
Kedua pedang dengan bahan material yang berbeda itu masuk ke dalam mulut Whale Gozer dan menembus hingga menghancurkan isian yang ada di dalamnya.
Duar!
Sebuah ledakan yang teramat besar terjadi akibat benturan dalam tubuh monster dan kedua pedang Isander.
Cahaya putih uti mengembang bagai bunga melati yang mekar, kemudian ledakan cahaya kuning terjadi di dalam lingkaran ledakan cahaya putih.
Diakhiri dengan cahaya kilauan berwarna-warni bagai pelangi.
Dentuman yang disertai dengan getaran di tanah terasa hingga di tempat Giya dan yang lainnya menunggu.
Getaran tersebut membuat pohon yang mereka injak bergoyang-goyang sedikit keras.
Dampak dari getaran tidak sampai membuat pohon hancur dan ambruk. Hanya sedikit bergoyang dengan sentakan yang agak keras.
Gerakan besar ini membuat Meisya dan yang lainnya menjadi khawatir dan gelisah. Getaran itu menjadi tanda bahwa peperangan Isander melawan monster raksasa berukuran sebuah bukti kecil sangat dahsyat.
"Kak, akankah ayah baik-baik saja? Meisya takut." Mata bulat Meisya yang menggemaskan itu terpancar kekhawatiran yang tinggi dan menatap Giya yang tengah memeluknya.
Tangan Giya yang lembut sudah terbiasa untuk menenangkan Meisya. Senyum lembut yang damai timbul di wajahnya, Giya berkata, "Ayah tidak apa-apa, dia kuat. Ayah sudah berjanji akan kembali, bukan? Tenang saja."
Mendengar ucapan Giya, hati Meisya kembali tenang dengan wajah yang tidak begitu panik.
Semua anggota Isander yang ada di rumah pohon memandang ke arah di mana Isander dan monster berada.
Pada saat yang sama, sebuah tembok tinggi berukuran 8 meter dengan lebar 3 meter tercipta di depan Aqila dan Goron.
Dinding yang terbuat dari tanah yang dilapisi dengan es ini hampir hancur seluruhnya akibat menahan dampak ledakan yang menimbulkan gelombang kejut besar, bergerak ampai ke tempat di mana mereka berdiri.
Glatash dan Magtash membantu mereka membuat penahan dinding ini. Glatash dengan kekuatan esnya memperkuat lapisan es, dan Magtash memperkuat dinding tanah dengan menempelkan magma yang di mana akan mengeras saat terkena es mencair.
"Sangat luar biasa! Ledakan berkekuatan besar!" Goron tampak merah, wajahnya kegirangan layaknya seorang anak kecil dibelikan mainan kesukaannya.
Aqila berdiri belakang dinding dengan wajah yang sedikit pucat, dampak ledakan ini sangat hebat, membuatnya takut. "Sangat bahaya jika tidak ada tembok yang menahan ledakan, kita bisa-bisa terpental jauh dan terluka."
"Benar. Syukur kita bisa membuat dinding penahan tepat waktu," kata Goron dengan mengangguk.
Meskipun ledakan itu keren bagi Goron, fakta bahwa gelombang kejut yang dihasilkan dari ledakan memang berbahaya. Tidak sulit untuk membuat mereka terhempas ratusan meter dengan meninggalkan kondisi terluka berat.
Setelah itu, mereka berdua menghancurkan dinding perisai untuk menghilangkan jejak keberadaan dan menyaksikan sebuah pemandangan hebat di depan.
Aqila bergumam dengan suara terbata-bata, "Ma–mati?"
"Aku tidak percaya," kata Goron yang memandangi panorama yang sekarang ia lihat.
Jauh di depan mereka, sebuah mayat monster besar dengan panjang ratusan meter sedang tergeletak di dekat bukit asli dengan kondisi yang terkoyak. Daging dan darah robek menjadi daging-daging kecil yang berserakan, bagian tubuh depan monster tidak lagi terbentuk utuh, mereka bisa menemukan dua pedang raksasa menancap kuat ke tanah dan menempelkan monster yang mati ini di permukaan tanah.
Whale Gozer dinyatakan mati.
