SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 43: Tidak Menepati Janji


__ADS_3

“Suara apa itu?“


Giya yang baru saja duduk sehabis memindahkan Meisya yang tertidur ke dalam kamar seketika berdiri dan memandang ke arah kamar tempat jendela berada.


Bukan hanya Giya yang mendengar, Nina dan Isander dapat mendengar suara teriakan seseorang. Meisya tidak mendengar suara ini karena dia sudah tertidur beberapa saat ketika bermain dengan Giya dan Nina.


Anak ini jika sudah makan, terlebih di malam hari, dia akan cepat tidur tanpa disuruh sama sekali. Isander sangat bersyukur memiliki anak gadis yang tidak rewel dan jarang menangis. Meisya enak sekali dibawa ke mana-mana karena dia memiliki adaptasi yang begitu cepat, menyesuaikan diri tanpa menangis.


Akan tetapi, Meisya ini sangat bawel karena dia memiliki sifat yang ingin tahu apa pun yang dilihatnya. Isander tidak kesal dengan mulut kecil Meisya yang selalu melontarkan banyak pertanyaan, dia akan menjawab pertanyaan Meisya sesuai dengan pertanyaannya.


Di masa anak kecil lagi senang-senangnya mencari tahu tentang segala sesuatu di sekitarnya, orang tua harus sabar untuk memberi tahu apa yang anak ingin tahu dan mendidiknya dengan penuh kasih, jangan dibentak dan dimarahi karena mengganggu kita yang sedang sibuk.


Pada dasarnya, perlakuan kasar orang tua terhadap anak di saat-saat itu memilik dampak besar pada perkembangan mentalnya.


Isander sempat mengetahui tentang hal ini ketika dia sedang main ponsel dan menemukan sebuah unggahan yang membahas seputar mendidik anak dan merawatnya.


Tanpa banyak berbicara, Isander bergegas ke kamar tempat Meisya tidur dan melihat ke luar rumah pohon melalui jendela.


Saat dia melihat kondisi di rumah pohon, ekspresinya menunjukkan ada sesuatu yang salah, Giya yang menggendong Meisya tidur ikut mengintip dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di luar.


Seorang laki-laki yang berlumuran darah dengan tubuh yang penuh luka berat, bahkan salah satu tangannya terpotong tengah berlari di beberapa meter dari tempat rumah pohon berada.


Di belakangnya, ada segerombolan Salmagtress yang mengejar pria yang terluka tersebut.


“Siapa pun tolong aku!! Kumohon!“


Usai melihat ini, Isander langsung menoleh ke dua wanita yang berdiri di sampingnya.


Tanpa berbicara apa-apa, kedua wanita ini mengerti apa yang dimaksud dari pandangan mata Isander.


Sebuah asap hitam mulai mengepul di antara pergelangan tangan Isander. Dia langsung melompat ke bawah dari jendela.


Bam!


Senjata tombak hitam selesai terbentuk ketika Isander mendarat dengan selamat tanpa ada luka goresan di kulitnya.


Isander berdiri di tanah dan ia langsung mencari sosok pria dan monster tersebut yang sedang berlarian. Mereka sudah ada di puluhan meter jauhnya dari posisi ketika Isander melihat mereka di rumah pohon.


Rumah pohon terlalu tinggi sehingga pria dan monster-monster tersebut tidak sadar dengan keberadaan rumah pohon.


Begitu menemukan keberadaan mereka, tubuh Isander langsung berpindah. Dia berlari begitu cepat dan hampir hanya tampak sebuah bayangan yang melintas sekilas.


Whoosh!


Melewati beberapa batang pohon yang besar, Isander mengejar barisan monster yang paling belakang dari kumpulan monster yang berlari ingin memangsa pria tersebut.


Dengan satu ayunan tombak hitam di tangannya, salah satu monster yang ikut memburu pria itu mati dan terpotong menjadi beberapa bagian.


Kecepatan Isander berlari tidak lagi mengikuti kecepatan monster ini bergerak. Sosoknya menghilang dari belakang kumpulan monster dan muncul di samping kiri barisan monster.

