
"Aku memiliki kekuatan Agta Weapon Badge berbentuk belati," jawab Reza dengan serius sambil memperlihatkan senjatanya.
Sepasang belati muncul dari pergelangan tangan Reza dan dia menggenggam belati dengan gerakan yang profesional, Reza sudah sering memakai kekuatan senjata belati, gerakannya pun terlihat lihai.
Belati ini memiliki ukuran yang hampir sama dengan pisau lempar Giya, tetapi ukurannya sedikit lebih panjang dan bilahnya melengkung.
Cahaya dingin terpantul dari bilah belati ini.
Berikutnya, Kila memperlihatkan kekuatan Agta miliknya. Sebuah cambuk dengan tali yang panjang keluar dari perut Kila, lebih tepatnya keluar ada medali yang ada di samping pusar.
Cetarr!
Tak sengaja tali cambuk terhantam ke tanah dan menimbulkan suara yang cukup membuat telinga sedikit sakit.
Melihat kekuatan senjata milik mereka berdua, Giya dan Nina sama-sama mengangguk. Mereka memilik kekuatan yang cukup kuat untuk melawan monster Salmagtress dan monster yang setara.
Mungkin kekuatan mereka sama dan seimbang dengan kekuatan Giya dan Nina ketika bergabung.
Namun, Isander tetap memilih gabungan kekuatan Nina dan Giya karena alasannya ada Giya yang memiliki kekuatan yang berjenis jarak jauh yang cukup efektif di Medan pertempuran, dibantu dengan Nina yang memiliki senjata pisau yang lebih besar yang cocok sebagai pengeksekusi.
Sementara Reza dan Kila, cambuknya Kila tidak begitu efektif untuk menjerat jarak jauh, talinya mudah untuk diputuskan.
Kalau saja cambuknya dijadikan alat penyerang jarak jauh, talinya memiliki jarak serangan yang tak lebih jauh dari pisau lempar milik Giya.
Perbandingan Reza dan Nina cukup seimbang, keduanya bagus dalam penyerangan tipe dekat. Sama-sama berjenis pisau yang kerusakannya juga mirip dan serupa.
Mereka tidak memiliki unsur lain selain senjata, tetapi khusus Giya, dia memiliki unsur kemampuan lain. Isander tidak tahu apa kemampuannya, yang jelas pisau lemparnya bisa kembali lagi ke tangan Giya setelah dilempar sangat jauh.
Kemampuan tersebut antara Telekinesis atau Kemampuan Magnet.
Isander memiliki harapan lebih kepada Giya untuk berkembang menjadi sosok yang kuat lagi.
Diam-diam, Isander mengangguk usai melihat kemampuan Reza dan Nina. Mereka mempunyai kemampuan yang cukup baik.
"Apakah ada kekuatan lain dari senjata kalian?" Nina menatap Reza dan Nina dengan wajah yang ingin tahu.
Reza dan Kila menggelengkan kepalanya hampir berbarengan.
Mengangkat kedua belatinya, menatap dua senjata di tangannya, Reza berkata, "Aku belum menemukan sesuatu yang spesial dari senjataku."
"Aku juga sama. Cambuk ini sama dengan cambuk yang biasa, bedanya bisa disimpan dan dikeluarkan sesuka hati di dalam lencana," tambah Kila mengembalikan cambuknya ke dalam lencana yang ada di perutnya.
__ADS_1
Keduanya serupa dengan Nina yang murni senjata saja, kemampuan yang sangat biasa dan bisa dibilang agak lemah.
Giya beruntung bisa mendapatkan kekuatan Agta yang sedikit berbeda dari mereka bertiga.
Paling beruntung adalah Isander, dia memiliki banyak kemampuan yang luar biasa.
Perbandingan kekuatan antara Isander dan mereka semua bagaikan Bumi dan Matahari.
Sehabis memasukkan kembali belatinya, Reza mengalihkan pandangan matanya ke Isander yang sedang bercanda biasa dengan Meisya.
Dia ingin bertanya secara langsung, tetapi agak takut dan ragu. Beberapa saat dia merenung terhadap keputusannya ingin bertanya atau tidak, akhirnya dia memilih untuk bertanya.
Reza tak ingin mati penasaran.
"Itu, kalau kamu kekuatannya apa?" tanya Reza dengan wajah yang agak canggung. Dia mengarahkan pertanyaan kepada Isander.
Alih-alih Isander menjawab, Giya yang membantu Isander menjawab pertanyaan dari Reza.
"Dia?" Giya menunjuk ke arah Isander yang berjalan tak jauh darinya. "Isander memiliki banyak kekuatan. Aku tidak bisa menyebutkannya."
"Apakah tombak hitam berkilat itu adalah Weapon Badge?" Pertanyaan dilontarkan oleh Kila yang sama ingin tahu tentang kekuatan Isander.
