SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 59: Perkebunan Wangi


__ADS_3

Sejauh mata memandang, Isander hanya melihat pemandangan pepohonan pendek dan dengan jarak yang berjauhan, tempat ini tidak disebut hutan lagi, lebih cocok sebagai perkebunan.


Dilihat lebih dekat lagi, pepohonan ini kebanyakan adalah pepohonan yang berbuah. Di sini banyak pohon nangka dan rambutan.


Pohon yang tumbuh di sini membuat lingkungan di sini dipenuhi oleh wewangian khas buah, seperti bau buah nangka dan durian yang tajam.


Baginya, wangi ini tidak membuat hidungnya merasa tidak enak dan tak nyaman, malah dia merasa senang dengan adanya bau seperti ini.


Berbeda sekali dengan Nina, Giya, dan Meisya, mereka bertiga tidak senang dengan wewangian yang menyengat dari kedua buah tersebut. Maka dari itu, Giya dan Nina mengajak Isander untuk cepat pergi dari area yang dipenuhi pepohonan yang berbau menyengat tersebut.


"Isander, kita harus cepat dari sini, aku sudah tidak kuat," kata Giya sembari menjepit hidungnya dengan tangannya.


Nina yang ada di sebelah Giya dan sedang menggendong Meisya pun mengangguk satu pendapat dengan Giya.


"Oke-oke, aku akan mempercepat langkahku," jawab Isander yang berjalan di belakang mereka.


Setelah itu, Isander dan mereka semua berjalan dengan cepat hampir tampak sedang berlari.


Tak sampai 10 menit mereka berjalan cepat, kawasan pepohonan durian dan nangka telah mereka lewati.


Namun, Isander membawa satu buah nangka dan durian masing-masing untuk dia makan.


Kedua buah ini sangat disukai oleh Isander, sayang jika ditinggalkan begitu saja tanpa mencicipi buah hasil alam di sini.


Mereka semua singgah di sebuah bangunan yang hancur di suatu daerah perumahan.


Bisa dilihat di luar bangunan, terdapat banyak bangunan yang hancur dan ditutupi oleh lumut hijau dan tanaman kecil merambat.


Aspal jalanan banyak yang retak dan sudah tak bisa digunakan lagi sebagai jalanan mobil dan sepeda motor.


Mereka sudah melewati daerah Bogor dan pergi menuju ke arah timur dari pulau Jawa.


Di tempat ini, mereka duduk dan beristirahat sejenak untuk mengisi energi yang hilang dengan cara makan siang.

__ADS_1


Dalam perjalanan, Nina dan Giya dibantu oleh Isander memburu 5 ekor ayam yang lalu-lalang di sekitar daerah tempat yang mereka lalui.


Saat ini, mereka sedang membakar ayam untuk makan di siang hari ini.


Untuk menambah rasa, Isander mengeluarkan sebuah saus dari makanan cepat saji yang sangat terkenal di Bumi tempat asli Isander berasal.


Giya dan Nina sangat senang adanya saus ini karena menambah kenikmatan makan siang di hari ini. Meskipun demikian, di dalam hati mereka masih tersimpan sebuah rasa penasaran dengan bagaimana cara Isander mendapatkan saus langka tersebut.


Hal ini membuat Isander makin mencurigakan dan aneh di pandangan mereka berdua.


Meisya menyukai saus keju, dia kerap mencolek daging ayam bakar ke saus kuning atau saus keju kesukaannya.


Sepanjang dia makan, gadis kecil ini selalu berjoget kecil untuk melampiaskan rasa senangnya atas makanan yang dia dapatkan.


Melihat mereka bertiga begitu senang, Isander merasa keputusan dia mengeluarkan saus sederhana ini bukanlah pilihan yang salah.


Dengan begitu, Isander berniat untuk konsisten dan berkelanjutan mengeluarkan saus yang menambah nafsu makan mereka bertiga.


Akan tetapi, itu tidak bisa selalu dilakukan karena menambah kecurigaan dua wanita ini akan tasnya.


Bibir kecil Meisya dipenuhi oleh noda saus saking lahapnya gadis kecil tersebut makan ayam bakar.


