
"Apa itu?!" gumam Isander dengan pelan, dia sangat terkejut dengan barusan yang dia lihat.
Sosok hitam besar bagai gedung tinggi ratusan meter ini memiliki tekanan yang luar biasa hebat, aura keberadaannya sangat-sangat kuat dan besar sebanding dengan ukurannya.
Seakan sistem mendengar isi pikiran Isander yang berisi penuh oleh pertanyaan siapa sosok hitam besar di dalam benaknya, sistem muncul dengan suara elektronik yang kamu dan dingin.
[Ding! Anda telah bertemu dengan wujud asli Beaster Badge milik Anda sendiri. Beaster Badge yang tuan rumah peroleh bukan yang biasa, melainkan istimewa karena memiliki kesadarannya sendiri.]
[Anda sangat beruntung karena telah mendapatkan kemampuan tersebut. Menaklukan dunia bukan menjadi sebuah mimpi apabila Anda mendapatkan seluruh kemampuan wujud Beaster Badge Anda sendiri.]
Glup!
Mendengar pemberitahuan sistem membuat Isander tanpa sadar menelan ludahnya. Informasi ini sangat mengejutkan untuknya.
Ternyata dia telah mendapatkan kemampuan yang kuat, dia telah beruntung.
Pada saat ini, Isander tidak percaya dengan apa yang telah terjadi kepadanya.
"Baryon Cenagon adalah makhluk yang kuat? Apakah memang sekuat itu?" Isander bertanya-tanya setelah menenangkan psikologisnya.
[Sistem tidak tahu lebih lanjut dengan Beaster Badge yang Anda dapatkan. Informasi pentingnya Beaster Badge tuan rumah merupakan sosok salah satu dari makhluk tertinggi yang memiliki kekuatan yang teramat dahsyat.]
[Berbahagialah tuan rumah karena telah mendapatkan kemampuan yang sangat hebat
[Catatan: Beaster Badge tidak memiliki kecepatan leveling yang cepat, Anda harus bersabar.]
[Sistem mungkin dapat membantu Anda meningkatkan kemampuan Beaster Badge. Jika sistem bisa.]
"Um, baiklah. Terima kasih, Sistem."
Isander tersenyum senang dengan pengingat yang ditampilkan oleh sistem.
Sistemnya bersedia membantu meski hanya sebisanya saja, dan hal itu adalah berita yang bagus.
Mengetahui sosok hitam besar yang ada di dalam tubuhnya, Isander makin bahagia dan senang saat ini.
Dia sudah tahu tentang kemampuan kuat pasti memiliki kesulitan yang lebih berat ketimbang kemampuan yang lemah.
Maka dari itu, Isander selalu memprioritaskan kemampuan kuat untuk digunakan dan dilatih.
Jika sering digunakan, kemampuan akan naik level tergantung berapa seringnya kita menggunakan kemampuannya.
Cara alternatifnya adalah dengan bermeditasi, walaupun tidak terlalu besar hasilnya dibanding bertarung dan menggunakan kemampuannya secara langsung.
Setidaknya, itu membantunya dalam meningkatkan kemampuan Beaster Badge.
Memikirkan hal ini, dia menjadi tidak sabar untuk mencoba kemampuan Beaster Badge.
Melihat semuanya sudah tidur dan Reza pun fokus melatih kemampuannya dengan cara meditasi.
Isander berpikir untuk mencoba kemampuannya di luar dekat tempat mereka istirahat ini.
Bangkit dari postur duduk, Isander berjalan keluar dari bangunan istirahat tanpa menimbulkan suara yang dapat menggangu mereka semua tidur.
Baru saja dia keluar dari tempat peristirahatan, tidak jauh darinya, Isander melihat beberapa tubuh monster yang sedang berkeliaran di dalam area reruntuhan kompleks perumahan.
Kurva terbentuk di mulutnya, tanpa diundang bahan percobaan pun datang, dia tidak perlu lagi mencari target untuk pengetesan kemampuannya.
Whoosh!
Sosok Isander berlari cepat meninggalkan tempat istirahat kelompoknya.
Pada saat ini, di luar area perumahan, terlihat sekelompok orang sedang berkumpul untuk melakukan sesuatu.
Kelompok ini adalah kelompok manusia yang tampak seperti seorang Agter karena memiliki perlengkapan yang cukup banyak, termasuk membawa tas.
Kelompok ini berjumlah 4 orang.
Orang-orang tersebut memiliki penampilan yang profesional dan juga unik.