Tanda-tanda kehidupan pada tubuhnya tak bisa dilihat, mata merahnya telah menghilang lenyap, hanya ada kelopak mata kosong yang gelap tak hidup.
Mulut dan rahang besar yang dibanggakannya sudah hancur terdistorsi, sulit untuk dikenali lagi.
Asap mengepul di beberapa bagian mayat besar ini, tanda bahwa monster mati belum lama.
Ketika keduanya memindahkan pandangannya sedikit ke atas, mereka bisa menemukan sesosok makhluk bersayap terbang melayang di atas langit menghadap monster raksasa di bawahnya.
__ADS_1
"Hanya ini saja?"
Isander memandang Monster Whale Gozer dengan tatapan yang rumit. Hanya dengan satu kali serangan monster paling kuat dan teratas telah dibunuh olehnya dengan satu kali serangan yang terlontar.
Jika seperti ini, artinya dia sudah memiliki kekuatan yang cukup mendominasi dunia dan membantu umat manusia berjaya.
Tidak ada monster S satu pun yang bisa mengalahkannya.
"Aku merasa kehilangan tujuan." Isander mengangkat kedua tangannya menatap dengan ekspresi bingung.
Sesuatu telah hilang darinya, tujuannya menjadi kuat telah tercapai, tetapi dia masih belum merasa puas.
Ia kira monster Whale Gozer akan memberinya pertempuran yang dapat membuatnya terluka. Nyatanya, Isander bahkan tidak perlu mengeluarkan kemampuan S pamungkasnya untuk mengalahkan monster ini.
Sekarang dia tahu, dirinya sudah sangat kuat.
Dengan rasa kecewa, Isander mengaktifkan kemampuan manipulasi tanah saat mendarat di bawah.
Menghancurkan dan mencabik-cabik tubuh besar monster ini dengan logam serta kristal yang tajam dalam bentuk gerinda raksasa.
Merasa efesiensi yang kurang, kemampuan Ball of Storm Isander keluarkan dengan ukuran 5 meter.
Duar!
Ledakan terjadi lagi, tetapi dalam skala dan ruang yang kecil dibanding ledakan yang pertama.
Tubuh monster yang masih terbentuk benar-benar hancur setelah disentuh oleh bola besar berkekuatan angin dan petir.
Setelah semuanya berceceran, kemampuan tanah menutupi semua daging dan darah di dalamnya sehingga semuanya akan terserap ke bawah.
"Ayo kita ke rumah!"
Isander meminta keduanya untuk pulang ke rumah.
Goron dan Aqila mengangguk, berjalan perlahan mengikuti Isander yang memimpin jalan.
Pemandangan dua bukit telah menghilang, hanya ada satu bukit sungguhan yang masih berdiri kokoh di dekat hutan.
Di rumah pohon buatan Isander, semua tim telah berkumpul dengan wajah yang serius.
Meisya bermain bersama Helen dan Reren di kamar, tetapi kedua gadis remaja itu tetap mendengarkan apa yang orang-orang dewasa bicarakan.
Sebuah peta kertas dibentangkan di atas lantai kayu, semua tim Isander bisa melihat dengan jelas apa isi dari peta itu.
"Kita akan ke wilayah ini untuk membunuh monster S yang menghuni." Tunjuk Isander ke bagian peta yang ada di bagian selatan Pulau Jawa.
Semuanya melirik ke bagian peta yang ditunjuk Isander, dan mencoba mengetahui nama dari wilayah tersebut.
"Apa itu wilayah yang bernama Cilacap?" tanya Nina yang kenal dengan wilayah ditunjuk.
Mata anggota-anggota tim yang lain menyala dan mereka mengangguk bersamaan.
Isander tersenyum setelah Nina menyebutkan nama wilayahnya. Cilacap adalah nama dari wilayah yang ditandakan terdapat monster S yang berbahaya.
Mereka menjadi ingat dengan nama wilayahnya karena Nina.
Sepakat bahwa wilayah itu memang dinamakan Cilacap.
__ADS_1
"Benar, Cilacap dekat Kebumen. Kita hanya perlu pergi ke barat untuk bisa bertemu dengan monster S itu. Tidak tahu seperti apa monster yang akan kami temukan di sana," kata Isander dengan suara yang dalam. "Pada kesempatan ini, aku tidak akan bertarung sendiri, aku akan menyerahkan monster S pada kalian. Tentu saja, aku akan memantau demi keselamatan kalian semua. Apa kalian berani?"
