SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 107: Kekecewaan Isander


__ADS_3

Isander dan anggota kelompoknya berisitirahat di sebuah pemukiman warga yang sudah hancur dan runtuh.


Pemukiman ini berada di beberapa kilometer dari tempat mereka beristirahat di tengah hari tadi. Banyak bangunan rumah di sekitar sini yang terbuat dari tembok dan batu-bata, tetapi bangunan-bangunan tersebut berdiri renggang satu sama lain, tidak dekat dari bangunan satu ke bangunan lainnya.


Dengan begitu, Isander dan anggota kelompoknya menemukan bangunan yang sekiranya layak dijadikan tempat bermalam mereka semua.


Sebuah rumah yang terbuat dari dinding tembok masih berdiri meski bagian atas ada yang hancur dan berlubang. Dengan kemampuan Isander, dia bisa memperbaiki ini cukup mudah.


Mereka semua membersihkan dan merapikan bangunan tersebut agar nyaman saat ditinggali dalam semalam.


Setelah mereka semua bekerja sama dalam memperbaiki rumah ini, mereka segera masuk ke dalam rumah begitu malam datang.


Pencahayaan di dalam tetap menggunakan lampu minyak agar cahaya yang keluar dari bangunan tidak terlihat jelas.


Isander mengakali lubang udara atau ventilasi udara dengan cara membuat jalur lubang yang berliku-liku mengarah ke atas.


Cahaya yang keluar dari lubang tidak bisa menembus lubang udara tersebut sampai ke luar sehingga dari pemandangan luar tidak tampak ada cahaya yang berasal dari rumah tersebut.


Jalur cahaya yang keluar melalui ventilasi terblokir oleh bentuk lubang yang berliku-liku sehingga cahaya tak mampu keluar seutuhnya.


Di dalam rumah, Isander masih diam sembari mengusap tubuh Meisya yang tidur di samping Helen dan Reren. Kepalanya diisi dengan kejadian tadi siang yang membuatnya menangis sedih.


Aqila, teman istrinya yang ternyata menolongnya secara diam-diam, entah apa maksudnya dia melakukan itu, padahal Isander telah menunggu Aqila datang jika memang masih hidup.


Isander sudah menganggap Aqila telah tewas, tidak menyangka Aqila menjadi orang Kota Garuda, bahkan menjadi salah satu anggota Garuda Comity yang kurang disukai Isander.


Alasan Isander tidak menyukai Aqila yang sekarang adalah dia berasal dari Kota Garuda, terlebih termasuk tangan kanan pemerintah Kota Garuda yang Isander benci. Regulasi Kota Garuda adalah faktor Isander bisa membenci mereka dan kebencian tersebut merembet ke orang-orang yang membuat regulasi yang tidak lain ialah pejabat pemerintah Kota Garuda.


Jika saja Kota Garuda menerima dia dan istrinya tinggal di dalam, mungkin istrinya tidak akan pergi. Meisya bisa hidup dengan damai dan selalu diselimuti kasih sayang dari seorang ibu.


Kematian istrinya disalahkan kepada Kota Garuda dan juga dirinya sendiri yang tak punya kekuatan serta lemah.


Sekarang dia benar-benar tidak mau berhubungan dengan namanya Kota Garuda dan kota-kota lain, kecuali memanfaatkan kota tersebut dari menukarkan Koin Agta.


Untuk sekarang, dia tidak ingin membalas dendam kepada pemerintah Kota Garuda, dia ingin hidup damai tanpa ada banyak masalah yang berasal dari pihak manusia. Permasalahan kematian istrinya tidak ingin Isander lanjutkan. Lagi pula, itu sudah lama terjadi.


Sudah cukup keluarga dan istrinya pergi, dia tidak mau orang terdekatnya mati lagi.


Alasan lainnya, yaitu Aqila yang tidak mengabarkan bahwa dirinya masih hidup, padahal dia sudah tahu tentang keberadaannya dan Meisya. Sebelum kematian istrinya, sosok Aqila yang selalu istrinya ingin lihat, dia dan istrinya berharap Aqila hidup dan bisa bertemu dengannya.


Saat tahu kenyataan yang sebenarnya, ini membuat Isander benci pada Aqila dan sulit untuk memaafkan.


Isander sedang menenangkan dirinya sendiri dan mencoba untuk memaafkan Aqila, memang sulit, tetapi Isander ingin mencobanya.


Semua anggota kelompok Isander mengobrol dengan suara yang lemah agar tidak mengganggu Isander yang duduk diam memejamkan matanya sambil mengusap punggung Meisya.


