
“Aku melihat kamu berdua baik dalam bekerja sama, aku pikir itu tidak memerlukan bantuan aku. Apalagi, monster-monster tidak begitu banyak yang menyerang. Kalau ada gerombolan lain, aku akan membantu kalian,” Isander berkata sambil memeluk Meisya yang sibuk memegang baju baru yang agak kotor karena bekas tertimbun debu dan tanah.
Beberapa barang yang ditemukan Isander juga di bawah di tangan kanannya, tangan kirinya digunakan untuk menggendong Meisya.
Setelah mendengar jawaban Isander, keduanya menerima alasan Isander tak membantu mereka. Mereka berdua menganggap ini adalah pujian, keduanya tersenyum.
“Nanti, kalau ada monster dan kami kewalahan, kamu harus siapa siaga, oke?“ Giya menatap Isander dengan wajah yang ceria.
“Oke. Kalian juga harus siap untuk menggantikan aku menggendong Meisya selagi aku meladeni para monster.“ Isander memandang mata mereka berdua yang berjalan di sebelah kanan tubuhnya.
“Dengan senang hati kami melakukannya.“
Keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya hampir di waktu yang sama.
Mereka sama sekali merasa keberatan dengan permintaan Isander.
Siapa yang tidak suka menggendong gadis kecil yang imut dan cantik? Bahkan orang yang sudah tua akan menggendong anak kecil. Anak kecil itu lucu dan mengobati kelelahan yang dirasakan.
Dalam perjalanan, mereka semua secara perlahan membagi beban bawaan supaya yang orang lain tidak berat saat bergerak dan berlari.
Barang yang ditemukan bersifat bersama, barang yang setiap individu temukan akan dibagi kepada semua orang sesuai dengan apa yang masing-masing dari mereka perlukan.
Sistem ini diterapkan agar tidak ada orang yang menderita tinggal di pemukiman, mereka sama-sama hidup dan menganggap semua orang di pemukiman adalah saudara.
Agak komunisme, tetapi tidak seutuhnya seperti itu. Barang yang memang dari awal sudah mereka miliki dan bukan hasil memungut atau mengumpulkan dari reruntuhan takkan di anggap hak milik bersama.
Namun, mereka memang disarankan untuk saling berbagi jika memiliki hasil buruan yang bagus atau pengambilan barang bekas di reruntuhan.
Pada intinya, mereka harus sama-sama saling memajukan. Setiap warga diharuskan membantu warga lainnya dan jangan sampai ada yang sengsara.
Pasalnya, adanya pemukiman ini karena ada tujuannya, yaitu memajukan diri sendiri secara bersama-sama.
Mereka tak memiliki kekuatan, dan satu-satunya jalan untuk bertahan hidup di dunia adalah bersatu dan saling membantu sama lain.
Beda ceritanya apabila mereka memiliki kekuatan, seperti seorang Agter. Mereka memiliki kemampuan dan kuasa untuk melakukan sesuatu dan menjaga apa yang bisa dimiliki. Di saat ada kesulitan pun masih bisa bertahan walau hanya sendiri karena adanya kekuatan.
__ADS_1
Masing-masing orang memegang bawaan. Beban semua orang yang dibawa cukup ringan. Seharusnya, berat beberapa 1—3 kilogram tidak terlalu berat saat berlari.
“Apakah kamu sudah memotong buntut mereka?“ Tiba-tiba Nina bertanya kepada Giya.
“Sudah, aku sudah simpan enam buntut monster yang kita bunuh tadi di dalam tas,” jawab Giya sambil menepuk tas yang ada di punggungnya.
Rasa ingin tahu muncul dalam diri Isander. Berikutnya, ia bertanya perihal ekor monster kepada mereka berdua, “Ekor monster digunakan untuk apa? Mengapa diambil dan disimpan?“
Suara Isander ketika bertanya sengaja dikecilkan agar orang tak mendengar.
“Sebagai bukti kami sudah membunuh monster. Kami akan mendapatkan sebuah hadiah berupa koin jika membunuh monster. Koin ini bisa digunakan untuk bertransaksi atau membeli barang yang kami inginkan selagi koin yang kita punya mencukupi. Koin ini berlaku untuk semua kota pelindung manusia yang ada di dunia ini,” Giya menjawab dengan sabar dan hati yang senang.
