SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 71: Peningkatan Kekuatan Para Anggota


__ADS_3

"Yuhu!"


Reza bersenang-senang memotong bagian tubuh Salmagtress dengan belatinya yang diselimuti oleh arus angin yang cepat.


Meskipun tampak kecil, belatinya sangat tajam dan memberikan luka sayatan yang dalam, dibentuk oleh elemen angin miliknya. Dengan demikian, Reza mampu memotong tubuh Salmagtress di beberapa kali ayunan menggunakan kedua belatinya.


Terlebih-lebih, Reza juga memiliki gerakan yang cepat, yang cukup kuat untuk memberikan banyak luka potongan dalam satu detiknya.


Orang kedua yang kecepatannya paling tinggi adalah Reza. Orang pertama tentunya adalah Isander.


Dia tanpa ada unsur angin pun memiliki kecepatan gerak tubuh yang begitu cepat dan lincah.


Mengingat kemampuan Magnetar Body telah naik level ke tingkat B yang di mana kemampuan tersebut memberinya fisik 300 kali lipat dari manusia normal, mencakup kecepatan gerak, refleks, berlari, kekuatan mengangkat, kekuatan pukulan dan lainnya dari manusia biasa.


Bisa dibayangkan betapa kuatnya Isander sekarang.


Akan tetapi, Isander belum merasa kuat untuk melawan monster-monster di sini.


Monster level S ke atas pun belum pernah dia lawan sebelumnya. Isander belum bisa mengakui dirinya kuat.


Pertama kali dirinya bertarung menghadap monster level A, yaitu Spidgarets di Rain Settlement, Isander kelihatan kewalahan.


Itu baru monster di tingkat level A, bagaimana jika melawan bersama monster level S, dia bisa saja kalah dan mati bertarung secara langsung dengan mereka.


Informasi yang dia dapatkan dari Giya dan Nina persoalan monster A masih dia ingat, mereka berdua menerangkan setiap monster level A memiliki kemampuan unik masing-masing.


Tidak usah ambil contoh jauh, contohnya Spidgarets yang pernah Isander kalahkan, monster tersebut memiliki kemampuan unik berupa muntahan asam korosif dan prajurit laba-laba kecil.


Jikalau Isander tidak mendapatkan kemampuan baru dan menerima bantuan sistem, dia sudah lama mati dan tidak kembali bertemu putrinya.


Bertempur memakai kekuatan fisiknya juga belum pasti menang.


Energi gelap yang dimiliki Dark Spear hanya dapat menggoreskan kulit kerasnya yang lebih tangguh dari baja.


Melawan dengan tangan kosong sama saja dia meminta untuk mati.


Monster-monster di sini memang mengerikan. Oleh sebab itu, Isander masih belum merasa puas sepenuhnya terhadap kekuatan yang telah dia miliki.


Pertarungan terus berlanjut antara 4 orang manusia melawan puluhan ekor Monster Salmagtress.


Dalam pertarungan ini tidak ada campur tangan Isander secara langsung. Isander dan Meisya duduk di atas pohon untuk mendengarkan musik relaksasi dari jam tangan baru Isander tanpa memandang pertempuran yang terjadi.


Lokasi mereka berdua ada di arak yang sedikit jauh dari tempat di mana pertempuran berlangsung.


Meskipun begitu, Isander tetap memantau pertarungan tersebut dari jauh.


Panca indranya yang ditingkatkan mempunyai kegunaan yang sang luar biasa.


Penglihatan Isander mampu melihat sesuatu yang jauhnya lebih dari 5 kilometer dari tempatnya berada dengan sangat jelas.


Untuk panca indra lainnya Isander kontrol untuk dengan sangat baik supaya peristiwa senjata makan tuan terjadi kepadanya.


Bukan berarti panca indra yang kuat akan selalu menjadi kelebihan, malah panca indra yang kuat bukan mustahil untuk menjadi kelemahan. Banyak contohnya, seperti pendengaran yang kuat secara otomatis memiliki pendengaran yang sensitif, dan jika saja ada perangkat atau sesuatu yang mengeluarkan suara dengan frekuensi yang tinggi di telinganya, itu akan mengakibatkan luka yang fatal.


Bisa jadi dia seketika meninggal. Sangat konyol.


Oleh sebabnya, Isander selalu melatih panca indranya agar efesiensi kegunaannya cukup tinggi. Lebih banyak digunakan di momen yang tepat.


