SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 51: Warga yang Aneh


__ADS_3

“Ada apa, Isander?“ Giya yang sebentar lagi menyelesaikan makannya bertanya kepada Isander. Mulutnya masih bergerak untuk mengunyah makanan.


Memalingkan kepala ke arah Isander, Nina pun penasaran dengan maksud dari kalimat Isander.


Isander berdiri tanpa berbicara sedikit pun, berjalan ke dalam kamar, dan melakukan sesuatu di dalam sana.


Giya dan Nina bingung dengan apa yang dilakukan oleh Isander. Mereka berdua saling memandang satu sama lain dengan wajah yang menampilkan ekspresi penuh tanda tanya.


Keduanya belum tahu apa yang diketahui oleh Isander.


Baru saja mereka berdua hendak memeriksa apa yang dilakukan Isander di dalam kamar, tiba-tiba Isander keluar dari kamar sambil membawa Meisya yang tertidur dan menggendong tasnya serta barang bawaan.


Tanpa memberi kesempatan untuk kedua wanita berbicara, Isander menatap keduanya dengan serius dan berkata, “Sehabis makan kalian bawa tas dan barang-barang kalian, aku sarankan kalian melakukan semua itu dalam satu menit. Jangan bertanya lagi, ini genting.“


“Umm … oke.“


Mereka berdua dengan lekas menelan semua makanannya, kemudian menggendong tas-tas yang meraka bawa.


Berdiri di samping Isander, keduanya menatap Isander yang memandang pintu rumah dengan wajah yang sangat serius.


“Isander, apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa kamu aneh seperti ini? Beri tahu kami berdua alasannya,” tanya Giya yang sudah sangat ingin tahu alasan di balik tingkah Isander yang tidak biasa.


“Ada banyak orang yang berjalan menuju ke rumah ini. Aku rasa itu adalah para warga. Mereka sangat aneh. Jadi, tetap waspada, kamu berdua harus siap dengan apa pun yang datang kali ini,” kata Isander tanpa melihat keduanya. Dia benar-benar tidak bisa melepaskan perhatiannya dari arah kumpulan warga berbahaya ini datang.


Melalui kekuatannya, Isander bisa mengetahui mereka semua lantaran kemampuan tanahnya bisa mendeteksi sesuatu yang ada di luar dan kebetulan menginjak tanah dalam jangkauan belasan meter.


Sebenarnya, mereka sudah hampir sampai, tetapi tidak tahu mengapa mereka melambatkan akselerasi mereka bergerak.


Mendengar jawaban Isander, keduanya mengubah ekspresinya menjadi ngeri. Kekuatan Agta tanpa sadar diaktifkan, mereka berdua memegang pisau di tangannya.


“Mereka sampai.“


Tepat ketika suara Isander keluar, pintu rumah dipukul dengan keras sehingga suara bising terdengar.


Bam! Bam! Bam!


Ketukan terus berbunyi dan suara itu terdengar makin banyak, seolah bukan satu orang yang mengetuk pintu.


Pintu rumah bergetar dan rumah pun ikut bergetar, kekuatan ketukan mereka makin intens secara perlahan.


Pada akhirnya, pintu tidak mampu lagi untuk menahan dan kunci pintu yang ditahan oleh sebatang kayu tersebut roboh dan hancur.


Bum!


Pintu terjatuh ke lantai rumah dengan kondisi yang rusak parah.

__ADS_1


Beberapa warga dengan tampilan yang aneh masuk ke dalam dan berjalan dengan cara yang aneh.


Grrr!


Melihat pemandangan aneh ini, Nina dan Giya mundur perlahan untuk menghindari warga yang satu per satu masuk ke dalam rumah.


Namun, berbeda dengan Isander, dia tidak mundur melainkan maju tanpa ada rasa takut.


Tas yang berisi baju Meisya itu diletakkan di atas meja dengan santai, kemudian dia melangkah maju sambil merentangkan tangan kanannya.


Sebuah senjata tombak berwarna hitam dengan aura ungu gelap muncul di tangannya.


Swooshh!


Sebuah tebasan cepat dilakukan oleh Isander, membunuh warga yang terlihat aneh dalam sekejap mata.


Sejumlah darah terciprat ke segala arah, membasahi tembok dan lantai rumah. Ada darah yang hendak mengenai Isander dan itu dilenyapkan oleh sesuatu yang ada di sekitar Isander.


Langkah demi langkah Isander berjalan, setiap langkahnya akan ada potongan tubuh manusia yang terjatuh ke lantai dengan darah dan daging yang berceceran.


Kedua wanita tersebut tidak bergerak, mereka menyaksikan Isander yang perlahan maju hendak meninggalkan rumah.


