
Isander tersentak sejenak usai menyentuh cangkang telur ini, matanya membulat, kemudian dia bertanya kepada Sistem melewati hatinya, 'Suphaast? Hewan apa itu?'
[Suphaast merupakan monster yang berevolusi karena bakteri penyebab munculnya monster, tetapi monster ini tidak memakan manusia, dia memiliki evolusi yang berbeda dan punya potensi yang begitu tinggi.]
Penjelasan Sistem mudah dimengerti oleh Isander, tetapi dia masih tidak tahu binatang seperti apa yang ada di dalam telur ini.
'Apakah hewan itu memiliki wujud seperti ayam?' tebak Isander secara asal.
Tidak mungkin untuk harimau bertelur, kemungkinan adalah unggas dan reptil.
[Suphaast adalah seekor burung mirip elang, tetapi memiliki perbedaan ukuran dan beberapa tampilan bagian tubuhnya. Suphaast mempunyai kekuatan berunsur alam dan itu acak tak bisa ditentukan.]
Wajah Isander langsung berubah mendengar penjelasan dari Sistem, burung yang ada di dalam telur ini sangat spesial.
Tidak perlu berpikir lagi, Isander memilih untuk menjadikan telur ini sebagai pet atau temannya.
'Apakah aku bisa menjadikan kedua telur ini sebagai pet milikku?'
[Tentu saja.]
Isander tersenyum senang, kemudian dia berkata, 'Aku ingin menjadikan keduanya sebagai pet!'
[Selamat Anda telah mendapatkan Glace Suphaast!]
[Selamat Anda telah mendapatkan Magma Suphaast!]
Setelah pengingat dari Sistem muncul kembali di benaknya, Isander melihat di kedua telur ini terdapat retakan halus yang melebar hingga ke seluruh cangkang telur.
Retakan yang kecil itu makin membesar hingga akhirnya serpihan cangkang telur terjatuh dari bagian atas telur sedikit demi sedikit.
Berikutnya, kedua burung elang dengan ukuran 50 cm keluar dari cangkang dalam kondisi yang lemah, tetapi di tubuh keduanya sudah ada bulu dengan warna berbeda.
Satu burung memiliki warna bulu putih kebiruan, sedangkan yang satunya berwarna merah kehitam-hitaman.
Isander tidak bergerak dan membicarakan mereka berdua berjuang sendiri setelah keluar dari cangkang telur.
Kurang dari 5 menit kemudian, dua ekor burung yang mirip dengan elang berdiri di depan Isander dengan mata yang polos.
Kyak!
Kedua burung ini menciak kepada Isander lalu menggosokkan tubuhnya ke kaki Isander penuh dengan kasih sayang.
Melihat ini, Isander tidak bisa untuk tidak menyentuh burung-burung ini, tetapi ketika tangannya ingin menggendong tubuh burung berwarna putih ini, Isander merasa jari-jarinya menjadi dingin.
"Es?" ucap Isander tanpa sadar setelah mendapatkan rangsangan dari burung ini.
Selanjutnya, Isander memegang burung yang lain, dan itu membuat tangannya kepanasan.
Bulu, mata, dan beberapa bagian tubuh mereka berdua punya warna yang berbeda dan itu menunjukkan kekuatan apa yang dimiliki.
Akan tetapi, kedua burung ini tidak lagi memberikan perasaan dingin dan panas begitu Isander coba menyentuhnya lagi.
Dengan begini, Isander bisa menggendong kedua burung tersebut di pelukannya.
Kimaya yang melihat ini langsung melompat karena senang. Kelihatannya, dia bahagia karena punya 2 teman baru.
"Burung elang!!"
Ketika Helen dan Reren melihat Isander membawa dua burung elang dengan ukuran yang cukup besar, mereka berdua terkejut, kemudian menyambut kedua burung ini.
Kedua burung elang ini terlihat keren dan menggemaskan, Meisya berani langsung menyentuh mereka berdua dengan kedua tangannya. "Hihihi, bulu-bulunya sangat halus!"
Setelah memberi tahu mereka tentang bahwa Isander telah menemukan dua burung super ini yang berasal dari dua telur besar, Isander mengarahkan Helen dan lainnya untuk keluar dari Gua sebelum siang datang.
Itu hanya alasan Isander saja karena dia takut induk burung ini kembali. Isander tidak tahu apakah anak-anak burung yang bertengger di kedua bahunya punya seorang induk yang masih hidup atau memang sudah mati.
