SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 150: Tamu Luar Biasa


__ADS_3

Wajah Cenagon berubah drastis, dia mencari sosok dari suara yang muncul tiba-tiba di dalam ruangan gelap ini.


Tidak hanya Cenagon yang mencari siapa yang berbicara barusan, Isander menoleh ke segala arah berusaha menemukan sosok yang sama.


Tepat ketika mereka berdua sibuk mencari ke segala arah, suara misterius yang megah muncul sekali lagi.


"Aku di sini, Cenagon dan Isander."


Dengan cepat, Cenagon dan Isander melirik ke arah singgasana yang biasa diduduki oleh Isander.


Di atas singgasana, Isander bisa melihat seorang pria tampan dengan kantung mata di bawah kelopak matanya, berwajah lesu, telinga yang ditindik, rambut hitam acak-acakan, menggunakan jaket abu-abu, kaus hitam, dan celana pendek berwarna abu-abu, menggunakan sepatu olahraga sebagai alas kakinya.


Keseluruhan orang tampak sangat ceroboh dan tidak ada karisma, berbeda dengan suaranya yang sebelumnya yang sangat megah hingga dapat membuat hati orang bergetar saat mendengarnya.


Namun, Isander bisa merasakan kekuatan yang sangat hebat dari orang ini sehingga ia harus berhati-hati.


"Tuan!" Cenagon berseru dengan kegirangan ibarat anak kecil yang bertemu kembali dengan ibunya setelah menghilang beberapa menit di pasar.


Mata Isander terbelalak tak percaya, sosok yang Isander lihat sekarang adalah tuan yang dibanggakan oleh Cenagon.


Tepat ketika Isander merasa tidak percaya dengan pria yang ia lihat adalah tuan dari Cenagon, ruang di sekitar Isander terdistorsi dan ketika sadar di detik berikutnya, Isander sudah ada di sebelah singgasananya tengah berdiri dengan bingung.


"Kenalkan, aku Azvan dari dunia lain, bukan serial televisi zaman dahulu tentunya." Pria yang duduk di singgasana Isander mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Dengan kebingungan yang mendalam, Isander mengambil tangan pria tersebut dan berhasil berjabat tangan.


Tidak ada yang terjadi setelah keduanya berjabat tangan, tetapi Cenagon menatap Isander dengan mata yang penuh kejutan.


"Kamu tahu, Isander? Takdirmu sangat abu-abu," celetuk Azvan yang tiba-tiba tanpa diberi konteksnya.


Sebelum Isander bisa bertanya, sosok Azvan menghilang di singgasana dan juga di dalam ruangan ini.


Hanya meninggalkan suara yang dalam dan dapat menusuk ke jiwa.


"ISANDER, AKU PERCAYAKAN KEKUATAN CENAGON KEPADAMU, DIA SUDAH TUA, DAN MEMANG SUDAH SEHARUSNYA PENSIUN DARI DUNIA YANG PENUH DENGAN DARAH. KAMU ORANG YANG SEKIAN YANG AKU TEMUI DAN TAMPAK SPESIAL. JAGA MEISYA, AKU MERASA DIA JUGA SPESIAL SAMA SEPERTI DIRIMU SENDIRI. AKU PERGI DAHULU KARENA DI SINI TIDAK ADA MONSTER YANG MENARIK. SELAMAT TINGGAL! AKU AKAN DATANG JIKA ADA WAKTU!"


Setelah mengatakan itu semua, Isander dan Cenagon saling menatap dengan kebingungan yang sangat dalam.


"Dasar, tuanku memang seperti itu," kata Cenagon sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan canggung.


Isander tersenyum dan membalas, "Sangat kuat dan sangat lucu. Tuanmu penuh komedi."


Meskipun Isander bisa tertawa kecil di permukaan wajahnya, di dalam hati Isander banyak sekali pertanyaan tentang apa yang diucapkan oleh Azvan.


"Apa maksudnya dengan masa depan abu-abu?" tanya Isander dengan rasa ingin tahu yang besar kepada Cenagon.


