SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 54: Monster yang Merepotkan


__ADS_3

Kemampuan yang baru saja dia dapatkan sangat berguna di situasi sekarang ini, dia tidak perlu membuang tenaga menggunakan Dark Spear untuk membunuh ribuan monster laba-laba kecil yang terus-menerus keluar dari tubuh monster laba-laba raksasa.


Monster laba-laba raksasa tidak bergerak selama ribuan atau bahkan puluhan ribu monster laba-laba


Blarr!


Api kecil berkobar di atas kelima ujung jari Isander, ukuran api yang muncul di lima jari Isander tidak konsisten karena pengendalian kemampuannya yang masih sangat buruk.


Namun, beberapa detik Isander mengaktifkan kemampuan barunya, kontrolnya terhadap api-api kecil ini mulai menjadi bagus.


Melihat bahwa sudah banyak laba-laba kecil yang melompat untuk menyerangnya dengan cairan asam yang bervolume sedikit, Isander tanpa banyak berpikir lagi segera menghabisi mereka semua.


Tangan kiri Isander yang terdapat kelima api kecil merah diarahkan ke depan menghadap ke monster-monster laba-laba kecil yang berkerumun begitu banyak.


Di detik berikutnya, lima api kecil tersebut membesar dan perlahan mendekat satu sama lain hingga api tersebut menyatu menciptakan api yang besar.


Dengan sedikit dorongan tangan kiri ke depan, api tersebut menyembur ke depan bagai semburan api yang keluar dari mulut naga.


Kriekk! Kyakk!


Jeritan tangisan monster laba-laba kecil terdengar diiringi dengan suara api yang menyala dan membakar semua tubuh monster laba-laba hingga menjadi hitam.


Gumpalan daging tergeletak di segala permukaan tanah dengan keadaan yang gosong dan hitam karena terbakar hidup-hidup oleh api yang muncul dari jari-jari tangan kiri Isander.


Untuk sementara waktu, bau daging yang terpanggang memenuhi area pemukiman warga. Asap hitam mengepul di sekitar area tempat pertempuran yang berlangsung.


Hanya dalam waktu yang singkat, semua monster-monster laba-laba kecil tersebut yang bermunculan mati terbakar oleh api dari jari-jemari Isander.


Blarrr!


Suara api yang menyala dan melambai dahsyat masih terdengar, membuat pemukiman yang gelap menjadi terang, bahkan asap hitam pun tidak bisa menahan cahaya api.


Kobaran api dahsyat dari tangan Isander menelan semua monster laba-laba kecil tanpa ada satu pun yang tersisa.


Pemandangan monster laba-laba kecil terbakar ini disaksikan secara langsung oleh induk monster.


Mata merah yang tajam monster tersebut hampir keluar, dan wajah Pak Tole terdistorsi disebabkan oleh emosi yang terus bertambah.


Grieekkkk!

__ADS_1


Amarah yang memuncak menjadi makin bergejolak sampai-sampai monster tersebut mengalami perubahan yang membuat orang merasa ngeri.


Tubuh monster tersebut tidak lagi melahirkan puluhan ribu monster laba-laba versi kecil, tubuhnya yang besar pelan-pelan menyusut dan menjadi kecil.


Sebuah benang putih yang cukup besar melilit tubuh monster hingga membuat seluruh tubuh terbungkus oleh jaring benang yang timbul dari lubang belakang tubuh monster laba-laba.


Sebuah perasaan yang berbahaya dapat dirasakan oleh Isander sekarang.


Menyimpan kembali apinya, Isander menggenggam Dark Spear dengan erat, menatap pemandangan monster di kejauhan. Kewaspadaannya menjadi tinggi.


Matanya tidak terlepas dari sosok monster yang mengalami transformasi untuk kedua kalinya. Dia takut akan ada penyerangan tiba-tiba yang diarahkan kepadanya oleh monster tersebut.


Isander mencoba menyerang benang-benang yang menyelimuti monster, tetapi itu percuma, benang lain akan menutupi kerusakan pada benang yang rusak karena gelombang energi gelap Dark Spear.


Tidak ada yang bisa dia lakukan, dia menunggu sampai monster ini keluar dari cangkang jaring.


Transformasi ini berlangsung cepat, hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 menit.


