
Suara angin yang berhembus terdengar oleh gendang telinga Aqila, dia mencoba untuk mengalihkan pikirannya ke suatu hal yang lain selama penerbangan ini.
Tidak tahu alasannya pikiran Aqila selalu terfokus ke sesuatu yang besar menyentuh bagain atas pahanya ketika dipeluk oleh Isander saat ini.
Posisi Aqila dipeluk ini memang ambigu karena mereka berpelukan saling berhadapan.
Posisi ini juga membuat Isander menjadi bisa merasakan dua benda kenyal yang besar menjepit tubuhnya.
Jika saja di malam hari ini terang, semua orang bisa melihat pipi Isander yang merah karena malu. Sangat jarang sekali Isander memerah malu seperti ini. Dia adalah pria yang sulit untuk tersipu.
Di kesempatan ini, Isander sering tersipu, terlebih selama datangnya Aqila ke tim.
Lebih dari 10 menit untuk mereka bertahan dan kondisi yang memalukan ini.
Aqila bahkan bisa merasakan sesuatu yang besar dan panjang itu makin berkembang menjadi lebih besar, samar-samar dia juga bisa merasakan perasaan hangat di pahanya.
Beruntung, mereka berdua tidak terlalu lama di udara untuk bisa sampai di lokasi Candi Borobudur.
Setelah mendarat dengan selamat di tanah, mereka berdua tampak canggung dengan wajah yang masih terlihat merah.
"Anu, aku ingin mengatakan sesuatu." Isander menyentuh pundak Aqila yang sedang berdiri memunggunginya.
Namun, saat tangan Isander mendarat di bahu kanan Aqila, sosok Aqila tiba-tiba melompat ke tubuh Isander sambil mencium bibir menggoda Isander dengan ganas.
Tubuh Isander tersentak hebat, dan hampir jatuh dengan gerakan Aqila yang mendadak ini.
Otak Isander menjadi kosong dan dia sekarang hanya bisa merasakan kelembutan yang terus-menerus menyerang bibirnya dengan kuat.
Berikutnya, Isander menyerang Aqila dengan nafsu yang besar, sampai-sampai Isander memeluk Aqila begitu erat dan membawanya terbang sungguhan ke langit.
Keduanya melakukan ciuman dengan latar bukan yang bersinar.
Terlihat sangat romantis dan panas.
Ciuman itu berlangsung selama lebih dari 10 menit sebelum akhirnya Isander menurunkan kembali Aqila dengan wajah yang penuh kerumitan.
"Kamu tahu, Isander? Aku sudah naksir kamu di saat kita berdua masih kuliah. Namun, aku tidak berani mengungkapkan perasaanku karena saat itu kamu mengungkapkan perasaan kamu ke dia."
Kalimat yang keluar dari mulut Aqila membuat jantung Isander hampir berhenti berdetak, menatap wajah Aqila yang disinari rembulan malam dengan pupil mata yang membulat.
Isander dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin, kamu pasti bercanda, bukan?"
"Bercanda?" Alis Aqila terangkat bersamaan, kemudian dia mendekatkan tubuhnya ke Isander seolah ingin mengajak bertarung. "Kamu pikir ucapanku barusan adalah bercanda?"
Pertanyaan Aqila tidak segera Isander jawab dan dia hanya menatap kedua mata Aqila yang makin lama memerah ingin menangis.
"Aku tidak bercanda. Dengar dengan baik, Isander. Aku menyukaimu sejak dahulu, tetapi kamu malah menyukai dia. Aku tidak mengalahkan dia, aku senang kamu memilih dia. Namun, di kesempatan kali ini, aku tak mau menahannya lagi," beber Aqila dengan intonasi suara yang gamang. Terdengar sebentar lagi ingin menangis.
Ungkapan hati Aqila membuat Isander bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Apakah menerima atau menolah cinta dari Aqila.
Pasalnya, Isander sudah memiliki istri dan satu orang anak. Tidak tahu apakah ini akan mengkhianati istrinya kalau dia bersama Aqila.
Dengan pikiran ini yang bercampur aduk di dalam kepalanya.
Isander memandang kedua mata Aqila dengan pupil mata yang dipenuhi kerumitan.