Ketika Isander sedang menikmati waktu bersama anaknya, para anggota kelompok dia malah sibuk dengan monster-monster yang menyerang.


Namun, anggota Isander tidak merasa keberatan melawan puluhan monster. Sebaliknya, mereka senang bisa mencoba kemampuan dan kekuatan barunya kepada para monster.


"Monster yang jelek! Matilah!"


Cambuk di tangan Kila berputar-putar di atas, kemudian dia membantingnya dengan kejam membidik satu Monster Salmagtress tepat di depannya.


Bam!


Darah kehitaman membasut ke segala arah, tanah di sekitar ternodai oleh darah yang memiliki bau busuk.


Daging dan tulang berserakan dibalut oleh darah yang memancar keluar.


Akhir hidup monster ini sangat tragis dan menyedihkan. Hancur di bawah cambuk batu Kila yang kuat.


Reza dan Nina secara natural bekerja sama dalam membunuh banyak monster. Dengan kemampuan mereka yang hampir sama dalam bentuk senjata dan serangan, mereka mampu bekerja sama dengan cukup baik.


Pisau air Nina menebas tubuh monster sampai bagian tubuh yang terkena terputus. Serupa dengan belati angin Reza yang memiliki kerusakan yang sama besarnya.


Memang kecepatan Nina lebih rendah dibandingkan kecepatan Reza, tetapi kecepatan Nina tetap lebih cepat dari monster-monster.

__ADS_1


Slash! Slash! Slash!


Cahaya biru dan putih bermunculan di sekitar medan pertempuran.


Senjata Reza dan Nina yang menciptakan garis biru dan putih yang menyala di udara.


Pertempuran ini berlangsung tidak begitu lama, tak sampai 10 menit lamanya jika dihitung.


Berdiri bersama memandang area pertempuran, Giya dan lainnya tidak percaya mereka mampu membunuh kumpulan monster tingkat C dengan gampang dan cepat.


"Barusan adalah kita, kan?" tanya Reza kepada Giya dan anggota lainnya dengan wajah yang tercengang.


Giya, Nina, dan Kila mengangguk bersama membenarkan ucapan Reza.


Menatap potongan tubuh mayat monster dan darah yang menggenang, Giya mengangguk dan menjawab, "Benar. Kita yang membunuh banyak Salmagtress."


Beberapa spot di Medan tempur terlihat berwarna hitam, itu adalah hasil kerusakan dari pisau lempar berapi milik Giya.


Panas api kuningnya mampu membakar monster tingkat C tanpa berusaha banyak. Tentu, setiap monster yang terkena api dari Giya pasti mati.


Tak tahu jika pisau api Giya digunakan untuk melawan monster tingkat B, semacam Beavger dan Bullager, masih efektif atau tidak.


"Sudah?"


Suara Isander terdengar dari belakang tubuh mereka.


Mereka serentak membalik tubuhnya untuk melihat Isander yang muncul di belakangnya.


"Sudah mati semuanya."


"Benar, tidak ada yang hidup, semuanya mati oleh kita berempat."


"..."


Isander mengangguk dan memberi jempol tangan kepada mereka berempat.


Pemandangan yang berantakan tak karuan yang ditampilkan di sini menjadi bukti omongan mereka.


"Kalau begitu, aku akan membereskan ini. Oh, ya, kalian membutuhkan sirip monster itu, bukan? Ambil dahulu. Kalau sudah diambil, kalian segera bilang aku."


Setelah kata-kata itu jatuh, Isander berbalik dan menghilang di pandangan mereka semua.


Dia kembali lagi bertugas menjadi seorang bapak yang baik kepada anaknya dan selalu menyayangi anaknya.


Meisya yang tidak rewel dan jarang sekali nangis, sangat nyaman berada di pelukan ayahnya ini meski dibawa lompat tinggi dan berlari dengan kecepatan yang tinggi.


Putrinya akan baik-baik saja, Isander selalu menjaga tubuh Meisya dari efek dari akselerasi kecepatan dirinya yang berlari cepat.


Dia tetap stabil dalam berlari, paling tidak Meisya tidak merasakan goncangan hebat ketika dia bergerak.


Tangannya sudah terlatih menjadi stabilizer dalam memeluk dan menggendong Meisya.


Angin yang berhembus kencang ke arah tubuh Meisya sudah ditahan oleh Wind Barrier yang mengelilingi tubuh mereka.


