
“Bisa dikatakan seperti itu. Pohon ini memiliki jenis yang berbeda dengan pohon yang sebelumnya Meisya lihat. Jenisnya memang memiliki ukuran yang besar dan kebutuhan makannya juga banyak.“ Isander menggendong Meisya sembari mengelus tangan bayinya.
Tentu saja, Meisya tidak mengerti semua yang dijelaskan Isander. Ada beberapa poin yang Meisya mengerti sehingga dia memberi isyarat dengan anggukan kepala. Anaknya benar-benar lucu.
Dalam pendapat Isander, jika anaknya ada di Bumi yang normal, kemungkinan besar akan terkenal dan menjadi artis karena saking lucu dan cantiknya Meisya, padahal sekarang penampilan Meisya bukan di penampilan tercantik atau terbaiknya.
Walaupun demikian, Meisya sudah sangat cantik di pandangan orang-orang banyak yang pernah bertemu dengannya. Noda tanah dan debu yang menempel serta baju yang lusuh tidak menutupi keimutan dan kecantikan Meisya.
Jika anaknya cantik dan menggemaskan seperti ini, bagaimana dengan istri Isander? Dipikir-pikir itu pasti cantik.
Seorang anak tidak akan jauh dari orang tuanya. Kemungkinan besar juga cantik.
“Oh, begitu. Aku mengerti, Ayah.“ Meisya mengangguk kecil, dirinya mengerti apa yang dikatakan oleh Isander.
Selanjutnya, Isander memberi tahu tentang fakta lain dari pohon ini kepada Meisya.
Anak ini sangat energik ketika mendengarkan cerita Isander. Meisya mencoba mencerna apa ilmu yang diberikan oleh Isander kepadanya.
Ketika mereka berdua asik membahas pepohonan, Giya yang memperhatikan mereka berdua mulai bergerak. Dia berdiri dan berjalan menuju ke tempat Isander dan Meisya mengobrol gembira.
Kedatangan Giya sudah diketahui oleh Isander, dia sengaja membahas pohon besar di depannya sambil membalikkan badan ke arah Giya yang menghampiri dia dan anaknya.
“Kakak Giya, apa kamu mau ikut kami berbicara tentang pohon besar di sini?“ Melihat Giya, Meisya langsung mengajak Giya untuk ikut bergabung dengan mereka berdua yang membicarakan sebuah pohon.
“Apakah itu seru?“ Giya memandang wajah imut Meisya dengan raut muka yang tertarik.
“Ya, tentu saja!“ Meisya mengangguk kejam dengan mata yang menyala. “Ayah banyak tahunya, dia memberi tahu aku sesuatu tentang pohon besar ini yang bernama Redwood!“
“Wow! Itu pasti seru. Kakak juga punya obrolan yang seru, apakah kamu mau ikut dengan Kakak?“ Giya melirik Meisya dan memasang wajah yang misterius, yang dapat membuat orang ingin tahu.
“Obrolan apa itu?“ Meisya menjadi tertarik dengan ucapan Giya.
“Kamu harus ikut Kakak, kita mengobrol dengan Kakak Nina juga.“
“Oke! Aku ikut!“
Melihat Meisya yang terpancing, Giya melirik Isander sekilas, memberikan sebuah Isyarat untuk mengikutinya.
Isander paham, Giya ini ada sesuatu yang ingin diinformasikan kepadanya. Maka dari itu, dia berjalan bersampingan dengan Giya dan berjalan ke pohon di mana tempat Fina yang terpejam dan sedang beristirahat.
Suara langkah kaki keduanya terdengar, Bima dan Nina menatap mereka berdua yang datang di kejauhan.
Telinga Fina juga mendengar suara rumput yang diinjak dan dia membuka matanya untuk melihat siapa yang datang.
__ADS_1
Begitu dia membuka matanya, dia melihat seorang pria berjalan beriringan bersama Giya sambil menggendong gadis kecil yang lucu.
Matanya bergerak ke wajah pria ini, dan dia terkejut. Mata Fina membesar, dia belum pernah melihat pria yang tampan seperti pria ini, bahkan Bima saja kalah wajahnya dengan pria di depannya ini.
Fina kagum dengan ketampanan Isander sekaligus menghormatinya karena sudah menyembuhkan dia.
Setelah Fina melirik Isander, dia mengalihkan pandangannya kepada Bima.
Giya dan Isander sampai di depan mereka bertiga, dan duduk bersama.
“Anu, terima kasih sudah menyembuhkan aku. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan kamu dengan apa, hanya ungkapan rasa terima kasih yang bisa aku berikan.“
“Tidak masalah, aku terima ucapan terima kasih kamu. Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah baik, kan?“ Isander tersenyum dan menatap Fina yang bersandar di batang pohon. Kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya.
Mendengar pertanyaan ini, Fina merespons dengan anggukan dan juga senyuman. “Aku sudah sembuh, tetapi hanya lemas sekarang.“
“Kakak, ayahku punya daging bakar, kamu mau?“ celetuk Meisya kepada Fina dengan suara susu yang lucu.
Hati Fina langsung meleleh, dan dia menoleh untuk melihat Meisya. Gadis kecil ini sangat perhatian.
Segera, Nina mengeluarkan daging bakar bekas semalam kepada Fina. Daging ini dibungkus kain bersih khusus menyimpan makanan.
Isander menyuruh Nina untuk memberikan jatah makannya kepada Fina, dia tidak keberatan dengan makanannya diambil, Meisya juga tidak masalah. Meisya bilang akan membagikan setengah makanannya kepada Ayahnya.
