SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 78: Membuat Rumah Kayu


__ADS_3

Mengusap pipi Meisya, Isander tersenyum dan berkata, "Seseorang memberi tahu ayah sebelum kamu bangun. Jangan pikirkan itu, lebih baik kita fokus ke jalan, takut ada sesuatu yang jahat datang."


"Baik, Ayah. Meisya mengerti." Meisya mengangguk dan tersenyum.


Dia menatap ke jalan yang ada di depan sambil memegang boneka di tangannya.


Menatap wajah Meisya yang ceria membuat Isander merasa sangat bahagia. Putrinya tidak merasakan hal yang suram lagi.


Ini merupakan sebuah pergerakan yang bagus.


Giya dan Nina diam-diam tersenyum menatap keduanya yang selalu harmonis. Pemandangan ayah dan anak yang akur adalah pemandangan yang langka dan menghangatkan hati sekalinya ada.


Melihat hubungan Meisya dan Isander yang sangat baik, membuat mereka berdua teringat dengan sosok Ayah yang baik yang merawatnya sepenuh hati.


Namun, mereka sudah tidak ada di dunia ini lagi, mereka sudah tinggal di tempat aman dan damai.


Keduanya saling melirik satu sama lain dan tersenyum, Giya dan Nina memiliki satu pikiran yang sama. Mereka merasa bertanggung jawab atas keharmonisan Isander dan Meisya, jangan sampai ayah dan anak ini terpisah.


Jika ada kehangatan yang tersisa, mereka wajib untuk melindunginya hingga kehangatan tersebut tetap hidup meski di dunia yang penuh kegelapan dan darah.


Setelah setengah jam mereka berjalan, mereka menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan lokasi pembuatan rumah atau tempat tinggal.


Akan tetapi, mereka tidak bisa langsung membuat keputusan tanpa membandingkan pilihan lain yang ada.


Dengan begitu, mereka berjalan lagi untuk mencari pilihan lain dengan harapan menemukan lokasi yang lebih strategis dan lebih baik.


Mereka terus mencari yang cocok dijadikan lokasi tempat tinggal lalu menimbang-nimbang keputusan dengan cara bermusyawarah dan mengambil suara.


Pada hasilnya, mereka setuju untuk tinggal di tempat dekat hutan sungai kecil, jaraknya tidak jauh dari Kota Garuda, beberapa kilometer saja jaraknya.


Maka dari itu, Isander dan lainnya mulai membuat rumah di sekitar lokasi yang mereka bersama pilih.


Sebelum membuat rumah, pertama-tama Isander membuat tempat duduk yang terbuat dari batang kayu yang keras dan tidak terlalu besar, cukup untuk dijadikan kursi serta meja.

__ADS_1


Bilah Dark Spear yang tajam dengan mudah memotong pohon berkambium dan Isander memisahkan beberapa potongan batang pohon.


Dia meletakkan batang pohon untuk dijadikan tempat duduk serta meja.


Dalam pembuatan ini, tidak memakan banyak waktu karena sangat mudah, hanya ada sedikit modifikasi dan mengubah bentuk batang pohon yang bundar menjadi lebih baik.


Setelah kursi dan meja sudah jadi dan layak untuk diduduki dan digunakan, Giya, Nina, dan Meisya duduk di ketiga kursi sambil melihat Isander yang membawa beberapa batang kayu dari suatu tempat.


Isander tidak sembarangan menebang pohon, batang pohon yang dia pilih adalah batang pohon dari pohon yang hampir mati.


Tumpukan-tumpukan batang kayu ditata rapi oleh Isander, dia menyiapkan bahan-bahan untuk membuat rumah mereka bersama.


Setelah bahan-bahan terkumpul, Isander mulai membuat denah rumah yang akan dibuat dengan cara menggambar secara langsung di permukaan tanah.


Jadi, Isander tidak perlu melihat denah di atas kertas yang menguning. Ini cukup efesien dan efektif.


Untuk Giya dan Nina, mereka juga membantu dan secara gantian mengambil batang pohon untuk bahan membuat rumah. Mengapa bergantian lantaran mereka harus menjaga Meisya yang asyik bermain dengan bonekanya sambil sesekali menatap ayahnya yang sibuk dengan pekerjaannya membuat rumah.