Mereka membagikan hasil pembunuhan monster, mereka berdua saling mendapatkan 3 buntut. Adanya 3 buntut monster ini, mereka bisa mendapatkan barang yang mereka butuhkan apabila ditabung.
“Lantas, mengapa kami tida memberi tahu aku tentang itu dari awal?“ Isander berkata dengan ekspresi yang terkejut di wajahnya.
Ia sudah membunuh banyak monster. Itu bisa menghasilkan banyak koin untuknya.
Giya mengangkat tangannya dan menggaruk pipinya yang sedikit kotor dan berdebu. “Aku lupa. Maafkan, aku. Aku akan menggantinya—”
Walaupun Isander berkata sudah mengikhlaskan koin-koin milik Isander menghilang, Giya masih merasa bersalah.
Di saat mereka semua ada di tengah jalur perjalanan yang ada di lokasi reruntuhan pemukiman yang dikelilingi pohon yang cukup tinggi, tiba-tiba Isander mendengar sebuah suara aneh di telinganya.
Awalnya, Isander tidak memedulikan suara ini, tetapi lambat-laun suara ibu menjadi lebih jelas dan memberikan suara aneh di gendang telinganya.
Makin jelas suara itu berbunyi dan terdengar oleh telinga Isander, perasaan buru kian menjadi-jadi, dan Isander memiliki dugaan bahwa suara ini berasal dari sesuatu yang sangat berbahaya.
Tap! Tap! Tap!
Suara ini terdengar seperti suara sesuatu yang melangkah di atas tanah, memiliki tempo langkah yang cepat, tampaknya tengah berlari.
Namun, sesuatu yang membuat Isander menjadi berwaspada adalah jumlah dari langkah sesuatu ini yang terdengar banyak.
Kedengarannya seperti orang-orang yang berkumpul bersama di lapangan dan berlari, suaranya mirip dengan itu.
__ADS_1
Langkah kaki ternyata langkah dari sebuah kelompok monster.
Isander telah mengetahui asal sumber suara karena panca indra Isander jauh lebih baik, berkali-kali lipat lebih baik dan efektif.
Suara langkah kaki makin dekat dan terdengar jelas, orang-orang juga mulai mendengar suara berderap sangat ramai.
Wajah semua orang menjadi sangat khawatir, mereka semua tahu langkah dari makhluk apa yang mereka dengar.
Berikutnya, di dalam pandangan orang-orang, sejumlah monster Catagtress berlari keluar dari arah tempat reruntuhan berada.
Monster-monster ini mengikuti mereka berjalan hingga sampai di tengah perjalanan.
Giya dan dan Nina yang berada di barisan depan segera berlari ke barisan belakang formasi.
Mereka berdua tidak lupa mengingatkan mereka untuk terus berjalan ke depan.
Mereka berdua siap untuk menghadapi sekelompok monster ini.
Jumlah kelompok monster lebih banyak dari jumlah monster yang mereka lawan di tempat reruntuhan tadi. Lebih dari dua kali lipat banyaknya monster yang berhasil mereka berdua bunuh di reruntuhan, tepatnya ada 16 monster Catagtress yang datang dan berdiri di depan Giya dan Nina.
Namun, tepat ketika mereka hendak menyerang dan melakukan operasi kerja sama yang mereka gunakan di reruntuhan sebelumnya, Isander muncul di antara keduanya dan menahan mereka.
“Biar aku saja, kamu jaga Meisya yang sedang tidur ini, dan bawa barangnya.“
Tanpa menunggu persetujuan keduanya, Isander langsung memindahkan tubuh kecil Meisya yang tengah tertidur ke pelukan Giya dan memberikan barang yang ditemukan dari reruntuhan kepada Nina.
“Saatnya aku berolahraga dan mengetahui seberapa jauh hasil latihan semalam.“
Isander melangkahkan kakinya ke depan menuju para monster yang berdiri menatap mereka dengan mata merah yang tajam.
Sosok Isander makin mendekat seiring dirinya berjalan. Setelah itu, sosok Isander menghilang di tempat dirinya berjalan, dan muncul di atas kepala salah satu monster Catagtress.
“Terima pukulan mentah ini!“
Ledakan!
__ADS_1