
"Semua barang berharga sudah dibawa oleh kalian berdua? Tidak ada yang tertinggal, kan?" Isander menatap mereka berdua dengan alis yang sedikit terangkat.
Mereka berdua mengangguk, dan memperlihatkan tas mereka yang penuh oleh banyak barang di dalamnya. Berbagai jenis barang dimasukkan ke dalam tas masing-masing dari mereka dan itu terlihat penuh hingga tas membengkak.
"Kita pergi dari sini sekarang."
Setelah mengatakan itu, Isander memimpin mereka berdua keluar dari pemukiman luar tembok kota dan melewati banyak bangunan yang rusak dan bobrok.
Tetangga Helen dan Reren hanya bisa menatap keduanya pergi, di dalam hati mereka ada rasa iri yang besar, mereka juga ingin pergi dari sini dan diurus oleh seorang Agter. Namun, mereka tidak berani berkomentar dan melarang keduanya pergi bersama Isander.
Banyak pasang mata yang menatap sosok mereka, Reren dan Helen sampai tidak berani mengangkat kepalanya dan balas membalik pandangan mereka yang mengarah ke arahnya.
Sementara itu, Isander yang menggendong Meisya asyik mengunyah makanan kecil dengan rasa sedikit manis tampak tidak menggubris mereka semua yang memandanginya dan terus berjalan seolah tidak ada orang di jalan ini.
Tepat ketika Isander keluar dari jalan utama pemukiman, seorang wanita melewati tubuhnya dan membawa aura yang cukup kuat.
Isander dalam sekejap melirik ke arah seorang wanita yang melewatinya tadi, dan ternyata wanita ini memakai masker dan pakaian tertutup, dia terus berjalan tanpa tahu Isander melirik ke tubuhnya.
Memicingkan matanya sedikit, Isander menatap sosok wanita tersebut dengan pandangan yang dalam selama beberapa saat, kemudian berbalik badan dan terus berjalan ke arah depan.
Helen dan Reren menatap Isander dengan bingung. Mereka bertanya-tanya di dalam hati, mengapa pria di depannya ini berhenti dan melirik seorang wanita yang sangat tertutup dengan begitu intens? Sangat aneh dan misterius.
Setelah mereka berjalan cukup jauh dari area pemukiman, dengan desakan Helen yang terus-menerus memaksanya, Reren pun berkata kepada Isander, "Anu, apa aku boleh bertanya?"
"Ya? Tanya saja." Isander menoleh ke Reren yang berjalan di sebelahnya beriringan.
"Itu, ada apa dengan wanita yang lewat saat kita berada di depan jalan utama pemukiman?"
Mulut Isander menunjukkan lengkungan, dia tersenyum dan menjawab dengan santai, "Wanita itu seorang Agter, tampak kuat."
Wanita yang melewatinya barusan adalah seorang Agter bisa jelas dirasakan oleh Isander dari aura wanita tersebut. Itu menarik perhatiannya sekilas dan itu saja.
"Seorang Agter? Aku baru melihat seorang Agter memakai masker dan pakaian yang sangat tertutup seperti itu," kata Reren dengan wajah yang sedikit terkejut.
Helen mengangguk dan menambahkan, "Benar, biasanya para Agter mengenakan pakaian yang rapi dan menonjol di kumpulan banyak orang."
Mereka berdua biasanya melihat para Agter mengenakan pakaian yang tidak tertutup, mereka kerap memakai pakaian yang bagus dan sangat bersih, serta suka sengaja memperlihatkan sesuatu yang bagus dari tubuh mereka, seperti menampilkan buah dan yang besar untuk Agter wanita dan otot perut bagi Agter pria.
Agter wanita yang melewati mereka tadi berbanding terbalik dengan rata-rata Agter yang ada di kota ini. Sangat mengherankan.
"Seperti yang kalian tahu, Agter memang suka memperlihatkan keunggulan tubuhnya agar tidak diremehkan orang lain. Maka dari itu, aku agak kaget tahu ada Agter yang memakai pakaian yang begitu sembunyi dan tertutup," beber Isander pada mereka berdua.
