
Setelah pesta malam, mereka semua pergi ke rumah masing-masing dengan perasaan yang bahagia di wajahnya.
Isander dan Meisya juga pulang ke rumah barunya, mereka sebelum tidur melakukan pendekatan antara keduanya. Isander menceritakan tentang sebuah kisah klasik zaman dahulu, yaitu Putri Candirela yang kehilangan sepatu permennya.
Malam itu Isander dan Meisya bercanda ria sangat bahagia, sampai-sampai Meisya tertidur lelap di akhir cerita. Isander tersenyum menatap wajah imut Meisya, dan ia duduk di atas kasur sambil memejamkan matanya untuk memulai latihan.
Latihan yang Isander lakukan tak ada bedanya dengan sebelumnya, yakni merasakan elemen yang ia kuasai dan memfokuskan unsur yang bisa ia rasakan.
Dengan demikian, Isander secara perlahan mengendalikan sesuatu elemen tersebut sampai ia benar-benar terkontrol sepenuhnya dengan kendali yang sangat dalam.
Hasil latihan kemarin malam sangat bagus, ia bisa meretakkan tanah dengan kendali penuhnya dan mengontrol pepohonan yang ada dengan mudah.
Sangat berbeda perasaannya dibandingkan dengan sebelumnya, Isander bisa dengan mudah mengendalikan semua elemen yang ia punya, termasuk Ball of Storm yang ia punya.
Kemampuan Ball of Storm tidak sulit Isander keluarkan, tak harus mengalihkan perhatian penuhnya dan mengonsentrasikan kekuatan tersebut.
Latihan ini memang sangat berdampak banyak untuk kemajuan kemampuannya.
Akan tetapi, semua kemampuan masih berada di Level D, level terendah.
Ada sebuah spekulasi yang Isander punya, ia berpikir jika kemampuan ini ditingkatkan akan memiliki efek yang hebat dan di luar batas.
Untuk itu, Isander akan menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan yang wajib dilakukan setiap harinya. Upayanya untuk meningkatkan kemampuan yang ia punya. Mengingat kemampuannya yang termasuk kemampuan di kategori langka karena memiliki unsur alam yang murni.
Dalam satu malam ini, Isander melatih kemampuannya sampai fajar tiba di ufuk timur.
Merasakan tanaman yang memiliki kambium di jarak 10 meter dari Isander sebagai pusatnya mengalami reaksi aneh, Isander tahu bahwa pagi telah datang, ia juga merasakan hangat di wajahnya karena sinar matahari yang lolos dari lubang jendela.
Kelopak mata Isander terbuka dan pupil mata hitamnya bergerak ke arah samping di mana Meisya tertidur, ternyata gadis kecil tidur sambil memeluk tas Isander.
Wajah kecil gadis ini terlihat sangat lucu, tampak sedang bermimpi indah karena mulutnya membentuk lengkungan senyum yang manis.
Sebuah cerita yang ia berikan kepada Meisya memiliki dampak baik untuk mimpinya semalam.
Sebelum membangunkan Meisya, Isander menyediakan makanan sarapan untuk keduanya dari tas.
Pelan-pelan tangan Isander bergerak untuk memindahkan tubuh Meisya yang memeluk tasnya, kemudian ia mengeluarkan beberapa sarapan ringan berupa sereal dan sekotak susu, tak lupa beberapa buah-buahan segar.
Meisya sedang berada di masa pertumbuhan, butuh gizi serta nutrisi yang cukup untuk membantu pertumbuhannya dengan baik.
__ADS_1
Setelah memastikan bahwa tidak ada orang yang datang ke rumahnya, Isander meletakkan semua makanan di atas meja di ruang makan.
Isander takut dirinya akan dicurigai dan dijadikan incaran orang karena memiliki banyak makan. Bukan karena dia egois, tetapi ini demi anaknya, Isander tidak mau anaknya dilukai oleh orang lain atau terancam.
Sebagai orangnya yang tidak egois, Isander akan memberikan makanan ke orang yang mungkin ia anggap harus diberi, seperti temannya dan kepada orang lain karena desakan situasi tertentu.
Tidak perlu Isander bangunkan, anaknya terbangun sendiri. Meisya duduk di atas kasur sesaat, kemudian merangkak ke tubuh Isander yang duduk di tepi kasur.
“Ayah, aku lapar.“ Meisya menatap Isander sambil memegang perut kecilnya.
Kedua tangan Isander mengambil tubuh kecil Meisya dan kemudian menggendong dengan lembut.
“Ayah sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kita berdua.“ Isander tersenyum kepada Meisya dan berjalan ke ruang makan.