Paling penting adalah mereka harus melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur sebelum kesiangan dan terlambat.
Usai meninggalkan Gua besar tersebut, kedua anak burung yang baru menetas langsung bisa terbang meski jarak pendek.
Di perjalanan juga Isander memberikan beberapa daging monster yang menghampiri mereka di dekat Gua.
Mereka menyukai daging monster, nafsu dan kapasitas makan mereka begitu besar sehingga satu tubuh Catagtress tidak cukup untuk mereka berdua makan.
Setelah makan 2 Catagtress, mereka akhirnya kenyang, tetapi mereka terbang ke atas pohon yang ada di jarak puluhan meter dari posisi Isander dan yang lainnya berjalan.
Di sisi lain, Gua yang mereka masuki beberapa menit yang lalu telah dimasuki sesosok monster yang besar.
Monster ini memiliki ukuran tinggi lebih 3 meter tengah berjalan ke suatu tempat di dalam Gua, bentuk monster mirip dengan elang dan juga serupa dengan dua elang yang dibawa oleh Isander dengan ukuran yang lebih besar.
Di saat burung raksasa itu melihat sangkarnya, dia melihat bahwa kedua telur yang dia tinggal untuk mencari makanan telah hilang.
KYAAKKK!
Sebuah suara nyaring terdengar jelas di sekitar Gua dan hutan yang mengelilingi Gua.
Isander yang tengah berjalan bersama yang lainnya dan sudah berada di sekitar 2 kilometer dari tempat Gua itu berada mendengar suara jeritan burung yang samar-samar.
__ADS_1
Wajah Isander dalam sekejap berubah dan dia membalikkan tubuhnya untuk melihat pemandangan di belakang.
"Tidak baik! Kalian tunggu di sini!"
Isander segera membuat sebuah benteng yang terbuat dari tanah dan dilapisi beberapa kamar pohon untuk membuat kokoh pondasi bawahnya.
Helen, Reren, dan Meisya ditinggal bersama di dalam tembok kurungan tanah dengan tinggi 2 meter.
Sementara itu, dua burung yang diberi nama Magtash dan Glatash diperintahkan oleh Isander untuk ikut bersama menjaga mereka bertiga.
Hanya Kimaya yang dibawa oleh Isander untuk pergi kembali ke Gua.
Isander tahu apa yang menjerit itu.
Benar, itu adalah induk dari Magtash dan Glatash.
Magtash Suphaast Magma, dan Glatash untuk Suphaast Beku. Nama itu diberikan oleh Isander dan lainnya atas kesepakatan bersama.
Alasan Isander menghampiri induk Suphaast adalah untuk meminta izin mengurus anaknya, jika tak boleh, mau tidak mau Isander akan memaksanya.
Memang jahat, tetapi ini sudah terlanjur Isander lakukan, pet tidak bisa dibatalkan, jika dikeluarkan dari anggota pet, Magtash dan Galtash akan mati.
Setelah merasa sudah dekat, Isander membuka dua pasang sayap tanpa zirah Cenagon.
Melesat ke atas langit menuju tempat di mana induk Suphaast berada bersama Kimaya di pelukannya.
Suara angin yang menderu terdengar di telinga Isander karena kecepatan terbang Isander cukup tinggi.
Dengan kepakan sayapnya, Isander telah melewati puluhan meter dalam sekejap.
Tidak butuh waktu lama, Isander menemukan sesosok burung raksasa sedang bertengger di atas Gua atau bukit yang Isander masuki.
Kedatangan Isander disaksikan langsung oleh burung raksasa yang memang sangat mirip dengan kedua burung elang yang Isander ambil.
Kyakk!
Belum sempat Isander menyapa induk Suphaast, tiba-tiba burung besar tersebut meluncur ke bawah dengan niat yang membunuh.
Isander mengetahui ini, dia segera menendang tanah di bawahnya dan meluncur ke belakang dengan satu kali lompatan sejauh 20 meter.
Bang!
Induk Suphaast mendarat dengan kedua kakinya yang besar, merobek tanah hingga belasan meter dalamnya.
Kyak!
Superhaast menjerit begitu keras dengan suara yang melengking yang dapat menghancurkan gendang telinga manusia biasa.
Dia bisa menyusun bau anaknya di baju Isander, sudah dipastikan bahwa kedua anaknya diambil oleh manusia ini.