Ketiganya sama-sama menganggap Agter wanita yang sempat berpapasan dengan mereka tampak mencurigakan dan aneh.
Tidak biasanya Agter melakukan hal tersebut.
"Mengapa kita berdiri di sini?" Helen bertanya dengan rasa ingin tahu.
Ketiganya bersama Meisya yang tidur digendong oleh Isander, tengah berdiri di sebuah lahan kosong tidak jauh dari Kota Garuda, bisa dilihat dari tempat mereka berdiri tembok besar dan tinggi Kota Garuda.
"Menunggu orang," jawab Isander dengan singkat. Dia fokus menimang Meisya yang tertidur pulas di tangannya.
Helen menatap Reren seolah meminta penjelasan dari jawaban Isander.
Namun, Reren pun tidak tahu maksud dari jawaban Isander. Entah siapa yang mereka tunggu. Terpenting mereka berdua di sini mengikuti Isander meski tidak tahu mengapa mereka diam di sini begitu lama.
Langit sudah makin meredup dengan warna oranye. Tanda bahwa hari sudah sore, sebentar lagi malam akan tiba.
Setelah hampir setengah jam mereka berdiri, titik hitam di kejauhan makin besar seiring berjalannya detik, titik hitam berubah menjadi dua sosok manusia yang berjalan di kejauhan dan perlahan menghampiri mereka semua.
Melihat ini, Reren dan Helen dengan sigap memberi tahu Isander bahwa ada dua orang yang berjalan ke arah mereka.
Keduanya tampak takut, menganggap kedua orang yang datang adalah orang yang jahat dan ingin merampas semua barang mereka.
Sayang sekali, tebakan mereka salah, kedua orang yang berjalan ke mereka adalah Reza dan Kila yang selesai menukarkan koin Agta dari bukti pembunuhan monster.
__ADS_1
Saat keduanya sampai di depan Isander, mereka langsung salah fokus dan memandang dua gadis remaja dengan ekspresi yang terkejut sedikit bingung.
"Eh? Siapa mereka berdua?" Reza bertanya sambil menunjuk pada kedua gadis remaja yang berdiri di dekat Isander.
Isander menjawab dengan senyuman di wajahnya, "Perkenalkan, mereka berdua adalah gadis remaja yang pernah bertransaksi barang denganku, namanya Helen dan Reren."
Dengan demikian, Helen dan Reren berkenalan dengan Reza dan Kila, tampak begitu malu-malu karena ini pertama kali mereka bertemu.
Setelah berkenalan, sosok Giya dan Nina datang kepada mereka, dan mereka berdua bertanya dengan kalimat yang hampir semua.
Kegiatan perkenalan kembali diadakan untuk kedua kalinya.
"Jika kalian butuh bantuan, jangan ragu untuk meminta pada kami, kami akan berusaha membantu kalian," ujar Giya kepada Helen dan Reren.
Dalam sekejap, para wanita di kelompok ini menganggap kedua gadis remaja yang baru saja mereka kenal sebagai adik perempuannya.
Helen dan Reren tidak mengerti apa yang terjadi, tubuh mereka membeku, membiarkan wanita-wanita yang dewasa dan cantik ini memeluk dan menyentuh pipinya.
Pemandangan ini disaksikan oleh Isander dan Reza, mereka tidak menggangu waktu para wanita, membebaskan mereka ingin melakukan apa untuk sementara waktu ini.
Awalnya Helen dan Reren tidak bereaksi terhadap antusias para wanita dewasa ini, dan beberapa menit kemudian, mereka berdua menerima wanita-wanita ini sebagai kakaknya.
Sebuah senyuman terbentuk selama mereka mengobrol dan membicarakan sesuatu.
Sementara itu, Isander dan Reza memandang ke sekeliling untuk memeriksa keamanan mereka yang berdiam lama di sini.
Langit sudah makin gelap, takkan lama malam tiba dan menggantikan langit oranye manjadi langit yang redup nan gelap.
"Ayo kita pergi!" perintah Isander kepada mereka semua dan memimpin jalan sesuai arah jalur ke rumah kayu mereka.