Giya mengangguk sekali dan menjawab, "Benar, itu juga salah satu kekuatannya."
Jawaban ini terlalu mengagumkan bagi keduanya. Pasangan ini sontak terkejut dan mereka memandang Isander yang sedang bercanda dengan anaknya dengan pandangan yang berbeda.
Orang yang memiliki potensi luar biasa di masa depan berhasil mereka temukan.
Mulai detik ini, mereka ingin menjadi anggota tim Isander.
"Bolehkah kami berdua menjadi anggota kelompok kalian?" Reza memandang Giya dan Nina dengan wajah yang berharap.
Mendengar permintaan Reza yang mendadak ini membuat mereka berdua kebingungan.
Menggaruk-garuk pipinya, Giya menoleh kepada Isander dan kembali lagi melirik Reza. "Anu, lebih baik kamu tanya kepadanya, aku bukan orang yang tepat untuk kalian mintai persetujuan."
Tangan Giya menunjuk pada Isander. Dia memang tidak memiliki hak untuk merekrut orang ke dalam kelompoknya.
Dia dan temannya, Nina, mereka berdua dipilih oleh Isander sebagai anggota kelompoknya.
Hal itu juga ada campuran dari keinginan mereka berdua sendiri. Giya dan Nina secara jujur merasa aman berada di dekat Isander, seakan rasa takut mereka menghilang apabila ada Isander di sisi merek berdua.
__ADS_1
Dengan lekas, Reza dan Kila berjalan mendekati Isander dengan ekspresi yang malu sekaligus canggung.
"Pak, bolehkah kami menjadi anggota tim Anda?" Dalam sekejap Reza menggunakan kata yang begitu sopan, terlihat aneh di mata wanitanya sendiri.
Isander dan Meisya langsung mengalihkan perhatiannya suara yang muncul di telinga mereka berdua.
Sosok Reza dan Kila ditatap oleh Isander dengan mata yang biasa saja. Namun, dalam pandangan Reza dan Kila sangat berbeda.
Tilikan mata Isander memiliki dominasi dan aura yang menekannya.
Keringat keluar di kening dan punggung belakang keduanya, ini terasa familier karena sebelumnya mereka juga sempat merasakan aura ini, tetapi sekarang lebih ke kuat.
Isander menarik auranya yang sengaja dia keluarkan, kemudian tersenyum.
"Kalian berdua ingin bergabung ke kelompok kami bertiga?" Isander melontarkan pertanyaan kepadanya dengan wajah yang ramah.
"Benar, Pak. Apakah boleh?" Reza mengangguk cepat dengan wajah yang panik.
Isander tak langsung menjawab, dia menatap Meisya seolah meminta tanggapan, dan Meisya yang pintar ini mengedipkan matanya sedikit mengangguk sebagai jawabannya.
Melihat reaksi Meisya, Isander mengangguk dan menjawab, "Boleh, asalkan kalian tidak macam-macam kepadaku. Aku tidak suka orang yang berkhianat. Satu lagi, aku tidak menggaji kalian. Kelompok ini tujuannya hanya membunuh monster dan bertualang ke berbagai daerah."
"Aku paham, Pak. Aku juga tidak berniat untuk digaji, tetapi kalau kami ingin pergi ke kota untuk menukarkan monster yang sudah kami berdua buru, apakah itu diizinkan?" Reza meminta jawaban tentang persoalan yang terlintas di kepalanya.
Secara pribadi, Isander tidak masalah dengan mereka yang ingin mengambil penghasilan hasil buruannya, asalkan mereka tetap bersamanya.
"Boleh saja. Namun, kamu tidak boleh lama pergi dan meninggalkan kelompok dengan jarak yang jauh."
"Oke, Pak. Kami berdua bersedia menjadi anggota kelompok Anda." Reza memberi hormat kepada Isander dengan postur tubuh yang ditundukkan ke bawah.
Setelah itu, Reza dan Kila secara resmi menjadi anggota kelompok petualang Isander.
Padahal, Isander sendiri tidak tahu tujuan apa dibuatnya kelompok ini.
Dipikir-pikir lagi, tidak buruk juga ada kelompok, itu bisa membantu dia untuk menghapus banyak monster di dunia ini.
Tepat beberapa menit setelah Reza dan Kila menjadi anggota kelompok resmi, sebuah suara muncul begitu saja di telinga Isander.
Wajah Isander langsung berubah, dia menunjukkan wajah yang cerah dengan senyuman yang lebar.
[Ding! Terdeteksi Anda telah memiliki tujuan untuk membentuk kelompok! Sistem memberikan fungsi Sistem Grup untuk mengembangkan kekuatan Anda serta anggota grup!]
__ADS_1
[Apakah Anda ingin mengaktifkan Sistem Grup?]
[Catatan: Akan ada banyak hadiah bagus yang diberikan.]