SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 152: Monster C yang Jarang


__ADS_3

Reza yang sudah lelah dan resah karena diterpa oleh sinar matahari yang panas bertanya kepada yang lainnya dengan suara yang agak tinggi.


Tidak hanya Reza yang kesal, semua orang juga memiliki temperamen yang tidak baik karena amarah mereka yang melonjak akibat wilayah Kebumen tak kunjung mereka temukan.


Melihat jam tangannya, Aqila mengetahui bahwa mereka telah salah mengambil jalan.


Seharusnya, dari Kota Komodo mereka berjalan ke arah barat daya sedikit karena letak Kebumen juga ada di bagian selatan Pulau Jawa.


Daerah Kebumen memiliki pantai karena letaknya dekat pantai.


"Kurasa kita harus pergi ke arah selatan, kita sudah salah memilih jalan," kata Aqila kepada Isander dan yang lainnya.


Isander melihat peta sekali lagi untuk memastikan tanda S yang dibuat benar-benar ada di wilayah Pulau Jawa bagian selatan.


Hasilnya, tanda S yang dibuat memang ada di sebuah wilayah yang ada di bagian selatan, tetapi tidak terlalu ke selatan, tak sampai ke pantai juga.


Kepala Isander mengangguk, menginformasikan tentang ucapan Aqila.


"Benar, kita harus pergi ke arah selatan sekarang, kita sudah melewati jalan yang salah," kata Isander kepada semua anggota timnya.


Mendengar konfirmasi Isander, semua orang menghela napas panjang, dan kemudian menggelengkan kepalanya tanpa daya.


Perasaan kesal di dalam hati mereka mereda. Setelahnya, mereka mengubah arah perjalanan ke arah yang berbeda.


Kurang dari 30 menit, mereka telah berjalan di berbagai tempat, dari hutan, desa hancur, pemukiman kampung sebelum kehancuran, hingga beberapa persawahan. Namun, mereka masih jauh dari letak di mana tanda S berada pada peta kertas buatan petinggi kota.


Mengetahui bahwa mereka sudah melewati juga waktu makan siang, Isander meminta mereka untuk berhenti di sebuah perkampungan yang ditinggalkan oleh penduduknya, mereka akan makan siang di sana.


Makan siang dengan makanan yang enak dan lezat memang ampuh dalam menghilangkan aura negatif, seperti rasa gelisah, marah, dan sedih.


Amarah mereka langsung menghilang dengan kelezatan yang mereka rasakan di dalam mulutnya.


Bibir mereka berhasil dimanjakan, dan secara otomatis hati mereka ikut merasakan kegembiraan.

__ADS_1


Para wanita di kelompok Isander memakan cokelat dan itu benar-benar manjur untuk menaikkan perasaan hati mereka semua.


Sementara itu, Isander, Goron, dan Reza cukup makan hingga kenyang, hati dongkol mereka hilang begitu saja tanpa disadari.


Meisya sama sekali tidak kesal karena dirinya saja tidak tahu sudah tersesat barusan.


"Benar-benar tidak ada monster C yang muncul di perjalanan tadi. Ada apa sebenarnya dengan monster-monster ini?" ujar Goron yang heran dengan fenomena di perjalanan mereka sebelumnya.


Reza mengangguk, dan membalas ucapan Goron, "Memang aneh beberapa hari ke belakang ini. Catagtress yang sering kita temui sudah tidak lagi kita temui dengan mudah seolah mereka sudah menjadi fauna yang terancam punah. Aku menebak mereka terlalu banyak dibunuh oleh Agter rendah, Agter Senior dan Junior."


Pernyataan Reza yang berisikan asumsi pribadi, membuat semua orang berpikir tentang itu. Mereka bertanya-tanya apakah itu bisa benaran terjadi pada monster C tersebut.


Renungan kali ini mereka lakukan secara bersamaan, semuanya duduk di dalam rumah kayu bekas peninggalan salah satu penduduk di desa yang ditinggalkan ini.


Alhasil, mereka berpikir asumsi Reza adalah suatu yang benar.


Kepala Giya terangkat dan memandang Isander dengan serius. "Apakah kita terlalu banyak membunuh monster C di masa lalu? Sampai-sampai populasi monster tingkat C menjadi sangat sedikit?"


"Um, ya, artinya tujuan kita tercapai, tetapi ...." Giya merasa ada yang salah, dia merasa tidak sependapat dengan Isander.


