SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 67: Sungai Bersih


__ADS_3

Di sisi lain, Reza dan Kila yang berjalan bersama Nina telah sampai di tempat Giya dan Meisya berdiri.


Mereka bertiga berdiri di sebelah pohon dan bergabung dengan Giya yang tengah menggendong Meisya.


Melihat ketiganya datang, Giya merasa aman dan tenang, dia takut mereka tidak menemukan dirinya dan Meisya di sini, dan monster-monster datang ke tempat mereka menunggu, itu akan menjadi peristiwa yang sangat mengerikan.


"Apakah Isander sudah selesai?" tanya Giya kepada Nina yang datang bersama Reza dan Kila.


Nina berdiri di depan Giya, ia menggelengkan kepalanya, dan menjawab, "Belum kurasa, tadi dia masih mengisi membereskan kekacauan di hutan."


Ketika mereka berdua mengobrol, Kiya dan Reza juga mengobrol dengan suara yang tidak keras, agak terdengar bisik-bisik.


"Kamu lihat tadi? Orang itu memiliki kekuatan Agta unsur tanah, apakah dia seorang Agter berunsur elemen?" Kila melirik Reza dan bertanya dengan ekspresi yang sangat terkejut.


Reza yang sudah melihat secara langsung pertempuran Isander langsung terlintas kembali betapa dahsyatnya pertempuran itu dan dia pun tersadar.


Isander tidak hanya memiliki kekuatan satu Agta saja, melainkan memiliki banyak kekuatan Agta yang jenisnya sangat luar biasa.


"Pernahkah kita berdua melihat Agter yang bisa mengeluarkan kekuatan elemen secara langsung tanpa senjata?" Reza memandang mata Kila dengan pandangan yang masih terpana.


"Belum, aku pikir kita belum melihat hal yang seperti tadi. Aku pun ingin bertanya hal yang serupa kepadamu," jawab Kila yang ingat dengan jelas apa saja peristiwa yang telah mereka berdua lewati. "Reza, aku khawatir kita mendapatkan sesuatu yang tidak baik kalau kita melakukan hal itu. Aku rasa, kita lebih baik bergabung dengan orang ini."


Dalam sekejap, wajah Reza berubah-ubah terlihat sangat rumit. Dia memikirkan ucapan Kila yang bertentangan dengan visi dan misinya.


Namun, itu visi dan misi dahulu, sekarang telah berubah. Reza pun memiliki pikiran yang serupa dengan Kila.


Orang yang mereka temui memiliki banyak potensi menjadi seseorang yang sangat kuat. Jika mereka menjadi bawahannya atau orangnya, mereka berdua mendapatkan keuntungan juga.


Usai terdiam sesaat untuk merenung, Reza berkata, "Iya, aku setuju, lebih baik kita berubah dan tidak melakukan hal ini lagi, kemudian bersatu dengan orang-orang ini."


Mendengar ini, Kila yang menunggu jawaban Reza langsung tersenyum senang dan gembira. Pria ini akhirnya bisa mengubah pola pikirnya.


Dia berharap Reza terus seperti ini dan tidak lagi memiliki ide yang aneh dan mengerikan.


Menegang tangan Reza, Kila mendekatkan tubuhnya ke tubuh Reza dan menatapnya dengan dalam, "Aku senang kamu mengikuti ucapanku. Aku harap kamu terus seperti ini."


Reza mencium kening Kila, dan dia pun tersenyum. "Menurutku idemu tidak buruk, makanya aku memilih untuk ikut idemu."


Pernyataan Reza tidak dijawab Kila, malah dia memeluk Reza dengan erat dan hati yang gembira dan lega.


Melihat keduanya dari jauh, Giya dan Nina mengangkat bahunya hampir bersamaan, mereka berdua tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh keduanya.


Kalau saja mereka tahu, pasti itu membuat mereka menjadi curiga kepada pasangan ini.

__ADS_1


Bam!


Suara benda terjatuh di tanah terdengar di antara telinga mereka semua.


Ketika melihat ke arah sesuatu yang jatuh itu, mereka menemukan Isander yang berdiri dengan tegak dan memandang balik mereka semua.


"Ayah, kamu kembali!" Meisya berseru kegirangan dan dia langsung meminta Giya untuk menghampiri ayahnya.


Setelah itu, Meisya dan Isander bertemu dan berpelukan. Meisya meminta tidak ingin berpisah lagi hari ini sampai dia tertidur nanti.


Isander menuruti permintaan anaknya, dan dia tidak akan menyerahkan Meisya kepada orang lain sampai Meisya tidur.


"Sudah selesai pembersihannya?" tanya Giya dengan senyuman yang manis.


Mengelus-elus jari kecil Meisya, Isander merespons dengan anggukkan kepala dan menjawab, "Sudah semuanya. Mungkin masih berbau, tetapi itu bukan masalah."


"Bagus kalau begitu." Giya mengangguk dengan senyuman di wajahnya yang cantik.


Nina, Reza, dan Kila mendekati Isander juga dan menatap wajah Isander yang tampan.


"Kita harus terus jalan lagi sebelum matahari terbenam dan juga jangan lupa untuk menemukan tempat singgah malam ini," ujar Isander kepada semuanya.


Mereka semua mengangguk serempak mendengar ucapan Isander dan dia setuju dengan omongannya.


