SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 42: Penyerangan Kedua Wanita


__ADS_3

Sosok kedua wanita ini menghilang di depan Isander, semilir angin yang sedikit kencang mengenai Isander dan Meisya, membuat rambut mereka berdua bergoyang dan terbang ke belakang.


Di kejauhan, Isander bisa menyaksikan dnegan jelas apa yang mereka berdua lakukan dalam penyerangan terhadap monster kali ini.


Sosok Giya berhenti di beberapa meter dari tempat berdirinya salah satu monster. Satu pisau lempar yang digenggam dibuang ke arah monster tersebut dengan kecepatan tangan yang tinggi.


Pisau lempar tersebut terbang dan meluncur cepat hingga menancap ke kepala monster dengan tepat dan akurat.


Tusukan ini berdampak sangat keras pada monster ikan, dia kehilangan kendali tubuhnya beberapa saat karena rasa sakit yang dia terima.


Tidak sampai di situ, sosok Nina muncul tepat di depan wajah monster dan dia sedang berpose ingin menebas kepala monster ini dengan pisau agak panjang di tangannya.


Slash!


Sebuah cahaya putih melintas di antara kepala dan tubuh monster tersebut. Gerakan Nina sangat cepat sehingga monster ini tidak bisa melakukan penghindaran secara refleks tubuh.


Semua serangan mereka terjadi begitu tiba-tiba dan tidak bisa diprediksi oleh monster satu ini.


Selanjutnya, kepala monster ikan ini terbelah dan terpotong sampai ke tengah tubuhnya.


Darah dan daging menyembur keluar dari tubuh monster ini dan menggenangi tanah yang ada di sekitar monster. Jangan ditanyakan lagi dengan kondisi monster satu ini, dia sudah mati tak bergerak lagi.


Faktor penyembuhan monster tidak bisa aktif dan berjalan karena kekuatan Agta mampu memperlambat bahkan mematikan kemampuan pemulihan para monster-monster ini.


Usai menyelesaikan satu monster ini. Mereka berdua melanjutkan lagi aksinya untuk mengalahkan semua para monster.


Sebuah pisau lempar yang tertancap di dahi atau kepala monster Salmagtress tadi tercabut dan terbang kembali ke tangan Giya.


Dengan pergerakan keduanya yang begitu cepat, kedua monster yang tersisa dan ingin menyerang ditangani dengan baik.


Cakar dan gigitan mereka tidak bisa menyentuh tubuh mereka lantaran mereka berdua sudah paham dengan pergerakan monster Salmagtress. Keduanya sudah beberapa kali melawan para monster yang jenis ini dalam beberapa bulan terakhir.


Maka dari itu, mereka sulit untuk ditangkap, lebih lagi dilukai.

__ADS_1


Bam! Bam!


Monster ikan raksasa yang tersisa telah mati ketika Nina melakukan eksekusi mati terhadap keduanya. Monster-monster ini terjatuh ke tanah dengan keadaan terbalik menyamping.


Pisau Nina sangat tajam, mudah menerobos sisik keras monster Salmagtress dan dia bisa melukai dengan berat monster ini, bahkan sampai mati. Kemampuan senjatanya memang ada di ketajaman pisau. Pisau Nina sangat efektif untuk mengalahkan para monster yang memiliki jenis atau setara dengan Salmagtress.


Namun, jika digunakan untuk monster yang memiliki tingkatan kekuatan di atasnya, misalnya Bullager dan kawan-kawan. Nina tidak yakin bisa menembus pertahanan kulit monster besar tersebut.


Melihat pedang Bima yang gagal melukai parah kulit monster Bullager, Nina menjadi tahu dengan batasan kemampuannya.


Dengan demikian, Nina sedang mengasah ketajaman pisaunya dengan cara terus bertarung.


Makin banyak mereka bertarung dengan monster dan membunuh mereka semua, kekuatan mereka juga bertambah.


Setelah menyelesaikan kedua monster tersebut, Giya dan Nina datang ke tempat Isander dan Meisya menunggu. Ayah dan anak ini menunggu di salah satu pohon redwood sambil menatap penampilan mereka dalam membunuh monster.


Melihat kedatangan mereka yang kembali dengan selamat. Meisya memberikan tepuk tangan dan pujian kepada mereka berdua, tak lupa dengan ucapan semangat.