Mereka tahu bahwa Isander butuh waktu saat ini. Kalau boleh jujur, mereka semua masih tidak mengira Isander punya teman yang adalah seorang Agter terkenal di Kota Garuda.


Mendengar obrolan Isander dan Aqila yang tidak disengaja membuat mereka sedikit paham dengan apa yang terjadi antara Aqila dan Isander.


Di masa lalu terdapat sebuah peristiwa yang menewaskan istri Isander, Aqila yang adalah seorang Agter tidak datang dan membantu karena memang seharusnya tidak tahu. Kejadian tersebut membuat Isander ini kecewa kepada Aqila sampai kekecewaan itu berubah menjadi kebencian.


Sifat Isander yang tidak suka pada Kota Garuda sudah diketahui oleh seluruh anggota kelompok atau timnya ini. Wajar saja, apabila orang yang dekat dengan kita ternyata bergabung ke kelompok musuh dan kita merespons dia dengan membencinya.


Lebih-lebih, saat kita tidak tahu bahwa teman dekat kita masih hidup, ternyata dia menolong kita tanpa mau bertemu dengan kita. Itu sesuatu yang menyakitkan.


Hidup di dalam ketidaktahuan merupakan hal yang menyakitkan dan mengerikan.


Namun, menurut mereka, Isander terlalu berlebihan kepada Ice Frail. Seharusnya, dia saling berpelukan terlebih dahulu karena mereka sudah lama tidak bertemu.


Sayang sekali, mereka juga merasa bersalah akan hal ini karena sudah memberi tahu ciri-ciri Ice Frail, dan ternyata itu mirip dengan ciri-ciri Aqila.


Isander langsung mengetahui bahwa Aqila ada Ice Frail, apalagi ketika Aqila mengeluarkan tembok es untuk menahan serangan Isander.


Makan malam tadi, Isander benar-benar tidak berbicara banyak kepada mereka semua, dia hanya berbicara pada Meisya dan itu begitu mendalam.


Malam ini, mereka berharap Isander kembali menjadi Isander yang seharusnya, tidak sedih seperti sekarang ini.


Duduk bersilang, Isander mulai melakukan meditasi dan mengirimkan kesadarannya ke ruang gelap tempat Cenagon berada.


Cenagon yang pertama kali melihat Isander murung langsung bertanya dengan nada yang bercanda, "Hei, mengapa kamu murung seperti itu? Apakah ada monster yang memukulmu sampai menangis?"


"Tidak. Aku baru bertemu dengan seseorang," jawab Isander sambil berjalan ke arah singgasana.

__ADS_1


"Seseorang? Bukannya kamu bahagia telah bertemu seseorang? Apakah itu musuh?"


"Entah, aku bingung."


Isander mencengkeram dan mengacak-acak rambutnya, dia terlihat seperti orang yang tengah depresi.


Melihat Isander yang seperti ini membuat Cenagon cemas. Sekarang dia tidak lagi bercanda dan mulai melontarkan pertanyaan serius.


"Apakah orang itu mengecewakanmu sampai membuat kamu begini?"


"Ceritakan apa yang terjadi hari ini padaku, aku usahakan membantumu menjadi lebih baik."


Bersandar di singgasana, Isander menatap Cenagon di depannya dan mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya hari ini.


Sepanjang Isander bercerita, Cenagon hanya diam dan merespons dengan singkat. Makhluk ini mencoba mengerti cerita tentang peristiwa yang terjadi pada Isander.


"Menurutku, kamu tidak harus seperti itu. Bukankah dia sudah meminta maaf? Aku yakin dia memang ingin meminta maaf padamu."


"Mengapa dia tidak meminta maaf dari sebelum-sebelumnya? Dia sudah tahu di mana aku tinggal, malah yang dilakukannya hanya memantau diriku dari jauh dan sembunyi-sembunyi."


Hal ini membuat Cenagon bingung. Dia menatap Isander dan mencoba mencari kalimat yang dapat mengubah Isander menjadi lebih baik dalam merespons kejadian ini.


"Mungkin saja dia tidak ingin kamu melihatnya saat itu dan menunggu waktu yang tepat, tetapi dia baru tahu bahwa tempat kamu tinggal telah diserang dan kamu menghilang. Dan beberapa waktu yang lalu dia mencari kamu, dan sekarang kebetulan bertemu denganmu," kata Cenagon setelah berpikir tentang kejadian yang bisa saja hal itu terjadi pada Aqila.


