SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 76: Kelompok Aneh


__ADS_3

Semuanya melangkahkan kaki ke arah timur tanpa melewati permukiman warga yang tinggal di luar tembok kota.


Sengaja mereka lakukan agar orang-orang tidak ada yang mengikuti mereka dan menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan.


Mereka menyisiri hutan tanpa dilihat oleh orang-orang yang ada di permukiman luar kota.


"Ada sebuah kabar di Kota Garuda bahwa Garuda Comity pergi untuk memeriksa sesuatu kejadian di luar kota. Apakah kamu tahu itu, Reza?" tanya Giya yang duduk di lantai memandang Reza dan Kila.


Tempat mereka singgahi berupa bangunan kayu yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Mirip rumah kecil yang semuanya dibuat dengan kayu.


Untuk malam ini mereka tinggal di situ. Cukup ditempati oleh mereka semua tidur karena ada beberapa ruangan di sana yang dapat digunakan untuk istirahat.


Bersandar di tembok kayu, Reza mengangguk dan menjawab, "Tentu, aku sempat mendengar kabar itu. Aku menjadi penasaran dengan apa yang mereka selidiki, tampaknya itu sangat genting."


"Sangat jarang mendengar kelompok itu bergerak hanya karena mendapatkan tugas menyelidiki. Biasanya, mereka bertugas karena ada peristiwa yang heboh," celetuk Nina yang heran dengan berita yang heboh di Kota Garuda.


Mendengar percakapan mereka semua, Isander menjadi penasaran dengan kelompok yang dibicarakan oleh mereka, itu terdengar penting.


Penasaran dengan hal tersebut, kepala Isander bergerak melihat ke arah mereka semua dan melemparkan pertanyaan, "Garuda Comity? Kelompok apa itu?"


"Garuda Comity merupakan kelompok yang dibentuk dan menjadi andalan pemerintah Kota Garuda yang kerap diberikan tugas atau misi untuk menyelesaikan suatu masalah atau peristiwa, bisa dibilang mereka juga kumpulan seorang pahlawan lantaran sering menyelamatkan orang," Giya menoleh ke Isander dan dengan sabar menjawab pertanyaan Isander.


Semua sudah tahu Isander adalah orang yang tidak pernah ke kota. Informasi tentang hal ini tentunya tidak tahu.


"Aku mengerti. Ada berapa anggota di kelompok itu?" Isander masih penasaran dengan kelompok Garuda Comity.


"Anggota mereka banyak, tetapi yang tim intinya hanya ada lima orang anggota." Kila memegang air botol dan siap untuk minum.


Kepala Reza mengangguk-angguk beberapa kali, kemudian dia mengambil botol minum milik Kila dan menyesapnya. Setelah itu, dia berkata, "Masing-masing dari mereka memiliki kekuatan yang kuat. Kelima orang tersebut sudah berada di tingkat Agter Grand Master."


"Benar, terlebih lagi mereka punya kekuatan Agta unsur alam yang langka dan juga tranformasi menjadi seekor binatang," tambah Nina yang tahu tentang kelompok tersebut.


Isander termenung memikirkan ini, ternyata orang-orang di Kota Garuda memiliki kekuatan yang kuat, bahkan banyak yang sudah mencapai tingkat Agter Grand Master.


Dia sendiri sekarang berada di tingkatan tersebut. Dipikir-pikir, kelompok yang bernama Garuda Comity sangat kuat, mungkin setara dengannya.


"Eh, sebenarnya, kita juga bisa menjadi anggota Garuda Comity dengan kekuatan kita yang sekarang, bukan?" Kila bertanya setelah sadar akan sesuatu.


"Itu benar. Namun, untuk apa kita bergabung? Tidak ada gunanya bergabung dengan mereka," ucap Reza dengan nada suara yang malas.


Mendengar ucapan Reza, Isander menjadi heran. Kelihatannya, kelompok tersebut tidak disukai banyak orang.


Sebelum bertanya, Isander harus menidurkan Meisya yang rebahan di pangkuannya, sebentar lagi dia akan tertidur, matanya sudah berkedip-kedip.


Dengan demikian, Isander masuk ke ruangan yang terdapat karpet bersih dan mencoba membuat Meisya cepat tertidur.