__ADS_1


Swooshh! Swooshh!


Gelombang hitam berbentuk bilah keluar dari ayunan tombak hitam Isander dan memotong tubuh monster yang ada di depannya.


Semburan darah merah kehitam-hitaman berjatuhan dan membasahi pohon-pohon yang hancur akibat ketidaksengajaan Isander menyerang monster. Tebasan hitam ini menembus setelah memotong tubuh banyak monster hingga menghancurkan beberapa pohon di sekitar.


Mengetahui ada yang membantunya, pria tersebut berhenti berlari setelah merasa bahwa monster di belakangnya tak mengejar lagi.


Tubuhnya yang penuh luka cakar yang dalam itu berusaha bergerak untuk melihat ke belakang.


Begitu dia berdiri dan membalikkan tubuhnya, sebuah pemandangan yang tidak terbayangkan terlihat di dalam pandangan matanya.


Belasan monster Salmagtress yang mengejar dan menyerangnya telah menghilang, mereka telah berubah menjadi daging potong yang tercecer di tanah dan tergeletak tak bernyawa begitu saja.


Darah merah kehitaman memantulkan cahaya bulan, tak sengaja menyinari sesosok pria yang berdiri di tengah-tengah jasad monster yang terpotong.


Memandang sosok ini membuat pria yang terluka itu ketakutan, dia mundur perlahan dan berniat menjauh. Dia berpikir bahwa orang yang membunuh banyak monster itu bukan seorang manusia.


Baru saja pria yang berdarah ini ingin melarikan diri di titik darah penghabisan, pria yang dia lihat tadi sudah muncul di depannya dan menghalangi jalannya.


Perlahan mata pria yang terluka ini bergerak dan menaikkan pandangannya ke wajah pria yang menghalangi dirinya kabur.


“Itu, kamu!“


Tepat ketika dia mengatakan itu, tubuhnya terjatuh ke tanah dengan keadaan yang begitu lemah. Dia sudah terlalu banyak kehabisan darah.


“Sangat parah, dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi jika didiamkan seperti ini!“


Pria yang menolong tersebut tentu saja Isander. Dia menatap tubuh pria di tangannya dengan mata yang cemas.


Isander sangat terkejut ketika melihat wajah dari pria yang terluka ini, ternyata itu adalah Bima. Benar, seorang pria yang pernah dia tolong kemarin bersama dengan seorang wanita yang bernama Fina.


Kondisinya sekarang sangat parah, tubuhnya dipenuhi oleh luka cakaran, juga ada beberapa bekas gigitan yang dalam. Paling parahnya adalah tangan kanan dari pria ini terpotong setengah dan terus mengeluarkan darah yang banyak.


Dia harus segera mengaktifkan kemampuan penyembuhannya sekarang karena sangat darurat.


Sambil mengaktifkan kekuatan Natural Healing, Isander memandang wajah Bima yang terlihat begitu pucat, tampaknya ada sesuatu kejadian yang menakutkan yang telah dia hadapi.


“Apa yang telah terjadi? Apakah ini semua karena Monster itu?“ Isander memandang dengan rumit Bima yang terbaring di tanah. “Mengapa kamu sendiri? Ke mana wanita itu?“


Kemampuan penyembuhan Isander terus diaktifkan, dan luka pada tubuh Bima perlahan sembuh. Tangan yang terpotong itu mulai sembuh, kulit dan daging mulai tertutup serta menyatu.


Efek kemampuan pemulihan Isander tidak sebagus itu, dia tidak bisa memulihkan bagian tubuh yang hilang, mungkin bisa disambungkan lagi jika potongan tersebut masih ada.


Semua luka yang terbuka di sekujur tubuh Bima mengering dan menghilang secara lambat dan dengan pemulihan yang bertahap.


Bima yang hanya bisa menatap ke langit akhirnya bisa mengeluarkan suaranya lagi. Kondisi tubuhnya sedikit membaik sejak penyembuhan yang dilakukan oleh Isander.


