
Setelah debu yang beterbangan menghilang, tampak tubuh monster ini meronta-ronta dan berdiri sedang kesakitan.
Tubuh besar monster ini bergerak tak jelas sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Terlihat dengan mata telanjang, tanduk kanan monster patah di bagian tengah. Terasa sekali bahwa itu menyakitkan.
Bagian tanduk yang lain masih tertancap di tanah, tetapi anehnya lubang bekas tanduk tertancap itu menghilang sehingga monster tersebut tidak menemukan di mana letak potongan tanduk berada.
Monster ini mengabaikan rasa sakitnya lantaran amarah sudah mendominasi tubuhnya. Mata monster yang berwarna merah makin menyala, terdapat sebuah amarah yang besar yang terkandung di dalam bola mata tersebut
Monster banteng mencari posisi di mana potongan tanduknya tertanam, sekarang sudah menghilang seakan-akan tanah menutup dan tak memperbolehkan dia mengambil tanduk tersebut.
“Hei, Banteng Merah Besar!“
Sebuah suara pria yang menyerang hingga membuat tanduk monster patah terdengar di kedua telinga monster.
Amarah yang tinggi makin bertambah hingga ingin membeludak.
Dengan cepat monster tersebut mencari di mana sosok pria itu berada.
Tak butuh lama, monster itu menemukan sosok pria tersebut atas dahan pohon di depannya.
Pria sudah bisa ditebak siapa, itu adalah Isander.
Dia berdiri di atas dahan pohon yang tinggi sambil memandangi sosok monster dengan tilikan mata yang santai.
“Di mana rasa terima kasih kamu? Seharusnya, kamu berterima kasih kepadaku karena aku sudah membantumu melepaskan tanduk milikmu dari tanah.“ Raut wajah Isander terlihat sangat mengejek dengan senyuman yang penuh perasaan yang meledek.
Sebenarnya, Isander sudah menolong wanita dan pria yang melawan monster banteng tersebut dari awal dirinya melihat mereka berdua dan monster banteng.
Menggunakan kemampuan Foot of Earth, dia mengontrol tanah di sekitar tanduk yang masuk ke dalam tanah agar lebih menjepit. Akibatnya, monster banteng tersebut tak bisa mengeluarkan tanduknya.
Tanah yang Isander kendalikan makin menjepit dan kuat menahan tanduk besar yang ada di dalam tanah.
Pada akhirnya, Isander melepaskan kendali kekuatan tanahnya saat dia ingin menyerang. Dilanjutkan lagi saat dia menyelesaikan serangannya. Tanah yang bolong itu menutup kembali dan menghilang jejak tanah yang berlubang tempat potongan atau patahan tanduk tertimbun di dalam tanah.
Semua ini ada sebabnya, itu adalah karena perbuatan Isander.
MOOO!
Monster banteng merah besar ini sudah sangat marah dengan Isander.
__ADS_1
Dengan auman yang nyaring, monster ini bergerak ke depan dan berlari berniat menyerang Isander.
Sayangnya, gerakan monster terlalu lambat di mata isander, tak ada bedanya dengan siput yang bergerak.
Tanduk kiri monster banteng dengan mudah menghancurkan pohon tempat Isander bertengger.
Melihat tidak ada yang jatuh, monster ini tahu bahwa Isander sudah berpindah ke pohon yang lain sehingga dia dengan cepat menabrak pohon berikutnya.
Di sisi lain, Giya dan Nina bersama Meisya telah sampai di tempat pria dan wanita yang sempat mereka lihat di awal.
Pria ini terkejut dengan kedatangan keduanya, dan dia menatap dengan waspada kepada keduanya.
“Tenang, kami berdua dari Garuda City. Kalian akan baik-baik saja.“ Nina dengan cepat menunjukkan sebuah lencana berwarna silver bergambar garuda.
Kewaspadaan pria ini langsung menghilang dan dia menatap keduanya dengan ekspresi yang rumit.
“Kami tak sengaja mendengar suara keras di sini, kebetulan kami baru sampai di sungai di Utara. Segera kami berlari ke arah sini dan melihat kamu diserang oleh Bullager,” terang Giya dengan wajah yang ramah kepada pria di depannya.