Melihat Isander yang pergi ke dalam kamar bersama Meisya di pelukannya, mereka tidak mempermasalahkan ini dan terus mengobrol.


Tak lama berselang, Isander keluar dari ruangan dan duduk bersama mereka lagi.


"Pada intinya, mereka tidak selalu baik, mereka juga terkenal dengan perbuatan onarnya antar Agter, mereka senang membuat Agter lain selain kelompoknya menderita," jelas Giya kepada Isander yang ingin tahu lebih banyak tentang kelompok ini.


"Mereka disuka terdengar memalak dan memeras koin orang lain, meminta jasa dari mereka sama saja membuang-buang duit. Benar kata Giya, mereka tidak sepenuhnya baik," sambung Nina yang memberikan penjelasan dengan jujur.

__ADS_1


Isander terkejut dengan ini, ternyata ada orang-orang yang seperti ini di kelompok manusia.


Di dalam hatinya, Isander sangat menyayangkan kelompok Garuda Comity ini yang memiliki sifat yang buruk.


Makin lama dia memikirkan hal ini, niat Isander menjadi lebih kuat, dia ingin melakukan sesuatu untuk mengubah orang tersebut menjadi benar-benar mendukung umat manusia yang tengah kritis ini.


Seharusnya, sifat mereka yang seperti itu, tidak jauh dari atasannya atau orang yang memerintahkan mereka.


Sayang sekali, dia tidak bisa melihat mereka dan bertemu kelompok tersebut sekarang.


Kalau pun menunggu, itu akan lama, bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan, karena setiap kali kelompok tersebut menjalankan tugas, wakti penyelesaian mereka ditetapkan lumayan lama.


Memang bukan waktunya untuk bertemu mereka. Suatu saat Isander dapat bertemu mereka.


"Kamu tahu Ice Frail, kan? Waktu pertama kali kita bertemu aku pernah membicarakannya kepadamu."


"Ice Frail?" Isander mengingat nama ini di kepalanya. "Wanita yang kamu kagumi, ya? Aku masih ingat, ada apa dengan dia?"


Mata Isander menatap ke Giya yang memberikan pertanyaan tersebut.


Giya mengubah ekspresinya menjadi rumit dan berkata, "Dia termasuk lima anggota inti Garuda Comity."


"Dia juga anggota?" Isander tersentak mendengar ini. Tidak diduga orang yang diidolakan oleh Giya masuk ke dalam anggota kelompok tersebut.


"Benar. Meskipun begitu, dia jarang berkumpul dan lebih sering menjalankan tugas sendirian."


"Sepertinya ada perbedaan di antara dia dan mereka," ucap Isander sambil memegang dagunya tampak berpikir.


Giya dan lainnya mengangguk, dugaan Isander memang benar.


"Rumor yang berkeliaran mengatakan Ice Frail ini tidak suka dengan pria yang bermain dengan para wanita. Mungkin saja rumor itu benar, kelihatannya Ice Frail itu dingin ke anggota Garuda Comity," Kila menambahkan lagi perkataan Reza.


Mendengar penjelasan keduanya, Isander menjadi paham mengapa Ice Frail satu kelompok dengan orang-orang tersebut dan jarang bersatu.


Dari keterangan yang mereka berikan, sifat Ice Frail ini cukup baik dan beradab.


"Oke, aku paham semuanya. Pada kesimpulannya, Garuda Comity ini sedang bertugas untuk menyelidiki peristiwa yang ada di luar kota?" Isander bertanya dan memastikan informasi yang dia tangkap itu benar.


"Ya, kata orang-orang seperti itu. Namun, aku tidak tahu di mana tempat tugas mereka," Giya menjawab sambil menganggukkan kepalanya.


Reza dan lainnya pun menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah.


Nina mengumpulkan semua piring dan bekas makanan mereka dan memberikannya kepada Isander.


Mereka tahu Isander bisa menghilangkan semua sampah, itu bukan lagi sebuah rahasia. Juga, mereka tidak heran dengan itu.


"Oh, ya, habis ini kita akan ke mana?" tanya Reza kepada Isander.