"Berhenti, aku ingin berbicara kepadam—"
Sebelum Isander menyelesaikan ucapannya, sebuah semburan air yang tipis dan kecil nyari mengenai kepala Isander.
Refleks Isander berhasil mengelak dari serangan induk Superhaast yang tiba-tiba.
Semburan air ini tidak hanya satu, Isander melihat bahwa mulut induk Superhaast ini terbuka dan mengeluarkan banyak sekali serangan air jet yang berbahaya.
Dengan kakinya, Isander langsung membuat dinding tanah sementara untuk memblokir semua serangan induk Superhaast, kemudian dia menyalakan Wind Barrier untuk berjaga-jaga.
Duar!
Tepat ketika Isander mengaktifkan Wind Barrier, dinding tembok tanah yang memiliki ketebalan 1 meter langsung hancur oleh gabungan semprotan air yang sangat kencang.
Semburan itu terus membidik Isander yang ada di baliknya.
Melihat keseriusan induk Superhaast yang ingin membunuhnya.
Isander tidak memiliki pilihan lain. Jadi, dia juga akan melakukan hal yang sama dengan induk Superhaast.
Bam!
Tiada hentinya serangan jet air dikeluarkan oleh induk Suphaast untuk membunuh Isander.
Untungnya, Isander punya gerakan dan refleks yang cepat sehingga semua serangan bisa Isander hindarkan dan atasi.
Pada saat ini, Kimaya bersembunyi di salah satu pohon dekat tempat pertarungan mereka berdua terjadi.
Suatu perintah telah diberikan oleh Isander kepada Kimaya, di perjalanan Kimaya sudah dimasukkan ke dalam anggota pet. Untuk berkomunikasi hanya perlu melalui telepati.
Whoosh!
Semburan air dengan diameter belasan sentimeter membidik kepala Isander.
Tepat ketika ujung serangan air itu hendak mengenai kepala Isander, sebuah helm muncul dan menutupi seluruh kepala Isander.
Serangan induk Suphaast menghantam kepala Isander yang sudah dibungkus oleh zirah Cenagon.
__ADS_1
Percikan air yang begitu banyak terpencar ke segala arah oleh zirah Cenagon tanpa ada jejak goresan atau pun rusak yang diterima.
Bang!
Sosok Isander tiba-tiba menghilang di tempat, dan muncul di depan induk Suphaast sambil mengepalkan tinjunya, dan meninju kepala induk Suphaast dari bawah.
Tubuh besar induk Suphaast terbang ke atas, bermanuver melakukan putaran beberapa kali, kemudian tubuhnya terjatuh kembali ke tanah dengan paruh yang hampir hancur seluruhnya.
Kyak!
Meskipun sudah terluka dan terbaring di tanah dengan paruh bawah yang hampir terlepas, induk Suphaast masih berusaha untuk bangkit dan melawan Isander sampai mati.
Sayang sekali, luka yang diterima Suphaast terlalu parah sehingga untuk berdiri saja dia sangat kesulitan.
Citt!
Tiba-tiba Kimaya muncul dan langsung mengikat seluruh tubuh induk Suphaast menggunakan tanaman merambat yang ada di sekitar.
Kedua sayap, kedua kaki, dan seluruh tubuhnya diikat oleh ribuan tanaman merambat yang saling terhubung.
Induk Suphaast tak bisa bergerak lagi karena tanaman merambat ini telah mengunci semua bagian tubuhnya kecuali kepala.
Masih dengan baju zirah Cenagon, Isander berjalan mendekati kepala induk Suphaast yang tampak mengerikan dan telah terluka.
Mata induk Suphaast melirik Isander yang datang dengan sorot mata yang penuh akan dendam dan perasaan ingin membunuh.
Melihat keadaan induk Suphaast seperti ini, Isander merasa tidak tega dan juga merasa bersalah. Dia tahu bagaimana sakitnya kehilangan seseorang yang disayangi, wajar jika induk Suphaast berniat membunuhnya karena telah menghilangkan anaknya.
Menghirup udara panjang, Isander melirik mata kanan induk Suphaast dengan pandangan yang agak rumit, dan dia berkata, "Kedua anakmu berhasil menetas, dan dia hidup sehat. Aku tidak sengaja membuatnya menetas saat bertemu sarangmu di dalam gua. Sayangnya, aku tak bisa mengembalikan anakmu kepadamu, tetapi aku berjanji akan merawat kedua anak kamu dengan baik dan menjadi sosok yang kuat.