Islander mengelus-elus kepala Meisya untuk membuatnya nyaman dan senang.


Meisya sudah terlalu banyak melihat monster dan sesuatu yang berdarah meski sekilas, tetapi tetap saja akan berdampak pada pertumbuhannya.


Oleh sebab itu, Isander ingin Meisya melupakan gelapnya dunia dengan rasa kasih sayangnya yang telah diberikan.


Secara pribadi, Isander tidak mau anaknya tetapi hidup di dunia yang kacau-balau dan berantakan ini. Sebuah pikiran terkadang mencuat di dalam kepalanya, yaitu ingin mengubah dunia ini kembali menjadi dunia yang dahulu.


Dunia yang damai, nyaman, tentram, dan tanpa monster bukan suatu yang mudah untuk dibuat, apalagi didapatkan.


Banyak yang harus dikorbankan dan harus banyak usaha yang dikeluarkan untuk mewujudkan cita-cita yang sebesar dan luar biasa tersebut.

__ADS_1


Untuk saat ini, Isander menganggap hal tersebut adalah cita-cita yang akan dicapai dalam jangka yang panjang.


Apabila tidak tercapai tidak apa-apa, terpenting dia dan Meisya masih bisa hidup tenang dengan caranya sendiri, dan kalau itu tercapai, itu adalah sesuatu prestasi yang luar biasa.


Tepat ketika mereka asyik memakan daging ayam yang dibakar, sebuah suara langkah kaki terdengar dari luar bangunan.


Isander langsung memasang kewaspadaan yang tinggi dan segera menghentikan makannya. Berdiri dari alas rumah yang agak kotor, dia berjalan sedikit demi sedikit menuju ke arah sumber suara yang masih terdengar di telinganya.


Mata Giya dan Nina terlihat waspada sekaligus khawatir. Kedua wanita ini memindahkan posisi Meisya yang sedang makan ke pangkuan Giya. Gadis kecil harus dilindungi dan jangan sampai dilukai.


Tembok yang hancur tersebut Isander dekati dan dia intip secara pelan-pelan tanpa ketahuan.


Begitu Isander melihat pemandangan yang ada di luar, terdapat 2 sosok manusia tengah berjalan dan memindai area tempat di mana Isander dan lainnya beristirahat.


Namun, kedua orang ini belum menemukan di mana tempat masuk bangunan tempat Isander singgahi.


"Kamu mencium bau itu, Rian? Kurasa aromanya sudah makin dekat, sesuatu tersebut tak jauh dari sini." Seorang wanita yang lumayan cantik dengan pakaian kaos pendek dan celana panjang bahan menoleh ke pria yang ada di sisi lain bangunan.


Mendengar ucapan wanita ini, pria yang bernama Rian mengangguk membenarkan. "Memang benar, aromanya ada di sekitar sini, Kiara."


Hidung keduanya sudah bisa mendeteksi sangat jelas perihal aroma ayam yang dibakar dengan bumbu garam.


Mereka berdua terus mencari arah aroma wangi muncul berharap itu akan ketemu.


Pada saat mereka sibuk memeriksa dan memindai, siluet hitam meluncur cepat di antara keduanya dan dalam sekejap merobohkan mereka berdua tanpa disadari sama sekali.


Siluet hitam tersebut adalah Isander yang langsung memukul area kelemahan manusia, yaitu tempat di mana aliran darah dan oksigen berada, seperti leher dan tulang rusuk.


Melihat kedua orang ini pingsan dan tertidur, Isander membawa keduanya dengan tangannya menuju ke dalam bangunan rumah yang setengah runtuh.


Di daerah ini banyak sekali rumah dan sama-sama rusak sehingga mereka berdua ini kesulitan mencari di mana tempat Isander berada.


Saat melihat Isander kembali dengan membawa dua orang di kedua tangannya, Giya dan Nina terbelalak hampir bersama, tak menyangka Isander dengan mudahnya melumpuhkan seseorang yang ada di luar rumah.

__ADS_1


"Siapa mereka berdua, Isander?"


"Tidak tahu, yang pasti aku butuh tali, berikan aku tali, Giya."


__ADS_2