"Kei, kabar seseorang yang berkoalisi dengan monster memang benar adanya?" tanya seorang pria berambut pirang kekuningan, terlihat tampan.
Dia melirik seorang pemuda berambut hitam berkacamata bulat, seperti seorang pemuda kutu buku. Penampilannya sama tampannya dengan pemuda yang bertanya. Nama pemuda tersebut bernama Kei.
Kei menganggukkan kepalanya dengan santai, dan menjawab, "Kata Wanita Dingin itu iya, Tara. Memang ada seseorang yang berkerja sama dengan monster untuk tujuan yang diketahui. Dari kejadian tersebut, seseorang itu berhasil menghilangkan banyak nyawa di suatu pemukiman."
Nama pemuda yang bertanya adalah Tara.
Mendengar jawaban Kei, Tara memegang dagunya sambil menendang batu yang ada di depan kakinya.
"Jadi, kamu ditugaskan untuk memeriksa saja di sana?" celetuk seorang pria yang bertubuh besar berotot dengan baju yang ketat.
Melirik pria besar ini, Kei berkata dengan suara yang tenang, "Ya, kita juga harus memastikan apakah ada ancaman monster yang aneh atau tidak di sana. Inti tugas ini adalah kita harus mengamankan daerah tersebut sampai benar-benar aman."
"Sangat merepotkan." Tara duduk di atas reruntuhan dengan malas. "Namun, aku yakin, dengan kekuatanku tugas ini selesai sangat cepat."
Mendengar ini, ketiga anggota kelompok ini memutar matanya, malas menanggapi kesombongan Tara yang mulai kambuh.
__ADS_1
"Mengapa kalian berwajah seperti itu?" Tara turun dari bongkahan tembok dan menatap mereka bertiga dengan wajah yang sangat tidak senang.
Kei yang malas melihat kesombongan Tara, merebahkan tubuhnya di atas bongkahan tembok yang jatuh dengan rata, cocok untuk dijadikan alas tidur.
Pria besar dan seorang pria yang memakai jaket yang kebesaran sambil membawa tongkat sihir berwarna merah berdiri di depan pria tampan ini dengan wajah yang datar.
"Sudah lama aku tidak bertarung, tampaknya kalian berdiri ingin menjadi karung tinjuku." Tara emosi sekarang, dia merasa kedua anggotanya menantangnya.
Kedua pria tersebut tidak bergerak, dia memandang Tara dengan wajah yang tanpa ekspresi.
Makin lama Tara melihat mereka emosinya makin melonjak naik. Pada akhirnya, emosinya tak berhasil ditahan.
"Bajingan!"
Sebuah tinju dengan cepat melayang menuju dua orang tersebut.
Di detik berikutnya, kedua tinju itu mengenai tubuh pria besar semuanya karena sengaja Tara belokkan untuk memukul pria besar ini.
Boom!
Suara tabrakan yang tidak terdengar begitu keras tercipta. Debu reruntuhan berhamburan ke udara dan membuat pemandangan di tempat kelompok tersebut singgah menjadi tertutup.
Blarr!
Api muncul di tangan Kei, kemudian dia melambaikan tangannya yang berapi ke debu di udara.
Dalam sekejap debu tersebut menghilang, menampilkan sosok pria besar terpental jauh beberapa meter dari tempat awal dia berdiri.
Tara menepuk-nepuk tangannya, membersihkan debu yang menempel di tangannya, kemudian dia berkata, "Makin tangguh juga tubuhmu, Sadam. Dari awal kamu harusnya menjadi samsak spesial milikku dibanding anggota Garuda Comity."
"Power up!" Seorang pria yang memegang tongkat tersebut tiba-tiba mengaktifkan kemampuannya.
Sinar merah muncul di tongkat sihirnya berwarna merah dan tubuh besar Sadam diselimuti oleh cahaya merah tersebut.
"Percuma saja, Hendra. Upgrader Powermu tidak berefek banyak pada Sadam." Tara menilik pria memegang tersebut sambil tersenyum jahat. "Kamu tidak percaya? Baiklah, aku akan coba."
Whoosh!
Tubuh Tara menghilang di kejauhan dan secara mendadak muncul di depan Sadam sembari menerbangkan tinju tangan kanannya ke dada Sadam.
Sadam mengetahui ini, dan kemudian sebuah perubahan terjadi pada tubuhnya dengan cepat.
Dadanya tiba-tiba membengkak menjadi dada sesosok makhluk berbulu, tampak seperti tubuh Gorila.
Bang!