"Tujuanku ke sini hanya untuk meminta izin kepadamu untuk merawat kedua anakmu. Aku tidak peduli kamu tidak mengizinkannya atau tidak setelah ini, aku akan tetap merawat anakmu. Aku sudah berjanji kepadamu di awal, dan itu pasti akan aku tepati. Maaf untuk sebelumya."
Setelah mengatakan itu, induk Suphaast memandang Isander dengan mata yang berbeda seolah dia memang mengerti apa yang dikatakan Isander kepadanya.
Isander menyentuh tubuh induk Suphaast di bawah tatapannya, dan sinar cahaya hijau muncul di telapak tangan.
Perasaan hangat dan sesuatu yang baik dirasakan oleh induk Suphaast sehingga dia memejamkan matanya karena menikmati perasaan nyaman yang luar biasa.
Selepas menyembuhkan induk Suphaast, Isander menghubungi kedua anak Burung Suphaast untuk melihat induknya untuk terakhir kali.
Semua monster dan binatang yang dijadikan anggota Pet akan 100% setia kepada Isander.
Secara otomatis dijadikan setia oleh Sistem entah bagaimana caranya.
Jadi, kedua anak Burung Suphaast sudah pasti akan mengikuti Isander dan mau tidak mau meninggalkan induknya.
Induk Suphaast terkejut melihat kedua anaknya yang lucu dan tampak sangat sehat.
Magtash dan Galtash memberikan sebuah sentuhan terakhir kepada ibunya yang masih diikat oleh Kimaya, keduanya mengelus-elus kepala induknya dengan perasaan cinta dan kasih sayang yang tulus.
Sementara itu, Isander telah berbalik dan berjalan menjauh dari depan Gua raksasa.
Perpisahan berlangsung lebih dari 3 menit, kemudian Kimaya dibawa oleh Galtash terbang untuk menyusul Isander yang lebih dahulu pergi.
Setelah mereka berempat pergi, induk Suphaast bangkit dan berdiri memandang ke arah mereka menghilang ke dalam hutan.
Matanya tidak ada lagi rasa dendam, hanya sebuah kerinduan.
Berikutnya, induk Suphaast masuk ke dalam Gua dan tak lama dia keluar lagi lalu melesat cepat ke langit.
Pada saat ini, Isander sedang mengobrol dengan kedua anak Burung Suphaast. Isander menganggap mereka burung dibandingkan dengan monster.
Pasalnya, Suphaast punya jalur evolusi sendiri sehingga memang tidak memiliki tampilan menyeramkan seperti monster lainnya.
"Kurasa ibu kamu punya kemampuan berunsur air, tetapi kamu berdua ... punya kemampuan yang jauh berbeda dengan ibu kalian. Apakah ayah kalian adalah Suphaast yang kuat?"
Pertanyaan Isander ditanggapi dengan gelengan kepala, mereka berdua sama sekali tidak tahu tentang ayahnya.
Hanya dalam waktu singkat, mereka berdua sudah bisa terbang dengan lihai.
Selain itu juga, setelah diamati lagi ukuran mereka bertambah 2 sampai 3 cm dari sebelumnya.
Tak berlangsung lama, mereka akhirnya sampai di tempat Meisya dan yang lainnya bersembunyi.
Mereka menunggu Isander selama beberapa menit, dan tidak terjadi apa-apa.
Meisya dipeluk kembali oleh Isander, kemudian mereka semua berjalan lagi ke arah timur laut hingga bertemu Candi Borobudur.
Magtash dan Galtash sama sekali tidak ingin turun ke tanah, mereka menyukai perasan terbang, sedangkan Kimaya melompat-lompat ingin ikut dengan keduanya.
Sayang sekali, Kimaya tak memiliki sayap, dia tak bisa terbang.
Meskipun tak bisa terbang, Kimaya masih punya Helen, Reren, dan Meisya.
Senang sekali rasanya saat Meisya naik ke punggung Kimaya, dia merasa sedang menaiki kuda.
Kimaya juga tak keberatan, dia benar-benar menjaga Meisya ketika naik ke tubuhnya. Ia pastikan Meisya takkan terjatuh selama ada di punggungnya.
__ADS_1
Mereka semua terus berjalan di berbagai medan selama beberapa jam, dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah bangunan yang aneh.
"Ini ... ini bentuk Candi Borobudur sekarang?!"