Cenagon segera menjawab tanpa berpikir, "Abu-abu artinya tidak pasti. Masa depan kamu tidak bisa dilihat oleh Azvan, tuanku, yang mengendalikan ruang dan waktu di seluruh dimensi. Kamu sangat spesial, dan tuanku mengatakan sebutan yang sama. Masa depan kamu entah ditutupi oleh sesuatu yang kuat atau memang kacau."


"Aneh sekali. Jika ada yang menutupi masa depanku, siapa sosok itu? Apakah itu lebih kuat dari Azvan?" pikir Isander dengan kebingungan yang melanda otaknya.


Apa yang dikatakan Isander tak langsung dijawab oleh Cenagon karena sedang memikirkan kalimat Isander barusan.


"Aku tidak tahu pasti." Cenagon menatap Isander dengan mata yang serius. "Kamu harus menentukan keputusan dengan tepat di dunia ini, mungkin masa depan kamu akan terlihat jika Tuan Azvan datang ke sini lagi. Ingat ucapan Tuan Azvan lantaran itu sangat penting. Meisya, anakmu sendiri juga spesial, ingat untuk selalu dijaga putrimu sendiri.


Isander mengangguk kejam menandakan dirinya sangat mengerti. Tentu saja putri kesayangannya dijaga oleh nya meski itu nyawa taruhannya.


Meisya tidak boleh meninggalkannya lebih dahulu, harus dia yang dahulu meninggal dari Meisya karena itu sudah hukum alam.


Tidak ada ceritanya kalau yang muda lebih dahulu meninggal, bukan alami. Alaminya adalah tua yang meninggal lebih dahulu. Tumbuhan pun hidup seperti itu.


Azvan, pria aneh yang sangat berkesan bagi Isander. Ketika memindahkan sosoknya ke sebelah singgasana, Isander rasa itu memakai kemampuan ruang. Tidak tahu kapan menggunakannya. Azvan tidak menggerakkan tangan atau membuat pola di udara untuk melepaskan serangan, seolah menggerakkan ruang dan waktu hanya dengan keinginan saja.


Sangat hebat, kuat, dan di luar nalar manusia.


Entah mengapa Isander berpikir bahwa semua tentang hal yang spesial berasal dari Sistem yang menyatu dengan tubuhnya.


Masa depannya tidak diketahui karena Sistem juga.


Isander sangat berharap dia mendapatkan kekuatan seperti Azvan. Paling tidak, dia bisa mendapatkan kekuatan mengendalikan waktu.


Jika Sistem mengetahui isi hati Isander saat ini, mungkin dia langsung muntah darah satu baskom.


Kemampuan mengendalikan waktu tidak sama dengan kemampuan mengendalikan kayu atau logam.


Waktu, sesuatu yang tak bisa dilihat secara langsung karena tak ada wujudnya, tetapi dia nyata adanya, mengatur semua makhluk. Tanpa waktu, manusia tidak ada.

__ADS_1


Isander mengobrol bersama Cenagon sekali lagi sembari mencoba kemampuan fisiknya yang terasa bertambah kuat.


Bam!


Satu pukulan tinju saja, efek kerusakannya begitu hebat hingga menghancurkan semua dinding hitam dengan tinggi puluhan meter dan lebar ratusan meter.


Cenagon hampir batuk-batuk melihat sosok Isander yang bisa menghancurkan dinding Cenergi dengan satu tinju saja.


Tidak masuk akal karena peningkatannya sangat cepat dan terasa instan.


Untuk memastikan bahwa fisiknya memang bertambah, Isander duduk di singgasananya dan memeriksa jendela statusnya yang menampilkan kolom fisik.


[Fisik: 330.000]


"Fak!"


Isander melompat ke depan hingga menembus layar tipis yang melayang di hadapannya.


Ternyata fisiknya sudah meningkat sebanyak itu hanya dalam waktu yang singkat.


Diingat lagi oleh Isander, fisiknya hanya sebesar 130 ribu dan itu tidak bertambah lagi.


Namun, setelah Azvan pergi, dia merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya.


Mata Isander membesar dan dia bergumam dalam hati, 'Mungkinkah?!'


"Jangan bilang tuan kamu yang menyebabkan fisikku manjadi lebih kuat?!" tanya Isander kepada Cenagon di depannya.