"Kamu tahu? Aku sudah memperkirakan ini dari awal. Memang suatu saat nanti monster-monster akan Punuh. Bukan karena kita saja, tetapi karena Agter di semua negara dan wilayah di dunia ini." Isander tersenyum dan bersandar di dinding tembok sambil tersenyum senang. "Lagi pula, kami sudah lama tidak memburu monster tingkat C di Kota Komodo. Aku melihat ada beberapa kelompok monster tingkat C saat itu yang melintas di hutan dekat rumah. Reza ada benarnya."


Apa yang dikatakan Isander benar, Giya dan yang lainnya tahu sendiri bahwa mereka sudah tidak lagi membunuh monster tingkat C dari berbagai jenis. Kebanyakan mereka membunuh monster B lebih menantang.


Sekalipun membunuh monster tingkat C, Isander sudah bilang kepada mereka semua untuk tidak membunuh secara keseluruhan dan sangat banyak. Pasalnya, para Agter lain pasti akan mengandalkan monster ini hidup dan diburu.


Koin Agta ditukarkan dengan bukti pembunuhan dan secara otomatis mereka diharuskan banyak membunuh monster.


Bagi Agter, Koin Agta adalah segalanya. Dengan begitu, mereka bisa hidup sehat dan makan tidak terlalu sulit didapatkan karena ada Koin Agta yang mereka punya.


Aqila dan Goron mengangguk untuk mengonfirmasi ucapan Isander.


Menatap Giya dan yang lainnya, Aqila menjelaskan, "Agter makin lama makin banyak yang direkrut, dan misi pun makin bertambah, para pemburu monster C makin banyak sehingga monster-monster C yang ada di Pulau Jawa mengalami penurunan populasi yang ekstrim."

__ADS_1


"Di Kota Komodo saja banyak sekali Agter yang baru bergabung dengan kota. Mereka memang banyak yang memburu monster C karena hanya monster itu yang bisa mereka buru dengan kekuatannya sekarang," tambah Goron dengan suara yang dalam.


Isander tidak munafik dengan masalah ini. "Memang benar ada faktor dari kami juga. Namun, aku tidak yakin karena kami yang membunuh gerombolan mereka yang cuma di dua hutan dekat kota. Pasti faktor makin banyak Agter tingkat rendah yang baru bangkit menjadi alasan terbesarnya."


Semua anggota tim Isander mengangguk menandakan mereka mengerti dengan ucapan Isander, Goron, dan Aqila.


"Berita bagus kalau monster makin sedikit, dunia ini tidak begitu berbahaya lagi karena salah tingkatan monster sudah jarang bermunculan," kata Nina yang memiliki sudut pandang sendiri.


Giya mengangguk dan setuju. "Benar. Dunia ini satu langkah menjadi dunia yang aman untuk ditempati."


Setelah membahas dan membicarakan monster tingkat C yang lemah, mereka juga membicarakan beberapa hal, salah satunya masalah monster tingkat S apa yang akan mereka hadapi nantinya.


Puas dengan diskusi setelah makan siang, mereka kembali bergerak untuk tiba di wilayah Kebumen sebelum matahari tenggelam.


Sayang sekali, mereka terlambat dan malam sudah datang menyelimuti dunia sebelum mereka sampai di wilayah Kebumen.


Akan tetapi, semuanya yakin bahwa mereka sudah sangat dekat dengan wilayah Kebumen yang ditandakan di peta.


Mereka harus meraba-raba tentang tempat apa monster yang tingkat itu berada dalam peta, membuat mereka harus ekstra lagi dalam mengetahui keberadaan monster tingkat tinggi sebelum pergi.


Pada saat ini, mereka semua sedang berada di rumah kayu yang dibangun di atas pohon besar.


Isander berhasil membuat rumah gabungan antara kayu dan logam dengan durasi yang tidak lama.


Rumah kayu yang dibangun Isander cukup bagus dan nyaman, ruangannya pun banyak dengan luas yang cukup bagi mereka semua meski tidak seluas rumah mereka sebelumnya.


Malam hari di wilayah Jawa Tengah ini punya suhu yang dingin, sehingga mereka harus membuat perapian dalam rumah untuk menghangatkan badan mereka.


"Kebumen, aku pernah ke wilayah itu, dan memang suhu di sana begitu dingin," celetuk Kila yang ternyata punya cerita tentang wilayah Kebumen.


"Kamu pernah ke Kebumen? Mengapa kamu tidak tahu letaknya?" tanya Reza dengan heran.


Sebuah senyuman canggung terbentuk di ujung mulut Kila, dan dia menjawab, "Aku tidak sempat melihat peta setelah mengunjungi dan sebelum pergi ke Kebumen. Seingatku juga, saat itu aku masih anak-anak. Hehe ...."

__ADS_1


__ADS_2