SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 141: Peningkatan Semua Anggota


__ADS_3

"Tidak tahu. Namun, kata Goron kertas ini sungguhan dan beberapa wilayah yang ditandai benaran ada monsternya," kata Isander kepada semua anggotanya.


Mendengar perkataan Isander, mereka semua segera melihat dengan jelas kertas peta yang sedang mereka pegang bersama.


Ada beberapa tanda di peta ini dengan dua huruf saja, yaitu huruf A dan S yang ditulis dengan huruf besar.


Semua anggota Isander tahu apa maksud atau arti dari tanda-tanda tersebut.


Tanda dengan huruf S diartikan sebagai tempat di mana monster tingkat S berada.


Sama juga dengan tanah huruf A yang punya arti wilayah yang ditandai tersebut terdapat monster tingkat A.


Akan tetapi, kertas peta ini tidak memberi tahu secara lengkap monster apa saja yang ada di sana.


Tidak ada nama atau jenis monster yang tinggal di wilayah yang ditandai tersebut, terlebih lagi peta ini tidak ada nama daerah.


Hanya ada bentuk Pulau Jawa tanpa disematkan nama-nama wilayahnya, seperti provinsi kabupaten dan kota-kota besarnya.


Hal ini membuat Isander dan anggota kelompoknya sulit untuk mengetahui tempat yang tepat di mana tanda S dan A dibuat.


"Apakah tanda S ini ada di daerah Jepara?" tanya Giya yang menunjuk ke salah satu tanda di kertas.


Semua anggota Isander mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Giya dan mereka semua mengingat lagi tentang daerah Indonesia yang digambar pada peta.


Tanda S yang ditunjuk oleh Giya memang berada di sisi atas Pulau Jawa dekat dengan Pulau Madura, tetapi ada di bawahnya Pulau Madura.


Diingat-ingat lagi oleh Isander, wilayah Jepara memang seharusnya ada di sana.


Nina dan Isander akhirnya samar-samar sedikit ingat dengan lokasi dan letak wilayah tersebut, dan keduanya mengonfirmasi bahwa wilayah tersebut memang daerah Jepara.


"Apakah kita akan ke sana untuk bertemu dengan monster tingkat S?" Reza bertanya sembari menatap mata Isander.


Sebelum menjawab pertanyaan Reza, Isander termenung beberapa saat untuk mencari kemungkinan tentang keputusannya yang akan diambil.


"Mungkin saja, tetapi kita untuk saat ini lebih fokus ke memperbaiki Candi Borobudur yang belum selesai," jawab Isander dengan hasil pemikirannya.


Belum saatnya menurut Isander untuk pergi membunuh monster tingkat S di wilayah Jepara yang belum tentu akan dimenangkan oleh mereka dalam pertempuran yang dilaksanakan.


Pasalnya, kertas peta yang diberikan oleh Goron tidak menjelaskan monster apa yang ada di sana sehingga mereka benar-benar buta mengenai kemampuan yang dimiliki monster.


Isander tidak mau kejadian melawan Supreme Elgoter terjadi lagi. Itu sangat mengerikan dan sangat berisiko baginya.


Untungnya, Sistem memberikan sebuah kemampuan yang super tepat untuk kejadian tersebut. Kalau tidak tepat, mungkin dia sudah mati dan tak bisa menjaga Meisya lagi.


Jika itu terjadi, Isander sangat menyesali tindakannya tersebut hingga ke kehidupan selanjutnya apabila masih ada kesempatan untuk hidup.


Isander tahu bahwa hidup hanya sekali dan nyawa tak bisa beregenerasi lagi. Oleh karena itu, Isander akan lebih berhati-hati dalam memilih keputusan jika memang kekuatannya belum memungkinkan untuk mendominasi dunia ini.


Apabila dia sudah punya banyak kemampuan tingkat S yang kuat, Isander sangat percaya diri ingin melakukan apa saja di dunia ini karena tak ada satu orang atau makhluk hidup pun yang bisa mengancamnya.


Sementara itu, kemampuannya saat ini terbilang tidak begitu kuat. Isander hanya punya 1 saja kemampuan S yang berhasil ia miliki, sisanya kemampuan tingkat A dan B.