Melihat Isander sudah berjalan, mereka mengikuti Isander dan berjalan di belakangnya.
Selama di perjalanan menuju rumah, Helen dan Reren mendapatkan banyak sekali kejutan dari mereka semua.
Mereka tidak tahu bahwa orang-orang yang datang kepada Isander semuanya adalah seorang Agter yang kuat.
Mata mereka mengandung banyak bintang, memuja mereka bagai seorang penggemar.
Selain itu, Helen dan Reren hampir melompat karena saking terkejutnya saat tahu masing-masing dari mereka mempunya benda yang bernama jam tangan pintar.
Pertama kalinya mereka bisa melihat benda jam tangan keren setelah beberapa tahun tak melihat.
Seingat mereka, jam tangan sebelum hari kehancuran terjadi tidak secanggih yang dimiliki orang-orang ini. Sangat berbeda.
Hal itu tidak penting, mereka tetap senang bisa melihat jam tangan pintar yang canggih. Dengan adanya ini, mereka berdua menganggap manusia masih bisa bangkit dari keterpurukan yang sangat suram.
"Ini rumah kita?" Reren yang kaget setelah melihat rumah kayu yang Isander buat dan bertanya pada Giya.
Giya menanggapi dengan anggukan kepala, dan lainnya pun merespons dengan gerakan yang sama.
"Benar, ini rumah kita." Isander mengarahkan senyumannya pada Helen dan Reren. "Ayo masuk ke dalam! Tidak baik di luar terlalu lama."
Isander menggerakkan tangannya ke depan, mengisyaratkan pada mereka semua untuk segera masuk ke dalam rumah.
Lantas mereka mengikuti arahan Isander dan masuk ke rumah dengan tertib tanpa ada yang mendahului satu sama lain.
Di dalam rumah, Helen dan Reren kembali terkejut dengan apa yang dia lihat sekarang. Rumah ini jauh lebih baik dari rumah kecil mereka yang ada di pemukiman luar tembok kota, bahkan rumah mereka di sana tak pantas disebut sebagai rumah.
"Kalian taruh tas di ruangan itu, mulai hari ini kalian berdua boleh tidur di sana, kamar itu untuk kalian," kata Isander menatap wajah kedua gadis remaja di depannya.
"Sungguh?! Kamu tidak bercanda, bukan?" Helen tak percaya dengan apa yang dikatakan Isander dan dia balik bertanya.
Isander mengangguk kejam dan masih tersenyum. "Aku tidak berbohong untuk hal yang serius seperti ini. Pergilah ke kamar baru kalian, Giya akan menemani dan membantu kamu berdua membenahi barang-barang."
Giya mengangguk membenarkan ucapan Isander, dia siap sedia membantu dua gadis remaja yang baik ini.
__ADS_1
Begitu Isander mengatakan itu, mereka berdua bersama Giya berjalan ke dalam ruangan yang kosong. Awalnya ruangan ini tempat menyimpan barang, tetapi karena ada dua anggota tambahan ini, ruangan diambil-alih menjadi kamar.
Bersama Giya mereka membersihkan kamar dari segala kotoran dan debu yang menempel di kayu.
Sesekali Kila dan Nina datang untuk membantu mereka bertiga, sedangkan Reza tidak membantu karena dia pergi keluar rumah untuk melihat suasana malam di luar.
"Ternyata di sini terlalu seram!"
Menutup pintu, Reza masuk ke dalam dengan hati yang ketakutan. Dia masih takut dengan hantu.
Omong-omong, pada saat mereka berada di perjalanan pulang ke rumah, waktu sudah memasuki malam hari dan di luar sudah gelap gulita.
Meskipun gelap, mereka masih bisa menyalakan lampu minyak untuk menerangi jalan, bahkan jam tangan mereka bisa digunakan sebagai penerangan, tetapi itu terlalu terang dan kemungkinan besar monster menemukan cahaya mereka.
Akan tetapi, sepanjang mereka berjalan dan membawa lampu minyak, monster tidak ada yang mendekati mereka atau menyerang mereka seolah monster-monster di jalur mereka berjalan telah lenyap dan punah.