Gadis kecil ini memang memiliki tingkah yang lucu dan imut. Meisya bagaikan sebuah obat atau benda yang dapat menghilangkan rasa lelah mereka semua akibat bertarung dengan monster.


“Sudah cukup kita mengumpulkan bukti memburu Salmagtress, kita harus pergi kembali ke utara untuk pulang ke pemukiman.“ Giya menoleh kepada Nina dan Isander.


“Secepat ini?“ Isander menaikkan alis kanannya dan melirik Giya.


Giya dan Nina tersenyum hampir bersamaan, dan mereka mengangguk.


Menatap Isander dengan pandangan mata yang menunjukkan rasa syukur, Giya berkata, “Benar, perburuan di kesempatan kali ini terasa cepat. Dengan adanya kamu perburuan ini sangat cepat selesai.“


“Benar kata Giya. Ini karena ada kamu yang ikut membantu perburuan ini. Biasanya, kami harus berdiam di sini selama beberapa hari untuk berburu. Kekuatan kami berdua tidak sekuat kamu, Isander,” sambung Nina yang ikut menatap Isander.


Memang benar apa yang mereka berdua ungkapkan. Semua ini berjalan cepat karena ada Isander yang memudahkan mereka untuk mengumpulkan bukti memburu Salmagtress di Gunung Salak.


Kedua wanita ini sudah bilang jika tas Giya penuh dengan sirip punggung monster, maka mereka boleh pulang dan kembali ke Rain Settlement.

__ADS_1


Di sekarang ini, persyaratan mereka untuk pulang sudah terpenuhi sehingga mereka semua tidak apa-apa untuk kembali pulang.


Isander paham dengan ini, dia mengangguk beberapa kali menandakan dia mengerti.


“Kalau begitu, ayo kita pergi ke rumah pohon kita semua!“ Isander mengajak mereka berdua untuk mulai berjalan. “Kurasa kita akan tidak akan bisa sampai ke tempat jembatan penyebrangan air terjun hari ini. Jadi, lebih baik kita berjalan sampai ke rumah pohon untuk istirahat dan melanjutkan perjalanan lagi besok.“


“Baik. Aku setuju denganmu, Isander.“ Giya sependapat dan mengikuti saran Isander.


Nina pun memiliki tanggapan yang sama dan dia tidak keberatan untuk mengikuti saran yang diberikan Isander.


Dengan begitu, mereka semua berjalan kembali ke arah utara atau arah sebaliknya.


Sambil pergi ke rumah pohon, mereka bertiga menengok ke kiri dan ke kanan untuk mencari hewan ternak.


Di hutan ini ada beberapa hewan ternak yang berkeliaran, seperti sapi dan ayam.


Mereka berhasil menangkap 3 ayam yang masih hidup. Setelah itu, mereka membawa ayam-ayam tersebut ke rumah pohon.


Untungnya, mereka masih ingat dengan tata letak rumah pohon yang mereka bangun.


Langit masih agak terang dan ada waktu untuk membakar ayam sebagai bekal mereka hari esok.


Dengan bantuan Isander, proses masak juga berlangsung sebentar dan singkat. Mereka langsung masuk ke dalam rumah pohon sebelum langit makin gelap.


Di dalam rumah pohon, mereka semua duduk di ruang berkumpul, Meisya saat ini tidak tidur, matanya masih terbuka lebar.


Meisya bermain dengan Giya dan Nina di dalam rumah pohon. Tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan dan mainkan. Namun, mereka terlihat menyenangkan dan seru.


Isander tidak tertarik dengan obrolan para wanita. Dia lebih tertarik untuk meningkatkan kekuatannya di waktu luang ini.


Duduk bersila dengan postur tubuh yang tegap. Isander mulai melatih kemampuan dan kendalinya terhadap semua unsur elemen alam yang terkait juga yang ia miliki.


Meditasi dilakukan oleh Isander selama beberapa jam, dia terpaksa berhenti karena makan malam sudah datang.

__ADS_1


Usai makan, Isander berniat untuk bermeditasi lagi. Akan tetapi, ada suatu hal yang tidak pernah dipikirkan terjadi.


“Tolong aku!“


__ADS_2