Sama sekali belum percaya diri dan belum yakin dengan dirinya sendiri bisa melawan banyak monster S.


Alasan mengapa Isander bisa seperti itu adalah karena Supreme Elgoter benar-benar membuatnya sadar untuk tidak arogan.


Masih banyak eksistensi yang kuat dan dapat mengalahkannya jika tidak berhati-hati.


Mendengar apa yang dikatakan Isander, semua anggota mengangguk dan setuju dengan keputusan yang diambil Isander.


Mereka memang harus fokus ke tugas yang belum selesai.


Beberapa hari ke depan juga mereka harus memantau kemajuan perbaikan Kota Komodo agar bisa membantu jika ada monster yang menyerang.


"Omong-omong, Goron sudah menjadi anggota kita. Jadi, kalian bisa berbicara dengannya melalui jam tangan atau tatap muka. Ingat untuk tetap bersembunyi, jika ingin menampilkan wajah kalian, hanya ke Goron saja di sana," ujar Isander memberi tahu tentang Goron yang berhasil dia rekrut.


Sontak mereka terkejut dengan ucapan Isander, ternyata Isander benar-benar merekrut Goron menjadi anggotanya.


Ada 2 anggota yang terkenal di tim mereka yang membuat mereka semua makin bangga dan bersyukur menjadi tim Isander.


"Apakah teman-temannya tahu tentang itu?" Giya melirik Isander di depannya sembari mengambil camilan di tasnya.


Gelengan kepala dilakukan Isander. "Tidak, sama sekali tidak tahu. Sama seperti Aqila yang tidak akan memberi tahu tentang identitasnya bergabung dengan kita semua.


"Aku lega mendengar itu. Aku takut dia dipenjara karena telah mengkhianati tim sendiri," celetuk Nina menghembuskan napas pendek.


"Memangnya akan dipenjara jika keluar dari tim dan diam-diam bergabung ke tim lain?" tanya Reza yang tak mengerti.


Giya mengangguk dan menjawab, "Bisa saja, jika kamu memberi tahu tentang informasi penting dari tim yang sebelumnya kamu masuki."


Tak hanya Reza yang baru tahu tentang hal tersebut, Isander pun sama.

__ADS_1


Ketika Isander termenung, dia tiba-tiba ingat dengan hadiah perekrutan Goron.


Segera di tangan Isander muncul banyak sekali kartu bercahaya putih yang menarik mata semua orang.


Reza dan yang lainnya menumbuhkan perasaan ingin tahu yang besar dengan kartu yang dimunculkan oleh Isander.


Melihat mereka yang sangat ingin tahu, Isander tersenyum dan membagikan semua kartu tersebut ke masing-masing dari mereka.


Helen, Reren, Reza, Kila, Giya, dan Nina mendapatkan 1 kartu bercahaya tersebut di tangannya.


"Kartu ini adalah Kartu Peningkatan Level level Agter yang berguna untuk meningkatkan level Agter kalian semua. Efek peningkatan sesuai dengan tingkatan Agter kalian sekarang, makin tinggi level sebelum pemakaian kartu ini, makin dikit juga efeknya," jelas Isander dengan sabar dan mudah dipahami.


"Jadi, kami berdua bisa meningkat lebih tinggi dari Kakak Reza dan yang lainnya?" ucap Reren yang paham dengan penjelasan Isander.


Isander mengangguk kejam dan membenarkan apa yang diucapkan Reren.


Melihat mereka semua yang tak sabar ingin mencoba kartunya, Isander melanjutkan, "Cara menggunakannya masih sama dengan kartu-kartu yang sebelumnya aku beri, yaitu tempelkan ke dahi kalian."


Setelah kata-kata Isander jatuh, mereka semua dengan cepat menempelkan kartu bercahaya tersebut ke dahinya sesuai dengan apa yang Isander instruksikan.


Bam!


Semburan energi muncul di sekujur tubuh mereka.


Angin sepoi-sepoi menyelimuti seluruh tubuh mereka hingga bisa menerbangkan rambut panjang Helen dan Reren.


Melihat pemandangan ini, Isander tersenyum karena tahu peningkatan level Agter mereka berhasil dilakukan.