“Ikut aku. Jangan diam di sana.“


Sebuah suara yang berasal dari Isander terdengar oleh telinga mereka berdua, secara langsung membuat mereka tersadar dan mengikuti Isander dari belakang.


Jeritan suara yang melengking membuat suasana malam yang sunyi menjadi pecah dan menjadi sangat berisik.


Sebuah teriakan kesakitan yang mereka buat tidak seperti suara manusia yang menjerit, sangat berbeda.


Hal ini membuat Isander menjadi yakin dengan asumsinya yang telah dibuat.


Mereka bukan lagi seorang manusia normal.


Wajah kedua wanita ini telah menjadi pucat, mereka berdua sangat bingung harus berbuat apa.


Warga-warga yang dipotong oleh Isander ini adalah orang yang pernah berkomunikasi dan berinteraksi dengan mereka berdua. Mereka sangat baik kepada Nina dan Giya, sangat hormat dan diperlakukan begitu hangat.


Di malam ini, mereka berdua melihat orang-orang yang memberikan perilaku yang baik terhadapnya sedang dicincang oleh Isander.


Mereka berdua tidak tahu harus menghentikan Isander atau membiarkan warga pemukiman mendekati mereka.


Isander yang mengayunkan tombak dengan cepat ini mengetahui tentang kebingungan kedua wanita yang berjalan di belakangnya.


Mempercepat ayunan tombak di tangannya, Isander berkata dengan suara yang dalam, “Mereka bukan lagi manusia. Apa yang kalian lihat sekarang adalah monster. Fokus dengan dirimu sendiri, dan jangan sampai lengah.“

__ADS_1


Seketika mereka tersadar, apa yang diucapkan oleh Isander masuk ke dalam hati dan kepala mereka berdua.


Kebingungan yang mereka rasakan lenyap, dan pandangan mata keduanya terhadap orang-orang pemukiman ini berubah.


Mereka tidak perlu lagi ragu untuk membunuh. Para orang pemukiman di sini telah pergi meninggalkan keduanya.


Apa yang ada di depan mata mereka adalah sekumpulan monster tanpa ada hati dan pikiran.


Whusshh!


Dua pisau lempar menusuk monster yang ada di depan Isander. Giya membantu Isander dalam menyerang dan keluar dari rumah.


Dengan adanya bantuan, mereka berdua dengan cepat berhasil keluar dari rumah yang sempit dan sangat berisiko.


Pada saat mereka bertiga di luar, sebuah pemandangan yang mengerikan ditunjukkan kepada mereka, kumpulan puluhan manusia yang berjalan aneh muncul di depan mereka, terlihat hendak menyerang ketiganya.


Isander dengan kejam mengeluarkan sebuah gelombang cahaya ungu gelap dari bilah tombaknya.


Energi gelap yang dibalut listrik ungu tersebut memotong lebih dari belasan warga sekaligus.


Apa pun yang menghalangi jalur terbang gelombang ini akan terpotong, termasuk manusia-manusia aneh yang berdiri di depan Isander, bahkan pohon di belasan meter jauhnya terpotong sebelum akhirnya meledak di jarak 20 meter.


Hanya dengan satu serangan, Isander berhasil menghapus seperempat lebih kumpulan manusia aneh ini.


Giya dan Nina tidak ingin diam, keduanya melepaskan tas di tubuhnya dan sosoknya menghilang di tempat.


Monster manusia yang ada di dekatnya dalam hitung detik mati dengan metode pembunuhan yang singkat.


Giya hanya memotong leher dan menusuk jantung monster tersebut tanpa ada gerakan lain.


Sementara itu, Nina menebas dada monster hingga terbelah menjadi dua bagian, wanita ini juga mengincar jantung monster ini. Itulah sebabnya setiap potongan yang Nina luncurkan terlihat miring atau diagonal.


Graahhh!


Sebuah suara keras terdengar oleh ketiganya saat monster manusia aneh yang terakhir dibunuh.


Isander yang adalah pelaku pembunuhan terakhir menatap ke arah sumber suara dengan mengerutkan keningnya.


“Makhluk apa itu?“


Di kejauhan, mereka bertiga melihat sosok makhluk yang mirip manusia sedang berteriak ke atas langit.


Sosok ini mirip sekali dengan orang yang dikenal oleh mereka bertiga. Benar, itu adalah ….


“Pak Tole?!“ Nina berseru dengan kaget, matanya terbelalak saat melihat wajah dari makhluk tersebut.

__ADS_1


Sinar rembulan membuat sosok tersebut terlihat meski ada di malam hari.


“Gghh, tak kusangka seorang Agter bisa sekuat ini.“


__ADS_2