Awalnya mereka ragu-ragu, tetapi mengingat pertarungan melawan monster S akan menambahkan pengalaman, mereka memilih untuk setuju dengan tawaran Isander.
Dengan begitu, sebelum pergi di siang hari, mereka makan siang terlebih dahulu di rumah pohon yang akan mereka tinggalkan pergi.
Perjalanan menuju wilayah sebelah memakan waktu yang lama kemungkinan akan sampai.
Tidak selalu berjalan, mereka akan berlari untuk menyingkat waktu yang ada.
Whoosh!
Beberapa siluet muncul di balik pepohonan, sosok bayangan-bayangan itu berlari di hutan terlihat begitu terorganisir.
Tim Isander Isander sedang berlari dengan kecepatan 40 kilometer per jam, tidak begitu cepat, tetapi cukup untuk bisa sampai di Cilacap lebih awal.
Isander tidak ikut berlari dengan mereka karena Meisya tengah tertidur di pelukannya, menggunakan sayapnya untuk terbang rendah tepat di atas anggota timnya.
Jadi, Isander tidak mendahului mereka.
Terbang lebih stabil dan nyaman bagi Meisya yang tertidur. Berlari menimbulkan hentakan dan getaran yang akan membuat Meisya tidak nyaman.
Isander bisa ke Cilacap dengan cepat, tak enak dan tidak adil jika seperti itu, lebih baik ikut bersama tim meski memakan waktu jauh lebih lama daripada dirinya terbang dalam kecepatan beberapa Mach menuju wilayah Cilacap.
Di malam hari, mereka semua tinggal di atas pohon yang terdapat rumah kayu.
Lokasi pemberhentian mereka sekarang sudah dekat wilayah Cilacap. Langit yang gelap mendahului mereka sehingga terpaksa mereka harus beristirahat dan membuat rumah bermalam.
Rumah kayu yang hampir sama ukurannya dengan rumah yang ada di Kebumen, ada perbedaan tata letak ruangan saja.
Di dalam perjalanan mereka tadi, monster-monster yang menghampiri mereka sebagian besar dari jenis monster B yaitu Eltager dan Beavager. Ada beberapa monster A dari jenis Beargarets.
Semua monster mudah untuk dibunuh tanpa harus Isander yang bergerak.
Anggota timnya sudah cukup untuk menyingkirkan monster-monster yang mengerikan itu.
Ada hal yang mereka sadari bersama, monster-monster di hutan makin lama makin sedikit, tidak seramai dahulu.
Namun, pemukiman yang mereka cari juga sangat-sangat sulit untuk ditemukan.
Sepanjang perjalanan menuju ke wilayah lain, Isander dan timnya tidak menemukan satu pun pemukiman.
Rasanya seperti tidak ada manusia yang tinggal di luar kota, semuanya berpindah di kota.
"Pemukiman apakah sangat jarang?" tanya Isander kepada Aqila.
Aqila diketahui kerap bepergian ke pemukiman yang lain.
Mendengar pertanyaan Isander, Aqila menjawab dengan jujur, "Di Jawa Barat masih ada beberapa pemukiman yang berdiri, tetapi aku masih belum menemukan pemukiman yang tersembunyi. Untuk Jawa Tengah, aku tidak tahu, harusnya masih ada yang bertahan."
"Tidak, aku dan tim aku beberapa hari yang lalu sudah memeriksa beberapa pemukiman yang hilang akibat hancur. Banyak yang sudah hancur karena penyerbuan serangan monster yang menargetkan kota. Beberapa pemukiman banyak yang hancur, tetapi sejauh yang aku tahu, pemukiman penduduk yang lain di sekitar Kota Komodo sudah musnah," terang Goron kepada semua orang.
Pupil mata mereka semua membulat, mereka terkejut mengetahui informasi ini.
Isander mengubah wajahnya, hatinya terasa sakit, seolah ada yang menusuknya berkali-kali.
"Mengapa kamu tidak bilang?" Isander menatap Goron dengan tatapan yang rumit.
__ADS_1