Cenagon memegang dagunya dan mengangguk beberapa, kemudian menjawab, "Mungkin saja. Tuan Azvan mengandung banyak sekali energi, mungkin energi bintang yang ada di tubuhnya diserap oleh kemampuanmu. Kalau aku tidak salah ingat, dia mampu membuat lebih dari Googol bintang, artinya tidak terbatas."


"Googol?!"


"Benar, bilangan yang punya angka nol berjumlah seratus di belakang angka satu. Miliar hanya sembilan nol, sedangkan Googol seratus nol," terang Cenagon dengan santai.


Mengetahui ini, Isander duduk dia tas singgasana dengan tubuh yang lemas.


Coba saja Azvan lebih lama di sini, mungkin dia bisa mendapatkan banyak sekali kekuatan fisik.


Sayangnya, dia pergi karena monster di sini tidak menarik.


Bagi Azvan, monster di sini tidak menarik, padahal banyak sekali monster kuat di sini yang sulit Isander kalahkan. Masih banyak monster misterius yang belum diungkap.


Mungkin saja menurut dirinya tidak menarik karena standar kekuatan Azvan yang sangat-sangat tinggi.


"Bagi Tuan Azvan memang tidak menarik, tetapi bagiku dan bagimu itu menarik. Beliau memang sudah berbeda levelnya dengan kita. Jadi, jangan disamakan level kita dengannya. Kamu harus tetap fokus dengan misimu di dunia ini. Menangkan peperangan yang sudah berlangsung selama lima tahun ini. Aku percaya, kamu bisa," kata Cenagon sambil tersenyum lebar.


Mendengar kalimat Cenagon, Isander menjadi semangat lagi. Dia mengeluarkan tangan logam yang sangat besar dan meminta Cenagon untuk salam tinju.


Bum!


Cenagon dan Isander saling beradu kepalan tinju dengan senyum lebar di wajah keduanya.


Setelah kejadian yang luar biasa ini dialami oleh Isander, kesadaran Isander kembali ke dunia nyata dan melihat Aqila yang sedang duduk di depannya dengan senyuman manis.


"Selamat pagi, Ayah!"


Isander melihat ke bawah dan terlihat sosok Meisya yang berbaring di pangkuan Aqila dengan wajah yang ceria.


Segera Isander mengambil Meisya dan mencium pipinya dengan rasa sayang yang meluap-luap.


Merasakan ciuman Isander di pipinya, Meisya merasa begitu geli dan dia tertawa terbahak-bahak.


Suara Meisya yang tertawa didengar oleh orang-orang yang belum terbangun sehingga mereka keluar dari kamar untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Ternyata itu Meisya yang sedang bercanda dengan ayahnya.


"Apakah kamu percaya diri bisa mengalahkan Monster Eagoter, Aqila?" tanya Isander sambil melirik Aqila yang sedang makan.


Aqila menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak. Aku sangat belum siap. Setidaknya, aku harus mencapai tingkat Agter Emperor."


Jawaban Aqila diterima oleh Isander.


Memang benar, untuk bisa mengalahkan monster S kekuatan Agter ada di tingkat Agter Emperor.


Di tingkat Agter King atau Grand Master bisa saja membunuh monster S, tetapi risiko untuk terbunuh sangat tinggi, sedangkan peluang menang sangat kecil.

__ADS_1


Semua kemungkinan bisa terjadi di dunia ini. Agter lemah bisa mengalahkan monster tingkat tinggi, dan juga sebaliknya, monster lemah bisa membunuh Agter tingkat tinggi.


Jadi, harus lebih berhati-hati lagi dalam hidup di dunia ini dan pastikan kekuatan yang dipunya mampu hidup melawan banyak sekali ancaman bahaya.


"Aku tidak percaya kamu bisa membuat pedang besar yang tingginya ratusan meter," gumam Reza penuh kekaguman.


Dia masih teringat dengan aksi Isander yang memotong 2 Monster Eagoter sekaligus dan menciptakan kembang api yang indah di malam hari.


Baru kali ini, dia melihat Agter bisa menciptakan benda sebesar itu dengan kemampuannya saja.


Giya dan yang lainnya pun mengangguk, tak ada yang tidak terkesan dengan peristiwa yang terjadi semalam.