Mengambil daging yang dibakar dari Nina, Fina memberikan setengah daging tersebut kepada Bima.
Bima menerima daging ini, tetapi dia simpan ke dalam tas yang ada di punggungnya.
Melihat ini, Fina ingin sekali protes dan menyuruh Bima untuk memakan daging tersebut. Sayangnya, dia terlalu lemas.
Fina mulai memakan daging bakar ini secara perlahan dan tidak terburu-buru. Di sampingnya ada Bima yang mengawasi dan mengamati. Dia mengeluarkan sebuah botol plastik yang usang dan terdapat air putih di dalamnya.
Melihat Fina yang sedang makan, mereka juga tiba-tiba merasa ingin ikut makan. Pada akhirnya, mereka semua makan siang bersama.
Langit sudah sangat cerah, posisi matahari ada di atas kepala mereka walau sulit dilihat karena banyak sekali dedaunan dari pohon-pohon.
Kebetulan waktu sudah memasuki waktu makan siang. Tidak masalah makan di jam sekarang.
Setelah memakan daging yang diberikan oleh Nina, tubuh Fina yang lemas mulai berenergi lagi. Sekarang tubuhnya cukup kuat untuk berdiri dan berjalan, tidak masalah untuk berjalan dengan santai melanjutkan perjalanan.
“Ke mana kalian pergi sehabis ini? Apakah kalian berdua pergi ke Gunung Salak?“ Giya bertanya dan menatap Fina dan Bima yang berdiri di depannya.
“Benar, kami berdua ingin pergi ke Gunung Salak untuk memburu monster Catagtress,“ Bima menjawab dengan jujur. Dia berdiri sambil memeriksa perlengkapan pada tubuhnya.
__ADS_1
“Catagtress?“ Nina memiliki reaksi yang aneh, tampak mengetahui tentang sesuatu. “Pengalamanku, di Gunung Salak jarang sekali Catagtress berkeliaran. Atas pengetahuan yang aku tahu, kelompok monster Catagtress biasanya tinggal di bekas pemukiman warga. Di hutan Gunung Salak sangat langka ditemukan.“
“Sungguh? Pantas saja, kami berdua telah berputar di hutan ini dari kemarin, tetapi kami hanya menemukan beberapa Catagtress,” kata Bima sambil menghela napas.
Dari kemarin mereka berdua sudah ada di area hutan ini, dan mereka cuma menemukan kurang dari 5 monster Catagtress.
Fina tersenyum sembari menggelengkan kepalanya dan menepuk bahu Bima dengan pelan. “Sudah aku bilang, di sini bukan tempat Catagtress tinggal. Kamu harusnya mendengarkan aku kemarin.“
“Maaf ….“ Tangan Bima menggaruk pipinya, terlihat malu dan canggung.
“Aku sarankan kalian pergi ke arah utara atau pergi ke kaki gunung karena di sana banyak sekali bekas pemukiman atau reruntuhan desa dan lain-lain. Sangat mudah untuk menemukan Catagtress.“
Dengan baik, Giya memberikan sebuah informasi kepada kedua orang ini. Bima dan Fina kelihatan seperti orang yang baik, layak untuk dibantu. Itu menurut Giya pribadi.
“Terima kasih, kami akan mengikuti sarannya.“ Bima dan Nina mengangguk dan sedikit membungkuk. “Kalau begitu, kami akan pergi ke utara.“
“Baiklah, hati-hati di sana, terlebih melewati sungai. Tetap waspada dengan lingkungan sekitar.“
“Baik, kami mendengarkan.“
Nina menunjukkan senyuman kepada mereka berdua dan menambahkan suatu informasi, “Di sana banyak Salmagtress yang hidup. Sebaiknya, kalian menghindari aliran sungai. Semoga kalian baik-baik saja dan kita bisa bertemu lagi.“
“Terima kasih informasinya. Semoga saja.“
Perkataan Giya dan Nina membuat keduanya nyaman dan merasakan hangat di dalam hatinya. Mereka beruntung bisa bertemu dengan mereka semua.
“Kakak, kamu harus berhati-hati, jangan sampai terluka lagi,” ujar Meisya kepada Fina dengan wajah yang khawatir.
Fina menoleh ke Meisya, kemudian dia berjalan menghampiri sambil tersenyum. Pipi Meisya dicium oleh Fina dan dia berkata, “Kamu juga, Meisya. Jaga baik-baik dirimu. Kalau ada kesempatan, kita akan bertemu lagi.“
“Iya, aku pasti baik-baik saja kalau ada Ayah di sampingku.“
“Ya sudah, Kakak dan Kak Bima pergi dahulu, ya. Sampai jumpa, Anak Manis!“ Fina berjalan mundur kembali ke sisi Bima sambil melambaikan tangan.
Selanjutnya, Bima dan Fina mengangguk sambil menatap Giya, Nina, dan Isander. Tak lupa mengucapkan kalimat perpisahan selamat tinggal.
Keduanya berjalan berlawanan arah dan pergi ke utara, tempat rombongan Isander datang.
Begitu kedua sosok mereka menghilang, Isander dan lainnya kembali berjalan ke arah selatan, pergi menuju ke Gunung Salak.
Sebenarnya, mereka tidak pergi ke puncak Gunung Salak, melainkan ke hutan yang lebih dalam dan yang ada di atas kaki gunung.
Giya dan Nina biasanya memburu Salmagtress di sana.
__ADS_1