Isander tak perlu diam di sini, dia meminta Kimaya dan dua anak Burung Suphaast menunggu mereka dan Isander pergi ke dalam kamar untuk memastikan Meisya masih tertidur.


Tidak lama setelah Isander masuk ke dalam kamar, satu per satu anggota kelompok Isander membuka matanya yang terpejam.


Mata mereka memancarkan sebuah aura yang lebih kental dan kuat dari sebelumnya.


Selain itu, mereka juga sama-sama merasakan tubuhnya menjadi sangat kuat, berbeda sekali dengan kekuatan sebelum menggunakan kartu dari Isander.


Keluar dari kamar, Isander tersenyum ke arah mereka semua. Benar dengan dugaannya, mereka memang berhasil meningkatkan kemampuan sehingga sekarang ini Isander merasakan pancaran kekuatan mereka jauh lebih kuat.


Reza, Kila, Giya, dan Nina sekarang sudah berada di tingkat Agter Grand Master Three Star yang di mana itu tingkatan terakhir sebelum naik ke Agter King One Star.


Awalnya, mereka hanya Agter Master Three Star bersama-sama.


Kekuatan Agter mereka yang sudah Grand Master ini membuat mereka bisa mengalahkan monster level A tanpa kesulitan.


Diingat-ingat lagi, Isander punya banyak kemampuan yang kuat, tetapi melawan monster level S masih kewalahan.


Mengetahui ini, mereka tidak akan mencoba untuk membunuh monster level S meski itu bersama-sama karena terlalu berisiko.


Monster tingkat S sudah berbeda kemampuan dan kekuatannya, tak sama lagi seperti monster A yang padahal hanya berbeda 1 tingkat saja.


Mereka akan bermain aman dengan monster level A. Deegiant pun mereka masih sangat ragu bisa mengalahkan monster itu sendirian.


Bisa saja beramai-ramai mereka lakukan untuk membunuh monster tersebut, tetapi tidak bisa 100% bisa mengalahkan.


Persentase yang mereka perkirakan ada di angka 65% saja yang di mana itu pun agak rendah.


Deegiant monster yang hampir mendekati monster level S.


Sementara itu, Helen dan Reren naik level ke Agter Grand Master One Star.


Peningkatan mereka sangat tajam dan besar, berbeda dengan Reza dan yang lainnya.


Helen dan Reren ada di Agter Senior, meningkat hingga mencapai Agter Grand Master, itu meningkat secara drastis.


Bisa dilihat perubahan mereka berdua yang sangat jelas. Penampilan mereka menjadi lebih kuat dan mendalam lagi, sama sekali tak boleh diremehkan.


Sebuah senyuman terbentuk di masing-masing wajah mereka, menandakan bahwa mereka sedang bahagia.


Sayang sekali, Isander tidak dapat jatah menggunakan kartu tersebut. Hanya tersisa 1 kartu lagi dan itu sudah menjadi hak Aqila.


Isander sudah memberi pesan untuk Aqila supaya dia bisa datang ke sini dan mengambil kartunya.


Jawabannya, Aqila akan datang menemui Isander antara besok atau besok lusa.


Tergantung medan perjalanan yang Aqila tempuh nanti. Jika banyak monster yang menghalangi jalannya, itu akan membuat durasi perjalanannya menjadi lebih lama.


"Aku merasakan kekuatan Agter yang besar terkandung di dalam tubuhku!" seru Reza yang sangat bersemangat.


"Sst!"


Isander yang mendengar suara Reza terlalu keras segera memintanya untuk menurunkan tinggi suaranya agar tidak bising dan membangunkan Meisya yang tidur.

__ADS_1


Reza langsung menurunkan volume suaranya dan dia berkata dengan hati-hati.


"Aku merasa kuat, aku tak sabar ingin mencoba kekuatanku sekarang," kata Reza dengan nada suara yang tak begitu keras dan sedikit dipelankan.


Mendengar ini, Kila dan yang lainnya mengangguk. Tidak hanya Reza yang punya keinginan tersebut, mereka semua juga sama.


"Sudah malam, besok saja kalian coba sambil pergi ke Kota Komodo bersama," usul Isander yang masuk akal.


Mereka semua mengangguk dan menerima usulan.


Benar kata Isander, sekarang sudah malam dan bukan waktunya lagi untuk mencoba kekuatan mereka.