Benang putih keabu-abuan yang membungkus dan membentuk cangkang oval yang besar perlahan robek.


Garis kecil muncul tepat di tengah cangkang yang terbuat dari jaring laba-laba raksasa tersebut dan perlahan robekan kecil menjadi besar.


Wajah dari makhluk ini tidak lagi terlihat seperti Pak Tole, diganti dengan wajah hitam bersisik dengan sepasang mata merah yang menyala. Sepasang gigi runcing keluar dari mulut makhluk humanoid tersebut. Tidak memiliki rambut dan hanya ada duri-duri berbulu di atas kepalanya dan itu juga merambat ke sekujur tubuhnya.


Bukan karena sinar bulan, sosok makhluk ini menyatu dengan kegelapan malam hari.


Berdiri berhadapan dengan Isander jauh di depan, makhluk ini menatap Isander dengan matanya yang menyala.


Mulutnya yang memiliki taring bergerak, dan berkata, “Aku, sangat, marah kepada, kamu …. Bunuh!“


Setelah suara aneh yang membuat telinga tidak nyaman itu keluar, makhluk humanoid ini melompat tinggi ke arah di mana Isander berdiri.


Menengadahkan kepalanya, Isander langsung mengangkat tombaknya ke atas untuk bersiap menyerang.


Ketika monster humanoid ini mengarahkan cakar dari keenam tangannya, Isander mengayunkan tombak untuk menangkis serangan tersebut.


Bam!


Benturan keras tercipta dari tabrakan bilah tombak dan cakar monster.

__ADS_1


Angin berhembus kencang menerpa tubuh keduanya dan dedaunan di sekitar.


Keduanya langsung berpisah setelah pertemuan tadi dan terhempas beberapa meter.


Tubuh Isander terpelanting dan terseret sampai 7 meter jauhnya, dan berhenti di depan rumahnya yang sudah miring hampir runtuh.


Dua garis lurus terbentuk di permukaan tanah hasil dari Isander menahan sosoknya agar tidak terhempas lebih jauh.


“Jauh lebih kuat! Kekuatan fisiknya melebihi dari kekuatan fisik yang aku punya, ini akan merepotkan,” gumam Isander sambil menatap makhluk humanoid yang berdiri tegak di puluhan meter di depannya.


Tangan Isander terasa sakit akibat menahan serangan monster tersebut.


Kekuatan fisik monster ini lebih baik ketimbang fisik Isander, bisa dilihat dari hasil tabrakan keras mereka berdua, Isander tidak berdiri, postur tubuhnya sedikit membungkuk.


Sementara itu, monster humanoid tersebut mendarat dengan mudah dan berdiri tegak tampak baik-baik saja.


“Kuat, aku akui, manusia kuat! Aku … membunuhmu!“


Berikutnya, siluet hitam melintas sangat cepat menuju Isander, sosok monster yang berdiri telah menghilang.


Isander sempat melihat gerakan ini, dan dia langsung melompat untuk menghindari monster yang meluncur sangat cepat ke arahnya.


Whoosh!


Isander menghilang dari tempatnya dan berhasil menghindar.


Akan tetapi, saat Isander melompat ke samping, siluet hitam yang meluncur lurus mendadak membelokkan arahnya, mengikuti arah ke mana Isander melompat untuk menjangkau tubuhnya.


Dalam satu kedipan mata, monster tersebut sukses mengejar Isander.


Melihat gerakan ini, mata Isander terbelalak, dia menatap wajah monster yang muncul di depan matanya dengan ekspresi yang terkejut.


Tak pernah dia sangka monster ini mampu bermanuver ketika tubuhnya bergerak pada kecepatan yang sangat tinggi.


Dengan keenam cakarnya yang tajam, monster tersebut menggerakkan cakarnya ke arah tubuh Isander dengan gerakan yang cepat.


“MA–MATI!“


Pada sekarang ini, Giya, Nina, dan Meisya sedang berdiri di bawah pohon yang ada di jarak puluhan meter dari pemukiman, wajah di antara ketiganya sangat terlihat cemas dan khawatir.

__ADS_1


“Kak Giya, Kak Nina, apakah ayah akan baik-baik saja? Meisya merasa tidak nyaman, Meisya takut ayah tidak kembali lagi.“


__ADS_2