Selanjutnya, mereka berjalan kembali masih ke arah yang sama, yaitu ke arah timur di mana sungai yang bisa diminum berada.


Mereka berenam berdiri di tepi sungai, Meisya yang suka air pun turun dari gendongan Isander dan ingin melihat air sungai dari dekat.


Sungai ini memiliki arus aliran air yang lumayan kencang dan deras. Sangat bisa membuat anak kecil hanyut di sana, kecuali orang dewasa dan remaja yang memiliki tubuh yang besar.


Isander berjongkok dan mengambil air sungai dengan telapak tangannya.


Dia mendekatkan hidungnya untuk memeriksa baunya, dan itu memiliki aroma bau yang sangat natural atau alami, bagai wewangian alam yang segar.


Saat dia coba juga rasanya tidak aneh dan khas air bersih dari air tanah.


Setelah menunggu lama reaksinya setelah minum air putih ini, Isander tidak menemukan hal aneh dari dalam tubuhnya.


Meski dia kebal dengan bakteri atau virus yang menghancurkan dunia ini, dia masih bisa merasakan anomali virus yang hinggap ditubuhnya mencoba untuk mengambil alih keseluruhan badan dan pikirannya.


Maka dari itu, dirinya bisa dijadikan sebagai pemeriksaan kebersihan air sungai ini, atau bisa dibilang percobaan sebelum orang lain boleh meminum air tersebut.


Mengetahui air ini aman, Isander memperbolehkan Giya dan Nina untuk meminum air dari sungai yang berukuran sedang ini.

__ADS_1


Isander sendiri pun meminumnya dan anaknya ikut minum dari air ini.


"Kita singgah di sini terlebih dahulu, langit sudah mulai redup." Isander berdiri sembari memegangi tangan Meisya yang berdiri di sebelahnya dan melihat ke atas langit.


Giya mengangguk setuju. "Oke, aku juga merasa kita harus istirahat di sini."


"Kalau begitu, aku akan membakar dan memanggang ayam-ayam ini!" Nina mengangkat beberapa ekor ayam di tangannya. Itu hasil dari penangkapan Isander sebelumnya.


Sebagai anggota yang belum resmi, Reza dan Kila harus berusaha untuk berguna di kelompok ini, mereka berinisiatif membantu Nina dan keduanya bergerak untuk mencari kayu dan menyembelih ayam-ayam.


Reza bertugas mengambil kayu kering dan Kila membantu Nina mematikan ayam-ayam ini serta membersihkan bulu-bulu di tubuh ayam.


Sementara itu, Isander, Giya, dan Meisya bertugas untuk membuat tempat singgah darurat yang sederhana, tepatnya yang bekerja yang bekerja hanya Isander saja, sedangkan Giya dan Meisya membantu sedikit.


Meisya asyik memainkan ranting kecil di tangannya, dia membuat sebuah gambar di tanah. Giya membantu Isander memotong kayu dan membelahnya dalam ukuran kecil, pisaunya cukup bisa untuk memotong kayu yang tidak terlalu tebal.


Beberapa saat mereka bekerja bersama untuk satu tujuan, mereka akhirnya selesai dalam pekerjaannya.


Tempat singgah berupa alas kayu yang ditempelkan di dahan pohon yang tinggi berhasil dibuat oleh Isander.


Meskipun tidak berbentuk rumah, dan hanya ada alas serta tembok sebagai pembatas tanpa atap, itu sudah cukup untuk mereka istirahat.


Tak ada yang mengomentari hasil kerja Isander, mereka semua malah senang karena ada tempat untuk berlindung untuk sementara.


Semuanya naik ke pohon yang dijadikan tempat istirahat tersebut dengan pijakan kayu yang sudah disediakan oleh Isander.


Di atas sana mereka mengobrol sambil memakan ayam bakar yang dibuat oleh Nina dan Kila.


Obrolan mereka tidak begitu penting hanya basa-basi biasa.


Beberapa jam kemudian, satu per satu mereka pergi tidur hingga akhirnya hanya Isander yang dibiarkan tersadar.


Sama dengan kesehariannya di malam hari, Isander duduk dan melatih kemampuannya melalui bermeditasi.


Di hari berikutnya, Isander dan yang lain bergerak melanjutkan perjalanan ke timur pulau, lebih tepatnya ke Garuda City.


Isander pribadi tidak akan masuk, dia hanya ingin melihat bagaimana bentuk kota tersebut setelah bertahun-tahun lamanya dia tak lihat.


Di awal perjalanan, mereka diharuskan menyebrangi sungai.


Ada persyaratan khusus, yakni Meisya tidak bisa ikut menyebrangi sungai dengan cara berenang atau masuk ke dalam arus sungai. Mereka semuanya juga tidak ingin bajunya basah karena air sungai.


Memang sulit menyebrangi sungai tanpa terkena air. Oleh sebab itu, Isander membelah salah satu batang pohon yang telah tumbang dan dijadikannya sebagai jembatan.

__ADS_1


Masalah terselesaikan dan mereka terus berjalan ke timur.


"Kalian berdua adalah seorang Agter, bukan? Bisakah memberi tahu kami semua apa jenis kekuatan punya kalian berdua?" Giya berjalan di samping Kila dan bertanya kepada Reza dan Kila.


__ADS_2