Selain mengganggu, mereka juga akan memancing monster kuat berdatangan.


Hutan bukan tempat yang bisa diprediksi, terlebih hutan di dunia ini bukan lagi dipenuhi oleh binatang buas, melainkan monster-monster yang jauh lebih berbahaya dari binatang buas.


"Baik. Kalau seperti itu, aku ingin tidur dahulu," ucap Nina yang sudah menguap karena kantuk yang melanda tubuhnya.


Berikutnya, semua anggota Isander meminta izin untuk tidur kepada Isander.


Di jam tangannya, Isander bisa melihat jam sudah menunjukkan pukul jam 10 malam yang memang waktu yang tepat untuk tidur.


Sebelum Isander pergi ke ruang Cenagon, Isander pergi ke kamar Nina dan Giya untuk meminta menyimpan peta kertas tersebut di tas penyimpanan mereka.


Setelah itu, dia pergi ke ruang tempat berkumpulnya anggota tim Isander.


Berikutnya, kesadaran Isander berpindah ke ruang gelap yang sudah sangat akrab baginya.


Kehadiran Isander di ruang tersebut disambut oleh makhluk misterius yang besar, yakni Cenagon.


"Tampaknya, kamu mendapatkan barang sangat bagus hari ini," ujar Cenagon kepada Isander begitu tiba-tiba.


Isander mengangguk dan mulai berjalan menuju singgasana. "Benar, aku berhasil meningkatkan level mereka semua sehingga menjadi lebih kuat."


"Dari mana kamu mendapatkan kartu itu?" tanya Cenagon yang juga penasaran.


Alis kanan Isander terangkat dan dia menjawab, "Ada makhluk hebat yang memberikannya kepadaku."


"Apakah itu sosok yang mengirimkan aku ke sini?"


"Mungkin."


Isander tak bisa memberi tahu tentang keberadaan Sistem di tubuhnya, bahkan jika itu kepada Cenagon sendiri.


"Aku sangat penasaran dengan sosok yang memberimu kartu itu," ucap Cenagon dengan suara yang terdengar ingin tahu. "Apakah dia lebih kuasa dari orang itu?"


"Tidak tahu. Namun, yang jelas dia punya kemampuan meningkatkan anggota timku menjadi lebih kuat," kata Isander dengan santai.


"Menarik."


Cenagon cukup tertarik dengan sosok yang sedang mereka bicarakan.


Sistem, eksistensi yang masih Isander pertanyakan dari mana asalnya dan makhluk apa sebenarnya.


Mata Isander berangsur-angsur terpejam, dia memilih untuk berinteraksi dengan Sistem terlebih dahulu karena ada sesuatu yang ingin dia lakukan.


"Sistem, aku ingin meningkatkan kemampuan Baryon Cenagon," Isander berkata dengan antusias.


[Ding! Kartu Peningkatan Level Kemampuan tidak cukup untuk melakukan peningkatan!]


"Hah?" Isander terkejut dengan ini. "Berapa kartu yang dibutuhkan untuk melakukan peningkatan?"


[Butuh 10 kartu untuk meningkatkan Baryon Cenagon ke level S!]


Mendengar jawaban Sistem, Isander terkejut setengah mati.


"Kamu tidak bercanda, kan? Itu terlalu banyak!"


Mengumpulkan 3 kartu saja cukup lama, dan Sistem memintanya 10 kartu.


Dengan perasaan yang dongkol, Isander meminta Sistem untuk menampilkan berapa kartu yang dibutuhkan untuk meningkatkan Kemampuan Magnetar Body.


[Butuh 5 kartu untuk meningkatkan Kemampuan Magnetar Body ke Level S!]


Hal ini membuat Isander kembali terkejut.


Kemampuan Magnetar Body dan Baryon Cenagon punya persyaratan yang cukup tinggi, terlebih Baryon Cenagon ini.


"Sial, aku tidak jadi melakukan peningkatan kemampuan kalau tahu begitu."


Segera, Isander membatalkan niat untuk meningkatkan kemampuannya dan memilih untuk menyimpan kartunya.

__ADS_1


"Hei, mengapa kamu berwajah seperti itu?"


__ADS_2