Tangan kiri Bima yang lemah itu terulur memegang pundak Isander yang tengah menyembuhkannya. “Be–berhenti, Ja–jangan buang-buang kemampuanmu.“

__ADS_1


Mendengar ini, Isander menatap wajah Bima dengan ekspresi yang bingung. Namun, tangannya masih mengeluarkan cahaya hijau yang membungkus seluruh tubuh Bima.


“Kumohon be–berhentilah, apa yang kamu lakukan untuk menyembuhkan aku sia-sia karena aku … sudah te–terinfeksi.“


Bima menguatkan cengkeraman tangannya pada bahu Isander, tetapi itu tidak terasa apa-apa bagi Isander. Dia berusaha untuk memberhentikan apa yang dilakukan Isander kepadanya.


Tubuh Isander menjadi stagnan, dia membeku bagai patung batu dan memandang Bima dengan tatapan yang kaget.


“Sebelum aku berubah menjadi monster, aku memintamu untuk bunuh aku, dan kuburkan tubuhku bersama mayat Fina ….“ Bima menggunakan sisa tenaganya untuk mengucapkan kata-kata yang ingin diberitahukan kepada Isander. “Terima kasih atas bantuan kalian waktu itu. Aku senang bisa bertemu kalian yang termasuk orang-orang baik. Aku harap kalian memiliki takdir yang baik. Maaf … kami berdua tidak bisa berjanji untuk bertemu dengan kalian lagi. Omong-omong, jaga anakmu, jangan sampai dia menemukan pria yang lemah sepertiku ….“


Setiap kali Bima berbicara, perubahan pada tubuhnya mulai terjadi. Tubuh Bima mulai mengalami perubahan yang aneh. Muncul benjolan yang besar, beberapa bagian tubuh menjadi bengkok tidak lazim.


Melihat reaksi aneh yang terjadi pada tubuh Bima, Isander mengeluarkan senjatanya dan dia menatap Bima yang makin aneh dan berubah ke arah wujud seperti monster.


Manik mata Isander gemetar selama menyaksikan perubahan Bima yang ingin menjadi monster.


Tubuh Bima berubah menjadi besar, tidak lagi menampilkan sosok tubuh manusia. Tubuhnya mirip seperti tubuh monster Salmagtress versi yang belum sempurna.


Kepalanya masih mempertahankan bentuk kepala manusia, mulutnya terus mengoceh tak jelas dan Isander tidak mengerti apa yang dikatakan.


“…. Maaf, Fi … na”


Kepala Bima itu mengucapkan sebuah kalimat yang bisa dimengerti oleh Isander.


Pupil mata Isander yang gemetar menjadi tegas, dia tidak bisa menunggu Bima menjadi monster, dia harus mewujudkan permintaan Bima.


Swooshh!


Kepala Bima terlepas dari tubuhnya, dan tubuh monster itu terjatuh ke tanah dengan keras.


Bang!


Tubuh Bima yang sempat mengalami perubahan menjadi monster ini mulai pulih kembali ke tubuh Bima dalam bentuk manusia, darah merah mengucur dari leher tanpa kepala dan membasahi kepala yang berguling di dekat tubuhnya.


Dengan tatapan yang tegas, Isander berjalan dan mulai menyembuhkan luka leher yang terputus.


Dia menyambungkan kembali kepala Bima ke tubuhnya dengan kemampuan penyembuhannya.


Isander tidak bisa menyelamatkannya, meskipun kepala dan tubuh Bima kembali bersatu. Pasalnya, jantung Bima sudah rusak akibat reaksi perubahan monster tadi.


Itu tidak akan hidup lagi.


Isander menggendong tubuh tanpa nyawa Bima ke arah rumah pohon berada, melewati jasad monster ikan Salmagtress yang tidak dapat dikenali lagi.


Selama berjalan, Isander sama sekali tidak berbicara, dia menatap ke depan jalan tanpa ingin melihat tubuh Bima.


Tiba-tiba, satu tetes air jatuh tepat di atas tubuh Bima, dan disusul oleh suara yang muncul.


"Aku sangat benci perpisahan."

__ADS_1


__ADS_2