Meski sama-sama angin, pelindung kemampuannya tetap berfungsi untuk melindungi tubuh Meisya.


Begitu Isander dan Meisya kembali sibuk berdua, anggota kelompok Isander mempercepat gerakan mereka dalam memotong sirip monster yang masih utuh.


Total ada 48 sirip yang mereka ambil, sirip ekor monster yang mereka ambil. Apabila dibagi 4 orang, mereka mendapatkan 12 sirip masing-masing.


Cukup banyak, dan mereka tidak mempermasalahkan pembagian ini.


Tidak ada yang lebih unggul dan lemah di antara keduanya.


Mereka pun lupa tidak menghitung berapa banyak monster yang telah mereka bunuh saking sibuk dan asyiknya membunuh monster.


Setelah itu, Reza bergerak untuk memberi tahu bahwa mereka sudah mengumpulkan bukti jasad monster untuk ditukar.


Mendengar laporan ini, Isander mengangguk dan dia kembali bersama Reza ke area pertempuran yang hancur berantakan.


Setibanya di sana, Isander menyerahkan Meisya kepada Giya untuk sesaat, dan meminta mereka semua menyaksikan dia membersihkan tempat ini di kejauhan.


Mereka semua mengerti dan mengikuti arahan Isander. Setelah itu, mereka menghilang dari area yang terkoyak-koyak ini.


Giya dan anggota lainnya muncul di atas pohon yang sedikit dekat dari tempat terjadinya pertempuran. Terlihat wajah yang menunjukkan raut wajah yang penasaran dengan apa yang Isander lakukan.


Di bawah tatapan penasaran mereka semua, Isander mengangkat tangan kanannya, kemudian sebuah bola yang memiliki arus listrik berwarna kuning muncul dan melayang di atas telapak tangan Isander.


Boom!

__ADS_1


Bola tersebut dilemparkan tepat di tengah tempat yang hancur dan membuat ledakan yang memperparah kerusakan yang ada.


Permukaan tanah tempat mereka bertarung sudah dilubangi oleh bola itu dan juga potongan jasad monster lenyap bersamaan dengan munculnya lubang besar.


Gerakan Isander terus berlanjut, lima buah bola api merah muncul di atas kelima jarinya dan itu melesat bagai rudal ke area yang terdapat daging dan darah monster yang tersisa.


Bum! Bum! Bum! Blar ...!


Lubang-lubang kecil tercipta dengan permukaan tanah yang berubah menjadi hitam karena pembakaran bola api.


Berikutnya, Isander menginjakkan kaki kanannya ke depan dan sebuah reaksi yang luar biasa terjadi, lubang-lubang serta seluruh permukaan menjadi retak dan itu terus melebar ke seluruh area bekas pertempuran.


Terlihat Isander berjongkok dan meletakkan kedua tangannya di atas tanah seolah-olah dia ingin mempercepat proses pembersihan.


Benar saja, tanah tersebut retak dan terbelah, dan retakannya menyatu untuk mengisi lubang atau permukaan tanah yang lebih rendah atau menurun.


Proses ini tidak memakan banyak waktu, cukup 5 menit lebih untuk melakukan semuanya sampai selesai.


Melihat semua permukaan tanah area pertempuran 90% kembali seperti semula, Isander berbalik dan berjalan ke arah timur, tempat anggota kelompoknya menunggunya.


Isander kembali menggendong dan membawa Meisya, dan dia mengajak semua orang untuk terus berjalan ke arah timur.


Untungnya, mereka berempat masi samar-samar tahu rute jalan menuju Garuda City, estimasi mereka untuk sampai ke kota lebih cepat dari yang diperkirakan.


Di siang hari, mereka akan beristirahat beberapa menit, tidak sampai 1 jam. Di waktu itu, mereka memanfaatkannya untuk makan siang dan mengistirahatkan tubuh serta pikiran.


Mereka tetap makan dengan ayam yang diburu di perjalanan, ditambah dengan bumbu ayam bakar untuk membuat makanan menjadi lebih enak.


Setelah istirahat di siang hari mereka terus berjalan hingga waktu sudah memberi peringat hari telah malam.


Di malam hari ini, mereka beristirahat di sebuah kompleks perumahan kecil yang runtuh. Namun, ada bangunan yang cocok mereka jadikan tempat istirahat untuk semalam.


Pada daerah tempat mereka singgah lumayan banyak monster, terutama monster tingkat C dan B, yaitu berjenis Bugagtress dan Goatager.