Kalimat Cenagon masuk akal dan Isander terdiam untuk memikirkan kemungkinannya.


Bisa jadi Aqila ingin meminta maaf saat itu, tetapi didahului oleh monster yang menyerang pemukimannya sehingga itu tertunda, dan baru bertemu dengannya lagi sekarang.


Namun, Isander tidak yakin dengan hal ini.


Terlepas dari itu, Isander akan mencoba memaafkannya, sesuai dengan pilihannya dan Cenagon.


Dari lubuk hati yang paling dalam, Isander tidak mau orang terdekatnya mati, termasuk Aqila.


Isander menghibur dirinya sendiri terlepas dari memikirkan tentang Aqila dengan cara melatih kontrol kemampuannya di dalam ruang Cenagon. Dia tidak bisa bermeditasi untuk melatih kemampuan kayu dan lainnya yang mengharuskan dia bermeditasi.


Swoosh!


Gelombang energi hitam dengan busur listrik ungu melesat dan menabrak sesuatu berupa dinding gelap.


Kerusakan-kerusakan yang dihasilkan oleh gelombang energi dari Dark Spear sangat dalam dan hebat.


Dinding yang terbuat dari kekuatan energi murni Cenagon sedikit terpotong dengan dalam lebih dari 5 sentimeter.


Menurut Cenagon kerusakan ini cukup untuk membunuh banyak monster di luar sana, tetapi dia tidak memberi tahu tingkat apa monster yang dapat dibunuh oleh Dark Spear ini.


Selain Dark Spear, Isander mengeluarkan kemampuannya yang mampu membuat bola yang berisikan badai yang terkompresi menjadi badai bentuk kecil.


Namun, kerusakannya tidak sebagus Dark Spear, itu hanya membuat lubang kecil sedalam kurang dari 5 sentimeter.


Isander tak menyangka Dark Spear ini paling kuat, bahkan jika itu dibandingkan dengan Ball of Storm.


Akan tetapi, Cenagon berkata bahwa Ball of Storm ini punya efektivitas yang lebih bagus jika membunuh musuh dalam jumlah yang banyak. Listrik kuningnya berguna untuk melumpuhkan atau membunuh monster di sekitar ledakan.


Sementara itu, listrik ungu yang menyelimuti energi berwarna hitam Dark Spear lebih menyerang ke 1 target.


Pernyataan Cenagon memang benar, busur listrik ungu Dark Spear tidak terlalu menyebar ke musuh lain, dia lebih menyerang ke target utama sampai mati, tetapi terkadang ada kasus busur listrik ungu menghancurkan musuh lainnya.


Dipikir lagi, busur listrik ungu ini lebih kuat dari listrik yang ada pada Ball of Storm. Apalagi ketika target utama mati, listrik ungu akan menyerang musuh lain yang dekat dengan target utama.


Entah itu Ball of Storm atau Dark Spear, Isander menggunakan keduanya di waktu kapan saja, bagaimana dia ingin memakainya saja.


Isander malah memilih untuk memakai kemampuan lain, seperti Finger of Flame, Foot and Hand of Earth, dan Wood Control.


Kemampuan yang dia gunakan tergantung keinginannya saja, tidak begitu khusus salah satu kemampuan harus digunakan untuk di medan apa.


Berlatih di ruang tempat tinggal Cenagon, beban pikirannya dan hatinya yang berat terasa lebih baik dari sebelumnya.


Dia cukup terhibur dengan latihan ini, pikiran tentang Aqila tidak lagi mendominasi kepalanya.


Sebelum keluar dari ruangan, Cenagon berkata dengan suara yang dalam, "Ingat, Isander. Kamu memiliki seorang anak yang harus kamu jaga, jangan lengah dan jangan meremehkan lawan. Sesungguhnya, kamu tidak tahu betapa kuatnya lawan itu. Jadi, kamu harus serius dalam pertarungan."


"Baik, aku mengerti. Terima kasih, Cenagon." Isander mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Oke, aku menunggu kedatangan kamu nanti malam. Sampai jumpa."


"Sampai jumpa ...."


Sosok Isander berangsur-angsur memudar bak asap yang tertiup angin, dan keberadaan Isander lenyap sepenuhnya dari ruangan ini.


Melihat Isander yang pergi, Cenagon terdiam sembari melihat posisi di mana Isander berdiri sebelum benar-benar menghilang.


