SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 95: Kemampuan yang Tepat


__ADS_3

Sudut mulut Isander terangkat naik membentuk sebuah senyuman yang aneh.


Kemampuan baru yang datang di waktu yang sangat-sangat tepat.


Sebuah energi asing dengan sensasi hangat menjalar di sekujur tubuhnya. Isander merasakan ada kemampuan baru yang bisa ia gunakan.


Kemampuan ini hampir sama dengan kemampuan penyembuhan, tetapi dengan efek dan manfaat yang berbeda. Kemampuan penyembuhan yang sebelumnya ia dapat hanya memiliki manfaat menyembuhkan luka dalam dan luar yang rusak.


Sementara kemampuan yang baru ini, mempunyai efek menyembuhkan penyakit yang diderita manusia atau makhluk lain.


Namun, Isander tidak tahu jelas apakah kemampuan ini dapat menyembuhkan orang dari virus atau bakteri atau tidak.


Perlu diuji secara langsung ke objeknya supaya mendapatkan jawaban yang konkret.


Melihat Isander yang memejamkan matanya setelah berbicara dengan Meisya, gadis remaja ini memiliki suasana hati yang bimbang dan gelisah, tidak yakin Isander bisa menyembuhkan Helen.


Gadis remaja ini tidak tahu bahwa Isander seorang Agter yang kuat, dia punya asumsi pribadi bahwa Isander seorang Agter yang biasa, tidak terlalu kuat.


Begitu Isander membuka matanya, pupil mata gadis remaja yang duduk di samping Isander mengalihkan pandangannya ke Isander yang tampan dan menatapnya dengan penuh perhatian.


Di bawah pandangan Meisya dan gadis remaja, Isander mengeluarkan tangan kanannya yang kosong, menyentuh dahi Helen yang terbaring telentang dan tubuhnya ditutupi oleh banyak selimut.


Lampu hijau yang bersinar terang keluar dari telapak tangan Isander, cahaya hijau menyelimuti tubuh Helen dari bawah selimut. Penyakit demam yang dialami oleh Helen berangsur-angsur memudar, virus yang membuat Helen tumbang dihilangkan bertahap dan sistem metabolisme tubuh Helen diperkuat untuk bisa menerangi penyakit yang hinggap di tubuhnya.


Wajah pucat Helen kian muncul menjadi merah menunjukkan tubuhnya perlahan membaik dan penyakitnya berhasil diusir.


Reaksi yang terlihat di tubuh Helen membuat Isander puas dengan efek dari kemampuan barunya, ini terlalu kuat.


Diam-diam Isander menganggukkan kepalanya, kemudian menarik tangannya dari dahi Helen yang sudah mulai bersuhu normal.


Gadis remaja yang menyaksikan ini tidak bereaksi, dia tertegun dengan ekspresi yang tak tertahankan. Gadis ini tahu bahwa Helen berhasil Isander sembuhkan, semua ini benar-benar tak bisa ia mengerti.


Mata Helen yang terpejam mulai membuat reaksi, bulu matanya bergetar kecil dan lambat laun menjadi jelas getarannya. Tak lama berselang Helen membuka matanya dan menatap ke arah Isander dan lainnya dengan kondisi yang kebingungan.

__ADS_1


"Reren? Dan ... kamu?! Mengapa dia ada di sini, Ren?!"


Ketika gadis remaja yang bernama Helen ini melihat wajah Isander, dia terkejut setengah mati dan langsung berbicara cukup keras kepada Reren penjual gelang.


Sebelum Reren menanggapi ucapan Helen, dia disela oleh suara rintihan Meisya yang lucu. Meisya melemparkan tubuhnya sendiri ke pelukan Isander, dan mengencangkan pelukannya pada Ayahnya. Dia terkejut mendengar Helen berbicara begitu keras.


Anak kecil pasti kaget dan ketakutan mendengar suara dengan intonasi yang kasar serta bervolume besar.


Helen langsung menutup mulutnya, merasa bersalah karena telah berbicara sangat keras di depan Meisya yang masih kecil.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kak Helen hanya kaget melihat kita tiba-tiba di rumahnya. Dia tidak marah kepada kita." Isander mengusap tubuh kecil Meisya penuh kelembutan dan kasih sayang.


Perasaan bersalah Helen makin banyak, dia benar-benar menyesal telah berbicara dengan keras. Helen menundukkan kepalanya menunjukkan dirinya bersalah atas perbuatannya yang tidak disengaja barusan.