Mereka berdua selalu bersiaga jika ada panggilan atau kabar dari pasangan Kila dan Reza.


Isander fokus dengan tugasnya membuat rumah tanpa memikirkan kabar Kila dan Reza, dia yakin keduanya dapat menemukan tempat para monster berada.


Lebih dari 3 jam berlalu, Isander memberhentikan dirinya sendiri untuk membuat rumah atau basecamp, jeda waktu untuk makan serta bermain dengan Meisya.


"Bagaimana dengan Reza dan Kila? Mereka sudah menemukan sarang para kelompok monster?" tanya Isander sambil berjalan ke tempat duduk yang dia ciptakan sambil melihat sosok ketiganya.


Giya dan Nina tidak langsung menjawab, mereka berdua menunggu Isander duduk sebelum menjawab.


"Belum, bahkan mereka tidak mengirimkan satu pesan pun kepada kami semua," jawab Giya sembari melihat layar jam tangannya.


Kepala Nina menyengguk cepat dan menambahkannya,"Di jam tangan aku pun sama. Apakah ada sesuatu yang terjadi kepada mereka?"


"Aku tidak yakin monster di sekitar sini dapat mengalahkan mereka berdua atau membuat repot keduanya. Bukankah Agta unsur elemen alam termasuk ke golongan Kekuatan Agta terkuat." Isander menatap keduanya dengan santai, mengeluarkan beberapa makanan untuk jatah mereka makan siang.

__ADS_1


"Kalau monsternya memiliki tingkat yang lebih tinggi dari Reza dan Kila, bukan suatu mustahil untuk keduanya mendapatkan kesulitan yang mengancam," kata Giya dengan hasil pikirannya.


Mendengar pernyataan Giya, itu ada benarnya juga. Mendapatkan, memiliki, menggunakan kekuatan agta tipe alam bukanlah suatu kekuatan yang mutlak paling hebat.


Kekuatan Agta unsur elemen alam dapat dikalahkan oleh monster yang tingkatnya lebih tinggi dari kita semua.


Oleh sebabnya, segala sesuatu di dunia tidak ada yang mutlak kuat dan lemah.


Sebagai manusia, kita harus waspada terhadap monster apa pun yang ada di dunia ini, jangan pedulikan apakah penampilannya imut atau tidak.


Semua monster adalah ancaman yang harus dibasmi dna dimusnahkan di dunia ini


Di dunia ini, semua manusia harus menghabisi dan membunuh semua monster tanpa panda bulu.


Jika mereka lucu pun tidak ada yang peduli, semua monster tidak ada yang baik kepada manusia.


"Kalau begitu, kalian berdua kirim pesan kepada mereka saja, mungkin mereka terlalu sibuk sehingga tidak sempat melihat melihat jam tangan," kata Isander kepada Giya dan Nina.


Mendengar arahan Isander, mereka berdua mengangguk, kemudian mulai mengetik pesan untuk Kila dan Reza.


Setelah itu, mereka semua menunggu pesan yang dikirim Giya dan Nina kepada Reza dan Kila.


Tak lama kemudian, pesan keduanya dibalas oleh Reza dan Kila.


Mereka berdua bilang bahwa Reza dan Kila sedang makan siang. Sebelum berpisah, Isander sempat memberikan beberapa makanan kepada mereka untuk antisipasi jika keduanya tidak sempat bertemu di waktu jam makan, seperti sekarang contohnya.


Reza dan Kila memang tidak sempat ke sini karena mereka masih berada di dalam tugas mencari tempat sarang monster berada.


Setelah tahu kabar ini, mereka semua merasa lega karena Reza dan Kila sangat baik-baik saja keadaannya.


Tidak ada yang harus dipikirkan.


Makan siang selesai Isander lakukan, dia tidak menghabiskan waktu dengan sia-sia dan langsung bergegas melanjutkan membuat tempat tinggal.

__ADS_1


Tepat di jam 4 sore datang, Reza dan Kila datang bersama ke lokasi Isander membuat rumah dan melaporkan tentang penemuannya.


"Kami berdua sudah menemukan sarang dan habitat para monster."


__ADS_2