Mulut Isander yang tertutup perlahan terbuka dan dia berkata, "Aku—"
Kyorkkkk
Raungan monster yang terdengar nyaring muncul tepat ketika Isander ingin mengatakan sesuatu.
Aqila dan Isander terkejut dengan suara ini, bersama melirik ke sekitar untuk mencari suara yang datang.
Begitu mereka melihat ke atas, monster dengan ukuran yang besar terbang di atas mereka, mengitari mereka seolah sedang dipantau sebelum dimangsa.
Dengan cekatan, Isander mengambil tubuh Aqila kembali dan langsung membuka dua pasang sayapnya untuk terbang ke langit.
Sayangnya, Isander salah dalam mengambil tindakan pertama karena monster besar yang bisa terbang ini mengikut Isander dan mengejarnya.
Mengetahui ini, Isander segera mengaktifkan seluruh bentuk Baryon Cenagonnya untuk terbang dengan kecepatan yang tinggi.
Isander membuat sebuah cangkang logam untuk membungkus seluruh tubuh Aqila agar tahan dengan tekanan pada kecepatan yang sangat tinggi. Saking cepatnya Isander terbang.
Di belakang tubuhnya membentuk jejak lintasan seperti garis yang berwarna lilac.
Whoosh!
Gelombang kejut tercipta di udara membuat efek yang mengagumkan, Isander terus meningkatkan kecepatannya agar tidak diikuti oleh monster besar yang bisa terbang ini.
Namun, ketika Isander melihat ke belakang, dia masih bisa menangkap dua sosok monster di jarak lebih dari 4 kilometer yang masih terbang dan berusaha untuk mengejarnya.
__ADS_1
Benar, bukan hanya ada 1 monster, melainkan ada 2 monster yang sama besar dan jenisnya tengah mengejar Isander.
Isander berasumsi bahwa kedua monster ini sudah mengunci sosoknya sehingga mereka akan tetap terus mengejar meski sosoknya sudah pergi jauh.
Mengetahui ini, Isander meningkatkan kecepatan terbangnya hingga berkali-kali dari kecepatan suara.
Terlihat Isander pergi ke suatu tempat.
Pada saat yang sama, Goron yang ada di dalam kota sedang meminum kopi bersama yang lainnya tiba-tiba melihat sebuah lintasan berwarna lilac terang di langit yang gelap.
Tak hanya Goron yang melihat, semua Agter yang ada di dalam kota juga melihat dan itu membuat satu kota heboh.
Di bawah tatapan mata Agter yang tak terhitung jumlahnya, sesuatu yang terbang dan menyala itu menukik menuju ke arah Kota Komodo.
Sontak Goron dan yang lainnya menjadi panik.
Dalam sekejap mereka semua memasuki kewaspadaan yang tinggi, bahkan pasukan Agter yang menyerang jarak jauh sudah dikerahkan.
Hanya tinggal menunggu komando dari Goron.
Berdiri di atas tembok kota, Goron menyipitkan matanya mencoba untuk melihat dengan jelas apa sosok dari yang terbang tersebut.
Awalnya sosok tersebut buram lama kelamaan sosok yang terbang itu jelas terlihat.
Pupil mata Goron terbelalak dan dia menghadap ke bawah kota dan berkata dengan lantang, "Kalian semua minggir dan buat lahan kosong untuk pendaratan sang Penyelamat!"
Setelah ucapan Goron berbunyi, semua orang menjadi heboh sembari menciptakan lahak kosong di suatu bagian di dalam kota untuk sesuatu yang terbang tersebut.
Mereka mengetahui siapa itu sang Penyelamat yang dikatakan oleh Goron. Maka dari itu, mereka cepat bergerak karena perintah ini juga disetujui oleh hati mereka.
Tak lama kemudian, sosok yang mengeluarkan cahaya lilac itu mendarat dengan lembut di dalam Kota Komodo, tepatnya ditengah-tengah ribuan Agter yang penasaran.
Sosok itu adalah Isander yang membawa tabung besar yang berisikan Aqila di dalamnya.
Semua Agter yang melihat Isander dari jarak dekat menunjukkan ekspresi yang tak tertahankan.
Mereka bisa melihat betapa kerennya Cenagon Armor Isander dari jarak dekat.