Pemandangan di mana pedang besar berwarna hitam dengan diselimuti cahaya lilac menghantam dua tornado angin besar dan mengalahkan dua monster tingkat S.


Omong-omong, Goron sudah membalas pesan Isander yang bertanya tentang monster tingkat S dan jawabannya persis dengan apa yang dijelaskan oleh Aqila kepada semua anggota timnya.


Jadi, tidak ada informasi lebih tentang monster S.


"Monster tingkat S diperkirakan masih banyak jenisnya, tetapi pengetahuan kita tentang monster tingkat S masih sangat terbatas. Para petinggi kota mengatakan padaku bahwa ada monster yang jauh lebih kuat dari monster S. Masih belum diketahui apa nama tingkatannya," terang Aqila kepada mereka semua.


Sarapan pagi di hari ini membuat mereka ngeri dan takut.


Mendengar monster S saja sudah membuat mereka terdiam karena takut, Aqila bilang bahwa ada monster yang lebih kuat dari monster S. Tidak tahu sekuat apa monster itu.


"Semoga saja itu hanya rumor. Aku ingin hidup damai!" Reza berkata sambil menguap di akhir ucapannya. "Sedikit mengantuk. Semalam kita semua tidur lebih malam dari biasanya."


"Aku juga ingin damai hidup di dunia ini. Bosan sekali hidup melawan monster setiap hari," tambah Nina yang mengeluhkan kondisi dunia ini.


Isander tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu, kita akan mempercepat misi kita kali ini."


"Maksudnya?" Aqila melirik Isander dengan wajah yang tidak mengerti.


Semua anggota tim Isander juga menatap Isander dengan sorot mata yang tidak paham sama sekali.


Melihat mereka yang memandangnya tak paham, Isander hanya melemparkan senyuman dan melanjutkan makannya sampai habis.


Giya dan yang lainnya mengikuti gerakan Isander dan segera menyelesaikan sarapan paginya.


Tidak sampai satu jam kemudian dia mulai makan, semua anggota Isander telah menyelesaikan makanannya.


Plak!


Selembar kertas ditampar oleh Isander ke atas meja yang sudah ditingkatkan dengan rangka logam.


"Kertas ini akan menjadi rute perjalanan kita semua. Aku berencana untuk pergi ke wilayah tempat tinggalnya monster S dan membunuh mereka sampai mati. Dengan begitu, rencana kita membuat manusia berjaya lagi makin dekat. Bagaimana menurut kalian?" Isander berdiri sambil menatap wajah masing-masing dari anggota timnya.


Reza dan Kila menaikkan kedua bahunya. "Kami berdua tidak masalah dengan rencana ini."


"Aku dan Nina juga." Giya tersenyum tulus kepada Isander.


Mata Isander bergerak ke Aqila dan menaikkan alis mata kanannya. "Kamu?"


"Aku ikut kamu saja," ucap Aqila dengan senyuman.


"Baiklah. Dengan ini, aku resmikan petualangan terbaru kita membantai monster S."


Isander memandang mereka semua dengan ujung mulutnya sedikit terangkat dan menampilkan sebuah senyuman halu yang tampan.


Pada saat yang sama, Goron berjalan keluar dari gerbang Kota Komodo yang sudah diperbaiki dengan senyum puas.


Kali ini, dia dibebaskan oleh petinggi kota karena tugasnya sudah selesai menjaga kota.


"Gondrong, aku percaya kepadanya untuk melanjutkan menjaga Kota Komodo. Saatnya aku kembali ke Isander," gumam Goron yang berjalan ke arah timur.


Baru saja masuk ke dalam hutan, tiba-tiba dia mendapatkan sebuah pesan dari jam tangannya.


"Ingin pergi ke wilayah yang ada di peta?!" Goron terkejut setelah membaca pesan yang ia terima dari Isander.


Goron mendadak mengubah wajahnya. "Boleh, siapa takut dengan itu?"


Tak lama saat dia berjalan ke dalam hutan, Goron bertemu dengan rombongan Isander dan langsung bergabung dengan anggota kelompok yang lain.


Jujur, pertama kali bertemu orang baru rasanya canggung, tetapi setelah beberapa menit berbaur, Goron merasa sangat nyaman dan aman.


"Kamu Goron?"

__ADS_1


__ADS_2