Tak lama kemudian, mata Meisya yang besar dan terlihat cantik melihat sebuah makanan warna-warni dengan kuah putih. Meisya tahu makanan ini, salah satu makanan yang dia sukai.
Dengan wajah yang tak sabaran, Meisya duduk di atas kursi kayu dan memegang sendok sembari menatap sarapan sereal susu di depannya.
Berikutnya, Meisya melahap makanan sereal ini dengan wajah yang penuh kenikmatan dan kelezatan yang terungkapkan.
Isander tersenyum senang melihat anaknya lahap menyantap sarapannya. Tandanya, anaknya tidak sulit makan. Berita yang sangat bagus jika anak menyukai makanan, mudah untuk diberikan asupan gizi dan obat.
Kurang dari setengah jam Meisya menyelesaikan makanannya, Isander sudah lebih dahulu menghabiskan makanannya tanpa sisa.
Isander memasukkan semua piring dan bekas makanan mereka berdua ke dalam tas.
Benda dan sampah tersebut secara otomatis menghilang dan lenyap.
Beberapa menit kemudian ketika keduanya duduk di kursi untuk istirahat setelah sarapan, suara ketukan berbunyi dari pintu masuk rumah.
Berdiri dari kursi makan, Isander membuka kunci kait pintu kayu dan menarik pintunya ke dalam.
Sosok Giya dan Nina terlihat sedang berdiri di depan pintu dan menatapnya dengan senyuman yang hangat.
“Selamat pagi, Isander.“
Keduanya mengucapkan selamat di pagi hari kepada Isander.
Selanjutnya, mereka berdua masuk ke dalam rumah Isander untuk melihat Meisya.
__ADS_1
Di sana, mereka mengobrol lebih dari 2 jam, kemudian mereka berempat makan bersama dalam rangka sarapan.
Meisya dan Isander belum sepenuhnya kenyang, sebab sereal yang mereka makan memiliki porsi yang sedikit atau bisa dibilang setengahnya.
Sengaja itu dilakukan karena mereka berdua berencana akan memakan makan berat setelah beberapa jam sarapan sereal.
Mereka berempat makan ayam yang dipanggang, serupa dengan makanan yang semalam, tetapi ini sudah disediakan oleh warga uang bertugas di bagian membuat makanan.
Seorang Agter bebas untuk mengambil makanan dengan catatan sesuai batasan yang sudah ditentukan, yaitu 5 ekor untuk seorang Agter.
Warga di sini mungkin hanya 1 ekor perorangan, tetapi karena digabung, itu seharusnya cukup. Isander dan lainnya tidak akan mengambil 5 ekor ayam, mungkin cukup 1 ekor saja karena mereka berpikir bisa untuk memburu ayam dan sapi.
Sementara itu, para warga sulit memburu hewan ternak karena kekuatan yang tak memadai dan mendukung.
Lebih baik Isander, Giya, dan Nina berikan makanan hasil buruan kepada warga pemukiman.
Setelah makan ayam panggang dengan rasa hanya sedikit garam dan terasa hambar, mereka berempat pergi untuk membantu para warga beraktivitas dan bertugas.
Giya dan Nina memantau para warga yang bekerja di bagian makanan, sedangkan Isander dan Meisya pergi ke warga yang sedang bersiap untuk pergi memburu hewan ternak.
Rencana, hari ini mereka akan membantu dua puluh orang ini memburu hewan lagi tanpa pergi ke reruntuhan, tetapi jika sempat, mereka akan pergi ke reruntuhan untuk memulung beberapa barang.
Pada saat ini, di semak belukar yang besar, beberapa orang sedang bersembunyi dari kumpulan sapi yang sedang makan dia area hutan yang penuh rerumputan.
Isander sambil menggendong Meisya mengambil sebuah batu yang berukuran telapak tangan.
Dengan gerakan yang hati-hati, Isander berdiri dan melemparkan batu di tangan kanannya dengan segenap kekuatannya yang ditahan.
Swooshh!
Suara angin yang berhembus berbunyi sehingga semak yang ada di dekat Isander bergoyang.
Sebelum sapi itu bereaksi, sebuah batu yang melesat dari tangan Isander menembus perut beberapa sapi yang berdiri sejajar.
Isander membunuh 6 ekor sapi dengan satu serangan dari satu buah batu sekepalan tangan.
Melihat pemandangan yang menakjubkan ini, semua orang menatap Isander yang berdiri dengan tatapan terkejut.
“???“
__ADS_1
"Apa yang terjadi?!"