Jikalau ada zirah yang sama meski terbuat dari besi atau bahkan plastik, mereka pasti akan beli karena saking sukanya dengan zirah Isander.
Di dalam penglihatan mereka semua, Isander menyerap semua logam yang membungkus Aqila dari luar.
Mereka semua berseru kagum dengan pemandangan ini.
Isander tidak memiliki banyak waktu sekarang, dia segera melirik Goron di kejauhan yang berlari menghampirinya.
"Goron, aku menitip dia di sini. Juga, kalian semua tolong bersiaga karena di atas sana ada dua Eagoter yang mengejarku," ucap Isander dengan lantang.
Hal ini membuat mereka semua membeku dengan kejutan yang luar biasa.
Sebelum mereka sempat berbicara, Isander kembali melanjutkan, "Tenang saja, ini masalahku. Kalian tetap di sini dan jaga kota dari serangan monster yang lain jika memang ada. Aku khawatir ada serbuan mendadak."
Setelah mengatakan itu, Isander berbicara beberapa patah kata dengan Aqila dan Goron, kemudian dia melompat tinggi di bawah pandangan mereka semua dan melebarkan dua pasang sayapnya dengan kepalan yang kuat.
Whoosh!
Suara ledakan berbunyi di atas kota, disertai gelombang kejut yang sangat indah. Dia memecahkan kecepatan suara dalam sekali mengepakkan sayap dan menggerakkan ke bawah.
Melihat pemandangan Isander yang terbang, mereka semua menyaksikan Isander dengan mata yang dipenuhi bintang-bintang.
Di langit yang dingin dan gelap, sosok Isander muncul kembali dengan tubuh yang bangga.
Dia bisa melihat bahwa kedua Eagoter yang mengejarnya sudah mendekati dirinya.
Berikutnya, Isander menggerakkan dua pasang sayapnya untuk terbang menuju ke ketinggian yang jauh lebih tinggi.
Gerakan Isander dipandang bingung oleh Eagoter, tanpa banyak berpikir, mereka berdua meninggikan ketinggian terbang mereka mengikuti Isander.
Namun, kecepatan Isander dalam terbang ini melampaui mereka bertiga sehingga Isander bisa terbang melewati mereka menunju ke arah timur.
Boom!
Kecepatan Isander ketika menukik ke bawah untuk menurunkan ketinggian lebih dari 5 Mach. Dia terus mempercepat kecepatan dan berhasil meninggalkan keduanya di belakang.
Isander terbang menuju ke rumah untuk memberi tahu tentang dirinya yang dikejar oleh Eagoter.
Semua anggota tim Isander tentu saja menjadi khawatir karena mereka tahu betapa berbahayanya monster S tersebut, terlebih lagi jumlahnya ada 2 ekor.
Melihat semuanya yang cemas dan terlihat tidak baik. Meisya menjadi ingin tahu apa yang terjadi.
Giya yang menggendong Meisya memberi tahu bahwa ayahnya sedang dikejar dan ditargetkan oleh 2 monster yang sangat kuat.
__ADS_1
Dengan demikian, Meisya melontarkan sebuah permintaan kepada Isander untuk tetap hidup dan bisa selamat dari kejaran monster.
[Ding! Terdeteksi Bahwa Meisya Memiliki Keinginan! Memberikan Anda Kartu Peningkatan Kemampuan sebanyak 3 kartu.]
Mendengar pemberitahuan dari Sistem ini, Isander dengan lekas meningkatkan salah satu kemampuan yang ingin ia tingkatkan, yakni Magnetar Body.
[Ding! Apakah Anda yakin ingin meningkat Kemampuan Magnetar Body?]
Isander berkata dalam hatinya, 'Iya, tingkatkan sekarang!'
[5 kartu peningkatan kemampuan telah berhasil dipakai! Peningkatan dimulai!]
Dalam sekejap, ledakan sejumlah energi yang tak lagi asing bagi tubuh Isander terjadi begitu hebat.
Mengisi semua otot, tulang, dan sel yang ada di dalam tubuh Isander dan membuatnya terasa begitu kuat.
