka dan itu dapat membahayakan aku,” ujar Nina yang duduk di kursi yang lain. Dia meletakkan tasnya di lantai.


“Maksud kamu mereka terinfeksi?“ celetuk Isander yang habis keluar dari kamar. Meisya sudah dipindahkan ke dalam kamar. Gadis kecil itu masih tertidur pulas.


“Umm … ya. Aku menduga seperti itu.“ Nina mengangguk membenarkan ucapan Isander.


“Kelihatannya sangat mungkin.“ Isander berdiri di dekat meja dan memegang dagunya


Setelah mendengarkan omongan Nina, Giya juga menjadi memiliki pikiran yang sama.


“Apakah Pak Ghandi sebenarnya tidak terluka akibat jatuh, melainkan terkena virus?“

__ADS_1


__ADS_2