"Sementara waktu kita di sini terlebih dahulu, aku akan membuat tempat tinggal kita di sekitar sini. Apakah monster ada yang berkeliaran di sini? Jika ada, lebih baik kita menghabisi mereka dan langsung menukarkannya menjadi koin dan membeli banyak perlengkapan serta barang keperluan sehari-hari," tutur Isander kepada mereka semua. "Kita harus mengumpulkan banyak persediaan untuk terus memburu monster yang ada di pulau ini."


"Aku tak keberatan dengan ini," kata Reza yang sama sekali tidak menolak dengan rencana Isander.


Selain Reza, semuanya juga sama, mereka mengangguk setuju dengan rencana Isander.

__ADS_1


Mereka semua sama sekali tidak menolak, mengikuti semua rencana Isander jika dirasa itu bagus.


Meskipun jelek, mereka akan memberi masukan dan ide lain. Mereka adalah sebuah kelompok yang harus kompak dan saling bekerja sama.


"Mulai besok, aku akan membuat tempat tinggal. Sebelum itu, kita harus mencari posisi atau lokasi yang tidak jauh dan tidak terlalu dekat dengan kota, atau mencari tempat yang strategis. Tentu saja, aku butuh kalian untuk pendapatnya." Tatap Isander ke wajah mereka semua dengan serius.


Mereka semua menyengguk hampir bersamaan.


Semuanya paham dengan ini dan masing-masing dari mereka berinisiatif untuk mengajukan diri untuk membantu.


Giya dan Nina bertugas untuk mencari tata letak yang cocok untuk membangun tempat tinggal, sedangkan Reza dan Kila mencari tempat di mana monster-monster berada.


Di mana nantinya mereka akan memanen banyak koin dengan cara membunuh banyak monster di sekitar sini.


Untuk Isander, dia bertugas untuk melihat keduanya bertugas, dan memeriksa secara langsung.


Dengan pembagian tugas yang jelas serta disepakati secara bersama tanpa adanya penolakan dan keberatan hati di hati mereka.


Mereka semua pergi tidur untuk istirahat, besok ada tugas yang wajib dilakukan dan butuh energi untuk melakukan itu semua.


Seperti biasa, di malam hari, Isander sama sekali tidur. Dia dan Reza bermeditasi memfokuskan pikiran dalam rangka melatih kontrol atau kendali mereka pada kemampuan.


Keduanya terus berlatih sampai pagi dan matahari menyinari sinarnya ke permukaan Bumi.


"Wow! Makanan apa ini?!" Reza melihat makanan yang dikeluarkan oleh Isander dengan mata yang terbuka lebar.


Makanan yang Isander sajikan berbeda dengan sebelumnya, makanan ini adalah makanan khas Padang, yaitu Nasi Padang.


Begitu mereka melihat visual makanannya dengan jelas, mereka langsung tahu makanan ini.


"Dapat dari mana makanan ini?!"


"Nasi padang! Aku suka sekali!"


"Tidak disangka nasi padang hadir di depan aku setelah bertahun-tahun lamanya tidak makan ini."


"..."


Isander hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan mereka yang menanyakan tentang asal dari makanan Isander.


Melihat ini, mereka tidak menunggu jawaban Isander dan langsung melahap makanan yang sudah dijatahkan.


Beberapa waktu berselang, mereka semua menyelesaikan makanannya sendiri. Giya sampai Meisya sudah beres menghabiskan makanan.


Meisya suka sekali dengan sereal, dia tidak mau makan yang lain ketika sarapan, seolah-olah sereal itu wajib untuk sarapan.


Mengetahui tentang ini, Isander senang anaknya suka dengan sereal. Gizi dan nutrisinya seharusnya terpenuhi, dan proses pertumbuhannya berlangsung baik serta normal.


"Makanan ini termasuk kemampuanku, tidak ada yang bisa membuka tas ini tanpa seizin dariku, kalau pun bisa, tidak ada yang mampu mengeluarkan makanan satu pun dari dalam. Kalau kalian tidak percaya, kalian boleh mencobanya."


Setelah mengatakan itu, Isander menyerahkan tasnya ke tangan Reza.


Reza yang penasaran hebat dengan berani membuka tas milik Isander dan mencoba untuk membukanya.

__ADS_1


Beberapa kali dia mencoba, Reza sama sekali tidak bisa menggerakkan ritsleting kecil di tas Isander satu inci pun.


"Aku menyerah."


__ADS_2