[Magnetar Body (S) adalah tubuh kuat yang mengandung energi yang sangat besar, tubuh yang membuat pemiliknya memiliki kekuatan fisik 100.000 kali lipat dari tubuh orang dewasa, regenerasi sedang. Tubuh terus menguat seiring berjalannya waktu. Efek khusus: Magnetic Field dan Star Absorb.]
Berikutnya, di atas langit yang disinari cahaya bulan yang remang-remang.
Sosok Isander yang melayang di udara dengan kedua pasang sayap di tubuhnya tampak begitu indah dan elegan.
Di sekujur tubuh Isander diselimuti cahaya rembulan yang membuat tubuhnya terus-menerus ditempa menjadi kuat.
[Star Absorb: menyerap energi bintang menjadi kekuatan fisik secara permanen.]
Fisik Isander yang awalnya 115 ribu telah berubah dan meningkat menjadi 130 ribu dalam hitungan menit.
Mata Isander terbuka dan itu memancarkan cahaya terang yang menyilaukan.
Di sudut matanya Isander bisa melihat bahwa kedua monster Eagater sedang terbang mendekatinya dengan raungan yang begitu bangga.
Isander kali ini tidak kabur, sudah saatnya untuk mencoba kemampuan barunya di hari ini.
Senyum tipis muncul di bibir Isander.
Kedua tangan Isander direntangkan lebar-lebar, dan sebuah pemandangan yang mengejutkan terjadi di detik selanjutnya.
Sebuah pedang yang terbuat dari logam terbentuk tepat dia atas tubuh Isander, ukuran pedang itu sangat besar hingga lebih dari 200 meter tingginya.
Seolah tidak puas dengan itu, Isander menyematkan kemampuannya yang lain, yaitu energi hitam dari Cenagon yang sangat merusak.
Pedang raksasa yang berwarna perak itu berubah seketika diselimuti dengan warna hitam yang gelap dan kobaran cahaya lilac yang terang.
Kedua monster Eagoter tidak tahu apa yang terjadi di depannya, mereka hanya tahu bahwa benda besar tiba-tiba muncul di kejauhan.
Kyorkkk!
Dengan rungan yang marah, monster tersebut mengeluarkan serangan berupa tornado angin yang berhembus sangat kencang.
Dua tornado tercipta di langit menunjuk ke arah Isander yang terbang bersama pedang raksasanya.
Melihat dua tornado angin yang besar ini, Isander hanya tersenyum lebar.
Berikutnya, senyuman tersebut menghilang digantikan dengan ekspresi yang dingin.
"Matilah, Monster Jahil!"
Bersamaan dengan raungan Isander yang menggelegar, pedang raksasa yang diselimuti energi Cenagon jatuh secara diagonal.
Bilah besar pedang tersebut menghantam dengan keras kedua tornado angin yang diciptakan oleh dua Eagoter.
Ledakan terjadi begitu hebat dengan semburan cahaya yang menerangkan.
Goron dan orang-orang di kota bisa melihat cahaya yang berasal dari tabrakan hebat tersebut.
Namun, setelah ledakan itu terjadi, pedang raksasa yang Isander buat tidak berhenti menebas, dan terus bergerak berniat memotong kedua monster di depannya
Mengetahui ini, Eagoter berniat untuk menghindar akan tetapi mereka tidak bisa melakukannya lantaran jatuhnya pedang ini jauh lebih cepat dari kecepatan terbang mereka.
Berikutnya, sebuah cahaya berbentuk bulat tercipta di langit yang gelap, menerangi daerah Kota Komodo dan sekitarnya, seolah matahari tiba-tiba muncul di malam hari.
Goron, Aqila, Giya, Meisya, dan semua orang melihat ledakan ini dengan ekspresi yang luar biasa.
Ledakan muncul di langit selama kurang lebih 3 menit hingga akhirnya lenyap begitu saja menghilangkan dua Eagoter tanpa jasad.
Setelah pemandangan ledakan tersebut menghilang, langit kembali menjadi gelap dengan beberapa sosok yang di udara yang juga lenyap.
"Terima kasih sudah menjaga dia, Goron."
Pada saat Goron mencari sosok Isander di atas langit di kejauhan, suara Isander muncul di belakangnya membuat Goron terpental ke depan.
__ADS_1