Kedua monster yang satunya memiliki bentuk mirip dengan serangga lebah dan satunya memiliki bentuk serupa dengan kambing yang bertanduk besar.


Pelaku yang menghabisi monster-monster tersebut adalah Giya dan teman-teman, Isander tidak berpartisipasi sama sekali dal pembersihan area istirahat.


Mereka di sana makan malam dengan makanan dari Isander dengan jenis makanan yang enak, tak lama setelahnya mereka tidur.


Ada dua orang yang tidak tidur, yaitu Isander dan Reza.


Reza tampaknya terinspirasi dan terbius pesona Isander. Dia ingin sekali sekuat Isander sehingga dirinya mengikuti aktivitas yang biasa dilakukan Isander, tidak lain adalah meditasi.


Secara pribadi Reza meminta diajarkan bagaimana bermeditasi kepada Isander.


Jelas, Isander tidak bisa. Pasalnya, dia bukan bermeditasi untuk menenangkan pikiran, melainkan melatih kontrol atas kemampuan yang telah dia peroleh.


Meskipun demikian, sebagai pemimpin yang baik, Isander tetap memberi tahu caranya atas dasar pengalamannya.


Setelahnya, Reza ikut duduk bersila dan mulai mengosongkan pikiran untuk merasakan kendalinya terhadap unsur angin.


Sebuah senyuman muncul beberapa waktu yang cepat usai Reza menutup matanya.


Dia langsung bisa merasakan angin yang ada di sekitar dan mencoba untuk melatih kemampuannya.


Sementara Isander telah lebih dahulu berlatih, tetapi latihan kali ini berbeda karena di dalam pikirannya ini dia menemukan sesuatu sosok yang asing sedang bersemayam.


Di dalam tubuh Isander terdapat sosok besar dengan wujud berwarna hitam sepenuh, memiliki sepasang mata menyala yang tajam berwarna ungu violet.


"Siapa kamu?!" Isander bertanya dengan wajah yang waspada kepada sosok ini.


Perbandingan ukuran Isander dengan sosok yang ada di pikiran dan tubuhnya, seperti ulat dan manusia. Sangat berbeda jauh.


Sosok hitam ini memiliki bentuk tubuh seperti seorang manusia, tubuhnya hanya terlihat berwarna hitam seperti asap hitam yang berkumpul di satu titik dan membentuk sosok tersebut


Namun, sosok hitam besar seperti manusia ini memiliki dua tanduk di atas kepalanya yang berupa bayangan hitam, dan juga ada sayap hitam yang tertutup di belakang tubuhnya.


Ada keanehan lagi, yaitu bentuk sosok ini tidak sepenuhnya manusia lantaran mempunyai empat kaki.


"KAMU TIDAK PERLU MENGETAHUI SIAPA AKU. PADA INTINYA, SEKARANG AKU TELAH ADA DI TUBUHMU DAN LAMBAT-LAUN KITA BERDUA AKAN BERSATU SEPENUHNYA. OLEH KERENA ITU, AKU AKAN MEMBERIKANMU KEKUATANKU SATU DEMI SATU, DIAWALI DENGAN ARMOR DAN PEDANG MILIKKU. KUHARAP KAMU ADALAH ORANG YANG PANTAS."


Suara yang menggelegar bagai halilintar di hujan badai yang sangat besar, membuat Isander takut dan terasa tubuhnya sedang ditekan oleh gunung tertinggi di dunia.


Isander sedari tadi mencoba untuk bertahan berdiri, setelah mendengarkan suara ini dia langsung terjatuh dan berlutut di permukaan sesuatu yang gelap berwarna hitam.


"SERING-SERINGLAH DATANG KE SINI UNTUK MENINGKATKAN KEKUATANMU SECARA LANGSUNG PADAKU. KAMU TIDAK BISA BERTAHAN LEBIH LAMA DI SINI, KAMU MASIH SANGAT LEMAH. SAMPAI DI SINI SAJA, SEKARANG KAMU BOLEH PERGI!"


Isander masih belum bisa berbicara, bahkan menggerakkan jari-jemarinya pun susah.

__ADS_1


Tepat ketika dia berusaha ingin berbicara lagi, kesadarannya terpental dari ruang aneh tersebut dan mata Isander terbuka dengan wajah yang pucat, keringat mengucur dari dahinya, tubuhnya dibasahi keringat dingin, seperti sedang mandi keringat.


__ADS_2