Setelah dideteksi dan diperiksa dengan kemampuan Isander pun, dia tidak menemukan ada monster di jarak 2 kilometer dari tempat mereka berjalan sebagai titiknya.
Hal ini membuat mereka semua bertanya-tanya, apakah monster-monster di hutan dekat rumah mereka sampai ke Kota Garuda telah musnah semuanya atau tidak.
Ini masih dipertanyakan oleh Isander dan anggota timnya.
Asumsi Isander, di sekitar rumah mereka masih ada monster yang berkeliaran, memang jumlahnya tidak sebanyak sebelum mereka melakukan serbuan penyerangan terhadap banyak kelompok monster.
Isander yakin, masih ada monster-monster yang hidup di hutan sekeliling rumah mereka, mungkin saja mereka bersembunyi karena takut dengan dia dan anggota timnya yang membantai banyak monster.
Sehabis para wanita membantu Helen dan Reren bersih-bersih dan membenahi barang, di ruang tempat mereka berkumpul sudah makanan yang dibungkus, disediakan oleh Isander untuk mereka semua makan.
Berikutnya, makan malam dilakukan bersama dengan 2 anggota tambahan.
Untuk kedua kalinya Helen dan Reren makan bersama dengan orang lain, terasa sangat hangat dan membahagiakan. Mengingatkan mereka kembali pada keluarganya yang telah tiada di dunia.
"Sudah, jangan menangis, Helen, Reren, kami tidak akan meninggalkan kalian, kiya ini sudah menjadi anggota keluarga," ucap Giya yang melihat mereka berdua meneteskan air mata saat mengunyah makanan.
Alih-alih berhenti, kedua gadis ini makin keras menangisnya dan menular ke Meisya.
Meisya ikut menangis tanpa sebab ketika melihat keduanya menangis.
Isander menepuk dahinya dan dia menunda makannya untuk menenangkan Meisya.
Tak lama mereka menangis, Helen dan Reren dengan ucapan yang sangat tulus berterima kasih kepada Isander dan lainnya karena sudah mau menerima mereka berdua sebagai keluarga sekaligus tim.
Di malam hari ini, Isander memutuskan untuk merekrut kedua gadis remaja sebagai anggota kelompok resminya.
Tanggung sekali jika keduanya anggota tim, tetapi tidak memiliki kontribusi karena tak punya keahlian.
Isander berharap setelah mereka berdua dimasukkan ke dalam kelompok, sistem memberinya sesuatu yang berharga dan berguna untuk Helen dan Reren juga.
[Apakah Anda menerima Reren sebagai anggota kelompok?]
[Apakah Anda menerima Helen sebagai anggota kelompok?]
"Terima mereka berdua sebagai anggota kelompok," jawab Isander dengan tegas tanpa sedikit pun rasa ragu.
[Ding! Berhasil menerima Reren! Selamat Anda mendapatkan 1 kartu kemampuan satu level dan memberikan anggota baru 1 kartu kebangkitan Agta!]
[Ding! Berhasil menerima Helen! Selamat Anda mendapatkan 1 kartu kemampuan satu level dan memberikan anggota baru 1 kartu kebangkitan elemen Agta!]
Sudut mulut Isander naik, dia tersenyum mendengar pemberitahuan yang muncul di telinganya.
Tak tahu sistem mendengar harapannya atau apa, dia benar-benar mendapatkan barang yang berguna di momen ini.
Di depan mereka semua, Isander memunculkan sebuah dua buah kartu putih yang bercahaya di tangannya. Kedua kartu yang bercahaya itu diserahkan kepada Helen dan Reren.
Helen dan Reren menatapnya dengan sorot mata yang tidak ia mengerti.
__ADS_1
"Tempelkan kartu itu di bagian tubuh kalian, terserah di mana saja, dan kartu itu akan membangkitkan kekuatan Agta di dalam dirimu," ujar Isander dengan suara yang dalam.
Giya dan lainnya terkejut setelah mendengar perkataan Isander, dan menatap kartu yang dipegang dua gadis remaja dengan pupil yang membesar.