Pria ini memakai sebuah jaket lusuh berwarna abu-abu, pedang du tangannya sudah menghilang, dia hanya menggendong tas di punggungnya. Di belakangnya tampak ada seorang wanita yang bersandar pada batang pohon.
Mendengar penjelasan Giya, ekspresi rumit pria ini berubah menjadi sedih, dia menatap Giya serta Nina dengan tatapan yang ingin menangis.
Permintaan Nina direspons dengan anggukan yang dalam. “Boleh, tetapi bolehkah aku bertanya? Bagaimana dengan monster itu?“
Pria ini menyeka air matanya yang sempat keluar, kemudian bertanya kepada Nina dan Giya.
Giya tersenyum dan menunjuk ke Meisya yang sedari tadi menatap pria ini dengan ekspresi yang bingung. “Ayah dari anak ini sedang mengurusinya. Percayalah, semua terkendali. Kamu tak perlu khawatir dengan monster itu. Kamu harus mengkhawatirkan wanita itu.“
Mata pria ini sempat membulat dan menatap sejenak Meisya. Dia menganggukkan kepalanya menunjukkan dirinya mengerti.
Berikutnya, mereka semua pergi mendekati wanita yang tak sadarkan diri.
Darah merah tak lagi keluar dari mulutnya, pendarahan dalam telah berhenti.
“Nina, tolong bersihkan mulut wanita ini,” pinta Giya kepada Nina. Tangan kiri Giya menutup mata Meisya. Warna darah yang mentereng sangat tidak baik dilihat oleh anak kecil.
Maka dari itu, Giya meminta Nina untuk menyeka darah yang bersemayam di leher dan bibir wanita ini.
“Biar aku saja.“ Pria ini dengan cepat mengambil kain dari tas dan mulai membersihkan sisa darah yang ada pada tubuh wanita yang ada di depannya. Sebagai pria, dia harus bertanggung jawab.
Darah ini tak bisa dibersihkan sepenuhnya karena menempel di kaos cokelat dan jaket yang dipakai wanita ini. Dengan begitu, Nina dan pria tersebut membiarkannya saja. Tak bisa mereka bersihkan dan hilangkan.
__ADS_1
“Apakah ini wanitamu?“ Nina menoleh dan menatap pria tersebut.
Respons pria ini membuat Giya dan Nina terkejut, sebab pria ini menggelengkan kepalanya.
“Bukan, dia hanya temanku.“
“Oh, begitu. Kamu tidak masalah dengan menggendongnya?“ Giya melirik wajah pria ini.
“Tidak masalah. Ada apa?“ Pria ini menatap Giya dan meminta penjelasan.
“Gendong dia dengan baik, kita harus pergi dari sini,” kata Giya dengan wajah yang serius.
Boom!
Setelah Giya mengatakan kalimat tersebut, sebuah suara dentuman dan hantaman tanah terdengar di antara mereka.
“Kamu dengar itu? Di sini tidak aman karena masih terlalu dekat, kita harus pergi menjauh sekarang.“
“Emm, baiklah.“ Pria ini dengan cepat paham kondisinya dan tak berpikir lama.
Dengan lekas, pria itu menggendong wanita tersebut dengan gaya bridal dan langkah kaki yang tenang.
Nina memeringatkan pria tersebut untuk tenang dalam membawa tubuh wanita ini supaya luka dalam tubuh wanita tersebut tidak makin parah.
Pada saat yang bersamaan ketika mereka menjauh dari arena pertempuran.
Isander yang sedari tadi menghindari segala serangan dari monster banteng ini langsung memiliki sikap yang berbeda.
Panca indranya telah meningkatkan, Isander bisa melihat di belasan meter jauhnya, mereka semua sudah mulai bergerak menjauh.
Sosok Isander muncul di tanah tepat di depan monster banteng merah raksasa.
Kemunculan Isander ini membuat melepaskan serangan berikutnya yang kesekian kali.
Tanduk kiri monster banteng yang besar diarahkan tepat pada tubuh Isander. Ujung tanduk itu dengan cepat muncul di depan wajah Isander.
Tepat ketika ujung tanduk besar monster hendak mengenai kepala Isander.
Sebuah senjata hitam muncul dan menghalangi ujung tanduk monster banteng untuk maju.
“Sangat disayangkan, kesempatan kamu habis, kamu terlalu lambat untuk menyentuhku.“
__ADS_1