"Aku merasa tubuh pria ini mempunyai sesuatu yang lebih kuat dariku. Makin lama aku di sini, makin terasa energi terkuras dari yang seharusnya aku beri, seakan tubuh pria ini menyerap energiku tanpa izin," gumam Cenagon dengan ekspresi wajahnya yang tidak terlihat.


Seluruh tubuh Cenagon terbuat dari sesuatu energi yang gelap sehingga wujudnya tidak jelas terlihat oleh mata.


Cenagon merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuh Isander. Sayangnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia juga tidak menolak dan membiarkan sesuatu tersebut melahap kekuatannya sedikit demi sedikit.


Dia pikir itu merupakan hal yang baik bagi Isander. Untuk ahli waris kekuatannya, dia tidak masalah dengan keanehan ini.


"Reza, kapan kita akan sampai?" tanya Isander dengan wajah yang datar.


Reza yang mendengar ini segera menjawab sesuai dengan perkiraannya, "Hari ini atau besok kita akan sampai."


"Oke, mari kita pergi!"


Isander berdiri sambil menggendong Meisya dan berjalan ke pintu rumah.


Anggota kelompoknya yang di belakang mengikuti dan ikut keluar rumah dengan tertib.


Wilayah perkampungan ini tidak terlalu luas, setelah bangunan rumah hancur terakhir mereka lewati pepohonan tinggi sudah bisa dilihat dari kejauhan.


Mereka kembali lagi ke hutan untuk mencapai tujuan mereka menuju Kota Komodo.


Tentu saja, arah yang mereka jadikan patokan masih tetap sama, yaitu arah timur.


Awal perjalanan, mereka sudah menemukan banyak tanaman merambat yang bergerak cepat melebihi kecepatan lari Agter Senior.


Tanaman merambat tersebut makin banyak dan mereka tidak lagi datang secara satu per satu, melainkan bersamaan dalam jumlah tak tidak sedikit bagai kumpulan pasukan menyerbu pasukan lawan.


Setiap tanaman yang lewat dekat mereka, Isander dan anggota kelompoknya menghancurkan mereka.


Mereka melakukan ini karena mereka mempunyai firasat yang sama, tanaman ini tampaknya dikendalikan oleh monster. Agter tidak mungkin untuk melakukan hal yang luar biasa ini.


Tidak lama mereka keluar dari area pemukiman tempat mereka singgah, mereka semua mendengar suara keras yang membuat telinga mereka sakit.


Groaaahhh!


Semua daun di pepohonan yang ada di sekitar mereka menjadi miring ke belakang, dikarenakan angin yang berhembus kencang dari arah depan mereka.


Reren dengan kedua perisainya berjalan ke depan barisan menjaga anggota kelompok dari angin yang kuat ini.


Mereka tidak tahu bahwa Isander telah mengaktifkan Wind Barrier dan menyelimuti mereka semua.


Setelah suara nyaring dan angin yang berhembus kencang itu muncul, getaran dirasakan oleh Isander dan lainnya membuat mereka menundukkan tubuhnya untuk menjaga keseimbangan tubuh.


Getaran itu tidak berlangsung lama dan tiba-tiba menghilang.


Merasakan ini, Isander meminta anggotanya untuk menjauh dari hutan, dan pergi ke pemukiman tempat mereka bermalam.


Jarak mereka dengan pemukiman tidak begitu jauh, mereka masih sempat untuk pergi.


"Cepat pergi, aku merasakan bahaya di depan kita!" seru Isander kepada mereka semua.


Mereka tidak langsung bergerak dan terdiam. Belum sempat mereka berpikir, getaran pada tanah muncul kembali membuat mereka tersadar.


"Pergi! Aku akan menemui kalian di pemukiman di belakang!"


Setelah mengatakan itu, Isander melompat sendiri di atas pohon dan bergerak melompat dari pohon ke pohon dengan sangat cepat.


Reza langsung memimpin semua anggota untuk kembali lagi ke pemukiman.


Pada saat ini, tepat di jarak 2 kilometer dari tempat Isander dan kelompoknya berpisah, sesosok makhluk hidup raksasa berdiri dengan tegak, mirip dengan rusa yang punya tanduk besar, seluruh tubuhnya diselimuti oleh tanaman yang saling menyatu satu sama lain.


Raksasa ini terlihat sedang marah, dia menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seolah sedang menyerang sesuatu.


"Rasakan ini!"

__ADS_1


Sesosok manusia sedang berdiri di leher monster ini, dia menebas tanaman yang ada di leher raksasa menggunakan senjata tajamnya.


__ADS_2