Melihat Meisya yang sudah ditenangkan, Reren menjawab ucapan dan pertanyaan yang dilontarkan oleh Helen, "Dia datang ke sini untuk menyembuhkan kamu dari penyakit yang kamu derita. Bisa kamu rasakan sendiri, tubuh kamu menjadi jauh lebih baik, kan?"


Mendengar ucapan Reren membuat Helen tersadar bahwa dirinya sudah kembali sehat seperti sebelum dia sakit, bahkan sekarang lebih baik dari kondisi dia sebelum drinya sakit.


Usai memeriksa tubuhnya dan Reren berkata benar, dia memang sembuh total. Tubuhnya tak perlu dibungkus oleh banyak selimut untuk meredakan panas yang keluar dari tubuhnya.


Dengan rasa terima kasih yang mendorongnya, Helen berterima kasih kepada Isander sekaligus meminta maaf atas perbuatan kasarnya yang dilakukan dengan tidak sengaja.


"Bagaimana? Meisya mau memaafkan, Kak Helen?" Isander memiringkan kepalanya dan bertanya kepada Meisya yang ada di dalam gendongannya.


Meisya yang ditanyai malu-malu melirik Helen, kemudian menganggukkan kepalanya satu kali. "Meisya memaafkan Kakak Helen."


Dalam sekejap suasana hati Helen yang gelisah dan bimbang menghilang, dan digantikan dengan perasaan gembira.


Senyuman ditampilkan oleh masing-masing wajah mereka. Isander, Helen, dan Reren tersenyum mendengar ucapan Meisya, semuanya merasa sangat senang.


Setelah itu, Helen dan Reren mengucapkan banyak kalimat terima kasih pada Isander karena mereka benar-benar merasa sangat terbantu.


Kedatangan Isander yang tak disengaja sedikit demi sedikit mengubah hidupnya menjadi sedikit baik dari sebelumnya.

__ADS_1


Isander yang tak begitu mempermasalahkan peristiwa tadi meminta mereka untuk berhenti mengatakan ucapan terima kasih. Itu terasa pusing.


Kedua gadis remaja ini penurut pada Isander, mereka mengikuti apa yang dipinta oleh Isander.


"Bagus, ini menjadi lebih tenang." Isander tersenyum melihat gadis remaja ini yang duduk di depannya dengan kondisi yang damai, tidak banyak mengoceh.


Akan tetapi, jika dilihat lebih lama, mereka berdua ini memiliki kemiripan bentuk wajah yang tinggi, seperti bukan yang kebetulan.


Dengan rasa ingin tahu, Isander bertanya, "Apakah kalian berdua ini seorang adik dan seorang kakak?"


Isander curiga kalau keduanya adik kakak dari orang tua yang sama tentunya. Bisa dilihat dari wajahnya yang terbilang mirip.


Mereka berdua saling memandang beberapa detik, dan secara serentak mengangguk menandakan dugaan Isander itu benar.


"Iya, kami berdua memang adik dan kakak," jawab Reren seraya menatap mata Isander. "Aku kakaknya dan Helen adiknya. Umur kami terpaut dua tahun saja."


Mulut Isander melengkung, dia puas dengan perasaan hatinya yang ternyata menebak dengan benar.


"Umur kamu berapa?" Mata Isander mengarah ke wajah Reren.


"Aku berusia lima belas tahun, dan Helen tiga belas tahun," ucap Reren dengan jawaban yang jujur.


Sebagai anak kecil, umur adalah hal yang perlu diingat dan sangat penting.


"Kalian masih kecil, ya. Orang tua kamu bagaimana? Apa ada di sini?" tanya Isander dengan hati-hati.


Pertanyaan terdengar sensitif di situasi Bumi yang buruk dan hancur seperti ini.


Seperti dugaan Isander sebelum mengeluarkan pertanyaan tadi, Reren menjawab orang tuanya meninggal satu tahun yang lalu karena serangan monster.


Setelah itu, mereka berdua bercerita soal masa lalu mereka hingga sampai bisa hidup di sini.


Cerita mereka dimulai dari orang tua mereka dan mereka pergi dari tempat pemukiman awal mereka mendapatkan serangan monster yang sangat mendadak.

__ADS_1


Serangan monster tidak ada yang mendadak di dunia ini, jika ada, tidak akan ada manusia yang banyak terbunuh dan menjadi korban para monster.


__ADS_2