Suara tabrakan keras muncul diiringi dengan asap debu yang terbang. Untuk kedua kalinya suara yang keras datang dari tempat mereka beristirahat.
Dia bangun ke posisi duduk dan hendak melihat mereka bertiga yang berseteru.
Namun, pandangan matanya teralihkan oleh sebuah cahaya ungu lilac yang ada di kejauhan.
Cahaya itu berkelap kelip seolah dimainkan dan diciptakan oleh seseorang.
Dengan rasa ingin tahu yang makin banyak, dan malas mengurusi teman-teman satu kelompoknya, Kei berlari menuju ke arah sumber cahaya ungu Lilac lumayan jauh di depannya.
Letak mereka ada di belakang area kompleks perumahan yang Isander dan kelompoknya tempati.
Duar!
Pertikaian masih berlanjut meski Kei sudah menghilang di antara, mereka bertiga.
Sadam yang awalnya seorang pria dengan tubuh besar, kini berubah menjadi seekor makhluk gorila raksasa dengan kedua tangannya terdapat lapisan besi yang keras.
Setelah diberkahi oleh kekuatan Agta yang meningkatkan kekuatan seseorang dua kali lipat, Sadam mampu bersaing dengan Tara.
Keduanya beradu tinju dengan hebat sampai menimbulkan polusi suara yang sangat mengganggu.
Di tengah pertarungan berlangsung yang hendak mencapai sesi klimaksnya, Tara dan Sadam tersadar bahwa Kei sudah tidak ada di antara mereka.
Sosok Kei yang mereka ingat sedang tidur di salah satu balok reruntuhan telah menghilang.
Mereka bertiga sama-sama melihat sesosok orang sedang berlari menjauh dari mereka. Orang itu diduga Kei.
Setelah mereka lihat lebih lanjut, arah Kei berlari adalah ke tempat di mana cahaya berwarna lilac muncul.
"Ada apa di sana? Apakah ada yang menarik selain wajahku yang tampan?" tanya Tara kepada Sadam dengan wajah yang narsis.
Kemarahannya menghilang begitu saja setelah adegan Kei lenyap di sisi mereka semua.
Sadam mengubah tubuhnya menjadi manusia kembali, dan dia mengangkat bahunya, menjawab dengan suara yang berat, "Entah, mungkin di sana ada makanan yang menyala."
"Daripada menduga-duga, lebih baik kita pergi saja ke sana," saran Hendra yang cerdas.
"Dikarenakan ketampananku menuntunku untuk mengalah, maka ya sudahlah, ayo kita ke sana!"
Tara meninggalkan mereka berdua di belakang, dia dengan lincah berlari di antara reruntuhan rumah dan bangunan.
__ADS_1
Melihat ini, Sadam langsung berubah menjadi gorila kembali dan berlari sambil membawa Hendra di punggungnya.
Bam! Bam! Bam!
Suara langkah kaki Sadam cukup berisik didengar orang, bahkan Hendra pun kebisingan, tetapi dia sudah terbiasa.
Mereka berempat menuju ke tempat sumber cahaya lilac menyala terang.
Setibanya mereka di tempat itu, mereka berempat berdiri di balik reruntuhan bangunan besar secara bersamaan. Bersembunyi di antara reruntuhan untuk melihat apa yang membuat sinar terang muncul sampai bisa dilihat dari jauh.
Kei, Tara, dan yang lain berjongkok di balik tembok besar yang masih berdiri kokoh.
Mereka berempat mencoba untuk mengintip sosok yang menyala di depannya. Cahaya warna lilac ini berasal dari sesuatu yang ada di depan mereka semua.
Begitu mereka mengintip, mandat mereka semua menyusut dengan ekspresi yang tak percaya.
Di depan mereka semua terdapat makhluk humanoid memakai baju zirah berwarna hitam dengan beberapa bagian menyala berwarna lilac.
Baju zirah ini tampak keren karena bukan bergaya futuristik dan indah, melainkan bentuknya yang seram dan garang.
Pada bagian bahu zirah terdapat kepala dari makhluk yang menyeramkan mirip naga. Seluruh tubuhnya dilapisi oleh zirah yang tidak tahu terbuat dari apa materialnya, bagian siku dan lutut terdapat sesuatu yang menjulang seperti duri.
Banyak sekali aksen yang terlihat keren dengan segala detail yang menakjubkan, ditambah lagi dengan zirah bagian kepala yang mirip dengan makhluk naga yang bertanduk dua yang menjulang ke belakang.
Di tangan makhluk ini terdapat pedang panjang yang tampak tidak biasa lantaran pedang besar dan panjang ini dilapisi sesuatu energi berwarna lilac, sama dengan energi lilac yang ada bagian tubuh baju zirah.
Makhluk ini mengayunkan pedang besar dengan mudah. Setiap kali pedang itu diayunkan, gelombang energi berwarna ungu lilac meluncur cepat membidik monster Goatager.
Goatager yang terkena energi ini dalam sekejap terbelah, kemudian menghilang menjadi cairan darah berwarna merah kehitaman.
Melihat kerusakan yang ditimbulkan dari pedang yang dipegang makhluk tersebut.
Mereka berempat menelan ludahnya, kepala mereka terasa kesemutan, bahkan Tara yang sombong dan banyak tingkah langsung terdiam tidak bisa berkata-kata.
Kei menahan rasa takutnya, dan kemudian berbisik kepada mereka bertiga, "Kurasa kita harus pergi dari sini. Aku pergi dahulu!"
Setelah mengatakan itu, Kei menggunakan kekuatan Agtanya yang berupa senjata golok berapi merah untuk menambahkan kecepatannya dia berlari.
Seketika Tara, Sadam, dan Hendra ditinggalkan oleh Kei begitu saja.
Tepat ketika Sadam dan Hendra ingin kabur, sosok Tara melintas di depan mereka berdua, dia berlari menggunakan kekuatan Agtanya yang terdapat unsur angin sehingga kecepatannya berlari lebih cepat dibandingkan Kei.
Sadam dan Hendra memandang satu sama lain, mereka saling menatap sejenak lalu menganggukkan kepalanya satu sama lain.
Berikutnya, mereka kabur dari tempat ini dengan cara sembunyi-sembunyi.
Slash!
Gelombang energi berwarna lilac terbang vertikal memotong tiga Goatager yang berlari berbaris menuju ke sosok makhluk humanoid ini.
Ketiga Monster Goatager tersebut adalah monster terakhir yang dibunuh oleh makhluk tersebut.
"Sudah?" Makhluk humanoid tersebut melepaskan helm zirahnya yang secara otomatis menghilang dan menyatu dengan baju zirah di punggung belakang.
Wajah tampan ditampilkan setelah helm yang menutupi kepala menghilang.
Makhluk ini adalah Isander yang sedang mengaktifkan kemampuan Beaster Badge.
Baju zirah yang digunakannya adalah Cenagon Armor dan pedangnya yang besar dengan panjang lebih dari 2 meter juga berasal dari Beaster Badge, mempunyai nama Havoc Zweihander.
"Sangat keren dan kuat!" Isander menatap pedang dan armor yang dia kenakan dengan pandangan mata yang senang.
Setelah pengalaman tadi menghancurkan banyak monster Goatager, Isander mendapatkan pengalaman yang luar biasa sekaligus kesimpulan.
Armor ini memiliki ketahanan yang cukup kuat untuk menahan serangan monster level B, contohnya Goatager barusan.
Dia sama sekali tidak merasakan sakit setelah secara terbuka terkena serangan banyak Goatager.
Pedangnya pun punya energi sendiri. Namun, Isander berspekulasi energi yang ada pada pedang maupun armor masihlah energi yang sama. Untuk sumbernya, Isander tidak tahu dari mana.
Mungkin itu berasal dari tubuhnya, lebih tepatnya dari sosok makhluk yang ada di dalam tubuhnya.
Selama memakai armor dan pedang ini, Isander merasakan kelelahan setelah sekian lamanya dia tidak merasakan kelelahan.
Kelelahan yang dirasakan serupa dengan orang biasa yang berlari sprint 100 meter.
Sedikit kelelahan, tetapi itu bukan suatu yang mengganggunya ketika bertempur nanti.
Dia juga memiliki stamina yang cepat terisi lagi, efek dari Magnetar Body.
"Aku merasakan ada orang yang mengawasi aku, ke mana mereka sekarang?" Isander menonaktifkan kemampuan Beaster Badge, sosoknya berubah ke pakaian yang biasa dipakai.
Pedangnya pun lenyap seperti abu yang terbang.
Mata Isander bergerak ke arah reruntuhan di mana ia merasakan ada beberapa orang yang mengawasinya di sana.
Sayangnya, dia tidak menemukan siapa-siapa.
__ADS_1
"Kurasa mereka telah pergi barusan. Ya, aku juga harus kembali sekarang."
Setelah kata-kata itu keluar, sosok Isander menghilang di tempat dirinya berdiri, menyisakan reruntuhan perumahan yang makin rusak dan digenangi oleh darah monster-monster.